
Setelah kepulanganku dari rumah itu, entah apa yang terjadi.
#NENG SABRINA#
Gadis itu berjalan tergesah setengah berlari mencari neng zahwa.
"Neng.. Udah dari tadi arsya sama orangtuanya kesini?. "
Tanyaku tak sabar pada neng zahwa.
"Sini dek... "
Neng zahwa mengajakku duduk dikursi panjang tepi kolam renang belakang rumah.
"Kenapa neng gk telpon bina? "
Aku bertanya lagi karena penasaran.
Neng bina mulai menceritakan semuanya padaku. Air mataku mengalir seketika. Aku kaget bercampur marah. Kenapa abi gk bilang padaku sebelumnya tentang lamaran itu.
"Abi gk adil neng.. Bina gk suka main dijodohin gitu aja tanpa bilang ke bina dulu."
Tangisku pecah dipelukan neng zahwa.
Aku marah banget sama abi.
Disela tangisku berkata..
"Arsya udah nunggu bina lama banget neng. Arsya suka sama bina udah sejak SD. Penantiannya lama banget neng. Dia setia nunggu bina sampai lulus mondok. "
Kembali kuungkapkan semuanya pada neng zahwa.
"Iya.. Neng tahu kok dek. Tapi mau gimana lagi, itu sudah jadi keputusan abi. "
Kata neng bina mencoba menenangkanku.
Aku tak kuasa membendung tangis dan air mataku. Aku berlari menuju kamar.
Kutumpahkan semua air mataku dikamar.
"Ya Allah.. Inikah takdirmu untukku? Bukan ini yang hamba harapkan dariMU ya rabb."
Hari itu...
__ADS_1
Setiap sujud dan doaku hanya meminta agar engkau menyatukan kami, aku dan dia yang telah setia menunggu Takdirmu menyatukan kami.
Keesokan harinya..
Aku males keluar kamar. Aku gak selera buat makan. Aku hanya ingin sendiri sampai abi menjelaskannya padaku tentang keputusan yang beliau putuskan.
Aku tahu mentari telah bersinar dengan lumayan teriknya. Meski jendela dan tirai kelambu kamarku belum terbuka.
Aku malas beranjak dari kasurku. Lampu kamarku juga masih menyala terang. Sekali lagi aku malas ngapa-ngapain. Hingga kudengar ketukan pintu.
Aku malas menjawabnya. Pasti bik fatma yang menyuruhku turun untuk sarapan.
Kubenamkan tubuh dan hatiku didalam hangatnya selimut tebalku. Air mata bersalahku kembali menetes.
"Dek bina.. Sarapan dulu yuk. "
Kudengar suara neng zahwa didekatku.
Aku masih tak berubah. Masih tetap dengan posisiku.
"Dek.. "
Neng zahwa menarik selimut yang menutupi tubuhku.
"Astaghfirullohaladziim.. Dek.. "
Seketika itu kupeluk neng bina dengan erat. Kembali, air mataku pecah dipelukannya.
"Dek.. lihat neng zahwa. "
Kata neng zahwa sambil menarik tubuhku dari pelukannya.
"Kamu gk tidur semalaman? Kamu nangis terus sejak tadi malam?. "
Tanya kak zahwa penuh selidik.
Sementara aku hanya diam dengan tangis dan sesenggukanku.
"Mata kamu sembab. Kamu gk boleh gini dek. Ini namanya kamu dzolim pada tubuh kamu. Kenapa sih? Kamu masih marah sama abi? Atau kamu masih merasa bersalah sama arsya?. "
"Dua-duanya. "
Jawabku singkat dengan bibir kelu.
" bukan ini yang bina harapkan neng. Tapi kenapa Allah berkehendak seperti ini pada bina?. "
"Sssssttt... Gk boleh gitu. Allah pasti akan berkehendak baik untuk setiap hambaNYA.
Gini aja, sarang neng zahwa.. Kamu nanya langsung kejelasannya sama abi. Biar jelas semua. Kalaupun kamu gk setuju dengan perjodohan abi, ngomong aja.. Mumpung masih belum jauh, siapa tau abi mengerti. "
__ADS_1
Nasihat panjang lebar neng bina membuatku sedikit tenang.
"Iya.. Neng zahwa bener. "
Kataku langsung semangat.
"Ya udah.. Sekarang kamu mandi dan segera turun sarapan bareng ya. "
Kata neng bina.
Aku menuruti perintahnya.
Setelah mandi, aku segera turun untuk sarapan bareng. sesampainya dimeja makan, aku langsung mengambil makanan tanpa ngomong sepatah kata pun.
Aku tahu mereka sedang menatapku dan tingkah anehku. Biarin.. Toh, abi juga diem tak menjelaskan tentang perjodohan itu padaku.
Selesai makan, aku langsung kembali kekamar.
Sesampainya dikamar..
Aku duduk dikursi yang ada dibalkon kamarku. aku butuh udara segar untuk menenangkan hati dan peamrasaanku.
Pikiranku melayang jauh entah kemana. Rasa bersalahku pada arsya masih belum bisa kuatasi.
... Shollu 'alaa muhammed..
Tiba-tiba hp ku berdering. Kulihat layar hpku. Tertulis nama saira disana.
Segera ku angkat dan bicara...
"Assalamualaikum, ra. "
"Waalaikum salam, neng..
Gimana kabarnya? "
"Menyedihkan ra.. Kabarku menyedihkan. "
Ucapku tanpa ragu.
Tuut.. Tuuuut.. Tuuut...
Tiba-tiba hp ku lowbat karena lupa tidak dicash semalam. Ya sudah, aku kembali menutup mata dan merasakan semilir angin yang sejuk menerpa wajah dan tubuhku.
"Ya rabb.. Berilah ketenangan hati pada hambaMU ini. Satukannlah aku dengan dia yang sudah setia menunggu ya Rabb.. "
Do'aku disembari memejamkan mata.
@@@
__ADS_1