PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
011. PERNYATAAN CINTA


__ADS_3

Tania berada di dalam tempat tinggalnya. Duduk di sebuah kursi di meja belajarnya. Gadis itu sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumahnya setelah pulang ke rumah. Waktu sudah menunjukkan tengah malam saat ini.


Terdengar suara pagar rumah terbuka. Dilihatnya melalui jendela ruangan tersebut. Dia merasa terkejut karena Kayden terlihat baru saja masuk ke dalam pagar.


Segera gadis itu bergegas keluar dari kamarnya untuk menemui Kayden, yang awalnya dia kira sudah berada di dalam rumah.


"Bukannya tadi kau bilang, kau sudah sampai di rumah?"


Pertanyaan Tania dan kemunculan gadis keluar dari kamarnya, membuat Kayden terkejut. Pria itu pikir kalau Tania sudah tidur karena waktu sudah tengah malam.


"Tadi aku ke rumah teman." Jawab Kayden yang tentunya berbohong.


Jawaban Kayden membuat Tania berdecak. Yang gadis itu tahu memang kalau Kayden sering pergi ke rumah temannya untuk bermain game. Itu membuatnya selalu tidak habis pikir padanya.


Di usia Kayden sekarang dan ditambah kalau pria itu merupakan seorang guru, membuat kebiasaan itu tidaklah bagus untuknya.


Padahal yang terjadi adalah sesuatu yang lebih buruk dari itu. Pria yang merupakan wali kelasnya itu merupakan orang yang dikenal tidak terkalahkan di jalanan. Ya, kebenaran kalau dirinya yang hobi balap liar disembunyikan Kayden dari siapapun.


The Bloody Rose benar-benar menyembunyikan siapa dirinya dari semua orang. Hanya sedikit yang mengetahui rahasia tersebut. Dan Kayden juga tidak ingin Tania tahu sehingga pria itu tidak pernah membawa motornya atau pun atribut dirinya sebagai The Bloody Rose pulang ke rumah.


"Kenapa kau belum tidur? Ini sudah lewat jam dua belas malam." Kayden melihat jam tangan yang bertengger di lengan kanannya. "Tidurlah, pasti kau lelah kan." Seru Kayden sambil melangkah berniat masuk ke rumah.


"Kay..." Seru Tania menghentikan langkah Kayden.


"Hhmm?" Kayden berdehem sambil kembali menoleh pada Tania.


"Dari mana kau tahu kalau anak nakal itu ada di tempat itu?" Tanya Tania yang sejak awal sebenarnya merasa heran pada informasi yang diberikan Kayden padanya.


Kayden mengalihkan pandangannya dengan memutar bola matanya. Pria itu sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan Tania dengan mencari jawaban yang bisa gadis itu terima tanpa bertanya lagi.


"Aku hanya mengiranya saja. Di sana sering menjadi tempat berkumpulnya anak-anak nakal, apalagi mereka yang suka balap liar. Jadi anak itu benar ada di sana? Ck! Sudah aku duga. Tebakanku memang tidak pernah salah." Ujar Kayden dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan masuk." Jawab Tania terlihat malas meladeni Kayden lebih lanjut.


Kayden hanya menyunggingkan senyumnya saat Tania masuk ke dalam kamarnya. Tidak mungkin dirinya menceritakan kalau dia berada di sana juga dan bahkan orang yang gadis itu tabrak.


Sedangkan Tania yang baru saja masuk ke dalam tempat tinggalnya, merasa kalau dugaannya salah.


Ketika menabrak pria berpakaian tertutup tadi, dan mencium parfumnya, gadis itu teringat pada Kayden yang juga sangat menyukai harum bunga mawar dan selalu memakai parfum beraromakan bunga itu.


Namun melihat Kayden barusan, entah kenapa gadis itu berpikir kalau itu tidak mungkin, pria yang sudah dia kenal hampir tiga tahun tersebut tidak mungkin berada bersama dengan Ares yang notabene-nya adalah anak murid yang nakal sedangkan Kayden adalah seorang guru.


"Ya, aku rasa itu tidak mungkin." Gumam Tania yang langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Keesokan harinya, Tania sudah berada di sekolah pagi-pagi sekali. Seperti kemarin, hari ini dia harus mempersiapkan bahan rapat OSIS untuk sepulang sekolah nanti.


Hanya seorang diri gadis itu berada di ruang OSIS, Fokusnya terarah pada tugasnya yang sedang dikerjakan, yakni membuat syarat-syarat kandidat ketua OSIS selanjutnya.


"Sebaiknya aku tulis tidak menerima kandidat pria. Ya, perkataan mereka tidak ada yang bisa dipercaya. Mereka hanya akan membuat kekacauan saja." Gumam Tania dengan tatapan ke arah laptop yang ada di hadapannya.


Pikirannya teralihkan pada kejadian semalam. Rasa kesalnya kembali mencuat saat mengingat bagaimana dirinya menjadi marah saat mendengar jawaban Ares tadi malam.


Hal itu membuatnya teringat pada siratan mata pemuda itu tadi malam, bagaimana mata Ares menatap pada dirinya dengan penuh amarah tertahan karena perkataan Tania yang mengolok-olok pemuda itu. Namun jika diperhatikan Ares jauh lebih marah saat Tania berkata buruk mengenai keluarganya.


Entah kenapa sekarang ada perasaan merasa bersalah yang dirasakan gadis itu. Dia pun tahu kalau kata-katanya sangat keterlaluan saat mengatakan kalau keluarga Ares adalah keluarga pembohong.


"Seharusnya aku tidak terpancing emosi semalam. Sekarang dia pasti tidak akan mendengarkan perkataanku. Dia tidak akan pernah datang ke sekolah dan berakhir dirinya tidak akan lulus. Dia benar-benar akan mencoreng nama sekolah dengan mematahkan rekor kelulusan itu." Oceh Tania berhenti mengetik di laptop.


Dengan sangat berat, gadis itu menghela napas panjang dan duduk bersandar ke kursinya. Dia berpikir dirinya harus segera mencari cara agar membujuk Ares masuk ke sekolah. Apapun akan gadis itu lakukan demi keinginannya tercapai.


"Apa sebaiknya, aku meminta maaf padanya saja ya? Mungkin saja dengan begitu anak nakal itu akan mendengarkan perkataanku." Tanya Tania dengan sambil berpikir.


Gadis itu terkejut ketika pintu dibuka dengan tiba-tiba, seorang anggota OSIS berjenis kelamin perempuan muncul dari luar. Dia adalah Wanda, sekertaris OSIS yang juga merupakan teman sekelas Tania.

__ADS_1


"Ketua OSIS!!" Panggil Wanda dengan napas tersengal-sengal yang menandakan kalau gadis itu baru saja berlari.


"Ada apa? Sebentar lagi bel akan berbunyi, aku harus menyelesaikan semua ini sebelum jam pelajaran dimulai. Sebaiknya kau tetap berada di depan sekolah untuk memperhatikan seragam yang dikenakan para murid. Pastikan tidak ada yang tidak rapi." Ujar Tania langsung bersikap kembali fokus pada apa yang dikerjakannya tadi.


Gadis itu berbicara tanpa menoleh pada lawan bicaranya yang berdiri di ambang pintu.


"Ada kabar menghebohkan ketua OSIS." seru Wanda.


"Kabar apa?" Tanya Tania tetap tidak merubah posisinya.


"Anak baru yang tidak pernah masuk itu akhirnya datang ke sekolah."


"Siapa maksudmu?" Tanya Tania masih tidak menangkap informasi yang diberikan Wanda karena fokusnya pada layar laptop.


"Itu lho, si tampan Ares. Dia baru saja masuk ke dalam sekolah dengan motornya. Semua murid sudah berkumpul melihat kedatangannya di parkiran."


Tania sontak terkejut mendengar ucapan Wanda. Untuknya itu adalah sesuatu yang mustahil. Dengan cepat Tania melangkahkan kakinya keluar dari ruangan OSIS untuk menuju parkiran di mana Ares masih berada.


Kerumunan murid-murid lain yang mayoritas adalah wanita menghalangi Tania menghampiri Ares yang baru saja turun dari motornya.


Meski Tania berteriak pada kerumunan tersebut namun tetap tak ada satupun yang memberikannya jalan.


Hingga akhirnya kerumunan terbuka saat Ares berjalan melewatinya. Langkah pemuda itu terhenti saat melihat Tania berdiri di hadapannya. Anehnya, Ares mundur selangkah saat melihat Tania. Bahkan dirinya terlihat bingung dengan raut wajahnya yang mengernyitkan dahinya.


Tania maju mendekati Ares untuk berbicara dengan pemuda itu. Dia sangat tidak menyangka kalau anak nakal yang dirinya kira tidak akan pernah datang ke sekolah nyatanya hadir di tempat ini.


"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba datang ke sekolah?" Tanya Tania heran.


Ares tidak langsung menjawab. Pemuda itu tampak berpikir dengan memutar mata dan menggigit bibir bawahnya. Setelahnya, dia berdesis dan melangkah maju lebih mendekati Tania. Matanya mengarah pada Tania dengan posisi yang lebih mendekat pada gadis itu, berdiri tepat di depannya.


"Aku menyukaimu, karena itu aku datang hari ini ke sekolah." Jawab Ares dengan tatapan lekat di depan mata Tania yang jaraknya sangat dekat.

__ADS_1


Di balik kacamatanya, mata cokelat Tania membola karena terkejut dengan perkataan Ares. Di tambah, posisi pemuda itu yang berdiri sangat dekat dan wajah yang hanya beberapa inchi dari wajahnya.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2