
Malam itu Arsya sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. karena ia dinas malam.
"Sya..."
panggil mama arsya yang sedang duduk bersama papa nya.
"iya ma.."
jawab Arsya menghentikan langkahnya menghadap kedua orangtuanya.
"Tumben berangkat lebih awal?"
tanya mama Arsya heran.
"Gpp ma.. Arsya masih banyak pasien yang harus di tangani"
jawab Arsya sambil menyembunyikan senyumnya.
"ooh.. begitu. gak makan dulu,sayang?"
"Gk usah ma.. nanti saja. Arsya buru-buru"
jawab arsya sambil merapikan kemeja birunya.
"Ada apa,sya.. sepertinya kamu sedang bahagia ?"
tanya papa Arsya tiba-tiba.
"Ada cinta di rumah sakit,pa.. dan hal itu membuat arsya semangat kerja"
kata Arsya yang sudah menampakkan senyum bahagianya.
"Maksud kamu??"
tanya papa Arsya yang membuat istrinya juga bingung.
"Neng bina sudah melahirkan,pa.. dan Arsya sendiri yang membantunya berjuang"
kata Arsya yang kini memudarkan senyumnya.
pengakuan Arsya membuat kedua orangtuanya terdiam seketika.
hingga akhirnya papa Arsya berjalan mendekati putranya.
"Sya.. ingat nak, kamu bukan suaminya. kamu tidak berhak berbuat lebih padanya"
kata papa Arsya sambil menepuk pelan pundak putranya.
"Tenang saja, pa.. Arsya tau batasan kok. Arsya hanya ingin menjalani kenyataan yang ada saja"
kata Arsya sambil memberi senyum pada papa nya.
"Tapi kamu masih ada niat untuk mencari wanita sebagai istri kamu kan?"
tanya mama Arsya kemudian.
memastikan bahwa ucapan putranya tempo hari itu hanya candaan semata.
"Kalau masalah itu aku kan sudah bilang, ma..
aku gk akan nikah sampai kapanpun "
jawab Arsya tegas.
"Tapi nak.. bukanlah nabi kita menganjurkan setiap ummat nya untuk menjalankan Sunnah nya yaitu menikah"
kata papa Arsya mengingatkan.
"Aku tahu pa.. tapi aku gk bisa"
__ADS_1
kata Arsya yang langsung mencium tangan kedua orangtuanya.
meninggalkan mereka dengan keadaan sedih dengan ucapannya.
Malam itu langit tampak cerah. bertabur bintang di antara sang Dewi malam.
Dengan semangat..
seorang Arsya menyetir mobilnya menuju rumah sakit. ia tidak sabar ingin segera menemui wanita itu kembali.
'ingatkan aku jika aku melewati batas ya Allah'
batin Arsya di tengah menyetirnya.
setengah jam kemudian Arsya sudah sampai di parkiran rumah sakit. ia baru saja berjalan meninggalkan mobilnya dan terdengar suara seseorang memanggilnya.
"Arsya..!"
seketika Arsya berbalik badan menghadap orang yang memanggilnya.
"Saira.."
ucap Arsya ketika melihat wanita itu.
"Udah jadi dokter ternyata"
kata Sabrina sembari melihat Arsya dari ujung kaki sampai rambut.
"Alhamdulillah,Ra.. mau jenguk neng bina ya?"
tebak Arsya seketika.
"iya,sya.. aku baru tau kalo neng bina udah lahiran. tadi sore neng Zahwa ngasih tau aku"
kata saira.
kata Arsya mengajak Saira masuk.
"oke siap.. kerja di bagian apa,sya?"
mereka lanjut ngobrol sambil berjalan menuju kamar dimana Sabrina di rawat.
"Aku dokter bedah,Ra.. "
"Ooh.. kirain bagian persalinan gitu.. kan enak bisa bantu neng bina lahiran kaan?"
goda saira.
"Emang aku yang menangani neng bina lahiran,Ra.."
pengakuan Arsya membuat wanita itu kaget.
"Loh kok bisa.. katanya kamu dokter bedah?"
"Kebetulan waktu neng bina mau lahiran, Dokter bagian bersalin sedang sakit jadi pihak rumah sakit meneleponku untuk menggantikan beliau"
kata Arsya menjelaskan panjang lebar.
sesampainya di depan kamar dimana Sabrina di rawat..
"Masuklah.. ini kan neng bina"
kata Arsya.
"Loh.. kamu gk ikut masuk?"
tanya saira
"masih ada pasien yang harus aku tangani dulu"
__ADS_1
kata Arsya sambil pamit pada saira.
"Assalamualaikum.."
ucap saira yang sudah membuka pintu membuat kedua wanita itu seketika menoleh dan menjawab salam.
"MasyaAllah.. akhirnya si kecil launching juga ke dunia ya neng"
kata saira yang kaget melihat bayi cantik Sabrina.
"ada-ada aja sih,Ra.. "
kata Sabrina.
"Kamu sendirian aja dek?"
tanya neng Zahwa kemudian.
"iya neng.. eh tapi tadi di anterin dokter Arsya kok kesini. jadi gk perlu pusing cari kamar neng bina"
kata saira dengan jujurnya.
"di..diaa.. dimana sekarang?"
tanya Sabrina terbata-bata Karena malu.
pertanyaan itu membuat saira dan neng Zahwa terdiam seketika.
"Dia lagi memeriksa pasien lain neng"
jawab saira asal.
"ooh.."
kata Sabrina singkat.
melihat ekspresi kecewa di wajah Sabrina, saira langsung mengganti pembahasan.
"kenapa neng Zahwa sendirian disini neng?"
tanya saira mencoba mencairkan suasana.
"yang lain baru aja pulang,dek.. ummi' dan Abi aku suruh istirahat. sementara suamiku juga aku suruh istirahat karena besok dia harus berangkat pagi ke malaysia bersama abi. biar sekalian lihat keadaan anakku dirumah"
kata neng bina panjang lebar.
kedua wanita itu terus mengobrol sementara Sabrina sibuk menyusui si kecil.
"terus Gus Ali kemana,neng?"
tanya saira pada Sabrina.
"Gus Ali sedang pulang kampung karena adik sepupunya sedang sakit"
kata Sabrina datar seolah kecewa pada suaminya yang lebih memilih menjaga adiknya di bandingkan menemani dirinya yang baru saja melahirkan buah hati mereka.
seketika kedua wanita itu diam sejenak..
"Gak apa-apa neng.. di sini kan ada aku ada neng Zahwa dan keluarga kamu neng bina juga kan.. jangan sedih neng"
kata saira mencoba menenangkan sahabatnya.
"aku tau,Ra.. tapi disaat-saat seperti ini siapa yang paling istri butuhkan kalau bukan suaminya"
kata Sabrina yang sudah tidak tahan sedari tadi menahan emosinya.
keduanya kembali diam karena mereka merasa bahwa ucapan Sabrina ada benarnya.
@@@
__ADS_1