NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 64. CINTA MENGGOYAHKAN IMAN KEDUANYA


__ADS_3

Laki-laki itu duduk menatap Sabrina yang sudah tertidur pulas disana.


'Kini aku semakin yakin bahwa cintamu juga sangat besar padaku neng'


batin Arsya terharu.


laki-laki itu berjalan menuju tempat Sabrina berada. ia berdiri menatap lekat wanita bercadar yang tengah pulas dalam tidurnya.


'Andai aku boleh meminta satu hal padaMU ya Robb.. aku ingin dia menjadi milikku'


batin Arsya penuh kesedihan.


seketika laki-laki itu menarik sebuah kursi mendekat pada Sabrina. kemudian Arsya duduk di kursi itu tepat di sebelah Sabrina berada.


'ini adalah malam kita neng.. aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini'


batin Arsya kembali.


perlahan Arsya membelai tangan Sabrina dengan lembut.


kini ia berani menyentuh wanita itu karena wanita itu juga telah berani menyentuhnya.


pertahanan dan keimanan keduanya telah goyah akan kekuatan cinta mereka.


Kini Arsya telah berhasil menggenggam tangan cantik itu dengan sempurna.


lembut dan hangat yang di rasakan Arsya saat menggenggam tangan itu.


'Maaf jika aku berani dan lancang menyentuhmu neng, jangan salahkan aku karena kau yang memulainya maka aku akan meneruskannya'


batin Arsya kembali berucap saat menggenggam tangan itu.


Arsya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. jam menunjukkan pukul 02.10 pagi.


Arsya tak henti terus menatap wajah cantik itu meski tertutup oleh cadarnya.


'aku berharap pagi datang dengan lambat hari ini. karena aku masih ingin bersamanya'


batin Arsya yang kemudian terlelap tak kuasa menahan rasa kantuknya.

__ADS_1


Cahaya matahari yang menembus ke sela-sela tirai kamar itu menyilaukan mata Arsya hingga membuatnya mengerjap-ngerjapkan matanya hingga terbangun.


melihat Sabrina yang masih tidur, Arsya merasa lega dan kemudian melirik jam tangannya.


pukul 06.30 pagi...


' astaghfirullah ampuni hamba MU ini yang telah melalaikan sholat'


batin Arsya merasa sedih karena ia tanpa sengaja meninggalkan sholat Subuh nya.


Arsya mencium lembut tangan cantik itu hingga membuat jari-jari lentik itu bergerak perlahan.


iya.. Sabrina sudah bangun.


"Selamat pagi"


ucap Arsya dengan senyum bahagianya melihat wanita itu perlahan membuka mata.


"Selamat pagi.."


Sabrina yang membalas senyum Arsya.


tanya Arsya seketika.


"Terimakasih sudah menemani tidurku"


ucap sabrina sembari membalas genggaman tangan Arsya.


"bayiku..."


tanya sabrina kaget ketika teringat bayinya.


"Dia baik-baik saja ... mungkin dia sedang bermimpi indah dalam tidurnya"


kata Arsya membuat sabrina tersenyum di balik cadarnya.


"Neng dengarkan aku.. pagi ini dokter Mira sudah mulai bekerja dan akan menangani mu. aku hanyalah dokter yang menggantikan beliau untuk membantu proses persalinan mu kemarin. hari ini kamu sudah bisa pulang setelah dilakukan pemeriksaan terakhir oleh dr.mira, jadi..."


laki-laki itu menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


sementara Sabrina menatapnya lekat sambil mendengarkan semua ucapan Arsya.


"jadi.. sebelum aku pergi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu"


"Sesuatu apa,sya?"


tanya Sabrina penasaran.


Di depan mata Sabrina, Arsya mencium tangannya dan masih terus menggenggamnya.


"Apa yang terjadi tadi malam dan hari ini, biarlah menjadi rahasia kebahagiaan kita. karena ini salah neng. tidak seharusnya kita melakukan ini. sedangkan orang lain belum tentu bisa memahami perasaan kita. kamu mengerti maksudku?"


tanya Arsya pada wanita yang sudah berkaca-kaca itu.


"Terimakasih sudah memberi kebahagiaan padaku. tadi malam adalah malam paling bahagia dalam hidupku. Terimakasih"


ucap Arsya yang kemudian berdiri dari duduknya.


"Kisah kita bukanlah sebuah sinetron yang akan berakhir sesuai dengan arahan sutradara, tapi kita punya Allah yang menyusun begitu indahnya skenario kehidupan kita. walau terkadang kita merasa sedih dan tidak terima.. tapi aku yakin, akan ada akhir bahagia dalam hidup ini"


kata Arsya sembari membelai lembut tangan Sabrina.


"Aku harus pergi sebelum keluargamu datang neng. aku merasa hina dan tidak pantas menghadap keluargamu karena aku telah membuat kamu melanggar peraturan tuhan untuk tidak bersentuhan dengan lain mahrom"


"sya.. bukan kamu yang salah, aku saja yang tidak bisa menahan imanku"


pengakuan Sabrina membuat Arsya semakin tidak bisa menahan hasratnya.


seketika lelaki itu mencium kening Sabrina dengan lembut. wanita itu sontak memejamkan mata menikmati sentuhan bibir Arsya di keningnya.


begitu pula dengan Arsya yang juga memejamkan mata tak kuat menikmati kebahagiaannya yang hanya sesaat. sementara tangan kiri Arsya tak melepaskan genggaman tangan Sabrina, sedang tangan kanannya membelai lembut kepala Sabrina.


keduanya hanyut dalam perasaan masing-masing. benar-benar merasa bahwa dunia milik berdua. hingga wanita cantik itu meneteskan air mata tanpa ia sadari.


sementara Arsya masih mempertahankan bibirnya berlabuh di kening wanita cantik itu.


hingga terdengar suara dari jarak yang tak jauh dari keduanya berada.


"Astaghfirullahal 'adziim..."

__ADS_1


@@@


__ADS_2