
Sabrina...
Wanita bercadar dengan menggendong bayi yang masih berusia 3 hari itu berjalan mengikuti langkah kakinya. karena ia tidak tau jalan sekitar daerah rumahnya. kini dia sudah lumayan jauh dari rumahnya.
Hari semakin larut. ia merasa lelah, lapar dan haus. ketika didepan ia melihat ada sebuah pemakaman umum, Sabrina memutuskan untuk tidak meneruskan langkahnya. karena ia paling takut untuk melewati pemakaman umum di malam hari.
akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung bambu yang sudah tutup karena sudah malam.
wanita itu duduk disebuah tempat duduk yang terbuat dari bambu. ia meletakkan tas besarnya dan menidurkan bayinya dengan beralaskan selimut bayi itu.
malam semakin dingin. Sabrina menyelimuti bayinya. memastikan bahwa anak itu tidak merasa kedinginan.
Sabrina tidak bisa tidur karena sedikit takut. suasananya semakin malam terasa semakin mencekam dan sangat sepi. tidak ada satupun kendaraan yang melintas disana. karena warung itu berada cukup jauh dari pemukiman warga.
ia memutuskan akan melanjutkan perjalanan besok menuju terminal entah tujuan mana ia masih belum tau.
ketika wanita itu hampir terpejam meski dalam keadaan duduk, tiba-tiba bayinya menangis. dengan sigap Sabrina menyusui bayinya agar tidak menangis lagi di tengah keheningan malam itu.
beberapa detik ketika Sabrina sedang menyusui bayinya, bunyi pintu bambu dari warung itu terbuka.
"siapa ya?"
tanya seorang ibu-ibu tua berdaster yang kaget melihat Sabrina.
begitu juga Sabrina, karena ia tidak mengira bahwa ternyata ada orang di dalam warung itu.
"Maaf Bu.. kami tidak tau kalau ternyata di dalam ada orang"
kata Sabrina.
"Oh iya tidak apa-apa mbak. mau kemana malam-malam begini?"
tanya ibu itu ketika melihat tas besar yang ada di sebelah Sabrina.
"Masuk dulu yuk mbak. kasihan anaknya. kita ngobrol di dalam"
ajak ibu baik hati itu.
__ADS_1
"Tidak usah Bu, biar kami numpang istirahat di sini saja"
kata Sabrina yang masih sungkan.
"Kasihan bayimu mbak. masuklah, di dalam saya hanya berdua dengan anak saya yang masih kecil"
akhirnya Sabrina menerima tawaran ibu itu untuk masuk ke dalam.
ketika di dalam ibu itu menggelarkan sebuah alas tikar di atas tanah.
"Silahkan duduk mbak. maaf keadaan warungnya seperti ini"
"Tidak apa-apa buk. saya sangat berterima kasih karena ibu sudah mau menampung saya disini."
kata Sabrina yang kemudian melihat anak laki-laki tertidur pulas di kursi panjang warung itu.
"Sudah makan? ibu masih ada sedikit sisa nasi kalau kamu mau"
kata ibu itu yang sudah menyiapkan sepiring nasi untuk Sabrina.
"Tidak usah repot-repot Bu. saya sudah makan"
"Sudah tidak apa-apa, letakkan dulu bayimu di bawah. sepertinya dia sudah nyenyak sekali. lalu makan dulu setelah itu kita beristirahat"
Sabrina mengikuti ucapan ibu itu.
Kumandang subuh terdengar sayup-sayup di telinga Sabrina. ia sudah membuka mata dan memastikan bayinya masih tidur. ternyata bayi itu sudah bangun dengan di jaga oleh anak ibu pemilik warung itu.
"Sudah bangun mbak?"
kata ibu itu yang sudah menggoreng sesuatu.
"ia buk.. maaf saya mengganggu kenyamanan ibu memasak"
"Tidak masalah mbak. saya yang minta maaf karena sudah membangunkan mbak. itu bayinya sejak tadi sudah bangun dan di jaga oleh Dimas anak saya"
"Oh jadi nama kamu Dimas?"
__ADS_1
kata Sabrina.
"iya Tante"
"Kelas berapa sekolahnya dimas?"
"Kelas 5 SD Tante"
"bagus. belajar yang rajin ya biar suatu saat Dimas jadi anak sukses dan bisa membanggakan ibuk"
"Siap Tante"
setelah Sabrina numpang mandi sekaligus memandikan bayinya, ia sudah menikmati sarapan nasi lodeh jualan ibuk itu.
Secercah cahaya matahari sudah sedikit terlihat. Sabrina memutuskan melanjutkan perjalanan.
"Buk, terimakasih banyak atas kebaikan ibuk. dan terimakasih karena sudah mengizinkan kami menginap semalam disini. saya mau melanjutkan perjalanan"
kata Sabrina pada ibuk itu.
"Kamu mau kemana sebenarnya mbak? saya tidak tega melihat bayi kamu yang masih merah itu. nama kamu siapa mbak?"
"saya Sabrina buk. saya harus pergi sekarang. ini ada sedikit rejeki untuk ibuk dan Dimas"
kata Sabrina sambil menyerahkan uang kepada ibu itu.
awalnya menolak tapi karena Sabrina memaksa, akhirnya beliau menerima uang pemberian Sabrina walau sedikit.
"Saya pamit buk. Assalamualaikum"
ucap Sabrina sambil mencium tangan ibuk itu.
Penuh rasa iba, ibuk itu dan anak laki-lakinya melepas kepergian Sabrina serta bayinya.
Meski matahari belum terbit sempurna, wanita bercadar itu melanjutkan perjalanan mengikuti kemana langkah kakinya berjalan.
"Ya Allah.. berikan jalan dan petunjuk MU pada hamba MU ini. tunjukkan dimana hamba akan memulai hidup baru"
__ADS_1
doa Sabrina di tengah langkahnya.
@@@