
Siang itu udara terasa semakin terik. seolah membakar hati dan cinta Arsya yang benar-benar telah patah se patah-patahnya.
pertemuannya dengan Sabrina kembali mengusik ketenangan jiwanya. namun anehnya, bukan marah.. sakit hati.. atau kecewa yang dirasakan Arsya,
melainkan rasa dan ambisi yang semakin besar pula untuk memiliki wanita itu.
ia benar-benar merasa gila di buatnya. lelaki itu tidak merasa dipermainkan oleh wanita bercadar itu. karena ia tahu bahwa bukan dirinya saja yang berjuang untuk melanjutkan hidup, tapi dia disana juga berjuang untuk menjadi seorang istri seutuhnya untuk suaminya. walau cintanya masih tersisa untukku.
"Gila.. ini sungguh gila.. kenapa kisah cinta ini seolah tidak ada ujung dan akhirnya.. kenapa hati kita tak bisa bersatu walau pada nyatanya kita saling mencintai.. andai saja Abi mu tidak menerima lamaran Gus Ali.. pasti sekarang kita sudah bersatu dalam ikatan cinta ini,neng.. aaaarrrrghhh..."
Arsya berteriak seperti orang gila. pikirannya benar-benar stress kali ini.
@@@
Kumandang adzan asar tidak membuat Arsya bangun dari duduknya. ia masih menatap kosong ke luar jendela kamarnya.
ia tampak memikirkan sesuatu. hingga suara ketukan pintu menggema di kamarnya.
tok..tok..tok..
"Mas Arsya.. boleh ayu masuk?"
mendengar suara itu, Arsya mendongak dan langsung berbicara karena ia merasa ayu adalah satu-satunya orang yang mengerti dengan semua keadaannya.
"Masuk saja,yuk.. gk di kunci"
kata Arsya kemudian.
Ayu yang mendengar Arsya mempersilahkan dirinya untuk masuk langsung menarik gagang pintu kamar itu dan mulai melangkah masuk.
"Makan dulu mas.. ini ayu bawakan makanan dan susu.. bukankah tadi mas Arsya belum makan siang?"
tanya Ayu sambil menyodorkan nampan berisi sepiring nasi dan segelas susu pada Arsya.
"Aku tidak lapar,dek.. letakkan saja di meja"
kata Arsya.
ayu menuruti perintah Arsya.
"Ada apa lagi mas..? pasti ada hubungannya dengan neng Sabrina kan?"
__ADS_1
"Kamu benar,dek.. tadi siang aku bertemu dengannya.."
"terus mas..?"
tanya Ayu penasaran.
dengan panjang lebar dan detail Arsya menceritakan semua obrolannya dengan Sabrina waktu di taman tadi.
mendengar cerita itu, ayu merasa sedih hatinya. merasa iba sebab dua orang yang saling mencintai tidak bisa bersatu bahkan akan berpisah.
"Lalu rencana mas Arsya apa sekarang?"
"Aku sudah memikirkannya,dek.. jika ini sudah keputusannya, maka aku harus menghargai dan menghormatinya. aku akan fokus pada indira. semoga dia bisa membuatku lupa pada Sabrina"
ucap Arsya penuh keyakinan.
melihat dan mendengar ucapan sepupunya membuat ayu hanya diam. karena ia tidak yakin kalau Arsya akan benar-benar bisa melupakan Sabrina. mengingat betapa lama penantiannya selama ini dan betapa besar cintanya pada wanita itu.
tapi ayu hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kakak sepupunya itu.
"... dia sudah memilih jalan hidupnya, maka aku juga akan melanjutkan hidupku.."
"Apapun keputusan,mas Arsya.. ayu tetap mendukungmu, mas.. lebih baik mas Arsya sekarang mandi dan sholat dulu biar segar dan tenang kembali"
saran ayu pada Arsya.
"Iya kamu benar,yuk.. terimakasih sudah mau mendengarkan curhatku selama kamu disini"
kata Arsya langsung mengelus rambut ayu.
"Iya,mas.. karena mas Arsya sudah baik banget sama aku dan nenek. kalau begitu ayu ke kamar dulu ya mas.. khawatir Caca bangun"
"iya.."
jawab Arsya yang kini sudah bisa mengukir senyum di wajahnya.
"Jangan lupa di makan ya.. "
kata ayu mengingatkan sekali lagi pada Arsya.
"iya kamu tenang saja.. nanti aku makan. terimakasih,dek"
__ADS_1
"sama-sama mas.. jangan seperti ini lagi ya.. kasian mama kamu juga sedih melihat keadaan putranya seperti ini"
Arsya hanya mengangguk pelan menuruti Setipa ucapan adik sepupunya itu.
Arsya merasa nyaman dan lega setelah menceritakan semua masalahnya pada ayu. karena ayu benar-benar tidak keberatan untuk mendengarkan setiap keluh kesahnya.
@@@
kini jam menunjukkan pukul 17.00
Arsya bersiap untuk dinas malam di rumah sakit. ia sudah merasa baikan dan kembali bersemangat seperti sebelumnya.
"Arsya kerja dulu, ma.. pa.."
pamit Arsya pada mama dan papa nya yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Arsya.. kamu baik-baik saja,nak?"
tanya mama nya memastikan.
"jangan khawatir.. Arsya baik-baik saja kok ma"
"syukur Alhamdulillah kalau begitu nak.."
"Ingat.. laki-laki itu harus kuat dan tegas,sya.."
kata papa nya membuat arsya kembali bersemangat hidup.
"Siap, pa.. kalau begitu Arsya berangkat dulu. assalamualaikum.."
ucap Arsya sambil mencium kedua tangan orang tuanya.
"Waalaikum salam"
jawab kedua orangtuanya dengan tetap melihat putranya yang sudah menutup pintu rumah.
kedua orangtuanya sudah tau apa yang terjadi pada putranya, karena ayu sudah menceritakan semuanya pada om dan tantenya itu.
keduanya merasa sedih dan prihatin dengan keadaan putranya, tapi mereka yakin bahwa Arsya akan baik-baik saja nantinya.
@@@
__ADS_1