
Beberapa hari berlalu sejak kembalinya neng bina ke pesantren. Kini aku sendiri lagi menjalani hari\-hariku tanpanya. Dengan sebuah tasbih kecil pemberian dia. Selalu kubawa kemanapun aku pergi. Bukan hanya kubawa, melainkan kusempatkan waktu untuk berdzikir. Sejak saat itulah, aku yang sebelumnya jarang bahkan hampir lupa untuk berdzikir pun mulai belajar untuk membiasakan diri mengucap dzikir.
Inilah cinta bagiku. Tumbuh bukan karena nafsu melainkan lillah dari lubuk hati kita.
Hari ini...
Aku benar-benar merindunya. Tapi sekali lagi hanya bisa melihat fotonya dari laptopku.
'Tuhan, jagalah dia untukku'. Gumamku.
Dikampus....
Kelas sedang berlangsung. Tampak pak Handy yang sedang menjelaskan tentang operasi bedah. Iya, aku mengambil jurusan kedokteran karena aku ingin menjadi dokter pastinya.
Kelas berjalan khidmah. Tak satupun bicara karena sedang serius dengan materi yang beliau sampaikan pada kami.
Tak lama kemudian beliau melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Baik anak-anak.. Waktu belajar sudah habis. Sampai jumpa dipertemuan berikutnya. "
Ucap beliau sebelum meninggalkan kelas.
Kelas usai. Tapi aku masih enggan untuk pulang. Masih duduk dikelas dengan mengotak-atik hpku.
"Gk pulang, bro?. " tanya rion mengagetkanku.
"Duluan aja. Gw masih pengen disini. " ucapku.
Beberapa menit setelah rion pamit pulang duluan, tiba-tiba datanglah Hana teman kelas seangkatan dengan ku.
"Hey, sya.. " sapanya dengan sopan.
"Oh, hey Han.. Kenapa?. "
"Gpp, belum pulang?. " tanyanya dengan senyum.
"Belum, lagi males.. Pengen disini dulu. "
Jawabku.
"Oh.. "
"Lo belum pulang juga, knapa.. Lagi nunggu supir?. "
tanyaku mencoba menebak karena biasanya dijemput oleh sopir pribadi ayahnya.
"Nggak kok, sya... Aku lagi pingin pulang sendiri. "
"Oh, mau aku anter?. " kutawarkan untuk mengantarnya pulang.
"Oh gk usah, sya.. Aku pulang sendiri aja. "
Jawabnya tenang.
"Oh ya udah kalo gitu, hati-hati ya.. "
Ucapku sebelum dia pamit pulang.
Ini Hana temanku, cantik kan???.
Tapi sayang, hatiku sudah untuk orang lain.
Meski aku tau bahwa dia menyukaiku.
Maaf, karena hatiku sudah kuberikan pada orang lain.
Setelah cukup lama duduk dikelas, akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Kusetir motor yang setia menemani kemanapun aku pergi dan mulai meninggalkan kampusku.
Ketika dijalan...
Kulihat Hana yang sedang berdiri ditepi jalan dengan dihadang dua preman. Segera kumenuju kesana.
"Sya, tolong aku...! " pinta gadis itu ketika melihatku. Dia tampak ketakutan.
__ADS_1
Segera kuhadapi dua preman itu yang ternyata ingin malak Hana. Setelah ku beri pelajaran, mereka lari terbirit-birit ketakutan. Sementara hana yang masih tampak ketakutan, dia hanya diam dan tampak kesulitan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Tenang, han.. Mereka udah gk ada kok. " ucapku mencoba menenangkan.
Tapi dia hanya diam masih syok. Melihat keadaanya yang seperti itu, kuajak dia istirahat duduk dikursi panjang yang tk jauh dari posisi kami berada.
"Duduklah..! " ucapku yang kemudian bergegas untuk membelikan dia minum.
"Mau kemana, sya?. " tanyanya masih tampak ketakutan.
"Tinggu sebentar, aku akan membeli minuman untukmu. " ucapku.
Setengah berlari aku menuju alfamart yang tak jau dari sana. Setelah itu aku kembali dengan membawa sebotol minuman untuk hana.
"Ini, minumlah.. Biar kau tenang. " kataku sambil menyodorkan minuman itu padanya.
"Makasih. "
"Lain kali jangan pulang sendirian. Rumah lo lumayan jauh kan dari sini. Kenapa jalan kaki, han?. " tanyaku penasaran. Karena tak biasanya ia pulang sendiri tanpa supir.
"Sbenernya aku pingin kabur, sya. Aku udah capek. "
Pengakuan itu membuatku terperanjat kaget.
"Knapa?. "
"Aku bosan dirumah. Sendiri terus. "
"Loh, mama papa kamu kmana?. "
"Pada sibuk dengan selingkuhannya masing-masing. " ucapnya yang sudah mulai meneteskan air mata. Membuatku iba terhadapnya.
"Sabar, han... Suatu saat pasti orang tua kamu sadar bahwa yang mereka lakukan salah. "
"Makasih, sya... "
"Oke gk masalah. Ya udah, ayuk ku anter pulang. " ajakku agar ia tidak jadi kabur.
Setengah jam kemudian, kami sampai dirumah hana. Tampak sepi meski rumahnya besar dan megah.
"Masuklah... Aku pulang dulu..!. "
Ucapku memastikan agar dia benar-benar masuk kedalam rumah.
Hana masih tampak masih pilu dengan keadaan keluarganya.
"Han.. Semua pasti kan berakhir. " ucapku.
Tiba-tiba sebuah mobil merah datang tak jauh dari posisi kami berada. Tak lama kemudian, tampak seorang wanita berhijab dengan menggendong seorang bayi keluar dari dalam mobil itu.
"Ada apa, han?. " tanyanya yang kaget melihat hana yang tampak kacau. Seketika, hana memeluk wanita berhijab itu dan tangis hana pun pecah dipelukan wanita berhijab itu.
"Mama sama papa masih seperti itu, dek?. " tanyanya. Hana hanya bisa menganggukkan kepala. Tak kuasa menjawab pertanyaan wanita itu. Bisa kutebak bahwa dia adalah kakaknya.
"Dek, ingat.. Kita punya Allah.. Jangan sampai kita melupakanNYA. Serahkan semuanya pada Allah ya.. "
tutur kata wanita itu benar-benar menyejukkan hati dan telingaku yang saat itu tengah berdiri mrnyaksikan adegan mengharukan didepanku. Benar-benar mengingatkanku pada dia yang jauh disana, neng binaku. Apa memang seperti ini sikap dan akhlak perempuan berhijab? Bertutur kata sopan dan menenangkan bagi setiap pendengarnya.
Seolah baru sadar dengan kehadiranku yang sedari tadi berdiri disekitar mereka, akhirnya kami berkenalan dan saling bertegur sapa. Hingga akhirnya aku pamit pulang.
@@@
Langit mendung. Awan hitam seolah berarak menyelimuti sang rembulan. Malam itu aku baru pulang dari rumah rion. Sengaja memutar jalan agar bisa menghirup udara malam lebih lama. Akhirnya aku memutuskan untuk mampir sejenak didepan rumah neng bina. Hanya rindu meski tak akan bertemu. Karena aku tahu dia masih dipesantren saat ini.
Masih mendung. Namun kulihat tetesan hujan kecil bernama grimis sudah mulai menyapaku. Ku urungkan niatku untuk melewati rumah neng bina, karena jarak rumahku dan rumahnya berlawanan arah.
Kuputar kembali motorku untuk pulang. Sial,, hujan semakin lebat. Aku terjebak hujan yang semakin deras. Mengingat rumah saira tak terlalu jauh dari sini, aku pun menyetir motorku menuju rumahnya. Setidaknya, aku bisa numpang berteduh sebentar disana.
Aku sudah mendekati rumah saira. Tapi sontak ku hentikan laju motorku. Mataku terbelalak kaget meliahat siapa yang sedang hujan\\-hujanan disana.
"Neng bina. " gumamku yang masih tak percaya dengan apa yang ada didepan mataku. Aku tersenyum lega dan bahagia.
__ADS_1
Ingin rasanya aku menghampirinya kesana, tapi tidak... Aku ingin memuaskan mataku untuk terus melihatnya meski dari kejauhan.
Tak kuperdulikan lagi hujan yang semakin deras mengguyur tubuhku.
Tak peduli meski badanku sudah basah kuyup. Karena hatiku sedang bahagia melihat sang cinta yang entah kapan dia pulang.
"Subhanallah.... Aku suka hujan ini, ra.... Udah lama aku gk bersenang-senang dengan hujan. " ungkapnya penuh senyum dan tawa sembari meminkan payung yang melindunginya dari hujan.
Kulihat, saira tampak setengah berlari ikut berteduh dibawah payung neng bina.
"Iya, tapi kata abimu, kamu gk boleh mandi hujan, takut sakit. " ketus saira mengingatkan pesan abinya.
Samar-samar kudengar obrolan mereka. Tapi cukup jelas ditelingaku. Meski tetesan hujan sangat berisik disekitarku.
Melihat keduanya beranjak masuk kedalam rumah saira, akupun mulai menyetir motorku untuk mengikuti mereka.
Tiiiiit.....
Kukagetkan mereka dengan bunyi bel motorku. "Assalamualaikum.. " ucapku setengah berteriak karena khawatir mereka tak mendengar suaraku.
Keduanya menoleh bersamaan dan menjawab salamku.
"Arsya, dari mana kok basah kuyup gitu. Ayo masuk.. " ajak saira ramah.
"Diluar aja, ra... Nanti rumah kamu basah. " ucapku sungkan. Sementara neng bina hanya diam memperhatikan percakapanku dengan saira.
"Ya udah, duduk aja dulu sya. Aku ambilkan minum dulu sebentar. "
"Gk usah repot-repot, ra.. ". Ucapku tapi saira sudah keburu masuk kedalam rumah bersama neng bina.
Brrrrrrrr....
Aku baru sadar dan baru terasa kalau badanku ternyata sudah mulai kedinginan.
Beberapa menit kemudian...
"Ini kak.. Keringkan dulu rambut dan badanmu, biar gk masuk angin. " uacapnya lembut sembari menyodorkan sebuah handuk padaku.
"Terimakasih, neng.. Maaf merepotkan. " ucapku yang merasa terhormat sekali karena diperhatikannya.
"Iya. "
"Kapan pulang ksini?. "
"Tadi sore kak. "
"Oh, knapa.. Sakit?. " tanyaku khawatir.
"Nggk kok, kak... Lagi mau ngurusi paspor untuk umroh. "
Subhanallah.... Dia benar-benar sempurna sebagai muslimah. Aku semakin mengagumimu neng. Ketaqwaanmu pada rabb mu sungguh tak diragukan.
Tak lama kemudian saira datang membawa tiga gelas teh hangat dan rebusan singkong yang masih panas. Cocok dengan suasananya yang dingin akibat hujan.
Saira mempersilahkan aku dan neng bina untuk menikmati suguhan yang ada. Sederhana memang, tapi ini sudh lebih dari cukup bagiku.
Sembari menikmati teh hangat, kami ngobrol.
"Dari mana tadi, sya kok sampek kehujanan gitu. " tanya saira.
"Dari rumah rion, ra. Trus kehujanan. Berhubung rumah kamu tidak terlalu jauh, akhirnya aku memutuskan untuk mampir dan berteduh sebentar. Eh ternyata ada neng bina."
"Oh gitu. Iya neng bina baru datang tadi sore dari pesantrennya, karena dia mau ngurusi paspor keberangkatan umrohnya. Dan malam ini dia mau nginep sini ya, neng?. "
Ucap saira yang tampak kegirangan dengan kedatangan sahabat kerumahnya.
"Iya.. " jawabnya lembut sambil tersenyum.
"Oh, alhamdulillah kalo gitu.. Bagus, semoga berkah neng. " pujiku
"Amiin... " jawabnya.
Hingga akhirnya aku pamit pulang karena hujannya sudah redah, takut mama khawatir dirumah. Sebenarnya masih ingin disini, bersama bidadariku. Tapi aku harus pulang dan aku harus tau batasan anatara kita. Karena kita masih belum mahrom. Takut terjadi fitnah.
Akhirnya dengan berat hati kutinggalkan bidadariku yang tampak menyejukkan hati dan pandanganku disana.
Tenanglah neng... Meski tak pernah ada ungkapan cinta diantara kita, tapi aku yakin... Hati kita mempunyai rasa yang sama.
Bersabarlah....
Sampai tiba waktunya kita bersama...
Amiin...
__ADS_1
@@@