NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 29 HUJAN AIR MATA


__ADS_3

 


Sabrina..


wanita itu masih tetap duduk memaku ditepi pantai. meski Arsya telah meninggalkannya.


namun laki-laki itu tidak benar-benar pergi meninggalkannya. ia berdiri lurus dibelakang Sabrina.


Dengan jarak beberapa langkah kaki saja, Arsya mengawasi sabrina yang terus menangis bertumpukan kedua lututnya.


wanita itu tampak sesenggukan dengan tangisnya. Arsya yang tidak tega melihat hal itu, ia pun ikut menangis. hatinya juga hancur dan sakit. terlebih lagi melihat orang yang di cintainya menangis. Hatinya seolah teriris.


 


Pengunjung pantai semakin ramai berdatangan untuk melihat keindahan sunset di pantai itu. Tapi sabrina tetap dengan posisinya. Sesekali ia menyeka air matanya yang menetes.


 


Tanpa terasa..


sore telah datang. tanpa rasa haus berjemur dibawa sinar matahari, tanpa terasa lapar karena sudah hampir seharian keduanya berada di tempat itu. Rasa sakit dan sedih diantara keduanya mengalahkan kedua rasa itu.


 


Tanpa terasa..


 


senja telah tiba. semburat warna warni dilangit tampak sempurna melengkapi sunset yang indah.


namun dua sejoli itu masih tetap menyibukkan pikiran dan hatinya masing-masing.


"hancurnya hatimu, masih hancuran hatiku neng. tapi tetap saja, hati kita sama-sama terluka oleh cinta ini. maafkan aku yang telah melukai hatimu."


wanita itu kembali menenggelamkan wajahnya ditumpuan kedua lututnya. hingga siluet senja telah menghilangkan. Berganti langit malam yang perlahan merata menutupi terangnya langit jingga.


 


Sayup-sayup terdengar suara kumandang adzan Maghrib dari kejauhan. tak terasa keduanya benar-benar menghabiskan waktu terakhir mereka di tempat itu.


Arsya tetap menjaga dan mengawasi wanita itu dari jarak yang Tidak terlalu jauh di belakangnya.


 


tanpa menghiraukan langit malam yang tiba-tiba berubah menjadi mendung, rintik-rintik hujan kecil perlahan mulai berjatuhan. Arsya panik melihat Sabrina yang masih duduk tenang dibawah guyuran rintik hujan yang dalam hitungan detik berganti menjadi rinai hujan yang lumayan deras.


sementara beberapa pengunjung pantai berlarian mencari tempat berteduh.


 


Arsya tidak tahan melihat sabrina yang tampak tak berkutik dibawah guyuran hujan. ia memutuskan untuk mengajak wanita itu berteduh, tapi seketika itu ia mengurungkan niatnya untuk melakukan hal itu.


 


karena ia berfikir, kehadirannya hanya akan menambah kesedihan bagi wanita itu. khawatir wanita itu semakin tidak bisa melupakan dirinya.


 


Setelah tubuhnya basah kuyup oleh guyuran hujan, Tampak wanita itu berdiri dan berjalan menuju mobilnya. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang setelah seharian ia duduk terpaku ditepi pantai itu.


 


Tapi tidak sampai disitu Arsya menjaga Sabrina, ia mengikuti mobil Sabrina sampai di depan rumahnya. memastikan bahwa dia pulang dengan selamat.


"Selamat tinggal neng, semoga kamu bahagia dengan hidupmu yang baru."


batin Arsya ketika melihat wanita itu berjalan pelan menuju rumahnya. hingga akhirnya laki-laki itu pulang meninggalkan rumah dan wanita cantiknya itu.


DIDALAM RUMAH...

__ADS_1


"Assalamualaikum.." ucap Sabrina serak tapi mencoba biasa. ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padanya.


"waalaikum salam.. Ya Allah,bina.. kamu darimana saja nak. seharian baru pulang. umik khawatir sama kamu."


"maafkan bina,mik.. bina tadi ada acara reuni teman SMA dulu. setelah itu kita pergi ke pantai dan kehujanan. maafin bina mik. bina mau mandi dulu ."


ucapnya berbohong.


Sesampainya di kamar, wanita itu melihat kamarnya tampak sepi. ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 20.15..


"Sepertinya dia belum pulang."


gumam sabrina yang langsung bergegas mandi dan membersihkan dirinya.


 


setelah selesai, ia segera merebahkan tubuhnya di kasur. ia lelah. hatinya lelah. pikirannya lelah. ia ingin menghilangkan kesedihannya.


 


hingga ia teringat bahwa ia telah melalaikan kewajibannya. ia ia telah meninggalkan sholat dhuhur,asar, Maghrib dan isya'nya. ia beranjak dari tempat tidur dan segera melaksanakan sholat isya' serta mengqodo' sholat yang telah ia tinggalkan.


Ditengah munajatnya, air mata itu kembali tumpah. Isak tangis dan sesenggukannya membuat dadanya terasa sesak.


"Ampuni hambaMU ya Robb. jika ini yang terbaik, berikan keikhlasan bagiku untuk melupakannya. berilah ketenangan bagi hambaMU ini ya Robb."


munajat tulus dari Sabrina. hingga membuat wanita itu tertidur dengan mukenahnya.


ia terlalu lelah hari ini.


Terdengar suara pintu kamarnya terbuka. Gus Ali suaminya telah pulang. ia kaget melihat istrinya yang tertidur pulas dengan mukenahnya.



Gus Ali mendekati wanita itu. ia berniat membangunkannya agar pindah ke tempat tidur. tapi ia mengurungkan niatnya untuk melakukan hal itu, karena ia tidak tega melihat istrinya tertidur dengan sangat pulas.


terpaksa ia menggendongnya ke Kasur. tapi wanita itu tetap tidur dengan nyenyaknya.


malam itu adalah malam pertama Gus Ali bisa tidur dengan menghadap dan menatap wajah cantik istrinya. hingga ia terlelap dalam tidurnya.



Ditengah tidurnya, Gus Ali tengah menggeliat pelan. tanpa sadar ia membuka mata. tapi apa yang dilihatnya membuat tubuh dan nafsunya meronta. istrinya, tampak cantik tidur tenang disebelah kanannya. dengan baju dibagian dada yang terbuka, hingga ia melihat kedua gunung kembar itu menjuntai tinggi dan tampak besar.


pemandangan itu membuat Gus Ali tidak bisa menahan nafsu birahinya. sontak jagoannya meronta minta di keluarkan. tapi ia menahan hal itu. sebab ia teringat saat malam itu istrinya menangis hanya karena sebuah pelukan darinya.


Gus Ali tak berani lagi menyentuhnya. meski itu adalah malam pertamanya melihat pemandangan indah di depan matanya. ia lebih memilih menutupinya dengan selimut. agar ia tidak semakin meronta\-ronta.



Kumandang adzan subuh membangunkan laki\-laki itu dari tidurnya. Gus Ali mulai membuka mata dan melihat istrinya yang semakin memamerkan keindahan tubuhnya.


membuat nafsu birahinya semakin memberontak.


Wanita itu tampak pulas dengan gamis tidurnya yang setengah terbuka bagian bawahnya. hingga nyaris memperlihatkan kedua gundukan besar dibagian atas pahanya. seketika itu Gus Ali kembali menutupinya dengan selimut.


dan perlahan membangunkannya untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan yang lain.


"Neng.. sholat subuh dulu yuk"


ajak Gus Ali lembut.


Tanpa berbalik badan, wanita itu menjawab sambil membenarkan selimutnya.


"Aku masih gk bisa sholat Gus."


ucapnya pelan.


"oh ya sudah kalau gitu."

__ADS_1


Gus Ali beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


"Ada apa dengan neng bina malam ini. tidak biasanya ia tidur seperti itu. apa mungkin ia terlalu lelah karena seharian habis reunian dengan teman-temannya kata umik?"


batin Gus Ali yang keheranan.


Beberapa menit kemudian, Gus Ali kembali ke kamar setelah selesai melaksanakan sholat subuh. ia masih melihat istrinya yang berbalut selimut. tampak pulas dengan dengan tidurnya.



Gus Ali melakukan rutinitas hariannya tiap selesai sholat subuh, ia membaca Alquran sambil duduk dibalkon kamarnya. sembari menikmati udara segar di pagi hari.



Namun ditengah mengajinya, Gus Ali mendengar suara aneh dari kamar mandi. sontak ia berjalan dan melihat istrinya tidak ada ditempat tidur.


"huweeeekkk... "


terdengar lagi suara itu. ia panik mendengar istrinya muntah-muntah di kamar mandi.


"Neng.. kamu gpp neng?"


tanya gus Ali yang begitu panik dengan hal itu. hingga tak lama kemudian, wanita itu membuka pintu kamar mandi. wajahnya pucat dan tubuhnya lemas. Gus Ali langsung membantunya berjalan menuju tempat tidur.


tapi tidak ada penolakan dari istrinya.


Gus Ali semakin bingung dengan sikap istrinya. karena setiap kali ia menawarkan bantuan, Sabrina selalu menolaknya. apalagi sampai menyentuhnya, wanita itu benar-benar tidak mau disentuh olehnya.


tapi pagi itu, ia merelakan tangannya untuk dituntun oleh Gus Ali menuju tempat tidur.


"Kamu sakit neng?"


tanya laki-laki itu dengan khawatir.


"gpp Gus, aku cuma pusing dan mual-mual aja. mungkin masuk angin"


ucapnya sambil memejamkan mata.


"ia.. mungkin kamu masuk angin setelah seharian pergi ke luar rumah. kita ke rumah sakit ya.."


ajak Gus Ali. tapi istrinya menolak. ia minta untuk istirahat dirumah saja.


"ya sudah kalau gitu, kamu tunggu disini aku ambilkan sarapan untukmu."


"Gk usah .. nanti aku bisa ambil sendiri"


ucapnya lemas.


"tunggu disini."


kata laki-laki itu tanpa menghiraukan ucapan Sabrina yang lemas dan pucat.


Gus Ali pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk istrinya.


"bik.. sarapannya sudah siap?"


tanya Gus Ali pada pembantu rumah tangganya.


"Sudah Gus.."


"ya sudah.. minta tolong siapkan sarapan untuk neng bina ya bik. sekalian minta tolong ambilkan minyak kayu putih. aku tunggu di kamar."


Karena tidak sabar menunggu bibik yang sedang menyiapkan sarapan, Gus Ali memilih menunggunya di kamar.


"Sarapannya masih di siapkan neng."


ucap Gus Ali.


"Trimakasih"

__ADS_1


balas sabrina pelan.


@@@


__ADS_2