
Perasaan Ares menjadi sangat kesal saat keluar dari ruang guru. Perkataan angkuh Kayden padanya membuat pemuda itu menjadi tersulut. Sekarang keinginannya adalah bagaimana dirinya bisa mengalahkan gurunya itu di pertandingan selanjutnya.
Karena itu, dia ingin mempersiapkan semuanya dengan benar. Pulang nanti dirinya berencana untuk menemui Anton dan teman-temannya untuk berlatih sebelum menantang Kayden bertanding di kesempatan yang terakhir kalinya.
"Ant, nanti malam temani aku. Aku akan menantang The Bloody Rose, dan dia bilang kalo aku hanya bisa menantangnya untuk terakhir kalinya." Ujar Ares yang langsung menelepon Anton saat berdiri depan ruang guru.
Tatapannya teralih saat seorang murid perempuan datang menghampirinya dengan sikap yang terlihat malu. Segera pemuda itu mengakhiri pembicaraannya dengan Anton di telepon.
Sejenak Ares menatap gadis yang berdiri di hadapannya. Dia tidak mengenal siapa gadis tersebut sehingga membuatnya bingung kenapa gadis itu menghampirinya.
"Maaf, Kak, Aku Sonia dari kelas XI. Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada kakak." Ujar gadis itu dengan tersipu malu.
"Katakan saja." Seru Ares.
"Apa bisa kita bicara di tempat lain?" Tanya Sonia.
Ares memperhatikan ke sekitar, di mana mata para murid lain mengarah pada dirinya saat ini. Itu membuatnya mengerti tujuan Sonia ingin berbicara dengannya.
"Oke, ikuti aku." Ucap Ares langsung berjalan dan Sonia mengikutinya.
Ares berjalan ke arah belakang gedung sekolah. Pemuda itu tetap melangkahkan kakinya hingga berada tepat di belakang ruang OSIS, dan berhenti di sana.
"Katakan, apa yang ingin kau sampaikan padaku hingga memintaku untuk ke tempat ini?" Tanya Ares menatap malas gadis yang berdiri di hadapannya.
Walau yang sebenarnya pemuda itu pun sudah tahu maksud dan tujuan adik kelasnya itu menemuimya.
"Maafkan aku karena tiba-tiba ingin bicara denganmu, Kak." Jawab Sonia terlihat semakin gugup.
Ares tidak mengatakan sesuatu dan menunggu gadis itu berbicara. Meski begitu matanya mengarah ke ke jendela ruang OSIS.
"Sebenarnya sudah sejak lama aku menyukai Kakak, aku dengar hubunganmu dengan ketua OSIS sudah berakhir karena itu aku ingin mengatakannya padamu. Aku menyukaimu dan ingin berpacaran dengan Kakak." Lanjut Sonia dengan tatapan penuh harapan.
Ares mengalihkan pandangannya ke jendela ruang OSIS yang terbuka dan melihat Tania mengeluarkan sedikit kepalanya melihat padanya.
"Ini sangat mendadak tapi aku harap Kakak mau menerimaku." Ujar Sonia.
Ares melihat pada gadis yang baru saja mengungkapkan perasaannya pada dirinya. Dari awal dia tahu kalau Sonia pasti berencana mengungkapkan isi hatinya dan memintanya menjadi kekasihnya.
Saat ini Ares tahu kalau Tania masih memperhatikan dirinya, karena itu dia mendengus pada Sonia.
"Katakan, kenapa aku harus menerimamu?" Tanya Ares. "Apa yang bisa kau berikan padaku?"
"Apa?" Tanya Sonia tampan terkejut pada respon Ares.
__ADS_1
"Apa aku terlihat seperti menyukaimu? Lalu kenapa aku harus menerimamu?" Ares memperjelas pertanyaannya.
Sonia tampak bingung mendengar perkataan Ares.
"Apa itu tandanya kau menolakku?" Tanya Sonia dengan mata yang berkaca-kaca karena pelupuknya tergenang dengan air mata.
Ares mengangguk menjawabnya.
"Apa itu karena ada gadis lain yang Kakak suka?" Tanya Sonia ingin tahu.
Ares menjadi bingung menjawabnya. Pemuda itu hanya mengangguk agar lebih cepat mengakhiri semuanya dan dirinya bisa terlepas dari gadis itu.
"Benarkah?"
"Ya, dia gadis yang cantik. Dia sangat cantik dan sangat serasi denganku yang tampan ini. Sepertinya dia diciptakan memang untukku." Jawab Ares dengan asal bicara. "Jadi tidak mungkin aku menerimamu, bukan?"
Sonia tidak mampu menahan air matanya hingga gadis itu menangis. Segera dia berlari meninggalkan Ares setelah penolakan yang diberikan pemuda itu padanya.
"Apa kata-kataku sangat kasar sampai dia menangis seperti itu?" Tanya Ares menggeser kepalanya untuk melihat Tania yang menguping di balik jendela. "Padahal aku sudah berusaha untuk tidak membuatnya menangis."
Tania tidak ingin menjawab ocehan Ares, gadis itu langsung berniat menutup kembali jendelanya dan bersikap tidak peduli pada pemuda itu. Akan tetapi Ares lebih dulu menahannya.
"Kenapa kau menguping seperti itu? Itu tindakan yang tidak sopan." Ujar Ares yang langsung memasukkan tubuhnya ke balik jendela.
Bukannya pergi, Ares malah masuk ke dalam ruangan melalui jendela tersebut. Pemuda itu tidak memedulikan Tania yang mendelik melihat apa yang dilakukannya.
"Apa yang kau lakukan?" Protes Tania terlihat kesal karena Ares masuk ke ruangan tersebut dan langsung menutup jendelanya.
"Di luar sangat panas. Biarkan aku berteduh di sini sebentar." Jawab Ares dengan duduk di kursi yang ada di sana.
"Bukannya kau sudah setuju agar tidak berada dekat denganku?" Ujar Tania yang masih berdiri dengan tatapan heran pada Ares.
"Ya, aku memang sudah setuju. Tapi aku di sini karena ingin berteduh sebentar. Tidak ada yang tahu kalau aku ada di sini, kan? Jadi kau santai saja."
Tania mendengus mendengar perkataan Ares. Bukan itu masalahnya, dia tidak peduli siapapun melihat mereka bersama yang jadi masalah adalah dirinya yang tidak ingin diganggu oleh Ares lagi.
Karena tanpa gadis itu sadari pun untuk beberapa kali Tania merasa terganggu dengan pikirannya yang memikirkan Ares ketika mereka berdua selalu bersama.
"Aku akan di sini selama lima menit, setelah itu akan keluar. Aku benar-benar kepanasan, tubuhku menjadi berkeringat sekarang." Ujar Ares yang duduk santai di kursi dengan bersandar dan mengibas-ngibaskan tangannya. "Anggap saja aku tidak ada seperti biasanya."
"Lain kali aku tidak akan membiarkanmu mendekatiku lagi." Ucap Tania sambil mengambil laptop yang ada di hadapan Ares karena pemuda itu menduduki kursi yang tadi dirinya duduki.
Tania duduk di kursi yang menghadap ke arah Ares dan mencoba fokus untuk melanjutkan kesibukannya karena sepuluh menit lagi jam istirahat akan berakhir.
__ADS_1
"Apa aku sangat tampan hingga gadis tadi ingin menjadi kekasihku?" Tanya Ares pada Tania yang tidak menghiraukan pertanyaannya. "Kau tahu? Selama satu minggu ini aku juga menerima beberapa pesan dari murid perempuan yang ingin menjadi kekasihku. Itu sangat menggangguku. Tidak mungkin aku menerima mereka, kenal dengan mereka saja tidak."
Pikiran Tania menjadi teralih pada perkataan Ares tadi saat menolak Sonia. Pemuda itu mengatakan kalau dia sudah memiliki seorang gadis yang disuka. Gadis yang disebutnya cantik dan sangat serasi dengan pemuda itu. Bahkan Ares juga mengatakan kalau gadis itu seperti tercipta untuknya.
Saat ini hal itu menjadi pusat pikiran Tania. Gadis itu menjadi penasaran siapa yang dimaksud oleh Ares. Tiba-tiba terlintas satu nama yang sangat sesuai dengan yang dikatakan pemuda itu. Dia adalah Dyara.
Ya, Tania yakin kalau Ares dan gadis itu sudah sering bertemu dan mungkin saja mereka sudah menjalin suatu hubungan. Entah kenapa hal itu membuat perasaan Tania menjadi tidak nyaman saat ini.
"Kau mendengarku tidak?"
Suara Ares membuat Tania sedikit tersentak. Pikiran gadis itu langsung buyar dengan menjadi bingung melihat pada Ares.
"Kau melamun? Astaga, aku pikir kau sedang serius dengan yang kau lakukan itu. Ternyata kau malah melamun." Seru Ares dengan wajah kesal. "Jadi kau tidak mendengar semua yang aku katakan tadi? Astaga, aku seperti bicara dengan tembok."
Tania memang tidak menyimak apa yang diocehkan Ares karena sibuk dengan pemikirannya. Segera gadis itu merubah sikapnya dan melihat dingin pada Ares.
"Ini sudah lima menit dari yang kau bilang. Kau bisa keluar sekarang." Ujar Tania dengan sangat dingin.
"Biarkan aku di sini sampai bel masuk." Pinta Ares merubah duduknya.
Segera Tania bangkit berdiri dari duduknya dan mendekati Ares. Tatapannya dingin pada pemuda itu.
"Kau ingin keluar sendiri atau aku seret keluar?" Tanya Tania.
"Kau ingin menyeretku keluar?" Tatap Ares dengan meremehkan. "Lakukan saja."
Tanpa menunggu lagi, Tania langsung menarik lengan pemuda itu dengan kasar. Dengan sekuat tenaga dia menyeret Ares hingga menuju pintu.
"Ya ampun, lepaskan tanganku... Aku bisa keluar sendiri." Ujar Ares dengan terkejut saat Tania membuka pintu ruangan itu.
Tania tidak menghiraukannya dan langsung mendorong Ares keluar dari ruangan itu.
"Kau benar-benar keterlaluan!!" Geram Ares yang sudah berada di luar pintu saat Tania siap menutup pintunya.
"Kak Ares?"
Terdengar suara seorang gadis yang berdiri di belakang Ares.
Ares menoleh ke belakang, begitu juga dengan Tania yang langsung melihat siapa gadis yang datang bersama dengan sekertaris OSIS tersebut.
"Kau pasti terkejut kan melihatku ada di sekolah ini?" Ucap Dyara dengan memulas sebuah senyuman yang sangat cantik.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1