
Beberapa hari berlalu. Kini aku telah kembali dari tanah suci mekkah untuk melaksanakan ibadah umroh bersama familiyku. Ini aku sabrina...
Aku seorang gadis yang masih labil akan sebuah cinta. Aku tak begitu tau persis dengan arti cinta yang sebenarnya. Yang aku tau hanya... Bahwa cinta itu suci, anugerah terindah dari ilahi robbi. Tapi aku tidak tau bagaimana rasanya mencintai. Sebab aku tak pandai untuk bergaul dengan makhluk Allah yang bernama laki-laki. Lagipula, agamaku melarang untuk kita berdekatan dengan yang bukan mahrom.
Iya.. Aku sabrina. Gadis cantik yang selalu anggun dengan hijab yang menutupi auratku, itu kata mereka... Lebih tepatnya kata seseorang.
Tuhan menciptakan makhluknya untuk berpasangan, laki-laki dan perempuan. Entah siapa kelak yang akan menjadi calon imamku. Yang jelas aku berharap, siapapun dia... Semoga bisa menerimaku apa adanya dan bisa menuntunku menuju ketaqwaan PadaNYA.
Gimana rasanya mencintai???...
Uupss jangan tanya aku. Aku masih belum pengalaman tentang itu. Lalu, bagaimana rasanya dicintai???...
Ya.. Tergantung hatinya masing-masing. Merasa cocok apa nggak sama dia yang mencintai kita. Gitu aja kalo menurutku. Simple kaan...
@@@
Malam itu aku sedang berbaring diatas ranjang tempat tidurku. Menikmati kenyamanan kamar sebelum aku kembali ke pesantren.
. Besok sore aku harus kembali kepesantren. Karena sudah begitu prosedurnya. Rasanya beraat banget mau ninggalin kamar tercintaku. Tapi aku juga rindu dengan teman-teman dipondokku.
Ketika aku sedang mengotak-atik hp ku, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
"Siapa?. " tanyaku.
"Aku dek... " ucapnya dari balik pintu. Tanpa menyebutkan nama pun aku sudah bisa menebak siapa itu, itu kakak iparku. Neng zahwa namanya alias istri dari bang alwi kakakku.
"Masuk neng... "
Meski baru beberapa bulan menjadi kakak iparku, kami sudah cukup akrab layaknya saudara kandung.
"Lagi ngapain?. "
"Lagi nyantai aja neng menikmati malam terakhir dirumah sebelum kembali kepesantren. " ucapku sedikit sedih.
Kemudian kupersilahkan dia duduk disebelahku.
"Gpp ya, neng ganggu waktu santai kamu?. " tanyanya berhati-hati takut aku marah mungkin. Hehe...
"Iya gpo kok, neng.. Seneng malah ada tmennya. " ungkapku senang.
"Sudah kurang berapa tahun lulus mondoknya?. "
"Hmmm... Sekarang masih kelas 1 Aliyah, kurang 2 tahunan lah neng. "
"Ooh, gak terlalu lama dong... "
"Iya. " jawabku singkat.
"Trus kalau udah lulus, rencananya mau ngelanjutin kemana nih?. "
"Aku pingin ngelanjutin kuliyah ke al azhar cairo, neng... Soalnya ada kenalanku disana. "
"Ooh, ya bagus kalo gitu.. Jangan nikah dulu ah, masih terlalu muda. "
Ucap neng zahwa menggodaku.
__ADS_1
"Ah.. Nggk lah neng, kan masih kecil... " ucapku sambil tersenyum sok imut dihadapannya.
"Hehe... Kalau seumuran kamu itu udah bukan imut lagi namanya, tapi amit-amit.. "
Sekali lagi neng zahwa menggodaku.
Akupun seolah merajuk karenanya.
"Maaf.. Maaf... Hey dengerin neng... " ucapnya kemudian sambil memegang tanganku.
" kamu itu cantik. Mau seperti apapun kamu.. Kamu itu tetap cantik, dek. Hijab bukan sepenuhnya menjadi keindahan didirimu, tapi akhlakmu yang terpuji.. Benar-benar membuat kamu dan hijabmu laksana mahkota yang benar-benar menghiasi naluri keislamanmu. Kamu paham kan dengan maksud neng?. "
"Subhanallah,,, adeem rasanya mendengar nasehatnya. Makanya, tak ragu lagi kalau aku curhat padanya.
@@@
Mentari pagi mulai menmpakkan tersenyum lndahnya... Dimana neng zahwa kakak ipar bina sedang menikmati susu hanyat dibalkon kamarnya, tapi hanya sendiri.. Karena suaminya sedang ada pengajian diluar kota bersama abinya yang merupakan mertua neng zahwa.
Ketika neng zahwa sedang menikmati pemandangan pagi disekitar rumahnya, tampak dari kejauhan.. Tepatnya diseberang jalan depan rumahnya, terlihat seorang laki-laki ganteng yang tampak menatap lekat kearah rumahnya. Membuat neng zahwa bingung dan bertanya-tanya.. Siapa laki--laki itu?
Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya laki-laki itu pergi. 'Seperti sedang mengawasi seseorang'. gumamnya.
@@@
Aku hanya ingin menulis apa yang ada dihati dan benakku...
Aku rindu...
Entah sejak kapan aku mulai merindu...
Aku tak tahu...
Ya robb...
Sampaikanlah rindu ini padanya...
Meski aku tahu, tak seharusnya aku seperti ini...
Tapi aku benar-benar merindu...
Kutuliskan beberapa penggal kalimat itu dinotebook ku. Entahlah... Tiba\-tiba jemariku seolah ingin sekali menari\-nari diatas keyboardnya dan mengukir kalimat per kalimat tentang isi hatiku.
Ini hari terakhirku dirumah. Sore ini aku harus kembali kepesantren. Pagi ini kami hanya sarapan bertiga. Aku, umi', dan neng zahwa, karena abi dan bang alwi sedang menghadiri undangan keluar kota.
"Terasa kurang lengkap ya.. Sarapan tanpa abi dan abangmu, bina. " ucap umi' membuka pembicaraan diantara kita sembari menyiapkan makanan.
"Ciyeee... Umi' kangen sama abi.. " godaku srnyum-senyum membuat umi' tersipu malu.
"Nggak lah, bina... Kurang lengkap saja kalu tanpa laki-laki dirumah. Lagi pula umi' dan abi sudah tua, tidak pantas lagi untuk kangen-kangen.. Udah bukan masanya... " penuturan umi' sambil tertawa kecil.
Sementara neng zahwa hanya senyum-senyum geli melihat tingkahku yang tak henti menggoda umi'.
__ADS_1
"Salah kalau kamu bilang umi' kangen sama abi, sebenarnya ada yang lebih kangen banget sama abang kamu tuh.. ".
Ucap umi sambil memberi kedipan mata padaku. Hingga aku mengerti maksud umi'.
Aku hanya bisa tahan tawa. Kini giliran umi' yang menggoda neng zahwa.
"Maklum, mi'... Pengantin baru. "
ucapku asal hingga membuat neng zahwa tersipu malu.
Tawa diantara kami pecah hingga tak sadar bahwa sarapan sudah sedari tadi siap didepan kami. Kami pun mulai menikmati rizki luar biasa dari Allah yang berupa makanan.
Bahagia itu sederhana...
Cukup bersama dengan mereka yang kita sayang...
Cukup menikmati apa yang ada dihadapan kita..
Bersama mereka yang selalu ada untuk kita, keluargaku...
Ucapku dalam hati sembari melihat umi' dan neng zahwa menikmati makanan mereka dengan penuh syukur.
Terimakasih Allah...
Engkau memang segalanya untukku.
@@@
Waktu seolah berjalan cepat. Sore pun tiba. Sementara aku masih enggan menyiapkan baju\\-baju yang akan ku bawa kepesantren. Tapi kupaksa keenggananku untuk bersiap\\-siap berangkat.
Kali ini aku akan ditemani neng zahwa kembali kepesantren. Karena abi dan bang alwi belu datang, sedangkan umi' akan kedatangan temannya dari luar kota yang sudah menuju kerumah. Sehingga neng zahwalah yang bersedia mengantarku kepesantren.
Sebelum aku kembali kepesantren, aku mengajak neng zahwa untuk mampir kerumah saira sahabatku, hanya untuk berpamitan saja.
Sesampainya dirumah saira..
Kami menolak untuk dipersilahkan masuk oleh saira dan mamanya. Karena takut semakin malam nantinya sampai kepesantren.
Tanpa sadar, aku menyapu pandanganku kesekeliling rumah saira, berharap ada dia disekitar sini. Seolah tau apa yang sedang aku rasakan, saira mendekatiku dan berbisik ditelingaku.
"Kenapa, lagi nungguin arsya?. "
Bisiknya membuatku geli dan tersipu malu.
"Nggak kok, sok tau kamu ra. " aku mengelak karena malu.
"Tadi dia ngechat aku di WatsApp, katanya dia sedang dijalan menuju rumah kamu. Dia mau melihat kamu sebelum kamu kembali kepesantren, neng. "
Ada perasaan senang yang kurasa, tapi apa ini... Aku tak mengerti dengan hatiku...
Kemudian neng zahwa mengingatkanku bahwa waktu sudah semakin sore, khawatir semakin malam sampai kepesantren.
Karena memerluka waktuh sekitar empat jam untuk sampai dipesantren.
Kamipun pamit pulang. Aku memeluk saira, dia sahabat terbaikku.
"Hati-hati, semangat belajarnya ya, neng.. " pesan saira sembari memelukku.
Mengharukan sekali kami pun mulai meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
@@@