
Wanita itu kaget setengah mati melihat pemandangan yang ada di depan matanya. hingga ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Astaghfirullal 'adziim"
ucap wanita itu kemudian membuat Arsya menarik tubuhnya hingga berdiri tegap.
"Neng Zahwa.."
ucap sabrina kaget melihat kakak iparnya datang.
perlahan Sabrina mendekati keduanya dengan shock.
"Apa yang kalian lakukan?"
tanya neng Zahwa sambil menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang ia lihat.
keduanya terdiam membisu.
"Sejauh mana batasan agama yang telah kalian langgar?"
wanita itu kini menaikkan nada bicaranya membuat Arsya semakin tak berdaya menundukkan kepalanya.
melihat keduanya masih terdiam, neng Zahwa kembali mengintrogasi keduanya.
"Kalian sadar bahwa apa yang kalian lakukan itu salah? "
Sabrina yang tak bisa membendung air matanya kini sudah mengalirkan air mata itu kembali.
"Maafkan aku neng.. aku yang salah"
ucap arsya kemudian masih dengan wajah tertunduk nya.
ia menyesali perbuatan lancangnya dengan Sabrina. hingga membuatnya hanyut dalam keadaan itu.
"Kalian berdua sama-sama salah. kamu dek bina, kamu adalah istri dari Gus Ali. bukan hanya itu.. kamu sekarang juga sudah menjadi seorang ibu"
kata Zahwa yang emosi.
"..Dan kamu dek Arsya. saya percaya sepenuhnya padamu bahwa kamu dokter profesional yang akan bisa mengontrol hati dan perasaanmu saat jam kerja. neng Zahwa kecewa padamu"
ucap neng Zahwa yang membuang muka dari hadapan Arsya.
"istighfar dek.. untung saja aku tidak berangkat bareng ummi'. coba bayangkan apa yang akan terjadi jika ummi' juga melihat dosa yang kalian lakukan?"
__ADS_1
neng Zahwa kembali menegur mereka.
"Dek Arsya.. terimakasih sudah mau membantu kami menjaga dek bina disini"
ucap neng Zahwa menghadap Arsya.
"Sekali lagi saya minta maaf atas kelancangan yang saya perbuat. jangan salahkan neng bina, aku yang salah neng"
kata Arsya penuh penyesalan.
"Tidak.. dari awal memang saya yang salah karena menitipkan dek bina ke kamu. saya pikir tidak akan sejauh ini apa yang kalian perbuat. tapi nyatanya?...."
neng Zahwa menghela nafas menyesal atas permintaan tolong nya pada arsya.
"kemana keimanan kalian dek.. kenapa kalian tidak bisa mengalahkan hawa nafsu? sebentar lagi ummi' akan kesini, lebih baik kamu pergi dari sini sebelum ummi' curiga sya!"
perintah neng zahwa mengusir Arsya. wanita itu terlanjur kecewa pada keduanya.
"Baik neng.. sekali lagi saya minta maaf atas kelancangan yang sudah saya lakukan"
kata Arsya yang hampir melangkahkan kakinya tapi tangannya ditarik oleh tangan Sabrina.
"Sya..."
Sementara Arsya seketika menoleh dan memberikan sebuah senyum pada wanita yang memegang tangannya itu.
Tanpa kata satupun, Arsya melanjutkan langkah kakinya berjalan meninggalkan Sabrina yang kembali terisak dalam tangisnya.
Sabrina tak henti menahan air matanya melepas kepergian arsya yang pergi tanpa berucap kata.
ketika laki-laki itu hilang dibalik pintu, Sabrina berdiri berjalan perlahan menuju toilet. meninggalkan neng Zahwa yang terus menatapnya.
beberapa detik kemudian terdengar suara tangisan dan sesenggukan dari dalam toilet. neng Zahwa tau bahwa Sabrina benar-benar terluka atas kejadian ini.
mendengar suara tangis sabrina yang semakin menjadi membuat neng Zahwa mengetuk pintu itu.
"Dek...!!"
panggil neng Zahwa yang tidak mendapatkan jawaban dari panggilannya.
"Dek...!!!"
wanita itu kembali memanggil Sabrina.
__ADS_1
tiba-tiba pintu kamar mandi itu terbuka.
dengan wajah pucat dan mata sembab Sabrina berjalan mematung seperti zombi.
"Dek.. dek bina... "
panggil neng Zahwa menguncang-guncang kedua pundak Sabrina mencoba menyadarkan Sabrina dari lamunannya.
"Maafkan neng Zahwa dek"
kata neng Zahwa yang sudah menarik Sabrina dalam pelukannya.
"Hatiku sakit neng.."
kata Sabrina kemudian mengungkapkan isi hatinya.
"... hatiku hancur seperti hatinya. ini bukan nafsu atau hasrat neng, tapi ini cinta.."
kata Sabrina yang sesenggukan dalam pelukan neng Zahwa.
"kita memang gila neng. kita memang salah menembus jarak batasan agama di antara kita. tapi kita bisa apa neng.. untuk sesaat kita merasa benar-benar bahagia... "
sabrina kembali terisak dalam tangisnya. hijabnya sudah basah oleh tetesan air matanya yang mengalir deras tanpa henti. karena wanita itu sudah melepas cadarnya sejak keluar dari kamar mandi.
Neng Zahwa kini meneteskan air mata mendengar pengakuan Sabrina dari lubuk hatinya.
"Cinta kami besar neng.. bina sangat nyaman dengan dia. hati bina sakit neng. bukan cuma bina, tapi dia juga tersiksa dengan cinta ini. bina sangat mencintai Arsya"
ucap Sabrina yang kemudian memejamkan matanya.
neng Zahwa yang tiba-tiba merasakan pundaknya begitu berat, sontak kaget mengetahui bahwa sabrina sedang pingsan.
"Tolooong... dokter.. suster... toloongg...!!!"
Zahwa yang panik membuat ruangan itu menggema oleh permintaan tolong nya memanggil dokter dan perawat yang bertugas.
teriakannya membuat bayi Sabrina kaget dan menangis. Zahwa yang tidak kuat menopang tubuh Sabrina kini sudah terduduk di lantai sembari memangku sabrina yang masih belum sadarkan diri.
"Dek.. bangun dek..."
panggilan Zahwa mencoba menyadarkan wanita itu.
tak lama kemudian datanglah seorang dokter dan dua perawat yang memindahkan Sabrina ke ranjang pasien.
__ADS_1
@@@