PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
054. TANPA SADAR


__ADS_3

Akan tetapi, Tania tetaplah Tania, gadis itu tidak ingin menanggapi semua itu karena merasa bukanlah sesuatu yang penting.


"Jujur saja, aku tidak peduli dengan anggapan semua orang." Jawab Tania dengan santainya.


Perkataan Tania membuat Wanda menjadi bingung. Meski dia sudah tahu sifat ketua OSIS-nya namun jika melihat kedekatan Tania dengan Ares, membuatnya yakin kalau Tania menyukai Ares.


Sejak kembali dari sekolah, Tania memfokuskan dirinya untuk belajar di tempat tinggalnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Fokusnya teralihkan saat melihat sebuah pesan muncul di ponselnya. Segera gadis itu mengambil untuk membaca pesan yang ternyata dia dapat dari Ares.


Bagaimana untuk semua soal matematika yang aku kerjakan kemarin? Apa ada kesalahan?


Sebelum sempat Tania membalas pesan tersebut, tiba-tiba Ares lebih dulu meneleponnya.


Tania mengernyitkan dahinya melihat nama Ares di layar ponselnya, namun segera menerima telepon tersebut.


"Ha—halo." Terdengar suara Ares setelah pemuda itu berdehem.


Tania diam saja dan tidak mengatakan apapun saat menerima panggilan teleponnya, karena itu Ares lebih dulu berbicara.


"Ada beberapa nomer yang kau kerjakan dengan tidak tepat. Besok aku berniat mengembalikannya padamu. Kau tidak perlu menanyakannya." Seru Tania. "Aku akan menutup teleponnya—"


"Tunggu dulu!!" Seru Ares secepatnya. "Kenapa kau ingin menutup teleponnya dengan cepat?"


"Bukannya sudah aku katakan, kau tidak perlu menghubungiku lagi dan aku hanya akan menanggapi pertanyaanmu seputar pelajaran melalui pesan." Jawab Tania.


"Ya ampun, apa meneleponmu juga tidak boleh?"


"Tidak! Kau tidak boleh meneleponku." Ucap Tania langsung mematikan teleponnya.


Ares menjadi kesal saat Tania mematikan teleponnya sebelum sempat dirinya berkata apapun lagi.


"Dasar kacamata, kenapa dia angkuh sekali sampai tidak ingin aku telepon?" Kesal Ares dengan heran. "Seharusnya dia senang kalau aku yang keren ini meneleponnya."


Tania yang menutup telepon Ares menghela napasnya. Gadis itu masih tidak habis pikir karena Ares seperti terus mengganggunya.


Setelah tadi siang pemuda itu masuk ke dalam ruang OSIS dan keluar dengan wajah yang marah, tadinya Tania pikir kalau Ares akan tetap marah padanya, namun yang terjadi sepertinya pemuda itu sudah melupakan rasa marahnya.

__ADS_1


"Dia benar-benar bodoh, sepertinya dia sudah lupa kalau aku membuatnya kesal tadi." Ucap Tania dengan sedikit tertawa mengomentari sikap Ares.


...***...


Keesokan harinya saat Tania keluar dari ruang OSIS untuk menuju ruang kelasnya, semua mata menatap padanya.


Saat yang terjadi saat ini sama seperti kemarin. Hampir semua murid melihat padanya ketika dirinya berjalan di koridor sekolah. Tentunya semua itu karena kabar yang beredar di sekolah mengenai dirinya.


Meski begitu, Tania dengan santai tetap berjalan seperti biasanya. Gadis itu tidak ingin memikirkannya.


Ares langsung memancarkan tatapan kesal pada Tania saat dirinya masuk ke dalam kelas. Tidak memedulikan sedikitpun, Tania langsung berjalan masuk kelas dan duduk di kursinya yang berada di depan meja Ares.


"Kenapa kau mematikan teleponnya semalam?" Kesal Ares.


Perkataan Ares terdengar oleh semua murid di kelas tersebut sehingga membuat mereka semua memperhatikan Ares dan Tania.


Tania mencoba tidak meladeni perkataan Ares dan tetap duduk memunggungi pemuda itu.


Ares menyadari kalau semua mata melihat padanya, matanya berkeliling melihat mereka semua. Pemuda itu baru akan membuka mulutnya, namun Kayden lebih dulu masuk ke dalam kelas. Hal itu membuatnya menahan dirinya.


"Baiklah, kumpulkan tugas kalian. Oper saja dari yang paling belakang ke depan. Dan barisan terdepan bisa meletakkannya ke meja ini." Seru Kayden sambil menepuk meja yang ada di hadapannya.


Saat Tania ingin mengambilnya, Ares malah menjauhkan tangannya untuk menggoda Tania.


Tania kesal sehingga gadis itu langsung merampasnya kasar dan segera bangkit berdiri untuk meletakkannya ke meja Kayden.


Kayden dan berberapa murid memperhatikan mereka berdua.


"Kau belum memberikan bukumu." Ujar Kayden pada Tania.


Tania menyadari kalau dirinya lupa membawa serta bukunya yang masih berada di atas meja. Dengan menahan rasa sedikit malu, Tania berbalik untuk mengambil bukunya dan kembali memberikannya pada Kayden.


Saat berada di ruang OSIS ketika istirahat tiba. Tania menghela napas beberapa kali. Gadis itu merasa sangat terganggu dengan semua yang terjadi hari ini.


Anggapan semua murid mengenai dirinya yang menjadikannya seperti penghalang hubungan Ares dan Dyara. Ditambah sikap Ares yang semakin menyebalkan.


"Aku berharap kalau waktu cepat berlalu dan aku bisa segera lulus." Ucap Tania setelahnya menghela napas dengan menidurkan kepalanya di atas meja.

__ADS_1


Cklek!


Suara pintu yang terbuka langsung membuat Tania kembali menegakkan postur duduknya dan melihat ke arah pintu.


Gadis itu menahan dirinya agar tidak berteriak saat melihat Ares masuk ke dalam ruangan karena Ares lebih dulu masuk dan menutup pintu.


"Mau apa kau ke sini lagi?" Seru Tania tersulit emosi.


Gadis yang biasanya berpikiran dan berperilaku dingin itu tidak bisa lagi menahan suaranya agar tidak meledak, semua itu karena Ares yang seperti tidak memedulikan perkataannya.


"Sabar dulu, tenang dulu!!" Jawab Ares memberikan gestur dengan tangannya agar Tania menahan emosinya.


Melihatnya Tania menjadi berdecak kesal, namun gadis itu mengikuti permintaan Ares.


"Katakan padaku, apa kau melarangku mendekatimu karena kabar yang beredar?" Tanya Ares yang berdiri di hadapan Tania.


Tania tertegun. Gadis itu berpikir sesaat. Seharusnya dirinya tidak memedulikan kabar yang beredar itu, karena sejak awal dia memang meminta Ares untuk berhenti mengekor dengannya. Tapi sekarang saat semua mata menatap dirinya dengan tatapan sinis, itu membuat Tania menjadi semakin tidak ingin berada dekat dengan Ares.


"Tidak, ma—maksudku iya. Tapi pada dasarnya aku memang tidak ingin kau terus mendekatiku. Kau pun tahu itu, kan? Dan ditambah saat ini kau dengan Dyara sudah berpacaran..." Jawab Tania dengan nada ragu di akhir kalimat. "Ya, sebaiknya kau tidak perlu menemuiku! Kau hanya membuat mereka semua berpikiran yang tidak tidak terhadap aku!!"


"Apa? Apa maksudmu?" Tatap Ares dengan mengernyitkan dahinya. "Berpacaran? Kau percaya?"


Pertanyaan Ares membuat Tania menjadi memutar matanya. Gadis itu bingung harus menjawab apa, bahkan dia juga bingung kenapa dirinya harus mengatakan hal tersebut.


"Apa itu penting? Sejujurnya aku tidak peduli. Keluarlah dan jangan menemuiku lagi. Aku hanya ingin hidup tenang sampai lulus nanti." Jawab Tania.


"Kami tidak berpacaran. Aku tidak mengerti dari mana kabar itu beredar. Tapi yang jelas kalau aku dengan gadis itu tidak memiliki hubungan apapun." Ujar Ares menjelaskan.


Jawaban Ares entah kenapa membuat hati Tania menjadi lega. Meski sejujurnya gadis itu sejak awal tidak mempercayai kabar itu, akan tetapi karena kabar yang beredar, membuat dirinya menjadi berpikir seperti itu.


Namun segera Tania tidak mau terlalu memikirkan apa yang dikatakan Ares barusan. Dia berusaha menganggap kalau itu bukanlah hal yang penting untuk dirinya.


"Apa hubungannya denganku? Aku tidak peduli." Sahut Tania.


"Tapi barusan kau tersenyum." Ucap Ares dengan menyunggingkan sudut bibirnya, dengan memicingkan matanya pada Tania.


Tania langsung menggigit bibirnya saat mendengar ucapan Ares. Entah bagaimana tanpa sadar dirinya tersenyum tadi.

__ADS_1


...^^^–NATZSIMO–^^^...


__ADS_2