NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
EPisode 22 KALUT


__ADS_3

 


suasana tampak ramai. lalu lalang orang kesana kemari memusingkan pandangan mataku. suara gelak tawa dan ceria anak-anak kecil terdengar jelas di telingaku.


 


iya, malam ini aku sedang menikmati suasana malam ditaman pusat kota. hanya sendiri,aku mencari ketenangan.


kurebahkan tubuhku diatas rerumputan dilapangan taman.


kupusatkan pandanganku kelangit malam yang bertabur bintang. kedua tanganku memegang tasbih pemberiannya. kuputar dan kulafadzkan sholawat pada Baginda penebar cinta.


 


kupejamkan mata. kuhembuskan nafas perlahan. merasakan hembusan angin malam yang begitu tenang.


 



kulihat bayangan wajahmu dipejaman mataku. wajah sendu mu yang menengadah kelangit malam yang sama denganku.


cantik..


wajahmu secantik akhlakmu..


dimana lagi akan kutemukan wanita seperfect dirimu...


 


"astaghfirullah.."


 


lamunan dan ketenangan ku terusik. aku kaget melihat tasbih pemberianmu tiba-tiba terputus.


kulihat beberapa butiran biji tasbih itu menggelinding kebeberapa arah. dengan rasa khawatir aku mengambil biji-biji tasbih yang berserakan itu.


 


banyak orang mengalihkan pandangannya padaku. mungkin mereka menganggap ku aneh. tapi ini adalah bentuk perjuanganku neng.


 


setelah butir-butir tasbih itu,kembali aku duduk dan memasukkan satu persatu butir tasbih itu pada tali penghubungnya.


"apa ini pertanda kalo cintaku dan neng bina harus benar-benar berakhir?."


batinku bertanya.


 


setelah semua biji tasbih selesai kurangkai kembali,kuhitung dan ternyata masih kurang satu butir biji tasbih terakhir.


 


segera aku berdiri dan menyapu pandanganku kearah sekitar untuk mencari biji tasbih terakhir.


 


setelah beberapa menit mencari tak kutemukan juga butir tasbih terakhirku.


 


akhirnya aku memutuskan berjalan untuk mencari butir tasbih terakhirku.


barangkali terlempar jauh dari arahku karena ditentang orang.


kulihat jam tanganku, jam menunjukkan pukul 21.40 ..


pengunjung taman semakin berkurang dan berlalu lalang untuk pulang. tapi aku masih mencari butir tasbih terakhirku.


 


setengah jam kemudian aku memutuskan pulang,karena penjaga taman akan segera menutup pintu masuknya. aku juga sudah berpesan dan meminta tolong pada petugas kebersihan,kalau menemukan butir tasbih yang sama seperti yang kupunya, agar segera memberitahuku.


aku pulang dengan kecewa. bagaimana bisa tasbih itu putus sedangkan aku hanya memutarnya dengan perlahan.


 


batinku keheranan.


 


keesokan harinya aku kembali ketaman kota. kembali mencari butir biji tasbih terakhirku. tapi hasilnya nihil.aku tidak menemukannya.


 

__ADS_1


bagaimana mungkin aku akan menggunakan tasbih kecil itu lagi,sementara jumlahnya sudah tidak lengkap lagi.


bisa saja aku mencari ketoko manik-manik dan membeli butir tasbih yang sama persis dengannya,tapi bagiku.. butir tasbih itu sangat berharga.


 


@@@


 


Dikampus..


aku baru saj keluar dari laboratorium untuk melaksanakan tugas kuliahku. ketika aku sedang membaca dan kembali mempelajari buku kedokteranku, tiba-tiba Hana datang.


"saya.." ucapnya.


"iya,Han"


"ada apa? lagi banyak pikiran?"


"nggak kok, kenapa emangnya?"


tanyaku.


"beberapa Minggu terakhir ini,aku perhatikan kayaknya kamu makin kurusan deh,lagi diet?"


goda Hana sambil senyum.


"bisa aja kamu Han.. nggak,kurang tidur aja"


jawabku asal.


"bener,kamu gak lagi sakit kan?"


tanya Hana seolah khawatir.


"gk,aku baik-baik aja kok. balik ke kelas yuk"


ajakku.


 


sepulang kuliah,ketika dijalan.. kudengar kumandang adzan asar. kutepikan motorku untuk segera menunaikan sholat asar berjama'ah dimasjid yang ada ditepi jalan itu.


ditempat parkir..


 


"sepertinya itu mobil keluarga neng bina"


gumamku.


  menepis pikiranku,aku segera berwudlu siap-siap melaksanakan sholat.


usai sholat, seperti biasa..aku tak langsung beranjak pergi. kulafadzkan beberapa dzikir dan doa. sembari menundukkan pandanganku dan memejamkan mata. mencoba khusuk dan menghadirkan hatiku hanya untuk Allah.


"Neng bina.. astaghfirullah al'adziim".


ditengah kekhusyu'anku, terdengar suara neng bina seolah sedang memanggilku.


sontak kubuka mata dan menoleh ke sampingku,ternyata tidak ada wanita itu.


kembali kupejamkan mata dan menengadahkan tanganku. bermunajat pada Rabbku.


"ya Allah... berilah ketenangan pada hambamu ini."


ketika selesai bermunajat,tiba-tiba ada telpon.


"hallo assalamualaikum.. iya,saya Arsya putra bapak Wijaya. oh iya .. waalaikum salam".


setelah mengakhiri panggilan ditelponku, segera aku beranjak keluar untuk pulang. kulihat masjid sudah sepi,tinggal satu orang di depanku yang tampak sedang berdzikir.


ketika keluar dari masjid, subhanallah.. secara tidak sengaja aku berhadapan dengan pujaanku,neng bina. reflek mata kami beradu pandang dalam beberapa detik saja.


setelah tersadar, ia menundukkan pandangannya dariku.


"assalamualaikum,neng.."


sapaku mencoba tenang.


"waalaikum salam.. "


jawabnya lembut masih dengan menundukkan pandangannya dariku.


masih dengan posisi berhadapan,tapi seolah aku kehabisan kata untuk diucapkan padanya. dengan hati sedih dan kecewaku padanya, aku tak kuasa terus melihatnya. aku memutuskan untuk segera pergi dari hadapannya.


tanpa pamit,tanpa sepata kata pun bahkan tanpa salam,aku tak kuasa menahan kesedihan dan kekecewaan ku.

__ADS_1


kulangkahkan kaki berjalan meninggalkannya.


setelah beberapa langkah,terdengar suara jerit dan tangis beberapa orang di belakangku. sontak aku berbalik badan dan melihat apa yang terjadi.


Betapa kagetnya diriku,ketika melihat dia.. neng bina yang sedang pingsan tak sadarkan diri ditengah kerumunan keluarga besarnya.


kulihat tampak unik,Abinya ,neng zahwa dan suaminya ada disana.


tampak panik dan kaget melihat neng bina yang jatuh pingsan.


sementara aku masih diposisiku. mematung hanya bisa menyaksikan kejadian itu dari jauh.


"maafkan aku,neng.. aku tidak bisa menolongmu. siapalah diriku,aku bukna mahrommu." gumamku sembari menyeka air mata yang tanpa sadar mengalir dipipiku.


kulanjutkan langkah kakiku menuju parkiran motorku. kulihat neng bina sudah diabwa kedalam mobil.


"ya Allah.. jagalah dia untukku"


doaku dalam batinku.


segera ku tinggalkan tempat itu dan segala kejadian disana.


@@@



Setelah sampai dirumah. aku kehilangan kendali. emosiku tak terkontrol. aku marah pada diriku sendiri. kubanting barang\-barang dikamarku. kupukulkan tanganku ke tembok berkali\-kali hingga berdarah. kubenturkan kepalaku ketempok juga.


tangisku pecah.aku seperti orang gila.


"NENG BINAAAAAAA"...


aku benar-benar seperti orang gila.


kulihat mama dan papa tergesah membuka pintu kamarku.


"astaghfirullah.. Arsya,ada apa nak?"


tanya papa dan mama yang begitu panik melihat tingkah gilaku.


aku terduduk lemas dilantai. dengan tangan penuh darah dan kedua pelipisku yang juga tak henti mengalirkan darah segar.


otakku terasa sakit. nafasku memburu bagai ingin menerkam sesuatu.


namun kehangatan dan kelembutan pelukan mama membuatku sedikit tenang.


"ada apa sayang,kenapa kamu seperti ini? kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya nak.. cerita sama mama..."


celoteh dan kepanikan mama terngiang-ngiang di telingaku.


"ma.. apa neng bina benar-benar bukan jodohku ma.. hah.. benarkah ma?.."


kulihat mama hanya diam dengan tangisnya.


aku bertanya pada papa yang juga tampak diam melihat keadaanku.


"pa,papa laki-laki kan.. papa pasti tau bagaimana perasaan Arsya kan pa... Arsya sedang gk baik-baik saja,pa.. Arsya hampir gila... "


ucapanku kalut,aku lelah..


papa memelukku dan menepuk-nepuk pundak ku.


"kamu harus menerima kenyataan nak. mungkin ini yang terbaik untuk kalian berdua"


kalimat papa sama sekali tidak berpengaruh padaku. aku mungkin sudah kerasukan setan. aku tidak bisa berfikir jernih saat ini.


aku merasa benar-benar hampir gila.


dengan sabar,mama membersihkan darah ditangan dan pelipisku. aku merebahkan tubuhku ditempat tidurku. kupejamkan mata. aku merasa lelah sekali..


@@@


DIRuang tamu...


MAMA & PAPA...


"pa.. bagaimana ini,pa.. mama khawatir dengan keadaan Arsya. mama khawatir, ketenangan mentalnya benar-terusik pa."


tangis mama pecah.


"Papa juga tidak tau harus bagaimana,ma.


mungkin ini sudah takdir anak kita. selama ini dia sangat sabar dan berbakti pada kita. mungkin ini adalah ujian dari Allah untuk anak kita. kita harus selalu mendukung dan menenangkan mentalnya."


kata papa.


@@@

__ADS_1


 


__ADS_2