NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 62. UNGKAPAN HATI ARSYA


__ADS_3

Tepat jam 01.00 malam itu suara si kecil kembali menggema di ruangan serba putih itu.


Arsya kembali terbangun dan langsung menghampiri bayi kecil yang sedang menangis itu. dengan berhati-hati Arsya mengangkat bayi itu dan menggendongnya, mengayun-ayun bayi itu perlahan.


Arsya tau bayi itu sedang haus tapi dia tidak tega membangunkan Sabrina.


namun karena suara tangis bayi itu semakin keras membuat Sabrina kaget dan terbangun.


"Astaghfirullah... sini sayang"


kata Sabrina meminta bayinya pada Arsya.


".. maaf lagi-lagi dia mengganggu istirahatmu,sya"


kata Sabrina yang sudah menggendong bayinya


"Gpp neng.. namanya juga bayi"


kata Arsya yang lega melihat bayi itu sudah berhenti dari tangisnya.


"Terimakasih.. Sepertinya dia haus, aku akan menyusuinya dulu,sya"


kata Sabrina.


"Silahkan neng.. aku mau ke toilet dulu"


kata Arsya kemudian meninggalkan sabrina yang sedang menyusui bayinya.


setelah Arsya keluar dari toilet ia langsung berdiri menghampiri Sabrina yang tengah menimang bayinya.


"Ada apa neng?"


"dia sudah kenyang tapi gak mau bobok juga"


kata Sabrina dengan wajah capeknya.


"Sini aku bantu menidurkannya"


pinta Arsya yang kemudian membuat wanita itu memberikan anaknya pada Arsya.


"mulai hari ini, malam-malam mu pasti akan terusik oleh si cantik ini neng"


kata Arsya sembari tersenyum pada Sabrina yang tengah memperhatikan dirinya sedari tadi.


"Gpp.. ini tantangan baru bagiku"


kata sabrina membalas senyum Arsya di balik cadarnya.


" Kenapa aku tidak melihat suamimu sama sekali neng?"


tanya Arsya kemudian.


"Dia sedang pulang kampung karena ada saudaranya yang sedang sakit"


kata Sabrina seolah enggan menjawab pertanyaan Arsya.


seolah mengerti bagaimana perasaan wanita itu yang tengah kecewa pada suaminya, Arsya langsung mengganti topik pembicaraan.


"Kamu lapar neng?"


tanya Arsya kemudian membuat Sabrina langsung mengangguk membuat Arsya tersenyum gemas melihatnya.


"Maaf,sya.. entah kenapa aku sering lapar hari ini?"


tanya Sabrina pada dirinya sendiri.


"Karena kamu sedang menyusui maka setiap makanan dan zat yang terkandung di dalamnya langsung terserap oleh Asi kamu untuk si kecil. semakin banyak kamu makan, maka semakin banyak pula produksi Asi yang akan kamu hasilkan. jadi makan yang banyak demi si kecil ya"


kata Arsya bijak membuat Sabrina terkagum-kagum oleh setiap ucapan lelaki itu.

__ADS_1


"Sudah jam segini.. entah makanan apa yang masih ada. kamu mau makan apa neng?"


tanya Arsya


"Apa saja asal bukan makanan rumah sakit"


kata Sabrina.


"Baiklah... "


kata Arsya yang menyodorkan si kecil pada ibunya.


Lelaki itu sudah keluar meninggalkan ruangan itu.


ketika sampai di depan administrasi Arsya dipanggil oleh seorang laki-laki rekan sesama dokter di rumah sakit itu.


"Belum pulang bro.. ngapain ?"


tanya dr.aldo


"ini masih jagain temen bro"


kata Arsya.


"Temen? temen yang mana bro?"


tanya dr.aldo penasaran.


"temen sekolah dulu yang ada di kamar VIP"


kata Arsya seadanya.


"jangan bilang pasien atas nama Sabrina yang baru saja melahirkan?"


kata dr.aldo penuh selidik.


"iya dia temen sekolah gue dulu. udah ya mau cari makan dulu"


...


Sabrina yang sudah duduk di sofa langsung menoleh melihat kedatangan Arsya.


"Assalamualaikum"


ucap Arsya


"Waalaikum salam"


"Maaf neng karena sudah malam jadi aku membelikan makanan seadanya. kamu mau ketoprak?"


tanya Arsya sambil memperlihatkan ketoprak yang di bawanya.


"iya gpp,sya.. apapun yang kamu bawa akan aku makan asalkan bukan makanan rumah sakit"


kata Sabrina .


"Makanlah..!!!"


kata Arsya memberikan makanan itu pada Sabrina.


keduanya duduk di sofa panjang itu dengan menjaga jarak.


kini Sabrina makan di hadapan Arsya tidak membelakanginya. tentu saja ia makan dibalik cadar itu tanpa melepaskannya.


perasaan bahagia menyelimuti hati Arsya. suatu kehormatan dan kebahagiaan bisa makan bersama dan duduk bersebelahan dengan wanita yang ia cintai sejak dulu.


"Makan yang banyak biar produksi ASI mu semakin banyak juga"


kata Arsya sembari memberikan beberapa potongan lontong yang ada di piring miliknya.

__ADS_1


"Gak usah ,sya"


kata Sabrina menolak tapi Arsya tetap memindahkan beberapa potongan lontong itu ke piring Sabrina.


"Makanlah.. setelah itu istirahat sebelum si kecil terbangun lagi!"


perintah arsya yang membuat Sabrina lagi-lagi menuruti ucapan laki-laki itu.


"Terimakasih... kamu gak kurang?"


tanya Sabrina merasa tidak enak pada Arsya.


"Tidak.. sebenarnya aku masih kenyang neng. tapi gpp biar kamu ada temen makan"


kata Arsya jujur membuat wanita itu semakin tidak enak pada Arsya.


ditengah makan mereka tiba-tiba hp Sabrina berdering..


dengan cepat Arsya mengambilkan hp itu dan memberikannya pada Sabrina.


"Terimakasih"


kata sabrina sambil mengambil hp nya dari tangan Arsya.


"Hallo assalamualaikum ummi'.. iya bina baik-baik saja kok ummi'.. iya disini ada dokter dan perawat yang jagain bina 24 jam kok.. iya ummi' jangan khawatir.. waalaikum salam" kemudian Sabrina mengakhiri telponnya dengan ummi'.


"Siapa.. ummi'?"


tanya Arsya memastikan.


"Iya.. orang rumah tampak khawatir dengan keadaanku disini. tapi aku memaklumi keadaan kok. kan sudah ada kamu yang jagain kita berdua"


kata Sabrina membuat Arsya seketika tersenyum.


"Terimakasih.. sudah mau direpotkan oleh aku dan bayiku"


kata Sabrina kemudian.


"Sama-sama neng.. sama sekali aku tidak merasa direpotkan karena insyaallah aku ikhlas melakukan semua ini untuk kalian berdua. tapi aku bukan seorang pemberani yang lancang masuk kesini tanpa izin"


kata Arsya


"Maksudnya??"


tanya sabrina tidak mengerti dengan ucapan Arsya.


"Neng Zahwa minta tolong padaku untuk menjaga kalian"


kata Arsya kemudian.


'Ternyata neng Zahwa yang melakukan semua ini'


batin Sabrina


"Maaf jika kamu terganggu dengan kehadiranku,neng"


kat Arsya yang membuyarkan lamunan Sabrina.


"Tidak. justru aku sangat berterima kasih karena kamu sudah mau membuang waktumu hanya untuk menjaga aku yang bukan siapa-siapa kamu"


kata Sabrina sambil menatap Arsya.


entah sejak kapan keduanya berani bertatapan satu sama lain.


"Neng... Kamu adalah seorang bidadari yang tidak bisa aku miliki. hanya bisa ku lihat dari jauh tanpa bisa aku sentuh. kamu.. adalah seseorang yang bisa membuatku bahagia dan sedih. kamu semangatku neng.. walau aku tak bisa memilikimu seutuhnya, tapi sampai kapanpun rasa ini tak akan pernah hilang dari hatiku"


Buummm....


pengakuan Arsya ibarat bom yang menghantam hati Sabrina. wanita itu diam menundukkan pandangannya. mendengarkan setiap kalimat yang terucap dari seseorang yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


cadarnya basah oleh aliran air matanya yang tak bisa ia bendung lagi.


__ADS_2