NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 15 KUPEGANG JANJIMU


__ADS_3

13.40...


Aku dan rion sampai disemarang. Untuk menikmati weekend kali ini.


Rion mengajakku menginap dirumah neneknya selama dua hari.


Aku mengiakannya saja.


Siang itu, matahari semarang terasa terik. Usai sholat duhur dan berbincang-bincang sebentar dengan nenek dan kakeknya, rion mengajakku jalan-jalan keliling kampungnya. Sungguh indah pemandangannya. Persawahan yang berjajar dengan luas membentang, dan udara sejuk pedesaan yang begitu khas terasa.


Aku sangat menikmatinya, karena aku belum pernah kedesa sebelumnya. Semua sanak saudara ada dikota.


 


Rion mengajakku berkeliling desanya dengan naik motor butut miliknya semasa hidup dikampungnya. Seru banget.


 


"Gimana, sya? Kampung halamanku indah kan?." tanya rion membuka obrolan sembari menyetir motor bututnya.


"Keren, bro. " jawabku singkat.


"Bang rion... "


Tiba-tiba kami berpapasan dengan seorang cewek yang juga bersepeda motor. Dia memanggil rion.


"Eh, dek salma. Mau kemana dek?. "


Balas rion.


"Salma mau nganterin makanan buat bapak disawah, bang. " jawabnya lembut.


Wajahnya begitu polos. Cantik natural. Tutur katanya sopan dan tampak begitu lugu.


"Oh... Hati-hati ya dek. Salam ke bapak. "


"Iya, bang.. Insyaallah nanti salma sampaikan. Abang jangan lupa main kerumah ya. " ucapnya.


"Tentu, dek.. "


Begitulah percakapan salma dan rion.


Kemudian rion menjelaskan bahwa salma adalah adek sepupunya.


Setelah itu kami melanjutkan perjalanan.


Rion mengajakku menikmati indahnya alun-alun kota semarang dimalam hari.


Kami duduk dikursi panjang ditaman.


"Sya, mumpung lagi disini,lu gk mau sambang pujaan hati lu?. "


Ucap rion membuka obrolan yang menarik.


"Pujaan hati??? Ngaco lu.. " sergahku sembari menyenggol lengannya.


"Ngaco apanya sih.. Bro, sadar brooo...


Ini semarang. Kota dimana neng sabrina nyantri kaaannn. Udah pikun lu ya? "


Rion melotot geregetan padaku.


Sedangkan aku yang baru sadar kalau disinilah kota dimana neng binaku menuntut ilmu.


"Astaghfirullah... Gw baru nyadar bro. "


Aku masih setengah tak percaya bahwa aku benar-benar ada disini. Dengan jarak yang dekat dengan cintaku, menurutku.


Meski aku masih belum tahu dimana lokasinya. Tapi rion bilang, salma sepupunya.. Dulu sekolah disana.


Akhirnya, malam itu juga aku memaksa rion untuk kerumah salma.


Setelah hampir 15 menitan menyetir motor butut rion, akhirnya kami sampai juga dirumah salma.


Sesampainya disana, keluarga salma yang merupakan om dan tante rion menyambut kedatangan kami dengan hangat.


Begitu juga salma dan adiknya yang begitu ramah menyambut kedatangan kami.


Setelah ngobrol dengan om dan tantenya, yang lebih akrab dipanggil pakde dan buddeh nya, tanpa basa basi.. Rion menanyakan lokasi pesantren tempat neng bina nyantri.


"Pesantren yang mana, bang?. " tanya salma.


"Pesantren yang dulu kalo gk salah kamu pernah sekolah disana. "


Kata rion mencoba mengingatkan salma.


Salma tampak berpikir dan mengingat-ingat.


"Owalah bang... Pesantren Al-Battah ta maksudnya?. "


"Eeemmm... Gk tau juga siih. "


Kata rion juga bingung.


"Iya, pesantren Al-Battah diasuh oleh kyai Hannan bahrowi. Emangnya kenapa bang?. "


Salma mulai penasaran.


"Hayoooo... Abang punya cewek disana yaaa???. " sambung salma.


"Hadeeeeehhh.. Abang kamu ini masih fokus kuliyah dan mengejar cita-cita dulu. Kalo udah lulus.. Baru giliran mengejar calon istri langsung. "


Jawab rion kepedean. Haha....


Setelah mencerikan sepenggal kisahku pada salma, akhirnya salma bersedia membantuku dan rion untuk menemani kami menemui neng sabrina.


Karena kata salma, laki-laki bukan mahrom tidak boleh menemui santri putri kecuali ada yang perempuan yang dikenalnya.


Salma menjelaskannya panjang lebar.

__ADS_1


Mendengar penjelasannya, reflek aku berkata..


"Oke gpp, sal.. Gpp meski aku gk bisa menemuinya. Cukup aku bisa melihatnya meski dari jauh. Pliiss... Minta tolong ya, bantu aku. "


Aku benar-benar memohon pada salma.


Entah.. Meski kami baru kenal, aku seolah sudah akrab dengannya. Sebagaimana rion, aku juga menganggapnya seolah adikku.


Keesokan harinya...


Aku, rion dan salma telah berada didepan pesantren Al-Battah, sebuah pesantren yang tampak sangat luas dengan bangunan tingkat tiganya. Dari kejauhan, tampak cukup banyak cewek-cewek berhijab seperti bidadariku.


Karena ini memang khusus untuk para cewek yang akrab dipanggil santri putri kata salma.


Dalam batinku bertanya...


'Ya Rabb.. Diantara sekian banyaknya santri putri, lantas dimana bidadariku berada? '


Sembari menunggu salma yang masih didalam, aku dan rion berdiri diseberang jalan sambil memperhatikan pesantren itu. Aku sudah memberitahu salma nama bidadariku. Dan salma langsung melesat kedalam tanpa menunggu lama.


Aku dan rion menunggunya.


"Ternyata disini bidadariku belajar"


Gumamku pelan.


Sementara rion, kulihat dia tampak senyum-senyum kagum melihat lalu lalang para santri wati yang dari wajah mereka seolah terpancar cahaya ilmu.


Subhanallah..


Sungguh indah karyaMu...


"Kak rion, kak arsya. "


Suara melengking salma mengagetkanku dari tafakkurku. Sontak aku dan rion menatap keseberang jalan.


Subhanallah... Lagi lagi aku memuji penciptaanMU ya rabb.




Siapa dia?


Yang berdiri diseberang jalan..


Berhadapan denganku..


Dengan pandangan sesekali tertunduk dan tersipu...


Benarkah dia bidadariku?


Neng sabrinaku?


Degggg....


Ucap rion setengah berbisik ditelingaku.


Salma kembali memanggil aku dan rion.


Segera kami menyeberang agar sampai diseberang sana.


Langkahku seolah kaku berjalan kearahnya. Degup jantung yang berdetak seolah lebih kencang dari biasanya, menambah kesempurnaan rasa canggungku dihadapannya.


Beberapa detik kemudian, kami telah berdiri disebelad salma dan bidadariku.


sunggu canggung rasanya..


Tapi aku mencoba mencairkan suasana.


"Assalamualaikum, neng.. Bagaimana kabarnya?. " tanyaku kaku.


"Waalaikum salam, sya.. Alhamdulillah aku baik. Kamu?. "


"Alhamdulillah aku juga baik, neng. "


"Booong... Dia gk sedang baik kok keadaanya, neng. "


Celeruj rion membuat kami kaget dengn kalimat anehnya.


"Maksud kamu, rion? "


Tanya neng bina kebingungan.


"Maksud aku, arsya setiap hari kayak orang gila, neng.. Dia selalu kangen sama kamu katanya. "


"Apaan sih, boong neng. "


Ucapku tiba-tiba sambil mnyenggol lengan rion.


"Ooh.. " respon gadis cantik itu sambil tersipu malu.


"kita ngobrol ditempat pengiriman aja yuk, masak dipinggir jalan gini. " ajak neng bina kemudian.


"Yuk sal... "


Ajak neng bina sambil memggandeng tangan salma. Tampak akrab, padahal mereka baru kenal.


Neng bina mengajak kami masuk ketempat pengiriman. Katanya tempat itu khusus untuk para santri yang sedang dikunjungi oleh keluarga maupun temannya.


Diruang serba putih itu, kami hanya berempat. Tidak ada orang lain yang datang berkunjung selain hari jum'at kata neng bina.


"Maaf sebelumnya, aku cuma punya waktu 5 menit aja. Karena sebentar lagi waktunya sekolah sore. " kata neng bina menjelaskan.


Kami mencoba memahami. Tak apalah bagiku. Yang penting bisa bertemu dan melepaskan kerinduanku padanya.


Setelah rion dan salma ngobrol dan bertanya seputar kegiatannya selama dipesantren, aku lebih memilih menata pertanyaan yang siap kuajukan padanya. Pertanyaan yang akan membuatku tidak penasaran lagi dan agar aku mempersiapkan mental.


"Neng... " denan agak gemetar, lidahku berhasil memanggilnya.

__ADS_1


"Iya, sya??. "


Gadis itu menoleh padaku.


"Kurang berapa tahun mondoknya?. "


Pertanyaan inti akhirnya melayang juga padanya.


Membuat gadis itu tersipu malu.


Dengan pelan ia menjawab...


"Satu tahun lagi aku lulus dari sini. Tapi aku mau ngambil tugasan satu tahun kejawa timur. "


Jawabnya lancar.


"Ohhh... "


Hanya kata itu yang keluar dari mulutku.


Jantungku berdegup kencang.


Ya Rabb...


Perjuanganku menahan rindu tinggal dua tahun lagi, jaga dia untukku ya Rabb...


Seketika kupanjatkan doa itu untuk Rabbku..


Kembali kulihat sekilas wajah cantiknya. Seolah ia sudah mengerti akan maksud pertanyaanku barusan. Dia tersenyum memalingkan pandangannya dariku. Dan dia tak bertanya kenapa aku bertanya demikian.


"Echeeeemmmm.... Dua tahun lagi ada yg mau nikah nih sal... Echeeemmm. "


Sindiran yg begitu jelas dari rion. Kali ini aku membiarkannya berkarya dengan kata-kata menyebalkannya, karena aku sedang sibuk mengatur degup jantungku yang tak karuan.


Tiba-tiba, kulihat salma melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Neng, dua menit lagi bel masuk sekolah sore kan?. " tanya salma mengingatkan plus memastikan.


Membuat neng bina seketika juga melihat jam tangannya.


"Oh iya.. Kamu bener sal. "


Kata neng bina membenarkan ucapan salma.


"Haduuh salmaa... masih kurang dua menit aja kok repooot. "


Celetuk rion.


"Gk tau apa kalo masih ada yang kangen.. "


Lanjut rion melirik kearahku.


Aku acuhkan dia. Tak penting...


Yang terpenting bagiku saat ini adalah menatapnya. Menatap dia yang sedang tersipu malu dan sesekali mencuri pandang padaku.


"Haduuuh bang rion ini.. Kamar asrama neng bina ada dilantai tiga ya neng.. Butuh waktu buat sampai kesana.. Belum lagi, neng bina kan harus siap-siap buat kesekolah. "


Kata salma nyerocos panjang lebar.


"Iya.. Salma bener.. Maaf ya, bukan maksudku mengusir kalian dari sini. Mohon dimaklumi"


Gadis itu tampak merasa bersalah pada kita.


"Iya kita ngerti neng. Maaf juga karena kita datang diwaktu yang kurang tepat. "


Ucapku.


Kami pun beranjak dari duduk dan berjalan menuju gerbang pesantren.


Setelah kita mengucapkan kalimat perpisahan, langkah kami perlahan meninggalkan gadis cantik itu.


Tapi aku...


Berat rasanya berpisah lagi. Tapi takdir masih belum mengizinkan kami bersama.


Kuhentikan langkahku dan menoleh kearahnya...


"Dua tahun lagi.. tunggu aku dirumahmu neng. Aku akan datang meminangmu.. "


Kalimatku mantap tulus dari lubuk hatiku.


Inilah janjiku padamu...


"Jika Allah mengizinkan... Aku akan menunggumu, "


Balasnya..


Kaimat itu sungguh membuatku semakin semakin semangat dan tak sabar ingin segera meminangnya.


"Assalamualaikum calon makmum... "


Ucapku.


"Waalaikum salam calon imamku. "


Jawabnya tersipu malu yang kemudian berbalik arah meninggalkanku.


Aku tersenyum melepas kepergiannya.


'Aku pegang janjimu neng'


Batinku.


 


@@@


 

__ADS_1


__ADS_2