
dengan langkah tergesah-gesah ia berjalan menuju kamar neng Zahwa di rawat.
"bagaimana keadaannya sekarang,neng?"
tanya Sabrina sembari mengelus-elus perut buncit neng Zahwa.
"Alhamdulillah sudah enakan,dek..
terimakasih ya sudah bantu neng.."
"iya sama-sama,neng"
jawab bina menatap keluar jendela.
neng Zahwa yang tidak sengaja melihat air mata mengalir dipipi adiknya, tiba-tiba ia bertanya...
"Dek, sini pelung neng kalau mau nangis"
kata Zahwa yang seketika dipeluk erat oleh Sabrina yang sudah tidak bisa membendung aliran air mata dari mata cantiknya itu.
"Arsya kan?"
tanya neng Zahwa lembut.
membuat Sabrina menarik pelukannya.
"Ada apa denganku,neng.. hati dan cintaku sudah aku berikan pada Arsya. tapi saat bersama Gus Ali, aku juga merasa bahagia dan nyaman.. aku harus gimana,neng?"
pengakuan itu membuat neng Zahwa tersenyum.
"Dek, lihat neng sekarang.. hati dan cinta kamu untuk Arsya.. padahal dia sudah tidak berhak untuk memilikinya. Tapi kamu merasa nyaman meski tidak memberikan cinta pada Gus Ali suamimu.. yang jelas-jelas dia lebih berhak atasmu dan berhak memiliki hati dan cintamu....."
sabrina hanya diam sembari sesenggukan dan mencerna setiap kalimat yang keluar dari lisan kakak iparnya itu.
".... kalau kamu ingin menjalani kehidupan yang baik dan tenang, coba buka hati untuk suamimu. berikan dia haknya dan laksanakan kewajiban mu sebagai seorang istri yang seutuhnya. selama itu berlangsung, usahakan jangan menemui Arsya dulu sampai kamu benar-benar bisa menerima kenyataan bahwa kamu bukan miliknya dan tidak berhak memberikan cintamu padanya. kamu faham dek?"
Sabrina hanya mengangguk pelan sebagaimana anak kecil yang sedang menuruti nasihat ibunya.
"bicaralah pada Arsya agar dia segera mecari penggantimu,dek. agar kalian sama2 bisa menjalani kehidupan baru dengan baik. lagi pula apa kamu gk kasihan sama dek Ali yang sudah lama sabar menunggumu."
Sabrina sangat setuju dengan semua nasihat kakak iparnya itu. kecuali satu hal..
"bismillah aku akan coba jalani semua nasihat,neng Zahwa.. tapi bina gk mau ngasih tau Arsya tentang keputusan ini. biarlah dia tau sendiri nanti"
ucap wanita bercadar itu dengan tenang.
sementara neng Zahwa selalu mendukung setiap keputusan adik iparnya itu.
__ADS_1
KEESOKAN HARINYA...
Sabrina sedang menyiapkan mobil diparkiran rumah sakit karena neng Zahwa hari ini sudah bisa pulang. karena neng Zahwa meminta agar Sabrina tidak memberitahukan pada keluarganya tentang kejadian ini. khawatir mereka sedih.
tapi untungnya neng Zahwa dan bayinya sehat2 saja setelah di rawat di rumah sakit itu.
DI PARKIRAN RUMAH SAKIT...
Sabrina baru saja keluar dari mobilnya dan dari jarak yang tidak terlalu jauh darinya, ia melihat Arsya sedang menggendong bayi kecil dan ditemani seorang wanita di sampingnya.
"Udah makan belum sih dedek lucu ini?"
kata Arsya dengan nada menggoda Caca bayi kecil itu.
"Sudah dooong.."
jawab wanita itu yang disampingnya.
"Dek,nanti aku lembur.. aku pulang malam. jangan lupa kunci pintu ya."
pesan Arsya lembut
"iya,mas.. mas tenang aja"
jawab wanita itu.
"Neng Sabrina.."
gumam Arsya lirih tapi masih terdengar oleh wanita di sampingnya.
Seketika wanita bercadar itu berjalan melewati Arsya dan wanita itu. tampak jelas di mata Arsya bahwa pelupuk matanya sudah basah namun tak sampai mengalir.
'Mungkin dia mengira bahwa mereka ini adalah anak dan istriku. gpp lah neng jika kesalah pahaman ini membuatmu sadar bahwa kau salah menungguku selagi kau masih bersuami'
batin Arsya mencoba tegar dan menerima kenyataan.
melihat Sabrina tengah kesulitan menuntun neng Zahwa sambil membawa tas milik neng Zahwa selama dua hari di rumah sakit.. Dokter tampan itu berlari membantu mereka.
karena neng Zahwa menolak untuk di bantu,
akhirnya Arsya memilih untuk membawakan tas besar yang di bawa neng bina.
Hening...
keduanya terdiam di sebelah neng Zahwa. neng Zahwa yang mengerti dengan perasaan mereka masing-masing akhirnya minta tolong Sabrina untuk mengambil hp miliknya yang tertinggal di kamar ruangannya di rawat.
padahal tidak.. itu hanya cara neng Zahwa agar punya waktu bicara berdua dengan Arsya.
__ADS_1
"kamu masih ada rasa sama dia,sya?"
tanya neng Zahwa penuh selidik pada arsya.
"Masih,neng.. maaf"
ucap Arsya yang kemudian menundukkan kepalanya.
"Gpp.. itu hak kamu. tapi neng minta tolong ya.. tolong mengerti posisi dek bina yang suadh menjadi istri, kamu mengerti kan maksud neng, sya.. maaf jika membuatmu tersinggung"
kata neng Zahwa yang sangat berhati-hati karena khawatir menyinggung perasaan laki-laki itu.
setelah menghela nafas sembari memejamkan mata sejenak, Arsya pun berkata..
"jujur aku sampai benar-benar pergi meninggalkan Jakarta agar aku bisa menerima kenyataan dan agar neng bina bisa menjalani kehidupan barunya dengan baik. tapi jujur neng.. semakin aku menjauh dan mencoba mengikhlaskannya.. semakin Allah permudah jalan kita untuk kembali bertemu. aku juga sudah menjelaskannya pada neng bina, tapi dia sama sekali gak pernah mengerti,neng"
pengakuan Arsya dengan sedikit sedih.
"itu karena rasa cinta di antara kalian sangat besar. tapi ini salah,sya"
tutur neng Zahwa sembari mengelus-elus perut buncitnya itu.
"apapun yang terjadi nantinya.. kamu harus ikhlas dan neng harap kamu bisa segera menemukan pengganti yg jauh lebih baik"
"aaminn.. terimakasih,neng"
Tak lama kemudian Sabrina datang.
xNeng, aku udah cari di seluruh ruangan itu tapi tidak ada."
kata Sabrina setelah terengah-engah Karena capek.
neng Zahwa pura-pura mencarinya di tas kecil yang ada di tangannya dan ternyata ada.
hal itu membuat Sabrina sedikit jengkel pada neng Zahwa.
setelah berpamitan pada Arsya, kedua wanita itu segera pergi pergi meninggalkan dia yang masih mengingat-ingat semua ucapan neng Zahwa.
sejak saat itulah Arsya meminta pada Tuhan..
"Ya Allah... jika berpisah dan membuang semua rasa ini adalah yang terbaik, hamba mohon.. jangan kau pertemukan kami berdua kapan pun dan di mana pun.. selamanya..
aamiin.."
ucap dokter tampan itu yang kemudian memutuskan untuk kembali fokus bekerja.
@@@
__ADS_1