
Dari halaman belakang rumah, alwi melihat 21 santri putra itu sudah keluar gerbang pesantren menuju pasar malam yang mungkin bisa di tempuh dengan waktu 15 menit dengan berjalan kaki.
setelah para santri itu sudah menghilang di balik gerbang raksasa itu, alwi kembali bergegas masuk ke dalam rumah.
"Abi sudah lapor polisi?"
tanya alwi kemudian pada abi yang masih duduk termenung di sana.
"sudah, tapi polisi tidak bisa melakukan pencarian sebelum 24 jam"
"Astaghfirullooh... kemana kamu pergi dek? kenapa kamu nekat sekali. kamu tidak tau jalan"
gerutu ali mengkhawatirkan adiknya.
sementara zahwa masih menenangkan ummi'.
"Ini semua salah ummi' zahwa. ummi' telah gagal menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anaknya"
kata ummi' dengan tangisnya.
"Sudahlah, ummi'. ini semua bukan sepenuhnya salah ummi' . zahwa mengerti bahwa apa yang di lakukan ummi' demi kebaikan dek bina juga. tapi mungkin cara ummi' dalam menegur dan mengingatkan dek bina kurang tepat"
kata zahwa sangat berhati-hati dalam berbicara. khawatir ummi' tersinggung dengan ucapannya.
"Ummi'.. asal ummi' tau, jauh sebelum dek bina menikah dengan ali, dek bina dan dokter arsya sudah saling mencintai. tapi mereka saling menjaga rasa cinta dan jarak di antara mereka. dokter arsya mengagumi dek bina sejak dia masih kecil hingga dia menunggu dek bina lulus dari pesantren. dek bina juga demikian ummi'.. dia bertahun-tahun menunggu kelulusan tiba agar segera di pinang oleh dokter arsya. tapi takdir berkata lain. mereka tidak bisa bersatu.."
__ADS_1
zahwa menceritakan secara detail kisah sabrina dan arsya pada ummi' nya .
wanita tua itu tampak tenang mendengarkan semua cerita zahwa.
"zahwa adalah saksi cinta dan perjuangan mereka ummi'. sebesar apapun usaha dan sejauh apapun mereka terpisah, tapi ada saja jalan Allah kembali mempertemukan keduanya secara tidak sengaja. dek bina sangat tersiksa sejak menikah ummi'. dia tidak pernah merasakan kebahagiaan yang sebenarnya, karena hati dan cintanya hanya untuk arsya. karena tekanan dari abi dan ummi', dek bina rela menyerahkan kesuciannya untuk ali yang tidak tau di untung itu.."
kalimat terakhir zahwa membuat ummi' nya mendongak seketika.
"apa maksud ucapan mu itu zahwa?"
tanya ummi'
zahwa pun menceritakan semua yang terjadi di rumah ali.
mendengar cerita zahwa, ummi' kembali menangis.
gumam ummi' dengan tangisnya.
Sementara di ruang tamu, alwi mondar mandir secara bergantian menelpon banyak kontak di hp nya untuk meminta tolong pada para ustad atau ustadzah yang mengajar di pesantrennya untuk memberi info jika melihat sabrina.
Setelah hampir satu jam mencari di area pasar dan sekitarnya, kini rombongan para santri bersarung itu telah kembali.
"Assalamualaikum gus.."
ucap salah satunya.
__ADS_1
"Waalaikum salam. bagaimana?"
"Maaf kami tidak menemukan neng sabrina gus. tapi kami mendapat informasi dari penjual buah katanya tadi melihat neng sabrina berjalan menuju terminal setelah keluar dari ATM"
"Kenapa kalian tidak mencarinya di terminal?"
tanya gus ali yang memiliki harapan.
"Sudah gus, bahkan beberapa dari kami sudah mencari di dalam beberapa bus yang parkir disana, tapi tidak ada. katanya sebelum kami datang, sudah ada satu bus jurusan bandung sudah berangkat. kami di usir karena kami tidak bawa ongkos"
kata salah satu santri lain di antara mereka.
"Baiklah, terimakasih atas bantuan kalian. kalian makan dulu, biar nanti di siapkan"
kata alwi yang tidak tega melihat para santri itu panas-panasan dengan baju yang sudah basah oleh keringat.
"Hari semakin malam, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada dek bina, bi?"
kata gus ali panik.
"Yang jelas, kapanpun dan di manapun putriku dan cucuku berada, semoga mereka dalam lindungan Allah"
doa abi di tengah kesedihannya.
hingga malam semakin larut, mereka memutuskan untuk beristirahat walau sebenarnya tidak bisa memejamkan mata karena kepikiran akan sabrina dan bayinya.
__ADS_1
@@@