NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 69. AMBISI CINTA


__ADS_3

Ummi' sedang membereskan barang-barang Sabrina yang akan di bawa pulang, tiba-tiba seorang perawat datang memberi tahu ummi' bahwa vitamin untuk sabrina sudah tersedia di apotek rumah sakit.


Karena ummi' kebingungan dimana letak apotik itu, ummi' meminta perawat itu untuk mengantarkan beliau.


"Ummi' ambil vitamin kamu dulu ya sayang"


pamit ummi' pada Sabrina yang sedang melipat baju bayinya.


"Terimakasih ummi'.. maaf Sabrina merepotkan ummi' "


kata Sabrina merasa bersalah pada ummi' nya.


"Tidak apa-apa .. kamu kan anak ummi' "


kata ummi' yang kemudian pergi bersama seorang perawat itu.


Setelah ummi' nya menghilang di balik pintu, Sabrina langsung melihat jam dinding yang tergantung tepat menghadapnya.


jam menunjukkan pukul 15.00 tepat. Seolah teringat akan sesuatu, Sabrina dengan terburu-buru bangun dari posisi duduknya.


setelah memastikan bahwa bayinya sedang tidur, wanita itu berjalan perlahan menuju pintu kamarnya.


dengan langkah pelan dan sesekali memegang dinding di sebelahnya, kini wanita itu sudah berada di luar kamarnya.


meninggalkan anaknya yang sedang tertidur pulas disana.


"Permisi suster.."


Sabrina memanggil seorang perawat yang tengah berjalan di depannya.


"Iya Bu.. ada yang bisa saya bantu?"


tanya perawat itu dengan ramah.


"Bisa antar kan saya ke ruangan dokter Arsya?"


tanya Sabrina tanpa basa basi.


ia memanfaatkan waktu yang ada sebelumnya ummi' nya kembali dari apotik.

__ADS_1


Sabrina nekat melakukan hal itu karena ia tau bahwa jarak apotik lumayan jauh, sehingga butuh waktu hampir 20 menit untuk sampai disana. sedangkan Sabrina benar-benar memanfaatkan waktu itu untuk menemui Arsya sebelum ia pulang.


karena hanya inilah kesempatannya untuk bisa berdua dengan Arsya. dan ia tidak tau setelah itu mereka bisa kembali bertemu apa tidak.


hanya takdir tuhan yang mampu menjawab semuanya.


"Ini ruangan dokter Arsya Bu"


kata perawat itu.


"Terimakasih sus.."


setelah perawat itu pergi, pelan-pelan ia menarik gagang pintu itu.


Sabrina yang melihat Arsya sedang berdiri menghadap jendela sambil menerima telpon disana.


dengan langkah pelan dan pasti, wanita itu berjalan menuju laki-laki itu.


Arsya...


Lelaki itu kaget seketika merasakan sebuah pelukan dari belakang tubuhnya.


"Baik dokter.. nanti saya hubungi lagi"


kata Arsya yang sudah mematikan handphone nya.


Melihat kedua tangan dengan kulit mulus yang melingkar di sekeliling perutnya, membuat laki-laki itu tau siapa orang yang sedang memeluknya.


Seketika Arsya tersenyum dan memejamkan matanya. merasakan pelukan hangat seorang wanita yang selama ini ia cintai.


Sama seperti lelaki normal pada umumnya, ia juga merasakan sensasi luar biasa saat kedua buah dada Sabrina menempel pada punggungnya.


ini kali pertama bagi Arsya merasakan sensasi itu. kini ia merasakan bahwa wanita itu tengah menyandarkan kepala bahkan seluruh tubuhnya di tubuh Arsya.


setelah beberapa saat merasakan sensasi dan kebahagiaan itu, Arsya menggenggam tangan wanita itu dan berbalik badan menghadapnya. karena ia tidak mau kalau burungnya semakin menegang di bawah sana.


"Hey.. ada apa?"


tanya Arsya lembut menatap wanita bercadar itu menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Wanita itu hanya diam.


"Ada apa neng? kenapa kamu semakin berani menentang batasan di antara kita?"


tanya Arsya yang keheranan melihat wanita itu yang tampak agresif dan berani dalam melanggar aturan agama.


"Entahlah,sya.. hati dan imanku sudah goyah oleh cinta yang gila ini"


ucap Sabrina yang masih menundukkan pandangannya di hadapan Arsya.


"Neng.. cinta kita tidak gila. cinta ini tulus dari hati kita. hanya saja Allah berkehendak lain atas cinta kita. kamu yang sabar ya"


ucap arsya mencoba menenangkan wanita cantik itu.


"Apa suatu saat kita bisa bersama,sya?"


pertanyaan itu membuat Sabrina mendongakkan kepala menatap Arsya.


Laki-laki itu tersenyum dan berkata ...


"Kisah cinta kita tidak seperti di sinetron yang dengan mudahnya bisa bersatu. ingat, sudah ada Ali yang mendampingi kamu neng. sedangkan aku hanya seorang lelaki yang tidak berdaya menghadapi takdir yang ada. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, Hal yang mustahil akan menjadi nyata atas kehendak Allah yang maha kuasa"


kata Arsya menatap lekat wanita itu.


Sedangkan Sabrina merasa luluh dan tenang mendengar penuturan lelaki di hadapannya itu.


"Kenapa kamu se tegar itu,sya?"


tanya Sabrina kemudian.


"Neng.. butuh waktu lama untuk bisa bangkit kembali dan menerima kenyataan bahwa kamu bukan milikku. banyak proses yang harus aku lalui hingga sekarang. tapi bagaimana pun dan sekeras apapun usahaku untuk melupakanmu, justru hati ini semakin berambisi untuk mendapatkan mu neng. ia ini ambisi cintaku padamu neng"


wanita itu semakin tidak kuat mendengar pengakuan Arsya. tiba-tiba Sabrina memeluk erat tubuh lelaki itu.


"Ada apa? apa kau merasakan hal yang sama denganku?"


tanya Arsya sambil membalas pelukan hangat wanita itu.


@@@

__ADS_1


__ADS_2