NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 71. PUNCAK KEMARAHAN UMMI'


__ADS_3

Dengan langkah pelan, wanita itu berjalan menyusul ummi' nya.


"Pelan-pelan ummi'... Sabrina capek"


kata Sabrina yang sudah tidak tahan Karena lelah.


kamar VIP tempat Sabrina di rawat berada di lantai tiga. wanita itu kelelahan menuruni anak tangga di lantai tiga itu.


tapi ummi' tetap mengabaikannya. berjalan dengan penuh emosi dan kekecewaan.


"Jangan banyak bicara!"


ucap ummi' dengan tegas. membuat Sabrina enggan untuk bicara lagi.


kini Sabrina tertinggal cukup jauh dari jarak ummi' nya. langkahnya semakin pelan. kakinya bergetar. tangannya bertumpu pada dinding yang ada di sebelahnya.


Mereka sudah sampai di lantai dua. Sabrina yang sudah tidak kuat memutuskan untuk berhenti dan bersandar pada pembatas tangga.


banyak orang lalu lalu lalang disana, tapi tidak satupun yang perduli dengan keadaan wanita lemah itu. hanya tetap melihat tanpa membantu.


Sabrina yang tak berdaya melihat ummi' nya kini telah jauh meninggalkannya. menghilang dari pandangan.


"Toloong..."


dengan suara bergetar wanita itu minta tolong pada siapa saja yang ikhlas membantunya. tapi tidak ada satupun yang berhenti walau sekedar menanyainya.


"Neng bina..!!!"


Arsya berlari ketika melihat wanita yang dicintainya dalam keadaan sekarat. duduk bersandar pada pembatas tangga.


"Neng bina.. "


ucap arsya ketika sudah berada tepat di hadapan wanita yang tengah menyembunyikan wajahnya itu.


"Toloong.. aku gak kuat,sya"


wanita itu mendongakkan wajahnya menghadap Arsya.


"Sebentar neng.."


kata Arsya yang kemudian berlari meninggalkannya.


tak lama kemudian, dokter tampan itu kembali dengan membawa kursi roda untuk Sabrina.


"Neng..."


panggil Arsya lagi.


"Boleh aku bantu?"


tanya arsya melihat wanita itu lemas dan tak berdaya.


Sabrina hanya pasrah pada keadaan.


Perlahan dan sangat berhati-hati, Arsya membantu Sabrina untuk bisa duduk di kursi roda itu.

__ADS_1


"Ummi' mana neng?"


tanya Arsya kemudian.


"Ummi' meninggalkanku dengan sangat marah,sya"


ucap sabrina yang sudah mengalirkan air matanya.


Tidak tega melihat wanita itu kembali menangis, tiba-tiba Arsya menelpon seseorang.


"Assalamualaikum, saya tunggu di pintu keluar Dok"


kata Arsya singkat kemudian menutup telponnya.


"jangan sya..!"


ucap sabrina ketika arsya mulai mendorong kursi roda yang tengah di duduki nya itu.


"jangan takut, neng.. aku hanya akan mengantarkan mu sampai pintu keluar"


kata Arsya sambil membelai lembut kepala wanita bercadar itu.


mendengar ucapan Arsya yang mengerti bahwa dirinya takut ummi' nya semakin marah, kini ia hanya diam.


Kini keduanya sudah sampai di pintu keluar rumah sakit.


"Dokter Arsya.."


panggil seseorang dari kejauhan.


"Ya Tuhan.. kamu baik-baik saja bunda?"


Arsya menceritakan sekilas tentang apa yang terjadi pada dokter Mira.


"Neng..."


panggil Arsya yang sudah duduk di hadapan Sabrina.


"Jangan takut.. hadapi semuanya dengan ikhlas. ini memang salah kita. tapi insyaallah akan ada jalan dari semua ini"


ucap Arsya sambil memegang tangan Sabrina yang bergetar karena lelah dan terlalu takut menghadapi kemarahan ummi' nya.


"Aku takut semua orang di rumah akan memarahiku habis-habisan. bawa aku pergi,sya "


pinta Sabrina kemudian.


"Tidak neng.. lari dari masalah tidak akan menyelesaikan semuanya, malah akan memperumit keadaan. hadapi dengan kuat. aku yakin kamu bisa"


lelaki itu terus memberi semangat dan kekuatan untuk Sabrina yang benar-benar ketakutan.


"Pulanglah.. jangan sampai ummi' semakin marah pada kita"


kata arsya sudah bangkit dari duduknya.


Dokter Mira yang sedari tadi berdiri di samping arsya merasa ikut sedih dengan kisah keduanya.

__ADS_1


"Dokter Mira akan mengantarkan mu pada ummi' "


kata Arsya kemudian.


"Ayo bunda.."


kata dokter Mira yang masih merasakan kesedihan di antara keduanya.


"Terimakasih dokter Mira"


ucap Arsya pada partner kerjanya.


"Tidak masalah Dokter Arsya karena ini adalah tugas saya"


"Assalamualaikum,sya.."


ucap Sabrina dengan suara parau dan bergetar.


"Waalaikum salam,neng.."


Arsya membalasnya dengan senyuman agar wanita itu merasa tenang.


Sesampainya di parkiran...


"Mobil bunda yang mana?"


tanya dokter Mira.


kemudian Sabrina menunjukkan sebuah mobil putih yang tak jauh dari posisi mereka berada. setelah itu dokter Mira langsung mendorong kursi roda itu menuju mobil yang di tunjuknya.


"itu neng sabrina ummi'..."


kata pak saleh yang merupakan supir keluarga Sabrina.


"Biar saya saja yang mendorongnya dokter"


kata pak saleh yang berlari menghampiri Sabrina.


"Tidak usah pak. saya juga ada perlu sama ibunya"


kata dokter Mira tegas dan ramah.


Dokter Mira membantu Sabrina masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh pak saleh.


Melihat keangkuhan wanita tua itu membuat dokter Mira langsung berkata..


"Maaf Bu, semarah apapun ibu pada bunda Sabrina, setidaknya mengerti sedikit terhadap keadaannya yang masih belum pulih dari rasa sakitnya. dimana hati nurani ibu..?"


tiba-tiba dokter Mira menghentikan ucapannya karena tangan Sabrina memegang tangannya.


memberi isyarat agar dirinya tidak melanjutkan ucapannya agar tidak semakin membuat ummi' nya marah.


dokter Mira mengerti dengan maksud Sabrina.


"Istirahat yang cukup ya bunda. jangan stres, dan makan yang banyak demi si kecil"

__ADS_1


pesan dokter Mira sebelum membiarkan mereka pergi.


@@@


__ADS_2