NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 44. IN HOSPITAL


__ADS_3

Mobil Pajero putih itu sudah pergi meninggalkan Ayu. sedangkan di dalam mobil Sabrina sedang melamun menghadap keluar jendela.


dalam benaknya penuh tanda tanya.


'jadi wanita itu bukan istrinya? lalu apakah dia sudah punya pacar ataukah sudah menikah?'


lamunannya di kaget kan oleh ummi' nya yang sedari tadi memperhatikan putrinya sedang melamun.


"Ada apa,Sabrina? siapa wanita itu tadi?"


tanya ummi' penasaran.


"eemm.. itu teman sabrina, mi' ."


"ooh.. ketemu temen bukannya seneng malah sedih"


kata ummi' nya heran.


"Tadi menceritakan kisah hidupnya, mi'. suaminya pergi dengan selingkuhannya dan meninggalkan dia dalam keadaan hamil waktu itu".


kata Sabrina menceritakan kisah Ayu daripada menceritakan penyebab lamunannya.


sedangkan neng Zahwa memilih diam dan mendengarkan setiap ucapan adik iparnya itu. karena hanya wanita itulah yang mengerti kisah asmara adik iparnya secara detail.


Sesampainya di rumah...


Sabrina langsung masuk ke kamarnya. kamar itu masih sepi karena suaminya belum pulang mengajar di pesantren.


Sabrina duduk di meja riasnya. menatap wajahnya sendiri di cermin. ia sudah melepas cadarnya. memperlihatkan wajah cantiknya.


'Aku pikir.. aku sudah benar-benar melupakanmu,sya. tapi ternyata tidak'


gumamnya sambil mengelus perut buncitnya.


'Aku memang sudah menghapus dirimu dan kenangan mu sejak aku memutuskan untuk menyerahkan diriku sepenuhnya pada Gus Ali.. tapi kenapa aku begitu tertarik untuk menanyakan tentangmu pada wanita yang ternyata adalah sepupumu itu'


gumamnya sekali lagi sambil menatap wajahnya di kaca.


tiba-tiba suara pintu terbuka. Sabrina menoleh kearah sumber suara itu. benar, suaminya yang ada. Sabrina langsung berdiri menyambut kedatangan suaminya.


"Sudah pulang,Gus?"


tanya wanita itu dengan senyum cantiknya.


"sudah,dek.. kamu dari tadi datangnya?"


tanya Gus Ali yang tangannya sudah di sambut dan di cium oleh istrinya.


"emm.. lumayan sih Gus"


jawab Sabrina yang tiba-tiba mendapat pelukan hangat dari suaminya.


"Gak capek, sayang?"


tanya lelaki itu sambil memeluk istrinya.


"Bagaimana si kecil ,sayang?"


lanjut lelaki itu yang kini sedang mengelus perut buncit istrinya.


"Aku gak merasa capek kok ,Gus.. cuma ngerasa lapar saja"


ucap wanita itu dengan senyum.


Gus Ali mengerti bahwa wanita hamil itu mudah sekali untuk lapar karena makanannya di bagi dua dengan si kecil yang ada di perut istrinya.


"Tunggu sebentar aku akan ambilkan makanan untuk kalian"


kata Gus Ali


"Kalian?"


kata Sabrina tak mengerti maksud kata itu.


"untuk kamu dan anak kita, sayang"

__ADS_1


kata lelaki itu yang tiba-tiba mencium kening istrinya dengan lembut kemudian pergi untuk mengambilkan makanan untuknya.


Beberapa menit kemudian Gus Ali datang dengan membawa nampan berisi sepiring nasi dan segelas susu.


"Makan di balkon saja ya,dek.. sekalian biar bisa melihat pemandangan luar"


ajak Gus Ali kepada istrinya.


kini keduanya telah duduk berhadapan di balkon kamarnya.


Gus Ali menyuapi istrinya dengan penuh cinta walau Sabrina sudah menolak karena sungkan.


"Makan juga,Gus.. kamu pasti juga lapar baru pulang mengajar"


kata Sabrina kemudian.


"aku sudah kenyang,dek.. tadi makan sama para ustad di kantor" kata Gus Ali memberi tahu.


setelah Sabrina menghabiskan makanannya, Gus Ali langsung berkata..


"Dek, besok kita ke dokter ya.. USG dulu. kita lihat keadaan sekaligus jenis kelamin anak kita?"


ajak Gus Ali penuh harap pada istrinya.


"Baiklah,Gus kalo itu mau mu"


kata Sabrina membuat suaminya tersenyum bahagia mendengar jawabannya.


Pagi itu setelah sarapan...


Sabrina dan Gus Ali sudah bersiap untuk berangkat USG ke dokter. Gus Ali memilih menyetir mobilnya sendiri daripada di antar oleh supir pribadi.


Sesampainya di rumah sakit...


mereka sedang duduk menunggu panggilan masuk. mereka mendapat nomer antrian 5 karena tidak terlalu ramai saat itu.


sembari menunggu panggilan, keduanya sesekali mengobrol tapi Sabrina lebih banyak memperhatikan orang-orang dan dokter yang lalu lalang di hadapannya.


hingga matanya tertuju pada seorang pasien yang baru saja datang.


"itu kan..."


"siapa, dek.. kamu kenal dengan bapak itu?"


"Kenal, Gus... sebentar"


kata Sabrina yang sudah berdiri hendak mengikuti pasien itu.


"Hey mau kemana,dek?"


tanya lelaki disampingnya.


"Gus, aku mau menemui pasien itu sebentar saja, boleh?"


tanya Sabrina yang terlihat panik.


"boleh, tapi aku akan menemanimu"


kata lelaki itu yang khawatir terjadi apa-apa pada istri dan anak dalam kandungannya.


setelah berjalan mengikuti pasien itu di bawa, kini Sabrina dan suaminya sudah sampai di ruang ICU. tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan itu.


"permisi.. bagaimana keadaan om Saiful , dokter?" tanya Sabrina panik.


"Beliau sempat kekurangan darah akibat kecelakaan itu. kakinya bengkak dan beberapa luka di bagian tangan dan kepalanya. tapi jangan khawatir.. kami sudah menanganinya"


kata dokter menjelaskan.


"apa kalian keluarganya?"


"iya, kami keluarganya, Dokter"


kata Sabrina langsung tanpa pikir panjang.


sehingga membuat suaminya bingung.

__ADS_1


"Kalau begitu kalian urus administrasinya dulu agar pasien bisa segera kami pindahkan"


kata dokter.


"baik terima kasih, dokter"


ketika dokter itu sudah pergi, Gus Ali yang sedari tadi penasaran ingin segera bertanya pada istrinya.


"Memangnya siapa, beliau dek?"


tanya Gus Ali kemudian.


DEegg...


Sabrina bingung harus menjawab apa pada suaminya.


"Beliau pak Saiful, Gus.. papa nya temen sekolahku dulu"


kata Sabrina tiba-tiba.


"Oh.. mana keluarganya kenapa belum ada yang datang?"


kata suaminya.


"Mungkin masih di jalan, Gus. aku mau mengurus administrasinya dulu ya ,Gus"


kata Sabrina yang sudah bersiap untuk berjalan.


"Jangan,dek.. nanti kamu capek. kamu tunggu disini siapa tahu sebentar lagi keluarganya datang. biar aku yang mengurus administrasinya"


kata Gus Ali dengan bijak membuat Sabrina tenang sekaligus senang melihat suaminya yang begitu baik itu.


Ketika Gus Ali sudah meninggalkannya untuk menuju administrasi, Sabrina memilih untuk duduk karena ia merasa sedikit lelah.


sedetik kemudian, tampak mama Arsya dan Ayu berjalan menuju ke arahnya.


"Assalamualaikum,Tante"


kata Sabrina yang langsung berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Waalaikum salam, neng Sabrina?"


tanya wanita itu memastikan.


"Iya, Tante.. tadi Sabrina tidak sengaja melihat om Saiful yang baru datang ketika bersama para perawat, Tante. akhirnya saya mengikuti kesini"


kata Sabrina menjelaskan.


"Ya Allah.. terimakasih banyak, sayang.. lalu bagaimana keadaan suami saya?"


"beliau sudah baik-baik saja kok, tante. setelah sempat kekurangan darah tadi. mungkin terdapat luka di bagian kaki dan kepala beliau kata dokter"


Sabrina menjelaskan apa yang di katakan dokter padanya.


"Lalu kenapa suami saya masih ada ruang ICU ini,sayang?"


tanya wanita separuh baya itu yang kembali panik.


"Tunggu sampai administrasinya di urus, Tante"


kalimat itu membuat mama Arsya memanggil Ayu.


"Ayu, Tante minta tolong kamu bisa mengurus administrasi om Saiful?


kata wanita itu bicara pada Ayu.


namun sebelum Ayu sempat menjawab pertanyaan itu, Sabrina menimpali..


"Jangan khawatir, Tante.. suami saya sudah mengurus administrasinya"


kata Sabrina yang kemudian mendapat pelukan dari wanita paruh baya itu.


"Subhanallah.. kalian baik sekali, sayang.. terimakasih banyak.. "


"iya, sama-sama, Tante"

__ADS_1


kata Sabrina.


@@@


__ADS_2