NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 68. PENGERTIAN SEORANG IBU


__ADS_3

Arsya yang merasa lapar kemudian pergi keluar rumah sakit. kebetulan di seberang jalan terdapat warung lesehan dengan menu makanan tradisional.


Setelah Arsya memesan nasi lalapan, ia kembali ke ruangannya dan berniat makan disana.


sesampainya di ruangan Arsya, ia menerima telpon dari mamanya.


"Hallo assalamualaikum ma"


"Waalaikum salam nak. kenapa kamu tidak pulang sejak semalam. mama khawatir sekali sama kamu"


"Jangan khawatir ma. Arsya sudah dewasa dan bisa menjaga diri Arsya sendiri"


"baiklah, sesibuk apa kamu sehingga tidak pulang ke rumah terus lanjut kerja?"


tanya mama penuh selidik.


"Ada banyak pasien yang harus aku tangani ma. jadi aku memutuskan untuk lembur dan lanjut kerja. nanggung kan ma"


"Baiklah kalau begitu. kamu sudah sarapan sayang?"


"ini Arsya baru mau sarapan ma. Arsya makan dulu ya. nanti sore insyaallah Arsya pulang setelah jam kerja Arsya selesai"


"Baiklah nak"


keduanya mengakhiri panggilan.


belum sempat menyelesaikan makannya, tiba-tiba seorang perawat memanggil Arsya Karena ada pasien emergency.


laki-laki itu dengan sigap menjalankan tugasnya diruang operasi.


Matahari semakin terik. siang sudah datang. setelah melaksanakan sholat duhur berjama'ah di ruangan serba putih itu, tiba-tiba dokter Mira kembali datang untuk melakukan pemeriksaan terakhir sebelum pulang.


"Permisi.. saya cek darahnya dulu ya bunda"


kata dokter Mira pada Sabrina yang mengangguk pelan dengan mata sembabnya.


"Bagaimana dokter?"


tanya ummi'.


"Alhamdulillah pasien sudah stabil. semuanya normal. dan sore ini juga bisa pulang ya bunda"


kata dokter Mira dengan senyumnya.


"Terimakasih dokter"


ucap Sabrina singkat dan pelan.


kemudian dokter Mira memeriksa si kecil yang sudah bangun tapi tidak menangis seperti sebelumnya.


"Bayinya juga sehat ya bunda. jangan lupa, bunda harus makan banyak dan minum vitamin yang akan saya berikan nanti. dan satu lagi, jangan terlalu stres"

__ADS_1


kata dokter Mira.


"Jadi anak saya boleh pulang setelah ini dok?"


tanya ummi'.


"Boleh Bu.. tapi tunggu jam 4 sore ya. karena vitamin yang akan saya berikan pada bunda Sabrina stoknya sedang habis di apotik rumah sakit, jadi masih saya pesankan dan nanti sore baru datang. bagaimana Bu?"


"Baiklah dokter terimakasih banyak atas bantuannya"


kata ummi' dan neng Zahwa.


setelah dokter Mira keluar, hp ummi' berdering. perempuan itu menerima teleponnya secara singkat kemudian memutuskan panggilan itu.


"Siapa ummi'? "


tanya Zahwa kemudian.


"Zahwa.. ummi' lupa kalau hari ini adalah jadwal pengajian kitab santri-santri. kamu mau menggantikan ummi' mengajar mereka?"


tanya ummi' penuh harap pada Zahwa.


"Sebenarnya Zahwa mau ummi', tapi kalau Zahwa pulang, ummi' sama siapa disini?"


kata Zahwa yang berat meninggalkan mertuanya sendirian disana.


"Tidak apa-apa.. nanti kalau mau pulang, ummi' akan panggil supir agar bantu ummi' disini. kamu tidak apa-apa pulang dengan taksi nak?"


tanya ummi'.


pamit wanita itu sambil mencium tangan mertuanya.


"iya sayang"


jawab ummi' dengan senyum.


kini Zahwa berjalan mendekati sabrina yang sedari tadi hanya diam membisu dengan wajah gelisah nya.


"Dek, neng zahwa pulang dulu ya. titip ummi'. kita ketemu di rumah nanti sore"


kata Zahwa memegang tangan adik iparnya itu.


"Iya neng"


jawab Sabrina singkat.


melihat wajah Sabrina dengan ekspresi sedih dan gelisah, Zahwa bisa menebak kalau dia sedang memikirkan Arsya.


kali ini Zahwa memilih diam dan membiarkan Sabrina tengah kacau dengan pikirannya.


karena diruang itu ada ummi' yang memperhatikan mereka.

__ADS_1


karena Zahwa tidak ingin ummi' nya tau tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Zahwa pulang dulu ummi'.. assalamualaikum"


ucap neng Zahwa yang kemudian menghilang di balik pintu.


"duduk ummi'.. ummi' tidak capek?"


tanya Zahwa kemudian.


"Tidak sayang.. justru ummi' senang bisa menemani kamu disini. semalaman ummi' merasa bersalah karena meninggalkan kamu sendirian disini. maafkan ummi' ya.."


kata ummi' panjang lebar.


"Tidak apa-apa ummi'. disini ada dokter dan perawat yang menjaga Sabrina kok tadi malam"


"Alhamdulillah kalau begitu"


kata ummi' yang kini sudah berjalan menuju cucunya kemudian menggendongnya.


kini Sabrina telah membenarkan posisi duduknya.


"Tidak ada kabar dari suamimu nak?"


tanya ummi' sambil menggendong cucunya.


"Tidak ummi' "


jawab Sabrina singkat.


"Kamu sedih dan kecewa pada dia?"


tanya ummi' penuh selidik.


"Bagaimana tidak kecewa ummi'.. disaat istrinya tengah berjuang melahirkan anaknya, dia lebih memilih pulang untuk menjenguk saudaranya yang sakit. gimana perasaan bina mi'..? "


ucap bina yang seketika meluapkan emosinya di depan ummi' nya.


Dengan masih menggendong bayi kecil itu, ummi' duduk disebelah Sabrina.


"Sabar sayang.. wanita hebat adalah dia yang tidak mengeluh saat berjuang seorang diri tanpa seorang suami disampingnya"


kata ummi' mencoba menenangkan putrinya yang sedang bersedih dengan kekecewaannya.


sebenarnya, jauh di lubuk hati yang paling dalam, hatinya terluka melihat keadaan anaknya yang berjuang sendiri melawan hidup dan mati tanpa di dampingi seorang suami yang seharusnya ada menemani.


perasaan itu juga di rasakan oleh ummi' yang juga kecewa pada Ali menantunya itu. yang lebih memilih untuk menjenguk saudaranya di bandingkan menemani istrinya yang tengah berjuang melahirkan darah daging mereka.


tapi ummi' tetap bijaksana menenangkan hati Sabrina agar putrinya menjadi wanita tegar dan kuat dalam menghadapi cobaan yang ada.


@@@

__ADS_1


__ADS_2