NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 34. TERPESONA


__ADS_3

setelah dua hari terbaring sakit, kini Gus Ali sudah kembali sehat. Sabrina yang masih dengan selimut yang menutupi tubuhnya menngeliat perlahan dan membuka mata.


"selamat pagi.. sudah bangun?"


sapa Gus Ali yang tengah membenarkan kopyahnya.


"sudah sehat,Gus?"


tanya Sabrina kaget melihat laki-laki itu sudah rapih dan kembali tampan seperti semula.



ini Gus Ali..


Tampan,religius dan sabar. untuk masalah fisik, jangan tanya. lihat saja sendiri betapa sempurnanya laki-laki itu. tapi semua itu tidak dapat merebut hatiku yang hanya untuk Arsya.


"mau kemana se pagi ini,Gus?"


tanya Sabrina yang sudah duduk di kasurnya.


dengan cepat Gus Ali berjalan dan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Sabrina.


"aku di ajak Abi dan bang Alwi menghadiri pengajian di luar kota"


jucapnya kemudian tersenyum menatapku.


haduuh...


tubuhku lemas seketika melihat tatapan mata indah dan senyum itu.


seakan tahu melihat ekspresi kagetku dengan pipi yang mungkin sudah sedikit memerah karena malu, Gus Ali kembali berkata...


"insyaallah aku akan pulang seminggu lagi,dek"


ucap laki-laki itu yang kemudian menarik wajahnya dari hadapanku.


sesak rasanya..


seolah nafasku tertahan dalam beberapa detik.


"aku berangkat ya.. kamu jangan lupa makan dan jaga diri ya,dek.."


pesan Gus Ali yang kemudian mengulurkan tangannya untuk aku jabat dan cium sebagaimana biasanya.


"mandi dan sarapan ya.. assalamualaikum"


ucap laki-laki itu yang tersenyum pada istrinya yang masih terdiam di atas kasur.

__ADS_1


'mungkin dia kaget'


batin Gus Ali.


sembari menutup pintu kamar itu, Gus Ali diam dan berpikir. batinnya berkata:


'andai dia mau menerimaku sebagai suaminya, pasti aku bisa memeluk dan menciumnya sebelum aku berangkat. tapi tidak masalah, yang penting dia sudah mau bersikap santai dan baik padaku. semoga suatu saat Allah memberiku kesempatan untuk bisa menjadi suamimu seutuhnya, neng'


doa laki-laki itu yang tanpa sadar sudah sampai di lantai bawah.


tampak sudah berkumpul semuanya. ada Abi,umi', bang Alwi Dan neng Zahwa. ternyata Kata Abi, umi' ikut kita keluar kota karena disana juga ada majlis rutinan khusus muslimah. jadi umi' yang akan memimpin majlis itu.


"Sabrina mana,nak.. kok gk turun bareng kamu?"


tanya umi'


"dia sedang mandi, mi'."


jawabku mencari alasan.


"ooh.. gak mau nunggu dia dulu sebelum berangkat?"


lanjut umi'


"gak usah gpp,mi'.. tadi Ali sudah pamit ke neng bina"


ucapku tenang dan menahan keinginan untuk bisa melihat wajah cantiknya sebelum berangkat.


kalo ada apa-apa langsung kabari kita. atau paling tidak kamu panggil satpam ya"


pesan Abi pada neng Zahwa.


"iya,Abi...".


ucap neng Zahwa sembari menganggukkan kepalanya.


tak lup bang Alwi mencium kening istrinya dan mencium perut buncit neng Zahwa yang sudah memasuki kehamilan yang ke 5 bulan setelah sebelumnya sempat 2 kali keguguran karena kecapean.


makanya umi' mempekerjakan pembantu untuk melayani segala kebutuhan neng Zahwa.


melihatnya, membuatku iri padan mereka. tapi apalah dayaku yang hanya bisa bersabar menunggu kesiapan dari neng binaku.


kami pun berangkat karena khawatir ketinggalan pesawat.


"Sampai jumpa lagi,neng.. tunggu aku kembali".


batin Gus Ali menahan gejolak hatinya yang lumayan sesak karena menahan rasa itu.

__ADS_1


sementara Sabrina yang sudah mandi, tampak berdiri di balkon kamarnya untuk melepas keberangkatan mereka.


triiiiing...


Notifikasi WhatsApp dari hp neng bina.. ( jaga kesehatan ya,dek.. aku berangkat dulu)


Sabrina tiba-tiba tersenyum setelah membaca chat dari laki-laki itu.


seolah tersadar...


"astaghfirullah.. ada apa denganku. kenapa aku sekarang seperti ini"


gumamnya yang secara tiba-tiba melihat Arsya sedang lewat di depan rumahnya.


seketika ia ingat bahwa sejak melihatnya di kafe mawar beberapa hari yang lalu, dia tidak pernah lagi bertemu dengan laki-laki itu.


ketika dia mencari nomor Arsya di hp nya.. tiba-tiba neng Zahwa berteriak memanggilnya..


"iya,neng.."


jawabku sembari berlari menuju kamar neng Zahwa.


"ada apa,neng?"


tanyaku panik.


"perutku sakit banget,dek.."


kata neng Zahwa yang sudah basah oleh keringat dan air matanya karena tidak kuat menahan sakit.


seketika aku berlari mencari bantuan.


memanggil supir yang umi' yang ternyata belum pulang.


dengan bantuan pak supir dan pembantu rumah, aku membawa neng Zahwa ke rumah sakit terdekat.


aku panik hingga ingin juga menangis rasanya melihat neng Zahwa yang tampak pucat sekali didepannya.


sesampainya di rumah sakit, perawat segera membawa neng Zahwa ruang ICU.


terlalu panik hingga aku membenamkan wajahku di kedua telapak tanganku. berharap tidak terjadi apa-apa padanya dan bayinya.


karena sudah dua kali neng Zahwa kehilangan bayinya.


aku tidak tega melihat neng Zahwa kembali sedih seperti sebelumnya.


"semoga tidak terjadi apa-apa"

__ADS_1


gumamnya lirih.


@@@


__ADS_2