NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
episode 25 MALAM YANG MEMILUKAN


__ADS_3

wanita paruh baya itu sedang duduk bersantai diruang tamu. tiba\-tiba ia mendengar suara motor putra tunggalnya.


" Assalamualaikum,ma..."


ucap Arsya.


"Waalaikum salam,sudah pulang sayang.."


tanya wanita paruh baya itu.


"udah ma.."


jawab Arsya sembari mencium tangan mamanya.


"sya,..."


kalimat itu menggantung begitu saja dari mamanya.


"ada apa ma?"


"Mama baru saja dapat ini... "


kata mama Arsya sembari menyodorkan sebuah undangan pernikahan pada Arsya.


"undangan,dari siapa ma?"


"buka saja" kata mamanya yang tak kuasa untuk mengucapkannya.


Terlihat Arsya sedang membuka dan membaca isi undangan itu. mamanya berkaca-kaca melihat putranya yang sedang patah hati. beliau tahu bahwa putranya sedang tersiksa dengan keadaan ini.


setelah beberapa menit..


"buat mama aja,Arsya gak akan datang"


kata Arsya sambil berjalan menuju kamarnya.


tangis mamanya pecah begitu mendengar penuturan putranya yang tampak jelas betapa kekecewaan sedang ia rasakan.


"YA Allah.. berikanlah ketenangan hati pada putra hamba ya Rabb."


@@@



Malam itu.. aku mencoba menghubungi saira,menanyakan tentang kebenaran undangan itu.


"Assalamualaikum,sya.."


jawabnya diseberang sana.


"Waalaikum salam,Ra..


udah baca undangan neng bina?"


"udah,sya.. sabar ya..."


kata saira mencoba menenangkan.


"Benar, bahwa dia sudah bukan jodohku."


ucap laki-laki itu.


saira begitu tidak tega mendengar ungkapan kekecewaan dari temannya itu.


"jangan lupa Dateng ya,sya ke acara itu. buat nyemangatin hati neng bina aja."


"Untuk apa aku datang dan menyemangatinya,Ra... sementara ia sudah menghancurkan hati dan mimpiku. Aku gak akan datang."


kata Arsya yang terlanjur kecewa pada gadis itu.


Beberapa hari kemudian..


"2 hari lagi hatiku akan benar-benar kiamat dibuatnya"


gumam Arsya sambil menatap lekat rumah neng bina.


ia duduk dimotornya yang menepi dibawah pohon diseberang rumah gadis itu.


tampak suasana persiapan mulai terlihat.


mungkin kerabat dan saudaranya yang datang,karena ada beberapa mobil parkir dihalaman rumahnya.


Tiba-tiba Arsya memusatkan pandangannya pada sebuah kamar lantai dua. yang ia tahu bahwa itu adalah kamar neng bina.


beberapa detik kemudian,tampak gadis itu tengah berdiri di balkon kamarnya. dia tidak sadar bahwa ada Arsya yang tengah mengawasinya dari seberang.


Arsya terus menatapnya. setelah hampir satu bulan sejak kejadian itu, ia tidak pernah melihat gadis itu. namun kini,tubuhnya sedikit kurus, matanya sembab, wajahnya kusam, pandangannya seolah kosong menatap langit biru.

__ADS_1


Melihat keadaan itu, Arsya merasa teriris dan tidak tega melihatnya. laki-laki itu menguatkan hatinya agar tetap tegar.


Beberapa detik kemudian,Arsya memutuskan untuk menekan bel motornya. gadis itu sontak kaget dan melihat kebawah.


kini pandangan mereka beradu. gadis itu langsung meneteskan air mata seketika tau bahwa ada Arsya disana.


seolah minta maaf dan merasa bersalah,gadis itu menatap Arsya dengan linangan air mata,dengan wajah begitu sendu,dan dengan kedua tangan disatukan,sebagai isyarat bahwa ia minta maaf pada Arsya.


Sementara laki-laki itu hanya diam tak merespons. hati dan pikirannya kacau melihat gadis itu.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi melajukan motornya.


meninggalkan dia dengan penyesalannya,


meninggalkan dia dengan air matanya..


dan meninggalkan dia bersama kesedihannya..


Ketika Arsya sudah menghilang dari pandangannya, ia tampak semakin tersiksa dengan tangisnya. hingga akhirnya ia jatuh pingsan..


Dua hari kemudian...


Arsya yang baru pulang dari kuliahnya langsung duduk ditengah-tengah orang tuanya yang sedang menonton televisi.


"sudah pulang?"


tanya mamanya.


"iya,ma.. eh tumben kok papa gak kerja hari ini?"


"ia,mau ada acara"


jawab papanya hati-hati takut putranya tersinggung.


"oooh,.."


jawab Arsya acuh.


"kamu datang kan nanti?"


tanya papanya memastikan.


"nggak,pa.. mama sama papa aja yang datang. Arsya sibuk banyak tugas kuliah."


kata laki-laki itu yang bersiap mau beranjak dari duduknya. tapi papanya memegang tangannya.


"duduk dulu... "


"Nak,papa tahu bagaimana perasaan kamu. papa dan mama mengerti apa yang kamu rasakan... " kata papanya menghela nafas.


".... menurut papa, kamu harus datang ke acara ini, anggaplah ini sebagai bukti kalau kamu sudah mengikhlaskannya. dia pasti juga mencarimu nanti". lanjut papanya.


"gak mudah pa..."


kata arsya yang menundukkan pandangannya .


"gak mudah buat ikhlasin wanita sesempurna dia pa." jawab Arsya pilu.


"ya Sudah kalau begitu, coba kamu pikirkan sekali lagi." kata papa.


"baik,pa.. Arsya kekamar dulu"


kata Arsya yang kemudian berjalan menuju kamarnya.


pukul 19.30...


Papa dan mama Arsya sudah bersiap menghadiri acara itu.


"bagiamana dengan Arsya,ma.. apa dia sudah membuat keputusan?"


tanya papanya untuk memastikan.


"gak tau,pa.. sedari tadi Arsya tidak keluar kamar."


Tiba-tiba..


"Arsya ikut ma.. pa.."


suara itu membuat kedua orang tuanya terbaru.


"Bagus.. ini baru anak papa. lapang dada saja,biarkan Allah yang menentukan semuanya."


kata papa Arsya yang kemudian mereka berangkat.


@@@


__ADS_1


Sesampainya dirumah Sabrina, tampak acara itu mewah sekali. tamu undangan yang begitu memadati lokasi. dan deretan mobil dan motor benar\-benar memenuhi parkiran yang sudah disiapkan.



Terlihat dekorasi dan aksesoris yang menghiasai real warna biru dan putih. Arsya baru ingat bahwa gadis itu sangat menyukai dua warna itu.


Dipintu masuk,berdiri dua wanita cantik nan Sholihah... beliau adalah ummi dan kakak ipar neng bina,yakni neng zahwa.


Keduanya menyambut kami dengan hangat. ucapan begitu pelan bahkan setengah berbisik dari neng zahwa pada Arsya..


"Yang sabar ya.. doakan semoga dek bina bahagia"


"insyaallah kak".


jawab laki-laki itu singakt yang kemudian memasuki gedung acara.


Berjalan perlahan membuntuti kedua orang tuanya. Arsya memusatkan pandangannya pada pengantin yang sedang duduk bersanding disinggah sana pelaminan ...


gadis itu begitu cantik dengan gaun putihnya.


"Andai aku yang duduk disampingmu,neng."


batin Arsya bicara.


gadis itu duduk mematung dengan menundukkan pandangannya. ia tidak tau akan kehadiran Arsya dihadapannya.


Beberapa menit kemudian,Arsya memutuskan untuk pulang duluan. ia tidak tahan melihat gadis pujaannya bersanding dengan laki\-laki lain. hatinya bagai teriris.


masih dengan diam dan pandangan tertunduknya. gadis itu masih belum tau bahwa Arsya ada dihadapannya.


ketika beberapa langkah Arsya berjalan, mamanya memanggilnya..


"Arsya..."


panggilan itu sontak membuat sang pengantin wanita mengangkat pandangannya dan mencari sosok pemilik nama itu.


seketika pandangan mereka beradu.


tampak binar air mata seolah memenuhi mata cantik itu. membuat Arsya semakin tidak kuat melihatnya.


"hp kamu ketinggalan,sayang"


kata mamanya melanjutkan.


dengan cepat,Arsya langsung mengambil hp nya dan langsung berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikitpun pada gadis itu.


Sementara mama dan papa Arsya melihat gadis itu duduk dengan berlinangan air mata.


"pa..."


kata mama Arsya yang tidak tega melihatnya.


Dipintu keluar..


"loh.. kok sudah mau pulang,nak... sudah makan?" tanya ummi neng bina dengan penuh kelbutan.


"sudah,mi'.. maaf saya masih ada acara lain."


jawab Arsya berbohong.


"Neng, nitip ini buat neng bina ya"


kata Arsya sembari menyodorkan sebuah kado kecil pada neng zahwa.


"iya, insyaallah nanti saya sampaikan"


kata neng zahwa yang seolah tahu bagaimana perasaan arsya saat ini.


Baru saja Arsya melangkahkan kakinya meninggalkan ummi dan neng zahwa,tiba\-tiba riuh teriakan para tamu terdengar begitu kerasnya.


seketika Arsya membalikkan badan, dan ia melihat neng bina yang pingsan dan dikerumuni banyak orang.


Tapi Arsya memilih melanjutkan langkahnya dan meninggalkan tempat itu. toh sudah ada suaminya, pikir Arsya saat itu.


Arsya sudah duduk didalam taksi dalam perjalanan pulang. tiba\-tiba hpnya berdering..


"assalamualaikum ma.."


"Waalaikum salam, sayang kamu dimana sekarang nak?.."


tanya mamanya terdengar panik.


"arsya masih dijalan mau pulang,ma"


"Sayang,neng bina pingsan karena lihat kamu pergi tadi. kamu gak mau lihat keadaannya sekarang?"


"nggak,ma.. kan sudah ada suaminya. Arsya sudah tidak berhak atasnya ma"

__ADS_1


penuturan putranya yang pasrah membuat mamanya terdiam dan bungkam.


@@@


__ADS_2