
Arsya baru pulang dari rumah sakit.
ia duduk dan menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Arsya.. sudah pulang nak? tumben pulang cepat.. ini masih sore loh?"
tanya mama Arsya yang langsung mengambilkan air minum untuknya.
"Arsya lelah ma.. "
jawab Arsya.
"ada masalah nak?"
tanya mama Arsya sembari memberikan segelas air putih pada putranya.
"Indira ma.. Arsya sudah memutuskan pertunangan ini orang tuanya"
pengakuan Arsya membuat mamanya kaget seketika.
"ada apa,sya. apa kalian berdua bertengkar?"
tanya mama Arsya yang begitu panik.
"siapa yang bertengkar ma?"
tanya papa Arsya yang baru turun dari tangga kamarnya.
"oh tidak tau pa.. kita dengarkan dulu penjelasan putra kita"
kata mama.
"apa yang terjadi,sya?"
tanya papa yang sudah duduk di sebelah mamanya.
Arsya pun mulai menceritakan semua yang terjadi. membuat kedua orangtuanya kaget sekaligus prihatin pada Indira.
"maka dari itu, mulai sekarang Arsya tidak mau lagi di jodohkan. Arsya sudah memutuskan untuk tidak akan menikah seumur hidup"
kata Arsya yang kemudian mengangkat hp nya yang berdering tiba-tiba.
"Halo.. iya selamat siang sus. dokter Mira kemana? tapi jadwal saya sudah selesai sus. oh ok baik saya segera kesana"
"ada apa ,sya.. ?"
tanya mama Arsya yang sedari tadi mendengarkan obrolan putranya lewat telpon.
"ada pasien emergency ma pa.. dokter yang bertugas sedang sakit jadi Arsya harus menggantikannya. Arsya pergi dulu . assalamualaikum"
pamit Arsya meninggalkan kedua orangtuanya yang masih diam memikirkan ucapan putranya.
"pa.. bagaimana kalau Arsya benar-benar tidak mau menikah pa.. dia akan menjadi bujang tua nantinya"
kata mama Arsya sedih.
"Tenang ma.. mungkin Arsya masih emosi dan asal bicara saja. biarkan dia tenang dulu"
kata papa mencoba menenangkan istrinya.
@@@
DI RUMAH SAKIT...
Arsya segera masuk dan setengah berlari menuju ruang bersalin dengan di temani seorang perawat yang sedari tadi menunggu kedatangan Arsya.
"Bagaimana keadaan pasien sus?"
tanya Arsya sambil berlari.
"Pasien mengalami pendarahan hebat dok.. tapi dia masih kuat menahannya"
kata suster menjelaskan.
"lalu apakah sudah mendapat persetujuan keluarga untuk melakukan SC sus?"
"pihak keluarga sudah mengizinkan dok.. tapi pasien bersikeras menolak untuk SC. dia minta lahiran normal dok"
Arsya mengernyitkan dahi mendengar penjelasan suster.
tak lama kemudian mereka sudah sampai di depan ruang bersalin. betapa kagetnya Arsya melihat dari kejauhan tampak orang-orang yang ia kenal.
"ummi' .. neng Zahwa"
__ADS_1
gumam Arsya pelan.
"Dokter kenal dengan mereka?"
tanya suster yang berada di sebelah Arsya.
"iya sus.. mereka keluarga temanku. apa pasien yang hendak lahiran itu bernama Sabrina?"
tanya Arsya memastikan.
"benar dokter"
mengetahui hal itu Arsya semakin mempercepat langkahnya. ia khawatir terjadi sesuatu pada wanita bercadar itu.
"Assalamualaikum, ummi'.. neng Zahwa"
sapa Arsya tiba-tiba.
"Waalaikum salam dokter.. tolong bantu anak saya di dalam "
kata ummi' Sabrina yang sudah basah dengan air matanya.
"insyaallah saya akan membantu neng bina dengan semampu kami, ummi'.
ummi' bantu doa ya"
kata Arsya mencoba menenangkan wanita itu.
"Arsya.. mohon bantuannya"
panggil neng bina ketika Arsya hendak amsuk ke ruang bersalin itu.
sesampainya di dalam ...
Arsya yang melihat Sabrina sudah basah dengar keringat di sekujur tubuh dan wajahnya langsung berlari mengambil tindakan. para suster sudah membersihkan dan menghentikan pendarahannya.
betapa kagetnya Sabrina melihat siapa yang datang.
"kita mulai sus.."
kata Arsya memberikan aba-aba pada beberapa suster Yang membantunya di ruang itu.
ketika Arsya sudah memakai sarung tangan dan berjalan menuju kaki Sabrina yang sudah di bentangkan,..
wanita itu menghentikan langkahnya..
kata Sabrina lemas.
air matanya sudah mengalir menahan sakit. ia sedang berjuang antara hidup dan mati saat ini.
"aku mohon jangan kamu yang melakukannya"
pinta Sabrina dengan nafas terengah-engah.
Arsya hanya diam menatap wanita itu yang masih dengan cadarnya.
"Tapi mbak.. dokter Arsya yang bertanggung jawab atas persalinan ini mbak.."
jawab salah satu perawat yang sekaligus asisten Arsya
sejenak Arsya terdiam mencerna ucapan Sabrina hingga akhirnya ia sadar bahwa wanita itu tidak mau dokter laki-laki yang melakukan persalinannya. ia tidak ingin memamerkan mahkotanya pada laki-laki selain suaminya.
seketika Arsya sadar bahwa hanya dirinya seorang laki-laki yang ada di dalam ruang itu.
karena sebenarnya Arsya bukan dokter SpOG melainkan dokter bedah.
berhubung dokter Mira yang biasanya menangani persalinan sedang sakit, jadi pihak rumah sakit meminta Arsya untuk menggantikan beliau.
"baiklah tidak apa-apa suster.. tolong handle dulu, biar saya di sini"
perintah Arsya pada mereka.
"tapi dokter.. saya tidak berhak melakukan ini"
kata suster yang merasa takut karena bukan ahlinya.
"Tidak apa-apa sus.. saya disini"
kata Arsya menenangkan partner kerjanya.
"Tarik nafas pelan,neng.."
perintah Arsya pada Sabrina.
__ADS_1
Sabrina pun melakukan semua arahan dari Arsya.
melihat Sabrina mengerang kesakitan membuat Arsya merasa sedih dan kasihan.
tidak tega melihat wanita itu yang tengah berjuang hampir satu jam.
"maaf izinkan aku memegang perutmu,neng"
kata Arsya yang sudah tidak tahan melihat keadaan itu.
tapi tiba-tiba Sabrina menahan tangan Arsya.
ini adalah kali pertama mereka bersentuhan kulit.
tanpa kata..
wanita itu menggelengkan kepalanya melarang Arsya untuk menyentuhnya.
"maaf neng.. ini demi kebaikan kamu dan bayimu"
kata Arsya yang membuat Sabrina melepaskan tangan Arsya.
dengan pelan dan sangat berhati-hati Arsya menekan-nekan perut Sabrina. membantu si bayi untuk menemukan jalan keluarnya.
dan benar..
tak lama kemudian suara tangis bayi menggema di ruangan itu.
membuat Sabrina,Arsya dan semua perawat yang ikut andil dalam persalinan itu merasa senang dan lega.
"Alhamdulillah ya Allah..."
sontak Arsya melakukan sujud syukur tepat disebelah Sabrina.
membuat Sabrina dan para perawat keheranan dengan tingkah Arsya.
setelah si bayi sudah di bersihkan dan di cek segala macam.. perawat menyerahkan bayi itu pada Arsya.
"Baiklah terimakasih atas kerjasama kalian. sekarang kalian boleh keluar"
perintah Arsya.
kini tinggal Arsya dan sabrina di ruang itu.
Arsya menggendong dan mencium bayi lucu dalam gendongannya itu.
"Selamat neng .. bayinya cantik seperti kamu"
kata Arsya sambil tersenyum pada Sabrina yang masih lemas.
"suami kamu kemana,neng? aku tidak melihatnya di depan"
tanya Arsya yang masih menggendong bayi Sabrina.
"mungkin masih di jalan .. Karena dia bersama Abi dan Abang Alwi menghadiri undangan di luar kota"
kata Sabrina.
mendengar jawaban Sabrina sontak membuat Arsya neng adzani bayi kecil itu.
Sabrina terharu melihat pemandangan itu. terlihat jelas dari pelupuk mata Arsya mengalir air mata sembari meng adzani bayi kecilnya.
entah harus sedih atau bahagia Sabrina sekarang. dirinya sungguh merasa aneh. dia hanya diam dan membiarkan bayi nya di adzani oleh Arsya yang seharusnya di lakukan oleh suaminya.
setelah selesai meng adzani bayi itu, Arsya menyerahkannya pada Sabrina.
"terimakasih untuk semuanya,sya.. "
kata Sabrina yang sudah menggendong bayinya.
Arsya hanya tersenyum dan menyeka air matanya.
"maaf jika aku lancang mengambil hak suamimu,neng"
"tidak apa-apa,sya.. "
"Baiklah.. nanti aku suruh perawat untuk membimbing mu dalam menyusui. aku permisi dulu. istirahatlah neng..
assalamualaikum"
pamit Arsya sambil berjalan menuju pintu keluar.
"waalaikum salam.. terimakasih,sya"
__ADS_1
kata wanita itu yang masih terharu atas semua perlakuan dan pengertian Arsya pada nya dan pada bayinya.
@@@