NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 33 HATI SELEMBUT KAPAS


__ADS_3

"kenapa Gus panggil aku dengan oanggilan adek?"


tanyaku penasaran.


seketika laki-laki itu kembali duduk dan mengarahkan pandangannya kembali ke depan.


" Dimata hukum dan agama kamu adalah istriku,dek.. tapi karena selama kita menikah, kita belum pernah melaksanakan salah satu ibadah halal itu, jadi aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa mengontrol nafsu dan syahwatku. maaf dek..


karena dengan panggilan itu aku akan berusaha menahan syahwat dan keinginanku untuk menyentuhmu. aku anggap kau sebagai adikku agar aku tak bisa melakukannya pada adikku."


pengakuan panjang lebar itu hanya membuatku lagi-lagi merasa bersalah padanya.


laki-laki sudah berjalan masuk ke kamar dan kembali berkata..


"Masuklah.. udaranya semakin dingin tidak baik untuk kesehatan"


titahnya membuatku langsung masuk.


sudah jam 03.00 pagi..


waktu dimana biasanya aku dan keluargaku termasuk Gus Ali melaksanakan sholat tahajjud dan hajat. waktu tenang dimana kita bisa curhat kepada Allah.


tapi karena sedang berhalangan karena datang bulan, aku memutuskan kembali ke kasur untuk istirahat.


tapi disana..


didepan meja riasku, tampak Gus Ali dengan sarung kotak-kotak hitam, kemeja biru dan kopyah putihnya tengah menengadahkan kedua tangannya bermunajat kepada Allah.


tenang dan damai rasanya ketika melihat pemandangan itu. seketika aku sadar bahwa sedari tadi aku tengah menatapnya lekat. entah sejak kapan aku mulai memantau setiap gerak gerik laki-laki itu.


'ingat,bina.. ada Arsya disana'


batinku mengingatkan.


hingga mataku kembali terpejam.


KEESOKAN HARINYA...


sinar matahari sudah masuk dari cela-cela tirai kelambu di kamarku. perlahan ku buka mata dan kaget masih mendapati Gus Ali masih berbaring di sampingnya.


'tumben jam segini dia belum bangun? biasanya dia yang bangunin aku'


batinnya.


tanpa pikir pusing ia segera bergegas ke kamar mandi. setelah mandi dan rapih dengan hijabnya, ia mencoba membangunkan suaminya.


"Gus.. bangun sudah pagi"


ucapnya pelan khawatir mengagetkan laki-laki itu.


tapi dia tetap tidak bergerak.


"Gus... "


panggil Sabrina sekali lagi.


melihat wajahnya sedikit pucat dan bibirnya yang kering, Sabrina memberanikan diri menyentuh kening laki-laki itu .

__ADS_1


memastikan agar dia baik-baik saja.


"Astaghfirullah... badan kamu panas, kamu demam Gus"


ucap Sabrina panik. sementara laki-laki itu tetap diam dengan hembusan nafas yang tak karuan.


"minum dulu,gus"


kata Sabrina membantunya untuk minum Air putih yang ada dimeja sebelahnya.


ketika Sabrina hendak berdiri mengambil sarapan, tiba-tiba tangan hangat Gus Ali menarik tangannya. Sabrina menoleh ke arah Gus Ali dan terdiam.


"Dek, jangan siksa aku dengan perasaan sakit ini.. aku gak mampu,dek"


ucapnya pelan masih dengan mata terpejam.


sementara Sabrina sedang berjuang menahan air mata dan perasaan bersalahnya.


tidak tega melihat laki-laki pucat itu, Sabrina perlahan melepaskan genggaman suaminya dan berjalan keluar kamar untuk mengambil sarapan.


hatinya berkecamuk kacau dan bingung memikirkan rumah tangganya.


'semua ini memang salahku'


gumamnya lirih sambil menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai bawa.


terlihat dimeja makan tengah siap semuanya, abai, umi', neng Zahwa dan bang Alwi.


"pagi,sayang.."


"selamat pa,umi'.. pagi semuanya"


sapa Sabrina mencoba tersenyum.


"mana Ali,dek..?"


tanya bang Alwi tiba-tiba.


"eeeh.. Gus Ali sedang demam,bang.. ini bina mau ngambil sarapan buat dia."


semua tampak panik dan kaget mendengar ucapan Sabrina.


"udah kamu kompres dengan air es dek?"


tanya neng Zahwa.


"belum,neng.. nanti setelah sarapan aku akan kompres dia". ucap gadis itu yang kemudian pamit untuk ke kamar memberikan sepiring nasi ditangannya.


Sesampainya di kamar...


"Gus.. duduk dulu sebentar, sarapan dulu ya.."


kata Sabrina sembari membantu laki-laki itu untuk duduk.


Perlahan Sabrina menyuapi Gus Ali. sementara laki-laki itu bahagia dengan perhatian dari istrinya.


tiba-tiba Gus Ali kaget melihat air mata mengalir dari mata cantik wanitanya.

__ADS_1


"Hey... dek.. kenapa nangis?"


tanya Gus Ali lembut sambil menatap wanita yang tengah menangis di hadapannya.


"kenapa hmm.. ada masalah?"


tanya Gus Ali yang tampak khawatir melihat wanita itu diam tanpa kata.


"Ceraikan aku,Gus..."


DEGGGG.....


kalimat itu membuat Gus Ali terperanjat kaget dan shock.


"Dek.."


hanya kalimat itu yang mampu terucap dari lisan pusatnya.


"ceraikan aku,Gus.. aku ikhlas..."


ucap Sabrina sekali lagi.


Dengan lembut laki-laki itu memegang tangan putih Sabrina.


"kenapa,dek.. bukankah kamu tau bahwa Allah sangat membenci yang namanya perceraian,dek... kamu sudah tau itu kan?"


ucap Gus Ali lembut sembari memegang tangan wanita itu.


"aku gak bisa jadi seperti kamu inginkan,Gus.."


ucap Sabrina penuh air mata.


"memangnya kamu tau apa yang aku inginkan?"


tanya Gus Ali penuh selidik.


wanita didepannya tampak membisu dengan Isak tangisnya.


"Dek, hadirnya kamu di hidup aku.. udah buat aku bahagia. Allah memberiku bidadari secantik kamu. wanita Sholehah dan taat pada Robbnya."


kalimat itu membuat Sabrina membalas genggaman tangan suaminya.


bahagia dirasa Gus Ali karena wanita itu berkenan membalas genggaman tangannya walau dengan tangan gemetar dari si cantik itu.


"Dek... buang rasa bersalah itu. anggap aku abang mu agar kamu tidak canggung lagi padaku. bismillah.. insyaallah aku tidak akan menuntut hak biologis ku ke kamu. cukup kamu menerima dan mau menganggap hadirku di kehidupanmu, walau itu sebagai Abang.hmm..."


ucap Gus Ali panjang lebar menjelaskan dan membuat permintaan.


wanita itu sudah berhenti menangis dan menatap Gus Ali.


"maaf dan terimakasih atas pengertiannya, Gus"


begitulah suasana haru di kamar itu.


berdua saling mengungkapkan isi hati mereka.


@@@

__ADS_1


__ADS_2