
DI Ruang USG..
Tampak rona bahagia di wajah Sabrina dan suaminya ketika melihat bayinya dari monitor 4D di ruangan itu.
bayi perempuan menjadi jenis kelamin anak pertama mereka.
beberapa menit setelah selesai USG. keduanya memutuskan langsung pulang karena Sabrina merasa lelah.
Sesampainya dirumah...
keduanya memberitahukan pada keluarga tentang hasil USG yang baru saja mereka lakukan.
@@@
Sementara di rumah sakit..
Arsya yang sudah mendapat kabar dari mamanya bahwa papanya ada di kamar VIP langsung menuju kesana.
"Assalamualaikum.. bagaimana keadaan papa, ma?"
kata Arsya sambil mencium tangan mamanya.
"papa kamu sudah baik-baik saja,sya.. tapi masih belum siuman karena efek dari obat penenang dari dokter. biarkan papamu istirahat dulu ya"
kata mamanya sambil memegang lengan putranya.
"Alhamdulillah kalau begitu. ya sudah.. Arsya tunggu di depan aja ma"
"iya,sayang.."
laki-laki itu pergi meninggalkan ruangan serba putih itu dan memilih untuk duduk di kursi panjang rumah sakit yang ada di depan kamar inap papanya.
saat ini laki-laki itu sedang memainkan hp nya. tiba-tiba...
"Gimana, mas.. sudah ketemu neng sabrina?"
tanya Ayu yang kini sudah duduk tepat di sebelahnya.
"Sudah.."
jawab Arsya singkat.
"terus apa rencana kamu sekarang, mas? mau kabur ke luar negeri lagi?"
tanya Ayu penuh selidik.
"Entahlah,dek.. karena sejauh apapun dan sebesar apapun usahaku untuk menghindar, tapi keadaan seolah tak mendukungku"
kata Arsya yang merasa sesak.
"Sepertinya dia sudah bisa melupakanmu, mas"
kata ayu sangat berhati-hati karena khawatir menyinggung perasaan kakak sepupunya itu.
"Tidak,dek. karena aku masih melihat cinta di matanya saat kita bertatapan tadi"
kata Arsya dengan sedikit senyum pada ayu.
__ADS_1
"Aku memang sudah gila.. aku benar-benar tergila-gila pada wanita bercadar itu. tapi pada akhirnya, usaha dan penantian ku tak ada gunanya"
lanjutnya sedikit lemas.
untuk sejenak suasana menjadi hening.
ayu yang sedari tadi menatap lekat sepupunya itu penuh iba kini ia memegang pundak lelaki di sampingnya.
"Menikahlah, mas.. siapa tau bisa mengobati semua rasa sakit yang ada di hatimu"
kata ayu tiba-tiba.
"kamu benar,ayu.. aku akan menikah dan melupakan semuanya"
kalimat itu membuat ayu kaget sekaligus bahagia.
ayu tidak menyangka bahwa usulannya diterima dan bahagia karena sepupunya mau membuka hati untuk wanita lain.
@@@
Setelah 2 hari di rawat di rumah sakit..
kini ayahnya sudah sehat dan sudah berkumpul kembali di rumah mereka.
pagi itu setelah sarapan, tepat di depan semua anggota keluarga Arsya menyampaikan keinginannya...
"Ma.. pa.. Arsya mau nikah, tolong Carikan Arsya calonnya"
kalimat pengakuan itu membuat nama dan papanya saling bertatapan penuh tanda tanya.
"Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan barusan, nak?"
"Iya, ma.."
"gak mau cari sendiri,sya?"
tanya papa dengan santai.
"Terserah kalian saja. Arsya akan menerima pilihan mama dan papa"
kata Arsya yang kemudian berjalan menuju kamarnya.
meninggalkan orang tua , nenek dan sepupunya penuh kebahagiaan dengan keputusan Arsya.
Di kamar...
Arsya langsung berbaring di atas tempat tidurnya. ia menatap lurus ke langit-langit kamarnya.
"Sabrina.. kau benar-benar mengacaukan hidupku"
gumamnya lirih seolah berbicara pada dirinya sendiri.
tak lama kemudian suara ketukan pintu membuat Arsya menoleh seketika.
tok..tok..tok..
"Boleh papa masuk,sya?"
__ADS_1
kata seseorang di balik pintu.
"Masuk,pa.. "
kata Arsya.
melihat papanya masuk, Arsya langsung duduk masih di atas kasurnya.
"Maaf jika papa mengganggu waktumu.."
"tidak apa-apa,pa.. ada apa pa?"
"Papa hanya ingin memastikan padamu sekali lagi.. benar kamu sudah mantap dengan keputusanmu tadi?"
tanya papa nya penuh selidik.
"iya, pah .. jika dengan cara ini Arsya bisa melupakan neng bina, aku akan melakukannya,pah"
jawab Arsya tenang.
"baiklah kalau begitu. papa hanya tidak ingin kamu berubah pikiran ditengah-tengah nanti,sya.. karena papa khawatir pada wanita yang nantinya akan menjadi calon mu. khawatir kamu memutuskan hubungan tiba-tiba"
"jangan khawatir,pah.. Arsya pantang menarik ucapan kok.. Arsya sudah lelah dengan perasaan ini. benar-benar menyiksa, pah. toh, neng bina sudah bahagia dengan suaminya"
jawab Arsya yang benar-benar sudah terlihat tenang.
"Baiklah kalau keputusanmu sudah bulat. secepatnya papa akan mempertemukan kamu dengan anak teman papa. kamu sudah siap,nak?"
tanya papanya sembari menepuk pelan pundak putranya.
"insyaallah siap,pa"
kata Arsya mantap.
"Tapi benarkan dulu niatmu untuk menikah,nak.. jangan sekedar niat untuk melupakan seseorang. karena menikah itu ibadah dan salah satu Sunnah nabi kita,nak.. tata kembali hati dan niatmu untuk menikah ya.."
perintah papa.
"bismillah insyaallah Arsya mantap karena Allah,pa. doakan Arsya, pa"
"Pasti,nak.."
jawab papanya yang sudah berdiri bersiap meninggalkan putranya.
"papa istirahat dulu ya.. kamu juga istirahat "
"siap.. terimakasih, pa.."
Arsya berniat mengantarkan papa nya ke kamar tapi beliau menolak.
Setelah papanya sudah masuk ke dalam kamarnya, Arsya langsung menutup pintu kamarnya juga.
ia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Bismillah jika ini yang terbaik untuk hamba, ridhoi lah keputusan hamba MU ini ya Rabb"
doa Arsya sebelum ia terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
@@@