
Mobil putih itu melaju dengan kecepatan sedang. meninggalkan dokter Mira yang masih mematung disana. dan membuat seorang Arsya merasa pilu dengan kepergian Sabrina. itu artinya tidak akan ada lagi pertemuan setelah ini. karena ia merasa sangat hina untuk muncul kembali di hadapan ummi' Sabrina.
Sedangkan di dalam mobil..
Sabrina yang duduk bersebelahan dengan ummi' hanya diam tanpa kata. karena ia tahu bahwa membuka mulut akan membuat ummi' nya semakin marah.
Seolah lupa pada bayinya, wanita itu menatap ke luar kaca mobil. mencoba menenangkan hati dan pikirannya yang kacau.
Hingga tangis bayi itu memenuhi mobil.
tanpa sepatah katapun, ummi' memberikan cucunya pada Sabrina.
dengan sigap wanita itu menerima bayinya dan menyusuinya. air matanya menetes ketika melihat bayinya. mengingatkan ia pada Gus Ali yang tak kunjung datang ataupun hanya memberi kabar.
'Kuatkan bunda ya sayang. bunda sudah tidak punya semangat hidup lagi'
batin Sabrina pada bayi kecil dalam dekapannya.
Sedangkan ummi' yang berada di sebelahnya hanya diam acuh. seolah tidak ingin tau lagi apa yang terjadi pada putrinya.
hatinya terlanjur kecewa pada apa yang di lakukan Sabrina.
Setengah jam kemudian,
mereka sudah sampai dirumah. Dengan langkah cepat ummi' berjalan masuk meninggalkan Sabrina yang baru saja keluar dari mobil.
"Terimakasih pak, minta tolong bawa masuk barang-barang yang ada di bagasi ya pak"
ucap Sabrina pada pak saleh yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Baik neng"
Sabrina berjalan perlahan masuk ke dalam rumah. rumah tampak sepi karena Abi dan gus Alwi sedang keluar kota.
sedangkan neng Zahwa masih mengisi pengajian di pesantren menggantikan ummi'.
__ADS_1
Sesampainya di ruang tamu, Sabrina menghampiri ummi' yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
Dengan masih menggendong anaknya, Sabrina duduk bersimpuh di hadapan ummi'.
"Maafkan bina ummi'. bina memang salah"
kata Sabrina menundukkan kepalanya di hadapan ummi'.
"Kita saling mencintai sejak bina masih nyantri,mi'.. bina...."
belum sempat menyelesaikan ucapannya, ummi' langsung berdiri menjauh beberapa langkah dari Sabrina.
"Ooh jadi ini hasil kamu mondok jauh-jauh? hanya untuk berma'siat kepada Allah"
"Tidak ummi'.. "
"Kemana iman kamu sebagai seorang muslimah ? kau berikan pada laki-laki yang bukan mahramnya.. apa kau sudah gila Sabrina?"
ummi' marah besar kali ini.
Sabrina kaget karena selama ini tidak pernah melihat ummi' nya marah seperti itu.
Sabrina sudah menangis bersamaan dengan bayinya yang juga ikut menangis karena kaget mendengar suara keras ummi' yang sedang marah besar.
"Assalamualaikum.. ada apa ummi'?"
tanya neng zahwa yang baru pulang dari pesantren.
ia kaget melihat dan mendengar suara tangis bayi yang sangat keras. begitu juga kaget melihat adik iparnya duduk lemah di lantai sambil menggendong bayinya.
"Lihat adikmu Zahwa.. dia sudah berani menentang syari'at agama kita"
kata ummi' pada Zahwa.
"Ummi' melihat dengan jelas bahwa adikmu berpelukan dengan dokter Arsya itu"
__ADS_1
kata ummi' sambil menghela nafas.
'jadi ummi' benar-benar memergoki mereka'
batin sabrina lemas seketika.
"Ummi' merasa jijik melihat mu Sabrina. sikap dan perbuatan mu tidak beda jauh dengan perempuan-perempuan nakal di luar sana"
lanjut ummi' meluapkan semua emosinya.
Sementara Sabrina hanya menunduk dengan tangisnya.
tidak tega melihat bayi itu terus menangis, neng Zahwa mengambil bayi itu dan menenangkannya.
"Ummi' dan abi mu tidak pernah mengajarimu berbuat sehina itu. tapi kenapa kamu melakukannya hah..!!!"
neng Zahwa tidak tega melihat ummi' nya memarahi Sabrina habis-habisan. tapi ia tidak berani menentang atau melawan ummi' nya.
ia memilih diam seolah tidak tau apa-apa agar ummi' nya tidak semakin marah.
melihat bayi itu terus menangis dan melihat Sabrina yang semakin tidak berdaya, Zahwa memberanikan diri membuka suara.
"Sudah ummi'.. kasihan bayi ini kehausan dari iadi"
kata Sabrina berhati-hati khawatir membuat ummi' nya semakin marah.
"Pergilah ke ke kamarmu ..!! mulai hari ini kamu tidak boleh keluar rumah"
kata ummi' tegas kemudian masuk ke kamarnya.
"Ayo dek.. kita ke kamar.."
ajak neng Zahwa sambil memegang pundak adik iparnya yang bergetar hebat oleh tangisnya.
keduanya kini berjalan menuju kamar Sabrina di lantai dua.
__ADS_1
dengan suara tangis bayi dan suara sesenggukan Sabrina yang mengiringi langkah mereka.
@@@