
jam menunjukkan pukul 20.30..
Sabrina masih tetap di kamar tanpa keluar sejak pulang dari rumah sakit.
Malam itu ummi' juga menjadi pendiam sejak emosinya yang meledak-ledak sedari pagi tadi.
"Makan malam sudah siap kyai"
kata abdi ndalem atau asisten rumah tangga keluarga itu.
"Terimakasih Bu. minta tolong sekalian panggil yang lain ya"
ucap Abi Sabrina yang baru saja menutup Al-Qur'an nya.
"Baik kyai"
kata perempuan yang di sebut Adi ndalem itu.
Dimeja makan..
kini semuanya sudah berkumpul kecuali Sabrina.
Abi meminta abdi ndalem untuk memanggil Sabrina.
"Sudah saya panggil dua kali kyai, tapi neng Sabrina tidak menjawab dan tidak keluar sama sekali sejak tadi pagi"
kata abdi ndalem itu.
mendengar ucapan wanita itu, membuat Zahwa dan suaminya saling menatap sekilas.
"Biar Zahwa yang panggil dek bina, bi"
kata Zahwa kemudian.
"Tidak usah, biarkan dia menyadari kesalahannya dulu"
kata ummi' yang menghentikan Zahwa.
__ADS_1
"Tapi ummi'.. dek bina sedang menyusui, dia butuh banyak asupan makanan untuk produksi ASI nya"
kata Zahwa yang terlihat panik.
"Duduk dan lanjutkan makannya"
perintah ummi' kemudian membuat Abi suaminya menggeleng-gelengkan kepala.
dengan berat hati akhirnya mereka makan tanpa Sabrina.
Setelah makan mereka kembali ke kamar masing-masing.
tapi Alwi dan Abi masih ngopi di ruang keluarga.
"Ummi' mu memang sangat tegas tentang suatu hal yang berurusan Dengan agama, kamu tau itu kan,wi ?"
kata Abi membuka obrolan.
"iya,bi.. tapi masalahnya kita tidak tau kejelasan kejadiannya seperti apa"
"Kamu benar Alwi. hanya Sabrina yang mampu menjelaskan semua itu. tapi untuk saat ini biarlah dia menenangkan pikiran dulu. mungkin Sabrina takut kalau kita juga akan memarahinya seperti ummi' mu"
"Iya.. sepertinya begitu,Bu"
Obrolannya dengan Abi membuat keduanya lupa jam. hingga tidak terasa sudah pukul 22.00.
Alwi pamit untuk istirahat karena besok ada jam ngajar pagi di pesantren.
Sesampainya di kamar, Alwi kaget melihat anaknya Azam tidur sendirian. sedangkan istrinya tidak ada. Alwi mengira kalau istrinya ada di kamar mandi atau ke dapur.
namun Alwi tidak menemukan istrinya di dua tempat itu setelah ia memutuskan untuk mengeceknya.
Ketika ia akan kembali ke kamar, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat istrinya ada di depan kamar Sabrina.
Melihat gerak-gerik dan ucapan istrinya yang sedikit sembunyi-sembunyi membuat Alwi terpaksa bersembunyi untuk mendengarkan apa yang di ucapkannya pada Sabrina di dalam sana.
"Dek.. neng Zahwa tau kalau hati kamu sakit dan hancur. tapi jangan sampai menyiksa diri kamu sendiri. apalagi sudah ada bayi yang butuh Asi kamu dek"
__ADS_1
Alwi melihat istrinya sangat perhatian pada adiknya. ia merasa senang sekali karena Zahwa sangat menyayangi adiknya.
"Dek.. jangan seperti ini. nanti kamu sakit. kamu juga harus tau, bahwa bukan keluarga ini saja yang sedih kalau sakit, tapi dia juga akan terluka. dek, ingat bahwa takdir Allah itu indah.. sejauh apapun keadaan memisahkan kalian, tapi jika Allah menghendaki kalian akan bersatu suatu saat nanti"
kata Zahwa berbicara panjang lebar walau tidak dapat respon dari Sabrina.
"Sudah malam.. istirahat dulu ya. ini neng Zahwa siapkan makanan untuk kamu. di makan ya dek"
kata Zahwa yang kemudian meninggalkan kamar Sabrina.
ketika ia berbalik badan, betapa kagetnya ia melihat suaminya sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Mas.. ngapain disini?"
tanya Zahwa dengan tingkah gugupnya.
"Sudah malam, ayo istirahat "
kata Gus Alwi menarik tangan istrinya dan berjalan menuju kamar mereka.
Zahwa bernafas lega karena suaminya tidak bertanya apa-apa padanya.
wanita itu berharap bahwa suaminya tidak mendengar semua ucapannya tadi pada Sabrina.
sesampainya di kamar..
Lelaki itu mendudukkan istrinya di kursi rias yang ada di kamar mereka.
"Ada apa mas?"
tanya Zahwa yang kaget melihat suaminya begitu lekat menatap dirinya.
"Ada apa sebenarnya dek ? apa yang kamu sembunyikan dariku ?"
laki-laki itu langsung melontarkan pertanyaan yang sedari tadi membuat otaknya bertanya-tanya.
@@@
__ADS_1