NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 19 JOHAN (Jodoh ditangan Tuhan)


__ADS_3

 


Setahun berlalu. Kau telah menyelesaikan tugas mengajarmu dijawa timur. Kini kau telah kembali.


 


Selamat datang kembali bidadariku...


Tanpa membuang waktu lagi, aku dan orangtuaku sudah sepakat malam ini akan datang kerumahnya untuk melamarnya.


Aku sudah siap..


Sudah sangat siap..


Sudah terlalu lama aku menunggu. Kini sudah tiba saatnya aku meminangmu.


Tunggu aku...


 


Jam menunjukkan pukul 19.00 tepat. Aku dan ortuku sudah berdiri teoat dipintu rumah pujaanku. Kaki bergetar hebat karena ini kali pertamanya aku menginjakkan kaki dirumah ini.


 


"Perbanyak banyak sholawat nak. "


Kata papa mengingatkan.


"Siap pa. " jawabku.


Papa mulai menekan bel rumah itu.


"Assalamualaikum. "


Tak kama kemudian, seorang pembantu rumah tangganya membukakan pintu untuk kami.


Setelah papa mengatakan mau bertemu pemilik rumah, pembantu itu mempersilahkan kami masuk dan mempersilahkan kami duduk.


Tangan dan kakiku bergetar hebat. Jantungku berdetak lebih kencang rasanya.


Tak lama kemudian, kulihat laki-laki setengah baya dengan kacamata dan baju gamisnya, beliau adalah abi neng bina.


"Assalamualaikum.. "


Ucap beliau memberi salam. Kemudian papa dan aku berjabat tangan dengan beliau.


"Waalaikumussalam... Mari silahkan duduk. Ada apa gerangan kalian mencari saya?. "


Kata beliau dengan ramah dan santai.


"Begini kyai.. Sebelumnya perkenalkan nama saya muhammad saiful wijaya. Ini istri saya dan ini putra tunggal kami, Ahmad Arsya alfarizi."


Kata papa memperkenalkan kami.


"Oh iya.. Salam kenal. "


Kata beliau.


"Anda pak saiful wijaya pemilik perusahaan MITRA?. "


Tanya beliau kemudian.


"Iya benar kyai. Loh kok bisa tahu? "


Kata papa.


"Iya.. Dulu perusaan saya bekerja sama dengan perusahaan anda. Kalo tidak salah dua tahun lalu. "


Tutur beliau membuat papa heran dan kaget.


"Oh, saya ingat.. Anda pemilik perusahaan ABADi JAYA kah kalo tidak salah. "

__ADS_1


Kata papa mencoba menebak.


Tapi abi neng bina menjawabnya dengan anggukan dan senyum lebarnya.


"MasyaAllah... Ternyataa... "


Kata papa yang baru sadar.


"Ternyata Allah kembali mempertemukan kita rupanya. "


Tutur abi neng bina.


Tawa pecah diantara keduanya.


Sementara aku dan mama ikut tertawa saja.


"Assalamualaikum.. "


Waalaikum salam.. "


Jawab kami bersamaan.


"Perkenalkan ini istri saya. " kata kyai ketika tahu istrinya baru datang dan ikut duduk disebelah beliau.


"Loh, umik.. Masih ingat saya? "


Kata mama membuka obrolan.


"Maaf, siapa.. Saya mudah lupa.. Maaf. "


Kata umik neng bina.


"Beberapa bulan yang lalu kita bertemu disupermarket ketika belanja sayuran. "


Kata mama mencoba mengingatkan.


"Subhanallah iya umik baru ingat sekarang bi.. Kami pernah bertemu waktu itu.


Bagaimana kabarnya, sehat ya buk? "


"Alhamdulillah sehat, mik.. "


"Alhamdulillah kalo seperni ini. Hubungan persaudaraan kita sesama muslim semakin erat. "


Kata abi neng bina.


Kami kembali tertawa.


"Oooh.. Jadi ini putra ibuk yang rajin sholat dan pandai mengajinya?"


Kata umik neng bina yang tampak mebatapku dengan senyum keibuannya.


"Iya mik.. Namanya Arsya alfarizi. Salim dulu sayang? "


Kata mama. Swgera aku mencium tangan beliau.


"Subhanallah gantengnya bah... Abah mah kalah sama dia. "


Kata umik menggoda suaminya.


"Hhahahhha.. "


Sontak semuanya tertawa. Umik mencairkan suasana. Membuat ketakutan dan rasa gemetarku semakin santai dibuatnya.


"Zahwa, sini nak... "


Umik memanggil neng zahwa yang sedang menggendong anaknya dan memperkenalkan pada kami.


Aku tertunduk malu melihat senyum neng zahwa yang penuh selidik. Aku malu padanya.


Aku jarang melihat suaminya yang merupakan kakak neng bina. Mungkin karena sibuk mengurus pesantren dibelakang rumahnya.

__ADS_1


Kemudian neng zahwa pamit hendak menidurkan anaknya.


 


Suasana begitu akrab dan tampak hidup.


Inilah waktu yang tepat untuk papa menyampaikan maksud kedatangan kami.


"Jadi begini kyai, maksud kedatangan kami kemari hendak meminang putri kyai untuk putra kami arsya. "


Kata papa. Suasana kembali menegang.


Tak henti ku lafadzkan sholawat dihatiku.


"... Mereka teman sejak SD. Sejak saat itu pula, anak saya sudah menunggu dan berniat meminang putri kyai, neng sabrina. Karena saya dengar putri kyai sudah menyelesaikan pendidikannya dipesantren, kami memberanikan diri datang kemari untuk meminangnya. Karena kami sudah sejak lama menunggu waktu ini tiba. Bagaimana pak kyai?"


Kata papa dengan kalimat panjang lebar beliau.


Membuatku semakin degdegan..


Sementara abi dan umik neng bina tampak mendengarkan dengan seksama. Tapi, ekspresi apa yang tampak dirau wajah kyai. Sepertinya sedang sedih, menyesal atau apa.. Aku tak mengerti ekspresi beliau.


Kulihat mama tampak cemas menunggu keputusan dari abi neng bina. Kulihat orang tua neng bina bertatapan satu sama lain. Hingga akhirnya abi neng bina berkata..


"Terimakasih sebelumnya. Kami menghargai niat baik kalian. Bukan maksud kami menolak, tapi kami sudah terlanjur menerima lamaran dari orang lain.maafkan kami. "


Penuturan abi neng bina membuatku lemas tak berdaya.


Kini.. Harapan dan Hatiku hancur.


Penantianku selama beberapa tahun telah sia-sia.


Suasana menjadi haru. Mama dan papa mencoba menenangkanku. Aku mencoba tersenyum sebisanya.


Kulihat umik neng bina tampak sedih dan merasa bersalah pada kami. Beliau berkaki-kali minta maaf pada mama.


Tak membuang waktu lagi. Mama dan papa berpamitan pulang.


Aku hanya bisa menundukkan kepala didepan orang tua neng bina. Ketikaaku bersalaman dengan abi neng bina, beliau berkata..


"Insyaallah.. Allah menyiapkan yang lebih baik untukmu nak. "


Kata beliau sambil menepuk pelan pundakku.


Ketika kami berjalan menuju pintu keluar, kulihat neng zahwa berkaca-kaca menatapku iba. Mungkin dia sudah mendengar semuanya. Dan dia kasihan padaku.


Kulanjutkan langkahku menuju pintu keluar.


Ketika kami selesai mengucapkan salam pada ortu neng bina, ku lihat neng zahwa turun dari mobil. Dia berjalan kaget melihat kedatangannku dan ortuku.


Tapi aku memilih menundukkan pandanganku darinya.


"Assalamualaikum... "


Ucapnya pada kami.


Sekilas kulihat ada yang berbeda darinya. Dia semakin cantik dengan cadar yang melengkapi hijabnya. Tapi bagiku, kecantikan itu tak lagi membuatku bahagia. Justru membuatku hancur.


Dengan setengah melamun, kulangkahkan kakiku menuju mobil papa yang parkir tepat didepan mobil yang dinaiki gadis itu tadi.


Dari dalam mobil, kusempatkan melihatnya sebentar mungkin untuk yang terakhir kalinya.


Kulihat dia hendak masuk dan menoleh kemobil kami.


Tampak kebingungan dan tanda tanya diraut wajahnya. Mungkin karena kaget dengan kedatanganku dan kaget dengan sikap diamku yang terkesan acuh padanya.


"Maafkan aku, neng. Aku terlanjur kecewa padamu. "


Batinku kecewa.


Papa melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu. Mungkin, ini emang pertama dan terakhirku menginjakkan kaki dirumahmu.

__ADS_1


Terimakasih atas pengkhiatanmu padaku..


@@@


__ADS_2