
Dokter tampan itu berjalan setengah berlari menuju ruang operasi. karena ada seorang pasien kritis yang harus ia tangani.
sementara Sabrina dengan santai menyusui putri kecilnya.
"kenapa ayahmu tidak menghubungi ibu sama sekali sayang?"
pertanyaan itu Sabrina ucapkan pada si kecil yang sedang bersemangat menghisap Asi nya.
kini Sabrina sudah punya teman curhat dan teman ngobrol meski si kecil masih belum bisa berbicara.
setidaknya ia tidak merasa sendiri lagi di tengah kesendiriannya.
"seharusnya ayahmu ada disini menemani kita, tapi entah mengapa dia lebih memilih saudaranya ... sabar ya sayang"
kata Sabrina sambil mencium pipi kecil itu.
Sabrina juga baru sadar kalau tadi sore ketika suaminya baru datang bahkan ia lupa untuk meng adzani bayi nya.
bukankah pasti beliau sudah sangat faham bahwa salah satu tugas seorang ayah dalam Islam adalah mengadzani bayinya yang baru lahir dengan tujuan menghindari dari gangguan jin dan syetan serta untuk mengenalkan pada Allah dan nabiNYA.
Sabrina mencoba memaklumi keadaan waktu itu. mungkin karena terlalu senang sehingga suaminya lupa akan hal itu.
Sabrina merasa lelah dan tak ingin memikirkan terlalu jauh tentang hal itu.
ia tidak ingin berpikir yang tidak-tidak tentang suaminya.
disana..
tampak Arsya bersama beberapa perawat baru saja keluar dari operasi. mereka baru saja menyelesaikan tugas operasinya.
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar. terimakasih atas kerjasama kalian. sus.. jangan lupa hubungi keluarganya dan pindahkan dia ke kamar pasien"
perintah Arsya pada rekan kerjanya.
"Baik dokter.. "
kata suster itu langsung menjalankan perintah Arsya.
"Dokter Arsya.. jam kerja kita sudah selesai, kita makan malam dengan yang lain yuk"
ajak salah satu rekan kerjanya.
__ADS_1
"Mungkin lain kali ya bro.. aku harus menjaga temanku yang baru melahirkan"
kata Arsya
"oh yang ada di kamar VIP itu ya?"
"iya betul"
kata Arsya singkat
mereka lalu berpisah dan Arsya pergi ke ruangannya untuk berganti seragam karena dinas malamnya sudah selesai.
setelah itu ia berjalan menuju kamar Sabrina.
didepan kamar Sabrina ia berpapasan dengan seorang perawat yang baru saja keluar dari kamar Sabrina.
"Pasien sudah makan sus?"
tanya Arsya pada suster yang membawa nampan kosong di tangannya.
"Sudah dok.. ini bekas makanan yang sudah tadi, saya baru bisa membereskannya sekarang"
kata suster itu.
Perlahan Arsya hendak membuka pintu itu namun ia mengurungkan niatnya karena ia teringat tadi ketika dirinya dengan lancang masuk ke ruang itu sehingga membuat wanita itu tergesah membenarkan cadarnya.
tok..tok..tok..
suara ketukan pintu Arsya tidak mendapat sahutan dari dalam. terpaksa ia melirik dari pintu untuk memastikan bahwa wanita itu sudah memakai cadarnya.
dan benar...
melihat apa yang terjadi di dalam, Arsya langsung masuk dan berjalan dengan cepat menuju ranjang Sabrina.
Perlahan dan sangat berhati-hati lelaki itu mengambil alih si kecil yang tertidur pulas dalam gendongan ibunya.
Arsya menidurkan bayi itu di ranjang bayi yang berada tepat di sebelah Sabrina.
sedangkan wanita bercadar itu masih terlelap dengan posisinya setengah duduk dengan menyandarkan punggung dan kepalanya pada ranjang rumah sakit yang di setting setengah terlipat ke atas.
Dengan lekat..
__ADS_1
Arsya menatap wanita bercadar itu. ia tampak konsisten dengan hijab dan cadarnya walau dalam situasi seperti ini.
wanita itu semakin cantik meski dalam tidurnya. membuat Arsya semakin terkagum-kagum pada makhluk Allah itu.
Dengan memberanikan diri perlahan, Arsya mengembalikan posisi ranjang itu seperti semula. hingga membuat wanita itu semakin nyenyak dalam posisi tidurnya.
''Selamat beristirahat neng.."
ucap Arsya sembari menyelimuti wanita itu.
tiba-tiba hp Sabrina berdering. dengan cepat ia mengambil hp yang ada di meja sebelah Sabrina. Karena Arsya khawatir dering hp itu membangunkan keduanya.
melihat siapa yang menelpon, Arsya segera menjawab telpon itu.
"Assalamualaikum neng Zahwa"
""Waalaikum salam.. ini dek Arsya ya?"
"iya neng.. maaf saya lancang menjawab telpon neng Zahwa karena saya khawatir membangunkan keduanya"
ucap Arsya yang sedikit menjauh dari posisi Sabrina berada.
"iya tidak apa-apa dek. jadi mereka sedang tidur?"
"iya,neng.."
"Alhamdulillah... sekali lagi terimakasih ya dek sudah bersedia membantu kami menjaga dek bina dan maaf merepotkan mu"
"tidak masalah neng. lagi pula jam kerjaku sudah selesai. jadi tidak merepotkan sama sekali neng"
kata Arsya sopan.
"oh begitu ya.. tapi kamu kan capek setelah kerja, tidak apa-apa kalau kamu pulang biar nanti saya suruh pembantu di rumah untuk kesana menjaga dek bina. biar sekalian kamu bisa istirahat di rumah dek"
"Gpp neng.. saya bisa istirahat disini kok sekalian menemani neng bina dan bayinya. kasihan jika di tinggal"
kata Arsya iba.
dengan ucapan terimakasih dan salam, neng Zahwa mengakhiri telpon itu agar Arsya bisa istirahat.
'Seharusnya suamimu yang berada disana menemanimu dek bina. bukan orang lain yang tidak punya hubungan dengan kamu. Ya Allah.. apa maksud semua ini? hamba benar-benar tidak mengerti. hanya Kau yang tahu bagaimana takdir keduanya'
__ADS_1
batin neng Zahwa dalam hati setelah ia menutup telponnya.
@@@