NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 2 TITIK TERANG KERINDUAN


__ADS_3

 


Jam menunjukkan pukul 15.34 WIB


 


Masih disini, dicafe permata. Menikmati kesendirianku sembari ku otak atik laptop didepanku. Yah, lagi ada tugas dari dosen.


"Arsya! "


Suara seorang perempuan tiba-tiba mengalihkan konsentrasiku.


"Iya.. " jawabku sembari mengingat-ingat dia siapa.


"Lupa sama aku? ” tanyanya.


"Maaf" jawabku dengan sedikit senyum


"Ya Allaaah.. Ini aku, sya.. Saira, temen SMA kamu. Udah inget sekarang? " ketusnya


"Ooh, iya aku baru inget. Duduk, ra".


Kupersilahkan dia duduk disebelahku.


"Apa kabar, ra? Lama gk ketemu".


"Iya laah, kita gk pernah ketemu semenjak lulusan itu, alhamdulillah aku sehat kok, sya".


Aku baru ingat, bahwa inilah saira. Teman karib neng bina sejak SMP. Aku senang bisa bertemu dengannya, barangkali aku bisa bertanya tentang pujaanku, neng sabrina.


 


Setelah obrolan kami selesai tentang teman-teman yang lain. Tanpa membuang waktu, seketika kutanyakan tentang si dia pada saira.


 


"Ra".


"Emm? ".


"Masih kontekan sama neng bina? "


Tanyaku ragu.


"Masih kok". jawabnya santai.


"Kenapa, masih nungguin dia buat jadi istri kamu? Hahha? ". Sergahnya.


Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.


"Gini, sya... Kalo menurut aku nih ya.. Sekarang itu dia lagi fokus dengan mondoknya, jadi jangan ganggu dia dulu. Apalagi dia sekarang mengikuti program tahfidzul qur'an alias jadi pengahafal qur'an. Jadi aku yakin dia butuh ketenangan dan konsentrasi". Info panjang lebar dari saira.


Lagi, aku hanya tersenyum mendengarnya.


"Dan lagi, dia sekarang makin cantik loh, sya".


Lanjutnya. Dan kalimat itu benar-benar membuat jantungku berdegup tak karuan.


"Oh ya? ". Tanyaku memastikan.


"Iya, belum pernah ketemu dia? ".


"Pertemuan terakhir sih waktu wisudah SMA".


Jawabku sembari tak kuasa menahan senyum.


"Senyum-senyum mulu dari tadi, kamu benar-benar suka ma dia? ".


"Apaan sih, ra.. Aku hanya sekedar mengaguminya saja". Elakku pada saira.


"Jadi selama ini kamu masih mengaharapkannya? ".


"Aku hanya mengaguminya, ra".


"Alaaaah, ngaku aja kenapa sih".


Lagi dan lagi, aku hanya senyum-senyum seperti orang gila. Hingga akhirnya saira pamit pulang karena ditelfon mamanya.


"Eh, ra.. Tunggu..!! ". Ku kejar saira yang sudah hampir meninggalkan ruangan kafe.


"Ada apa, sya? ".


"Boleh tau alamat pesantren neng bina? ".


"Oke, nanti aku kirim ke whatsApp kamu deh. Nomernya gk ganti kan ya? ". Tanyanya sedikit terburu-buru.


"Nggak, tetep kok, ra. Thanks ya".


"Oke".

__ADS_1


Sejak pertemuanku dengan saira yang merupakan sahabat neng bina, hari-hariku semakin indah. Setiap detikku semakin semakin penuh dengan bayangan sang cinta.


 


*❤️ Cinta ...


 


Kau hadir disetiap detik waktu dan hembus nafasku..


Tak kan jemu aku menantimu..


Tak kan bosan aku memikirkanmu..


Izinkan aku berlabuh dihatimu..


menjadi imammu...


Sedangkan engkau...


Kan ku jadikan bidadari dalam kerajaan hati dan duniaku*...


 


@@@


 


Aku sudah menerima alamat pesantren neng bina dari saira. Tapi masih belum ada waktu untuk menemuinya. Karena tugas kuliahku masih ada beberapa yang belum terselesaikan. Aku berencana, akhir pekan aku akan menemuinya.


 


Beberapa hari kemudian, ku urungkan niatku untuk pergi kejawa tengah, ke pesantren neng bina berada.


 


Karena kudengar kabar bahwa di ndalem alias dirumahnya kyai Hasan yang merupakan ayah neng bina akan ada acara pernikahan kakaknya, gus Alwi hasani.


 


Hari itu, aku stand by tak jauh dari rumahnya. Acara belum dimulai. Masih nanti malam digelar. Tapi aku rela bolos kuliah demi menunggu si dia datang. Aku yakin dia pulang, karena ini adalah hari spesial kakaknya.


 


Detik demi detik berlalu. Aku masih stay diatas motor ninjaku. Meski panas, tak apa.. Yang penting aku bisa melihatnya meski dari kejauhan.


Aku tak punya harta...


Tapi cintaku padamu luar biasa... ¥¥¥


Itu nada dering handphondku.


Sialan, si rion mengganggu saja.


"Apa? ".


Jawabku kesal


"Wiih, santai bro..


Lu dimana. Kok gk ikut kelas hari ini? ".


"Gw lagi berjuang".


Jawabku asal


" berjuang gimana maksudnya, bro? "..


Belum sempat kujawab celotehan si rion, sontak kumatikan teleponnya karena dari kejauhan, tampak mobil putih yang datang.


Kulihat para santri itu menundukkan kepala sebagai penghormatan. Aku yakin itu neng bina.


 


Hingga mobil masuk kedalam gerbang, hingga gerbang ditutup oleh satpam, tetap tak kudapati dia disana.


 


Yah, penantianku sia-sia. Takdir sedang tak bersahabat dengnku. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang.


"Besok aja aku ksini lagi, siapa tau besok ada rejeki bisa bertemu dengannya".


Gumamku lirih.


Dengan berat hati dan kecewa. Ku stater motorku dan perlahan meninggalkan rumah itu.


Ditengah jalan..


Tiba-tiba hpku berdering. Ku menepikan motor dan berhenti untuk melihat siapa yang menelpon.

__ADS_1


' Saira, ada apa dia telpon'. Pikirku


"Assalamualaikum, iya ra kenapa? ".


"Waalaikum salam... Sya, kamu ada dimana sekarang? " tanyanya


"Lagi dijalan".


" mau kemana trus? ".


"Ya mau pulang lah". Jawabku bingung dengan introgasi saira yang tak jelas.


"Aduuh, salah lagi peryanyaanku..


Maksud aku kamu dari mana? ".


"Apa'an sih, ra.. Kok gk jelas gitu ngomongnya. Aku habis dari rumah neng bina. Nungguin dia pulang. Eh ternyata gk ketemu". Jawabku penuh kecewa.


"Kamu gk ngeliat, neng bina? ".


"Nggak".


"kecewa nggak? ". Tanyanya penuh selidik


"Ya kecewa lah, ra.. Sejak pagi aku nunggu disana, sampek rela bolos kuliah demi dia".


"Subhanallah... Segitunya sih, sya. Tapi tenang, dia udah ngeliat kamu kok katanya".


"Whatt.. Maksud kamu apa, ra?. Gini aja, gk enak ngomong ditelpon, aku lagi dipinggir jalan nih. Kita ketemu dikafe permata 15 menit lagi ya".


Pintaku pada saira. Dan iya setuju dengan permintaanku.


 


@@@


 


15 menit kemudian...


Kafe permata..


 


kulangkahkan kaki dengan tergesah menuju kafe. Kulihat disana saira telah duduk menantiku.


 


"Assalamualaikum, sorry ra.. Telat, ada masalah sedikit dijalan". Ucapku.


"Waalaikum salam, oke gpp".


Segera ku ambil kursi dan duduk disebelah saira. Tak sabar ingin segera mendengarkan perkataannya.


"Jadi gini, sya.. Tadi itu tiba-tiba neng bina telpon aku. Dia bilang bahwa dia ngeliat cowok duduk disepeda motor dekat rumahnya, nah dia nanya ke aku siapa cowok itu. Soalnya kata neng bina, dia kayak femiliar ke wajah cowok itu. setelah dia matiin telponnya, tiba-tiba aku inget ke kamu. Aku yakin cwok itu pasti kamu. Makanya aku telpon kamu dan nanya kamu dimana, sya". Penjelasan saira yang panjang lebar.


"Dia lihat aku dari mana, ra. Apa dia ada didalam mobil putih itu? ". Tanyaku memastikan.


"Iya, katanya dia ada dalam mobil putih itu bersama ummi dan abinya. Dia dijemput dari pesantren karena kakaknya nikah. Tahu kan? "


"Iya aku tau soal itu, ra. Trus, kok aq gk ngeliat neng bina kluar dari mobil? ".


"Iya, katanya dia sengaja gk kluar demi lihat dan mengingat-ingat wajah kamu katanya".


"Wajah aku?? Maksudnya?? ".


"Maksudnya ya tadi aku bilang itu, dia kayak familiar dengan wajah kamu katanya".


"Ooh.. Kirain knapa wajah aku".


Hatiku semakin lega dan bahagia. Meski belum bisa melepas kerinduanku padanya walau hanya lewat pandangan jarak jauh saja.


Neng bina...


Hati dan jiwaku mempunyai semangat baru..


Semangat untuk terus mengagumimu.


Meski aku tak pernah mengungkapkan isi hatiku.


Tapi ketahuilah...


Hanya engkau bidadari dihatiku...


 


@@@


 

__ADS_1


__ADS_2