
Beberapa bulan kemudian sejak pertemuannya dengan Sabrina di rumah sakit, sejak itulah menjadi pertemuan terakhir bagi Sabrina dan Arsya.
Malam itu..
Arsya yang baru saja pulang dari dinas malamnya di rumah sakit langsung kaget melihat ada tamu di rumahnya.
"Assalamualaikum.."
ucap Arsya pada semua orang yang ada di ruang tamu rumahnya.
"Waalaikum salam.."
jawab mereka bersamaan.
"Sudah pulang,sya.. sini duduk dulu"
kata papa Arsya.
"iya,pa"
"naah.. ini Arsya anak saya"
lanjut papa sambil menepuk pundak Arsya dengan lembut.
"hallo,om.. Tante"
sapa Arsya yang kemudian mencium kedua tangan mereka.
"Hallo Arsya.. perkenalkan saya Firman dan ini istri saya Santi..."
kata lelaki paruh baya di depannya.
"....dan ini putri semata wayang kami, Indira"
lanjut pak firman memperkenalkan putrinya.
Arsya menganggukkan kepala dan melontarkan senyum pada wanita cantik itu.
"Jadi,sya... ini dia Indira yang akan papa jodohkan sama kamu. bagaimana ,sya?"
tanya papa Arsya dengan santai tanpa menekan keputusan putranya.
"bismillah.. Arsya setuju dengan perjodohan ini,pa"
jawab arsya dengan tegas.
membuat semua yang ada di ruangan itu tampak bahagia dan mengucap syukur Alhamdulillah.
"Nah, sekarang giliran kamu nak Indira.. apa kamu mau menerima perjodohan sekaligus lamaran dari putra om?"
tanya papa Arsya dengan lembut pada calon menantunya.
beberapa detik kemudian..
wanita cantik itu hanya dengan sebuah anggukan persetujuan yang kembali membuat mereka bahagia.
tanpa menunggu waktu, ternyata orang tua mereka sudah mempersiapkan rencana ini matang-matang.
"Ma.. "
__ADS_1
kata papa Arsya memberi isyarat pada istrinya.
mama Arsya langsung berjalan menuju tempat duduk putranya dan menyodorkan sebuah kotak cincin untuknya.
"Sya, pakaikan cincin ini di jari manis calon istrimu"
perintah mama yang sontak membuatnya berdiri.
Arsya berjalan beberapa langkah menuju wanita itu. yang hanya berani menyembunyikan senyumnya dengan menundukkan pandangan.
"Boleh?"
tanya Arsya lembut meminta izin pada wanita itu untuk menyematkan cincin di jari manisnya.
wanita itu kembali hanya menganggukkan kepala. Arsya memakluminya karena bisa melihat sedikit rona merah di pipi wanita itu.
ia tersipu malu.
kini giliran Indira yang menyematkan cincin itu di jari Arsya. tampak semakin malu dan Arsya hanya diam melihat tingkahnya.
setelah prosesi tukar cincin yang hanya di saksikan oleh orang tua mereka, kini keduanya sudah resmi bertunangan.
bahkan kedua orang tua mereka sudah mempersiapkan tanggal pernikahan juga.
"Alhamdulillah.. sekarang kalian sudah resmi bertunangan. tidak apa-apa kan meskipun pertunangan ini tidak di adakan pesta?"
tanya papa Arsya memastikan.
"Tidak masalah,pa.. "
jawab arsya.
jawab wanita itu membuat Arsya sontak menatapnya.
tiba-tiba hp Arsya berdering dan Arsya mengangkat teleponnya.
"Maaf ma, pa.. Om Tante..aku harus kembali ke rumah sakit karena ada pasien kritis"
pamit Arsya sembari mencium tangan orang tua dan calon mertuanya.
"oh iya tidak apa-apa ,nak "
jawab calon mertuanya bersamaan.
"Gak makan dulu,sya?"
tanya mamanya.
"Gampang,ma.. nanti Arsya makan di luar saja" jawab lelaki itu yang sudah bersiap untuk pergi.
"Sya.. kamu melupakan seseorang?"
goda papa nya sambil memberi isyarat pada putranya.
Arsya langsung mengerti apa maksud papa nya.
"Aku balik ke rumah sakit dulu ya,Dira.. "
pamit Arsya pada calon istrinya.
__ADS_1
"iya,kak.."
jawab wanita itu singkat.
"Assalamualaikum"
ucap Arsya.
dengan terburu-buru akhirnya Arsya pergi meninggalkan mereka semua.
"Yaa beginilah putra kami.. karena terkadang ada pasien kritis yang membuatnya tiba-tiba pergi lagi"
kata mama Arsya menjelaskan.
"iya kami mengerti kok mbk..kalau begitu kami permisi dulu karena papa nya masih ada urusan di luar"
kata Santi mama Indira.
mereka pun pulang.
"Bagaimana menurut papa.. apa anak kita benar-benar bahagia dengan perjodohan ini?"
tanya mama Arsya khawatir putranya tidak bahagia.
"mama tenang saja.. mungkin butuh proses untuk anak kita benar-benar memberikan cintanya pada Indira. tapi papa yakin, anak kita pasti bijak dan tau harus bersikap bagaimana, ma"
kata papa nya panjang lebar membuat kekhawatiran istrinya sedikit berkurang.
melihat om dan tantenya tampak serius berbicara di ruang tamu, ayu menghampiri mereka sambil menggendong anaknya.
"Sudah pulang tamunya,Tan?"
tanya Ayu yang sudah duduk di sebelah tantenya.
"sudah,yuk.. belum tidur itu si Caca?"
"ini baru aja tidur,Tan.. oh iya.. tadi ayu lihat mas Arsya pulang. apa dia setuju dengan perjodohan ini,Tan?"
"Alhamdulillah Arsya setuju,yuk.. tapi entah dengan hatinya"
jawab mama Arsya kembali khawatir.
"Kamu tenang saja,yuk.. mungkin butuh waktu untuk Arsya benar-benar bisa menerima Indira sepenuhnya"
kata papa Arsya menimpali.
"Semoga saja begitu, om.. "
kata ayu.
"Terus mas Arsya sekarang kemana,om?"
"dia kembali ke rumah sakit karena ada pasien kritis katanya"
jawab papa Arsya.
"ooh gitu.."
kata ayu sambil mengangguk mengerti.
__ADS_1
@@@