
Hampir seminggu setelah kejadian itu, aku enggan kemana-mana. Hanya pergi kuliah setelah itu langsung pulang. Aku memilih menghabiskan waktuku dikamar.
Ya rabb...
Inikah takdirMU untukku?
@@@
Malam itu aku sedang duduk santai dan menyandarkan tubuhku pada kursi dihalaman belakang rumahku. mendengarkan musik dari earphoneku. Relax dan mencari ketenangan untuk pikiranku.
Tiba\-tiba kurasakan yepukan hangat dipundakku. Sontak aku kaget dan melihat orang yang menepuk pundakku.
"Papa.. " ucapku kaget.
"Duduk, pa.. " lanjutku.
Kemudian papa duduk disebelahku.
"Bagaimana, masih kepikiran gadis itu? "
Tanya papa penuh selidik.
"Kalo papa nanya gitu, jawabannya masih pa. Susah buat ngilangin perasaan ini, pa. "
"Papa mengerti perasaan kamu. Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? "
"Yaa arsya mencoba ikhlas, pa. Kalo dia memang bukan jodoh arsya, terus.. Mau gimana lagi. "
Jawabku menguatkan diri sendiri.
"Bagus... Kamu harus tahu, nak.. Bahwa semua yang terjadi di alam ini adalah kehendak Allah. Kita hanya bisa berencana, tapi belum tentu rencana kita sama dengan rencanaNYA. Kamu mengerti maksud papa kan? "
"Iya, arsya ngerti pa. Arsya akan doain semoga neng bina mendapatkan jodoh yang tepat untuknya. "
"Amiin.. "
Sambung papa.
"Memangnya kamu sudah pengen cepat-cepat menikah? "
Goda papa.
"Sebenernya nggak juga sih, pa. Tapi karena neng bina udah lulus dari pesantren.. Arsya pengen langsung meminangnya pa agar tidak diambil orang lain. Eh ternyata... Arsya udah terlambat. "
Jawabku menyesali kelakuanku yang kalah cepat dengan laki-laki yang terlebih dahulu meminang neng bina.
"Oh jadi gitu ceritanya. Kalo emang kamu udah pingin segera nikah ya papa carikan calonnya. "
"Ah gk usah, pa. Arsya mau fokus kuliah aja dulu."
Jawabku yang mengakhiri obrolan kami.
@@@
Adzan dhuhur begitu jelas bergema dari masjid yang tak jauh dari kampusku.
Kulangkahkan kaki untuk memenuhi panggilan Rabb-ku.
Usai melaksanakan sholat duhur berjama'ah, aku tidak langsung pergi meninggalkan masjid. Aku masih ingin mengahabiskan waktuku disini. Bermunajat pada Rabb\-ku. Meminta ketenangan hati dan jiwa agar tegar dan ikhlas menerima kenyataan.
__ADS_1
Kulafadzkan dzikir dengan memejamkan mata. Kurasakan ketenangan dihatiku. Namun, suara isak tangis seseorang mengusik ketenanganku.
Kubuka mata dan tak mendapati satupun orang disebelahku. Namun, suara isak tangis itu semakin jelas ditelingaku.
Perlahan aku menoleh kebelakang...
Dan..
Disana, ditempat jama'ah wanita, kulihat dia memakai mukenah putihnya. Memejamkan mata, menengadahkan kedua tangannya, pipinya basah oleh aliran air matanya, wajahnya yang putih bersih menjadi kemerahan karena isak tangisnya, dia mimpiku.. Tapi dia bukan jodohku.
Neng sanrina.
Kubalikkan badan kembali menghadap kiblat. Tak kuasa aku melihatnya menangis.
Ia tampak sholihah dengan keadaannya bermunajat pada Raab-nya.
Tapi sekali lagi...
DIA SUDAH BUKAN JODOHKU...
Tanpa sadar..
Ternyata didalam masjid megah ini, didalam rumah Allah yang mulia, aku disini ditempatku sedang dia disana diposisinya. Kami berada dalam satu tempat yang sama.
Dzikirku sudah tak khusyu' lagi. Tangis dan keberadaannya disampingku membuatku kehilangan kendali.
Tanpa sadar, air mataku mengalir begitu saja ketika mendengar sesenggukannya.
Apa yang dimintanya padaMU ya Rabb sehingga dia begitu khusyu' dengan munajatnya?
Batinku tak henti bertanya pada Rabb-ku.
Hingga akhirnya terdengar suara dering hp.
AKu menoleh sedikit kebelakang. Kulihat dia tengah merogoh tasnya dan mencari hpnya.
Ucapnya yang kemudian mengakhiri teleponnya.
Aku sudah tak menoleh lagi kebelakang. Karena takut dia tahu kalau dia bersamaku sedari tadi.
Kudengar langkah lembut kakinya. Setelah dia sudah berada dihalaman masjid, aku segera beranjak berdiri untuk melepas kepergiannya.
Dari jendela masjid, kulihat saira datang menghampirinya. Kulihat keduanya berpelukan. Dan kulihat, neng bina kembali menumpahkan air matanya dipelukan saira sahabatnya.
Sembari memeluk neng bina, kulihat saira sedang mengotak\-atik hpnya. Dan seketika hp ku berbunyi.
Seolah tau maksud saira.. Aku segera menerima panggilannya. Terdengar jelas isak tangis dan sesenggukan dari neng bina dari hpku.
"Aku gak bisa gini, ra. Aku bingung harus gimana."
Terdengar jelas pengakuan neng bina pada saira.
"Ada apa, neng.. Coba cerita sama aku. Kita duduk dulu ya... "
Kata saira sambil menuntun neng bina duduk dibawa pohon besar didepan masjid. Sementara aku masih tetap memperhatikannya dari jendela masjid dan mendengar pengakuannya dari hp.
"Abi udah nentuin tanggal pernikahanku, ra."
Kulihat gadis itu semakin pilu dipelukan sahabatnya.
"*Ya Allah.. Kapan neng? "
"Aku gk tahu dan gak mau tahu*"
Jawab gadis itu sendu.
"Kenapa Allah gk nakdirin aku dan arsya bersatu, ra... Aku udah terlanjur sayang sama dia. "
__ADS_1
Deeggg....
Itu adalah pengakuan pertama neng bina. Air mataku kembali mengalir mendengar pengakuannya.
"*Tapi aku harus gimana lagi, ra selain nurut sama abi."
"Iya, aku tahu gimana perasaan neng bina saat ini. Ya udah, aku anter pulang ya. "
"Gak mau, aku mau nginep dirumah kamu aja dulu. "
"Ya udah*.. "
Keduanya kini berjalan menuju tempat parkir. Dan saira juga sudah mengakhiri panggilannya.
Aku kembali duduk. Kembali bermunajat padaNYA.
"Ya rabb... Ternyata dia tersiksa dengan keadaan ini. Begitu juga hamba ya rabb.. Hamba tidak rela ya rabb. Tapi jika ini yang terbaik untuk kita berdua, berikanlah kebahagiaan pada neng bina. Dan berilah keikhlasan bagi hamba untuk menerima takdirMU. "
@@@
Sepulang kuliah, aku mampir kerumah rion. Mencari kesibukan agar tidak kepikiran hal yang sama.
Dirumah rion, saira meneleponku...
"Assalamualaikum.. Iya, ra. "
"Waalaikum salam sorry ganggu. Cuma mau nanya aja. Kamu udah denger kan gimana perasaan neng bina kekamu, sya. "
"Iya, aku udah denger semuanya. Tapi aku bisa apa, ra... Nasi udah jadi bubur kan??? "
"Iya aku tahu, sya. Tapi paling tidak.. Bisa gk kamu bicara langsung ma dia walau sebentar. Setidaknya agar dia tenang dan tidak merasa bersalah terus ma kamu. "
Kata saira panjang lebar.
"Nggak, ra.. Aku gak bisa. Yang ada neng bina nanti tambah sedih ngeliat aku. "
"Oh gitu.. Ya udah kalo gitu. "
Kata saira yang kemudian mengakhiri teleponnya.
Kusandarkan tubuhku kesofa yang ada diruang tamu rion.
"Minum dulu, bro.. "
Kata rion sembari menyodorkan jus jambu padaku.
"Thanks. "
"Kenapa lagi, bro. Udah bener-bener mau nikah tuh si sabrina? "
Tanya rion memastikan.
"Iya. "
"Loe gak mau memperjuangin dia gitu buat kembali ke loe? "
"Gk.. mungkin ini udah yang yerbaik untuk kita. "
"Hmmmm... Sabar bro.. Semoga loe dapat ganti yang lebih dari neng bina itu. "
Kata rion prihatin dengan keadaanku.
"Gak ada dan gak bakalan ada cewek seperti dia. Dia udah perfect bagi gw."
Ucapku seketika dan membuat rion menggeleng-geleng kepala.
__ADS_1
@@@