
langit berkabut. mendung semakin tampak dilangit. malam masih belum terlalu larut, laki-laki itu tidak bisa tidur. pikirannya melayang pada satu nama, Sabrina.
tanpa pikir panjang,ia segera mengambil handphone dan menghubungi nama itu.
"assalamualaikum,sya"
"Waalaikum salam,neng.. belum tidur?"
"belum.. tapi ini sudah siap2 mau tidur. ada apa,sya?"
"oh gk neng.. cuma mau tanya,besok pagi bisa ketemu sebentar gk?"
kalimat itu membuat Sabrina tersenyum bahagia.
"oh,iya bisa.. kamu tentukan aja Jam berapa dan dimana?"
"oke baik neng.. besok aku sharelok aja."
"iya"
"ya udah, selamat malam, selamat beristirahat.. assalamualaikum"
"iya.. waalaikum salam"
wanita itu tampak bahagia setelah menyelesaikan pembicaraannya di telpon.
tanpa ia hiraukan Gus Ali suaminya yang telah terlelap dalam tidurnya.
perlahan Sabrina berjalan menuju tempat tidur. menarik selimutnya dengan posisi tidur miring membelakangi suaminya.
senyumnya tak hilang sembari memejamkan mata. berharap,esok hari Langit cerah ketika ia bertemu dgn Arsya.
Subuh datang..
Gus Ali perlahan membangunkan istrinya.
"Neng.. bangun sholat subuh dulu"
kata Gus Ali lembut.
perlahan wanita itu membenarkan posisi tidurnya.
"Aku lagi gk sholat Gus"
kata wanita itu setengah sadar.
mentari mulai tersenyum lebar.
Sabrina bergegas menuju kamar mandi.
ia merasa pembalutnya penuh. ia merasa tidak nyaman dan hendak menggantinya.
dikamar mandi ia panik karena ia lupa membawa pembalut baru. ia bingung harus bagaimana. sedangkan ia tahu bahwa Gus Ali sedang dikamarnya menonton televisi.
terpaksa ia membuka pintu kamar mandi..
mengintip Gus Ali yang sedang duduk menghadap televisi.
ia menggigit bibir bawahnya, bingung harus bagaimana. ia merasa malu untuk meminta bantuan Gus Ali untuk mengambilkan pembalutnya.
akhirnya..
"Gus.. "
panggil Sabrina dengan bibir bergetar karena malu.
""iya ada apa, neng?"
seketika itu Gus Ali menoleh dan kaget melihat sabrina tampak mengeluarkan kepalanya saja ke luar pintu.
melihat ekspresi kaget dari Gus Ali, seketika ia menarik kepalanya dan menutup pintu kamar mandi.
seolah tahu bahwa istrinya butuh sesuatu,Gus Ali langsung berjalan dan berdiri di depan pintu kamar mandi itu.
"Ada apa,neng.. ada yang bisa aku bantu?"
"eeeh itu Gus .. aku mau minta tolong ambilkan sesuatu"
"sesuatu apa neng? dimana?"
"itu di laci meja.. disitu ada bungkusan kotak2 putih. minta tolong ambilkan satu"
__ADS_1
kalimat itu lancar sabrina ucapkan. meski ia sangat malu rasanya.
"sebentar.."
kata Gus Ali.
ia berjalan menuju meja disebelah tempat tidurnya. perlahan menarik laci yang ada dimeja itu. dan ia tersenyum ketika melihat isi laci itu. tampak satu pack benda kotak2 berwarna putih.
dan Gus Ali tahu bahwa itulah yang namanya pembalut.
"Ada,Gus? (lama banget sih)"
gumam sabrina tak sabar.
"iya ada "
kata Gus Ali sambil menahan senyum gelinya. ia berjalan menuju kamar mandi untuk memberikan barang itu pada istrinya.
tok..tok..tok..
Sabrina mengulurkan tangannya yang putih dan mulus. membuat suaminya semakin dag Dig dug melihatnya.
segera ia memberikan barang itu dan pintu itu kembali tertutup.
Dengan bahagia.. Gus Ali kembali menonton televisi. Tak lama kemudian, sabrina keluar dari kamar mandi dengan rambut panjangnya yang terurai.
"Terimakasih udah bantu aku Gus"
kata wanita itu.
"iya sama-sama."
seperti biasa, Gus Ali selalu membelakangi istrinya ketika Sabrina sedang mengganti pakaian.
Gus Ali bukan laki-laki hidung belang yang dengan ego menuruti nafsu bejadnya. Tapi ia adalah seorang laki-laki yang memegang teguh janji dan prinsipnya.
Ditengah kesibukan masing-masing..
seorang pembantu rumah tangga memanggil keduanya untuk sarapan.
"Sudah,neng?"
tanya gus Ali yang masih tetap membelakangi istrinya.
sementara di pojok kamar, Sabrina tengah menggerutu pada dirinya sendiri karena resleting gamisnya bagian belakang susah untuk di tutup atau di tarik.
berharap meminta bantuan pada Neng Zahwa kakak iparnya.
tapi ketika hendak membuka pintu..
"Tunggu,neng"
kata Gus Ali menghentikan langkahnya.
Sabrina berdiri mematung tanpa menoleh ke belakang.
"Resleting gamis kamu belum di tutup.."
kata Gus Ali mencoba mengingatkan, barangkali istrinya lupa untuk menutupnya.
"eeeh iya gak papa kok Gus".
kata Sabrina mencoba tennag.. padahal ia tidak bisa menutupnya.
mendengar jawaban wanita itu, Gus Ali melangkahkan kakinya perlahan dan menyentuh resleting itu. ia mulai menutup dan menarik resleting itu hingga tertutup rapat.
Hening...
keduanya laksanakan patung yang berdiri tegap. setelah dirasa resleting dipunggunnya sudah tertutup rapat, wanita itu langsung membuka pintu dan ..
"Terimakasih Gus,ayo kita sarapan"
kata wanita itu yang kemudian keluar meninggalkan Gus Ali yang masih mematung.
"Hal kecil ini mungkin tidak berpengaruh apa-apa untukmu neng.. tapi hal kecil ini membuatku sangat bahagia dan semakin suka padamu."
batin laki-laki yang tengah menahan degup jantungnya itu.
Dimeja makan..
sarapan berlangsung lancar. obrolan hangat menyelimuti keluarga itu. hingga Gus Ali di ajak oleh mertuanya,yakni Abi neng Bina untuk ikut menghadiri pengajian yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Gus Ali menyetujuinya.
Setelah sarapan...
"Neng bina, aku mau ikut Abi ke pengajian dulu ya"
__ADS_1
pamit Gus Ali pada istrinya.
"iya,Gus.. hati-hati"
pesan sang istri pada suami.
kalimat itu membuat Gus Ali tersenyum bahagia.
" Aku tahu kamu belum bisa menerimaku sebagai suamimu,neng.. tapi setidaknya kamu mau bersikap baik dan lembut."
batin Gus Ali sebelum ia berangkat.
jam menunjukkan pukul 09:35..
setengah jam setelah kepergian suaminya bersama abinya, Sabrina juga pergi keluar untuk bertemu dengan Arsya.
ia hanya berpamitan pada umik dan kakaknya untuk pergi keluar sebentar.
setelah itu, bina langsung menyetir mobilnya.
Setelah hampir dua puluh menit ia menyetir mobilnya, akhirnya ia sampai juga di sebuah pantai yang sering ia kunjungi bersama keluarganya.
Sabrina..
Dengan memakai gamis hitam dan hijab pashmina warna Violet itu berjalan dengan cantiknya menuju seseorang yang tengah duduk menghadap pantai.
seseorang yang membuatnya tersenyum bahagia walau hanya menyebut namanya saja.
"Assalamualaikum,maaf telat"
ucap Sabrina dengan bahagia.
"Waalaikum salam,gpp neng. santai aja"
jawab laki-laki memakai celana jeans biru dan kaos putihnya. tampak casual dan tampan meski dengan style yang sederhana.
"Jadi ada apa kamu nyuruh aku kesini?"
tanya Sabrina penasaran.
"Aku mau bahas hubungan kita neng."
"maksudnya,sya?"
"aku tahu kamu cinta sama aku. apalagi aku yang gak bisa move on dari kamu. cintaku murni neng. aku terlanjur cinta sama kamu.
cintaku lillah, bukan karena nafsu atau yang lainnya... "
Arsya menghembuskan nafasnya pelan.
karena butuh keberanian untuk mengucapkan kalimat menyakitkan itu.
sementara wanita disampingnya yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari Arsya.
"... Tapi, cinta ini sudah tidak ada artinya lagi sekarang, karena kamu sudah menjadi milik orang lain. dan aku sudah tidak berhak lagi menyimpan cinta ini untuk orang yang sudah bersuami."
Kalimat terakhir Arsya membuat sabrina faham akan apa yang sebenarnya ingin laki-laki itu sampaikan. seketika itu ia mengalihkan pandangannya ke pantai.
" Jadi aku mohon sama kamu, lupakan aku neng. buang namaku jauh-jauh dari hidupmu. agar kamu bisa menjalani rumah tangga bahagia dengan suamimu. Tanpa ada aku yang mengusik ketenangan jiwamu. "
Seketika Arsya menoleh pada wanita yang sedari tadi diam membisu disampingnya.
laki-laki itu sudah mengira bahwa kalimat-kalimatnya akan menyakiti hati wanita yang di cintainya. tapi ia harus melakukan itu.
agar rumah tangga Sabrina tidak hancur olehnya.
Gadis itu tengah menatap kosong ke arah laut. air mata yang mengalir begitu deras hingga membasahi hijab cantiknya.
"Neng.. maafin aku. aku tahu aku jahat. tapi kamu harus tahu neng, hatiku sakit,dadaku terasa sesak untuk mengatakan semua ini.
Tapi ini demi kamu, demi keutuhan rumah tanggamu. aku harap kamu mengerti maksudku."
wanita itu masih bungkam dengan tangisnya.
Mentari semakin terik. waktu duhur telah tiba. tubuh keduanya telah basah oleh keringat. tapi keduanya tetap diam.
" sudah siang, ayo kita pulang neng. nanti kamu di cari suami kamu."
kata Arsya.
"Kamu pulang duluan aja. aku masih pengen disini." kata wanita itu memaksakan senyumnya kepada Arsya.
"ya udah, aku pulang duluan ya. sekali lagi aku minta maaf ya neng. Semoga kamu bahagia dan segera diberi keturunan yang Sholih sholiha. kalo gitu aku pulang dulu. assalamualaikum."
"aamin.. waalaikum salam."
__ADS_1
jawab Sabrina masih dengan senyum memaksanya.
@@@