
Didalam mobil...
Tak henti ku menatap ke jalanan diluar sana. Kusapukan pandanganku ke segala arah. Sesekali aku menoleh kebelakang. Berharap dia sedang mengikutiku.
Tapi ternyata tidak.
Sementara ku lihat neng bina tampak sibuk membalas chat dari bang alwi suaminya. Tak terasa mobil yang kami naiki sudah lumayan jauh meninggalkan rumahku. Harapanku musnah, dia tidak datang.
Padahal aku sedang merindu, setidaknya aku tenang bisa melihatnya sekali saja sebelum kami kembali berpisah. Tapi tidak... Dia benar benar-benar tidak datang.
Aku menghela nafas panjang sambil bersandar kekursi mobil dengan kecewa.
Tanpa sadar, ternyata neng zahwa sedang menatapku.
"Kenapa,dek... sepertinya sedang gelisah dari tadi.". tanya neng zahwa penuh selidik.
"Oh nggak kok, neng. " jawabku mengelak karena takut neng zahwa tahu yang sebenarnya.
"Sepertinya lagi menunggu seseorang... " lanjutnya.
"Nggak kok, neng. " sekali lagi aku mengelak darinya.
"Siapa??? Cowok??. " neng zahwa tak henti menerka-nerka dan mendesakku untuk mengaku padanya...
Tapi aku hanya diam ketakutan. Takut neng zahwa tahu dan aku diadukan pada bang alwi dan abi.
"Dek, kamu sudah besar... Kamu udah dewasa, wajar kalo kamu suka sama cowok. Tapi ingat... Kamu perempuan, kamu anak pesantren.. Kamu harus bisa mengontrol perasaannya ya.. " tutur kata neng zahwa membuatku bisa bernafas lega. Aku pikir dia akan marah atau bahkan melarangku.
"Siapa??? " tanyanya sekali lagi.
"Sebenernya aku tidak tau dengan perasaanku, neng. Tapi dengan sikap dan perhatiannya membuatku ........ "
aku tak bisa melanjutkan kalimatku, karena aku tak tau harus bagaimana mengatakannya.
"Jadi kamu lagi nunggu dia?. "
Aku jawab dengan anggukan pelan karena aku malu.
Tiba-tiba...
"Loh... Kenapa berhenti pak?. " tanya neng zahwa pada pak sodiq yang tiba-tiba berhenti.
"Itu neng... Didepan ada kecelakaan. "
tutur beliau.
Seketika aku dan neng zahwa melihat kerumunan itu dari balik kaca mobil.
"Sepertinya pengendara motor, neng. "
Kata pak sodiq memberitahu.
Kusapu pandanganku pada kerumunan orang yang tak kunjung membawa korban kecelakaan itu kerumah sakit.
"Sepertinya tabrak lari, neng. " ucap pak sodiq lagi karena tak didapati kendaraan lain yang tengah tergeletak disana.
Satu menit berlalu. Kami masih tidak bisa melewati kerumunan itu. Pak sodiq melarang kami keluar dari mobil karena terlalu ramai.
Hingga akhirnya hp ku berbunyi...
"Assalamualaikum, ra.. Kenapa.... Apa?.. Astaghfirullohal 'adziimm.... "
Kaget bukan main setelah mendengar telepon dari saira. Tanpa buang waktu, aku membuka pintu mobil dan keluar dengan pandangan menerawang kesegala arah mencari suatu objek.
"Benar, kak arsya... "
Gumamku pelan.
Seketika kulangkahkan kakiku yang sedang gemetar ketakutan untuk melihat korban kecelakaan itu. Memastikan dan benar, itu kak arsya...
Air mataku menetes begitu saja. Melihat dia yang tergeletak dan bersimbah darah.
Neng zahwa datang menghampiriku.
"Dek, siapa dia.. Kamu kenal dia?. "
Tanyanya bingung.
Dengan kelu bibirku berkata...
"Dia kak arsya, neng. " ucapku kemudian.
Tiba-tiba neng zahwa meminta pak sodiq untuk mencarikan taksi dan membawa arsya kerumah sakit. dengan dibantu orang-orang yang ada disana, pak sodiq mengangkat kak arsya kedalam taksi, sementara aku dan neng zahwa mengikuti dari belakang taksi itu.
Didalam mobil...
Aku tak kuasa menahan tangis. Entahlah, aku merasa sedih. Neng zahwa memelukku dan menenangkanku.
"Dia yang kamu tunggu?. "
Tanyanya dengan lembut.
Sementara aku tak punya keberanian untuk mengatakan iya. Menganggukkan kepalapun aku tak kuasa. Hanya bisa memeluk neng zahwa semakin erat. Dia kemudian diam, mencoba memahami keadaanku.
Tak lama kemudian sampailah kami di sebuah rumah sakit. Beberapa perawat dengan sigap langsung membawa kak arsya menuju ruang ICU.
Kali ini aku sudah bisa menahan air mataku agar tak henti mengalir. Hanya sesenggukan yang masih membuatku pilu dengan keadaan ini.
__ADS_1
"Dek, neng zahwa mengerti perasaan kamu. Apa gk sebaiknya kamu telepon keluarganya atau paling tidak, telepon saira minta bantuan dia. ". Usulan neng zahwa membuatku langsung mengeluarkan hp ku dan mulai memghubungi saira.
"Assalamualaikum, ra.. Kak arsya kecelakaan. Dia sekarang sedang ditangani dokter dirumah sakit bakti. Minta tolong hubungi keluarganya ya... "
ucapku pada saira yang tanpa basa basi langsung kututup teleponnya begitu saja.
Masih menunggu dokter yang tak kunjung selesai menanganinya. Tak henti ku panjatkan do'a pada robbku.. Agar kak arsya segera diberi kesembuhan dan bisa siuman.
"Dek, sebentar lagi adzan maghrib. Bagaimana denganmu? Apa gpp kamu telat?"
Neng zahwa mengingatkanku.
"nunggu sampai kak arsya sadar ya, neng. " pintaku.
"Tapi bagaimana kalau kamu nanti dihukum karena telat kembali kepesantren?. "
"Gpp, neng... Kita disini dulu ya neng.. Jangan kasih tau umi' sama abi ya neng. "
Pintaku memohon pada neng zahwa. Aku yakin dia bisa mengerti.
Krriieekkkk....
Seorang dokter keluar dari ruang ICU.
Aku bergegas menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya dok?. "
Tanyaku tak sabar mrndengar jawaban dokter.
"Iya, dia mengalami luka yang cukup parah dibagian kakinya. Sehingga kami membutuhkan waktu untuk menangani lukanya."
"Alhamdulillah. "
terucap syukur dari kami berdua.
"Boleh kami melihatnya dok?. "
Tanya neng zahwa.
"Untuk Sementara ini dia masih belum sadar, jadi kalian bisa menemuinya kalau dia sudah siuman. " beritahu dokter itu pada kami.
Setelah kak arsya dipindahkan keruang perawatan, sesekali aku melihatnya dari balik kaca yang ada dipintu ruangannya.
"Ya Allah... Berilah kesembuhan padanya. "
Doaku dalam hati.
Triing...
Tiba-tiba hp ku berbunyi.
*Aku* *udah diparkiran neng sama orang tua*
arsya.
Kubalas massage nya..
*Iya, masuk aja... Kak arsya ada dikamar melati nomor 5 dilantai 2*.
Balasku.
Kumandang adzan menggema diseluruh ruangan rumah sakit. Tapi aku memutuskan untuk menunggu kedatangan saira dan orang tua kak arsya.
"Assalamualaikum... "
Secara bersamaan saira bersama orang tua kak arsya mengagetkan kami dengan salam mereka.
"Waalaikum salam. " jawabku dan neng zahwa.
"Om Tante, ini neng sabrina teman sekelas arsya juga. Dan ini neng zahwa, kakak iparnya. "
Ucap saira memperkenalkan kami pada orang tua kak arsya.
"Assalamualaikum, Om tante.. "
Sapa neng zahwa sembari mencium tangan beliau berdua aku pun begitu.
"Waalaikum salam, terima kasih sudah membawa anak kami kerumah sakit. Terimakasih.. "
"Sama-sama tante." jawab neng zahwa sedangkan aku hanya bisa tersenyum menyembunyikan kesedihan dan sesenggukanku dari orang tua arsya.
"Kami pamit ke musholah dulu om tante. " ucap neng zahwa kemudian.
"Oh iya.. Mari silahkan. "
"Neng, ikut sholat ya.. " pinta saira pada kami.
Kamipun mengajaknya dan kembali berpamitan pada kedua orang tua kak arsya.
Setelah beberapa langkah ku tinggalkan kamar kak arsya, aku mrmutuskan utuk kembali dan memberitahukan anjuran dokter pada beliau berdua.
"Permisi, om tante... "
Ucapku memberanikan diri.
__ADS_1
"Oh iya, ada apa nak?." Jawab mama kak arsya dengan lembut.
"Pesan dokter, tunggu sampai kak arsya siuman baru boleh menemuinya. "
"Oh iya... Terima kasih banyak, nak. "
"Sama-sama. Permisi kami mau kemusholah dulu om tante. "
Pamitku sekali lagi.
Sedikit melirik dari kejauhan, kulihat orang tua kak arsya ramah sekali padaku dan neng zahwa. Aku suka dengan sifat tenang beliau.
Dimusholah...
Setelah selesai melaksanakan sholat, aku menceritakan semua kejadian tadi sore pada saira sembari berjalan menuju ruang kak arsya dirawat.
Sesampainya disana, kudapati orang tua kak arsya sudah memasuki ruangan. Dan ternyata dia sudah siuman. Syukurlah...
Sebenarnya aku enggan masuk kedalam, karena aku malu untuk bertemu dengnnya. Aku mengajak neng zahwa langsung pulang dan melanjutkan perjalanan kepesantren. Tapi kata beliau, gk sopan kalau kita langsung pulang tanpa pamit terlebih dahulu.
Akhirnya aku mengiyakan ajakan neng zahwa dan saira untuk masuk kedalam menjenguk kak arsya sekalian pamit untuk pulang.
Dag.. Dig.. Dug...
Degup jantungku seperti bedug yang sedang ditabuh dimasjid sebelah rumahku...
Haduuh, aku malu dan salting kala itu.
Dengan bismillah... Kumantapkan hati dan melangkah untuk menemuinya.
"Assalamu'alaikum... " ucap kami bertiga secara bersamaan. Membuat semuanya setengah kaget dengan kedatangan kita kembali.
"Neng bina. "
Ucap kak arsya dengan senyum. Aku lega bisa melihat senyumnya kembali.
"Terimakasih ya robb... Telah mengabulkan doaku. " syukurku dalam hati.
"Bagaimana keadaannya, kak?. " tanyaku sok tenang padahal keadaan hatiku lagi kacau rasanya. Iya... Kacau karenamu.
"Alhamdulillah, aku gpp kok neng. Terimakasih sudah menolongku. "
"Iya, sama-sama. "
Karena aku merasa malu disana, akhirnya aku mengedipkan mata pada neng zahwa. Neng zahwa benar-benar peka dengan kode yang setiap kali kuberikan padanya. Hingga khirnya iya berpamitan untuk pulang.
"Loh, kenapa buru-buru sekali, nak.? "
Tanya papa kak arsya.
"Iya, kami akan segera melanjutkan perjalanan menuju bandung. Mengantarkan dek bina kembali kepesantren. "
Jawab neng zahwa. Sementara aku, seperti biasa hanya tersenyum saja. Hehe..
Setelah bersalaman kepada kedua orang tua kak arsya, dan berpelukan dengan saira, sengaja aku langsung balik badan ingin segera keluar dari ruangan itu tanpa berpamitan pada si pasien itu. Hihi...
Dan....
"Neng bina... "
'Aduuh... Kenapa dia memanggilku. ' pikirku.
Dengan senyum kubalikkan badan.
"Iya. " jawabku singkat.
"Sekali lagi terima kasih sudah menolongku. "
Ucapnya membuatku semakin tidak betah rasanya diruangan itu.
"Iya sama-sama. " jawabku.
"Hati-hati... Semangat belajarnya. "
"Iya, insyaallah. "
Tanpa berlama-lama lagi, aku segera menuju mobil dan segera melanjutkan perjalanan menuju pesantren.
Dirumah sakit...
Tak lama setelah kedua gadis berhijab itu pergi, saira ikut pamit pulang karena takut dicari orang tuanya.
Setelah itu, terjadilah percakapan diantara arsya dan kedua orang tuanya.
"Benarkah tebakan papa kalau gadis cantik itu yang membuatmu tidak mau pacaran selama ini?. " tebskan papa membuatku tak bisa mengelak lagi.
"Cantikkan, ma.. Pa?. " tanyaku meminta pendapat orang tuaku.
"Iya, mama suka sekali gadis itu, sya. Cantik, anggun, sopan, hijab yang ia kenakan semakin membuat gadis itu terlihat sempurna. "
Kalimat kekaguman mama membuatku Tidak enggan lagi mengatakan bahwa...
"Dia bidadari arsya, ma.. "
__ADS_1
Ucapku penuh keyakinan.
@@@