NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 45. APALAH DAYA TANGAN TAK SAMPAI


__ADS_3

Gus Ali sudah mengurus administrasi pak Saiful. kini Gus Ali dengan di ikuti beberapa perawat di belakangnya sedang berjalan menuju ruang ICU yang disana terdapat Sabrina dan keluarga pak Saiful.


"Assalamualaikum,dek.. para perawat ini akan memindahkan om pasien ke ruang inap"


kata Gus Ali berbicara pada istrinya.


"iya,Gus.. kenalkan ini istri Om Saiful,ini keponakan beliau"


kata Sabrina memperkenalkan mereka pada suaminya.


"oh iya.. assalamualaikum.."


kata Gus Ali menyapa semuanya.


"...Saya Ali suami dari neng Sabrina"


lanjut Gus Ali dengan wajah tampannya.


"wa'alaikum salam, Gus.. terimakasih banyak atas bantuannya. untuk masalah administrasi nani saya transfer ya, nak.. "


"oh tidak usah,Tante.. insyaallah saya dan istri saya ikhlas membantu beliau"


"Subhanallah.. terimakasih banyak,nak.. semoga kebaikan kalian di lipat gandakan oleh Allah"


"Aamiin.. kalau begitu kami pamit dulu,Tante.


karena istri saya hendak USG"


kata Gus Ali dengan sopan.


"oh iya,nak.. memangnya sudah berapa bulan,neng?"


kata mama Arsya.


"Alhamdulillah sudah memasuki 7 bulan, Tante"


kata Sabrina tersenyum sambil mengelus perutnya.


"Alhamdulillah.. Tante doakan semoga ibu dan bayinya sehat selalu ya, neng.."


"aamiinn.. terimakasih atas doanya,Tante. kalau begitu kita permisi dulu. salam kepada om Saiful dari kami"


"iya,nak.. insyaallah nanti kami sampaikan kepada beliau kalau sudah sadar"


"Kami permisi,Tante.. semoga beliau segera pulih dan sehat sebagaimana biasanya"


"Aamiin.. aamiin,nak.. sekali lagi kami sangat berterima kasih kepada kalian berdua"


"Sama-sama,Tante"


kata Sabrina yang kemudian memeluk mama wanita paruh baya itu.


"Assalamualaikum"

__ADS_1


ucap keduanya yang kemudian berbalik badan berjalan meninggalkan mereka.


ketika keduanya sudah lumayan jauh dari ruang ICU itu..


"Maaf ya,Gus sudah membuatmu menunggu lama dan merepotkan mu"


kata Sabrina sembari menoleh ke arah suaminya yang masih tetap berjalan disebelahnya.


"Tidak apa-apa,dek.. selagi kita mampu untuk membantu, kenapa tidak.. , iya kan? lagi pula beliau adalah orang tua dari teman kamu"


kata Gus Ali santai.


KETIKA DIDEPAN APOTIK RUMAH SAKIT...


"Berhenti..."


kata Sabrina yang merasa hijab pasmina birunya lengkap dengan sebuah cadar berwarna senada yang ia pakai merasa ditarik dari belakang. sementara suaminya tetap berjalan tanpa mengetahui apa yang terjadi pada istrinya sehingga membuat langkah wanita itu terhenti seketika.


sontak ia menoleh kebelakang dan syahdan..


betapa terkejutnya Sabrina ketika melihat apa yang terjadi padanya.


hijab pashmina bagian belakang yang ia pakai tersangkut atau nyantol pada resleting yang ada di lengan jaket seorang lelaki yang kini menatapnya.


"Arsya.."


gumamnya lirih membuat lelaki itu seolah tersadar dari tatapannya pada Sabrina.


keduanya kembali diam dan sesekali saling menatap satu sama lain. tidak ada usaha dan upaya dari keduanya untuk menarik benang hijab yang tersangkut di jaket Arsya.


'bukan kah dia ada di luar negeri kata ayu?'


batin Sabrina bertanya pada dirinya sendiri.


sedang hati Arsya..


'ternyata benar kata ayu.. dia sedang hamil'


batin Arsya yang tetap menatap wanita itu meski sesekali membuang muka dan menundukkan pandangan darinya.


"Sya, minta tolong lepaskan hijabku.."


pinta Sabrina dengan suara terbata-bata karena salah tingkah di hadapan laki-laki itu.


"kamu tau ini artinya apa, neng..?.."


kata Arsya menggantung ucapannya membuat Sabrina kembali memalingkan wajahnya.


"Mungkin Allah punya kehendak lain terhadap kita,neng.."


kata Arsya sembari tersenyum dan mencoba melepaskan benang hijab wanita itu yang masih tersangkut di resleting lengan jaketnya.


"hentikan,sya.. ingat, aku sudah bersuami dan sekarang aku sedang hamil anaknya"

__ADS_1


kata Sabrina dengan cukup lancar.


sedangkan lelaki yang ada di sebelahnya sedang menahan sakit akibat ucapannya. hatinya seolah tersayat oleh pisau cantik yang menyakitkan.


seketika Arsya terdiam hingga benang hijab itu berhasil ia lepaskan dari resleting jaketnya.


"Dek... !!!"


suara itu membuat keduanya kaget dan membuyarkan lamunan keduanya.


"Gus.. "


balas Sabrina pada laki-laki yang berjalan kearahnya.


"Ada apa,dek.. aku baru sadar kalau kau tidak ada di sebelahku,dek.. ada masalah?"


tanya Gus Ali panik melihat istrinya yang terkesan diam.


"Maaf,Gus.. ini ada teman sekolahku.. putra dari om Saiful.. kenalin,sya.. ini suamiku"


kata Sabrina mencoba biasa.


"Assalamualaikum.. aku Ali suami Sabrina"


kata Gus Ali sambil mengulur kan tangannya kepada Arsya yang menatap dirinya.


"Waalaikum salam.. aku Arsya"


jawabnya singkat.


"Papa kamu mungkin sudah di pindahkan ke ruang inap,sya.. disana sudah ada mama kamu dan ayu"


kata Sabrina yang sudah biasa seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


"iya terimakasih,neng.."


kata Arsya tenang.


"Dek.. kita sudah di tunggu dokter sejak tadi"


kata Gus Ali sambil menatap istrinya.


"iya,Gus.. "


kata Sabrina lembut.


hingga akhirnya keduanya berpamitan pada Arsya untuk segera menemui dokter SpOG atau dokter kandungan.


dengan berat hati dan dengan penuh tanda tanya akhirnya Arsya melepas kepergian wanita itu. membiarkannya di rangkul oleh lelaki yang sudah mempunyai gelar suaminya.


dan kini hati Arsya seolah bukan lagi di sayat oleh pisau, melainkan hatinya seolah di cabik-cabik oleh hewan buas yang sangat ganas.


hingga Arsya juga memutuskan untuk pergi menemui papanya yang sedang terkena musibah.

__ADS_1


@@@


__ADS_2