PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
024. KELUARGA YANG SANGAT ANEH


__ADS_3

Kayden yang meninggalkan rumah sakit, sampai di rumahnya. Pria itu langsung bergegas ke kamarnya untuk beristirahat. Rasanya dia menjadi sangat kesal saat mendengar perkataan Ares tadi, hingga dirinya merasa lebih baik pergi dari sana.


Langkahnya tertahan saat Karen—ibunya baru saja keluar dari kamar, dan melihat pada kehadiran Kayden di sana.


"Bagaimana keadaan Tania?" Tanya Karen saat melihat putranya. "Apa benar dia baik-baik saja dan tidak ada cedera parah?"


"Ya, hasil rontgen-nya seperti itu, namun dia masih harus terus berada di atas ranjang agar kondisinya cepat pulih."Jawab Kayden


"Lalu kenapa kau pulang?" Tanya Karen dengan heran karena Kayden tidak tetap berada di rumah sakit menemani Tania.


"Sudah ada yang menemaninya." Ucap Kayden sambil berjalan masuk ke dalam kamar pemuda itu.


Jawaban Kayden membuat Karen bingung. Namun fokusnya lebih mengarah pada raut wajah Kayden yang tampak terlihat masam.


"Ada apa dengannya? Kenapa sekarang dia jadi begitu lagi?" Gumam Karen sambil berjalan ke arah tangga.


...***...


"Kau tidak makan? Ini sudah jam delapan malam. Makanannya sudah dua jam diberikan. Kenapa tidak langsung kau makan? Sekarang pasti sudah dingin." Ujar Ares mengalihkan tatapannya yang semula pada layar ponsel jadi melihat pada Tania. "Apa perlu aku bantu?" Tanya Ares lagi dengan sedikit canggung.


"Aku merasa tidak lapar. Kau saja yang makan makanannya." Jawab Tania sambil sibuk mengirim pesan pada ibunya.


Tiba-tiba secara reflek Ares mengambil ponsel gadis itu, dan membuat Tania melihat padanya dengan tatapan membola kesal.


"Apa yang kau lakukan?" Kesal Tania heran.


Ares melihat ponsel Tania untuk menutupnya dan langsung meletakkannya ke atas meja di samping ranjang.


"Makanlah biar aku suapi." Ujar Ares sambil mengambil piring rumah sakit yang berisi makanan milik Tania. "Bangun dulu, kau bisa duduk kan?"


Tania menarik napas dalam-dalam dan menghelanya. Gadis itu mencoba menahan amarahnya dengan melihat dingin pada Ares.


"Sudah aku katakan kalau aku tidak ingin makan." Jawab Tania.


"Kau harus makan kalau tidak, kau akan sakit dan itu akan menjadi tanggung—"

__ADS_1


"Diamlah! Sudah aku bilang apa yang terjadi padaku bukan tanggung jawabmu, bodoh!!" Seru Tania dengan menatap heran pada Ares. "Sebaiknya kau juga pergi dari sini, biarkan aku beristirahat sendiri."


Ares meletakkan piring yang dibawanya dan langsung memegang tubuh Tania tanpa gadis itu duga. Pemuda itu menarik Tania hingga berada di posisi duduk.


Tania yang terkejut tidak bisa berbuat apapun karena Ares melakukannya dengan tiba-tiba dan dirinya juga tidak bisa menggerakan tubuhnya dengan leluasa.


"Apa yang kau lakukan?" Mata Tania mendelik terkejut. Gadis itu sedikit takut karena Ares baru saja melakukan hal-hal diluar dugaannya dengan memegang tubuhnya untuk membuatnya duduk.


"Itu agar kau bisa makan." Jawab Ares sambil mengambil kembali piring makanan yang tadi diletakkannya di meja. "Kau harus makan seka—"


Dengan cepat Tania merebut piring dari tangan Ares dan langsung memakan makanannya.


Melihatnya Ares langsung kembali duduk di kursinya karena usahanya tidak sia-sia.


Ditatapnya terus Tania yang sedang makan karena ada sesuatu yang ingin ditanyakan pemuda itu pada Tania.


"Ada apa? Kau lapar juga karena itu menatapku seperti itu?" Lirik Tania yang menyadari tatapan Ares padanya.


"Kenapa kau tidak memberitahu ibumu tentang keadaanmu sekarang? Dan kenapa kau tidak tinggal dengan orang tuamu?" Tanya Ares yang tadi sempat melihat sedikit percakapan Tania dengan ibu gadis itu di dalam pesan, saat dia mengambil ponselnya. "Kenapa kau hidup sendiri di sini? Apa kau masih mempunyai hubungan saudara dengan Kepala Sekolah dan Pak Guru?"


Tania menurunkan piringnya dan melihat pada Ares. Gadis itu menjadi heran karena Ares banyak bertanya tentang dirinya.


"Jawab saja, apa tidak boleh aku bertanya tentangmu?"


"Aku rasa itu tidak ada kaitannya dengan tanggung jawab yang kau bilang." Ucap Tania kembali memakan makanannya.


"Bukannya begitu, aku hanya berpikir karena kau seorang gadis, tapi kau hidup hanya sendirian di kota sebesar ini dan ditambah dengan sifatmu yang terlalu masa bodoh itu... Itu akan sangat berbahaya." Ujar Ares dengan bersungut-sungut.


"Sifat masa bodoh?" Tania kembali menatap Ares dengan kesal. "Apa maksudnya itu? Aku selalu melakukan apapun setelah memikirkan semuanya ribuan kali, tidak mungkin aku punya sifat masa bodoh." Kali ini Tania terlihat kesal karena Ares menyindir hal yang paling tidak disukai gadis itu.


"Ya, sudah dua kali kau masuk ke dalam perkelahian, apa itu bukan karena sifat masa bodohmu itu?" Jawab Ares dengan menyunggingkan salah satu bibirnya dengan tatapan kesal. "Apanya yang berpikir ribuan kali kalau begitu? Kau tidak berpikir apapun dan melakukan semuanya secara tiba-tiba. Kau memang sangat masa—"


"Es!!"


Perkataan Ares terhenti dan dirinya langsung menoleh ke arah tirai yang terbuka. Dari balik tirai muncul Tasya—ibu dari pemuda tersebut.

__ADS_1


"Jangan berbicara dengan keras pada seorang wanita." Seru Tania sambil berjalan masuk ke dalam dengan sebuah parcel buah yang langsung diletakkan ke meja, lalu berdiri di samping Ares.


"Ma—mama? Kenapa mama di sini?" Tanya Ares beranjak berdiri karena terkejut melihat kehadiran ibunya.


Tania hanya tersenyum menjawab pertanyaan putranya, lalu mengarahkan tatapannya pada Tania.


"Bagaimana keadaanmu, kau Baik-baik saja?" Tanya Tasya dengan wajah lembutnya.


Tasya hanya mengangguk tipis dengan menarik bibirnya. Gadis itu sama terkejutnya dengan Ares mengenai kehadiran Tasya di sana.


"Ada apa mama di sini? Mama tahu dari mana kalau aku ada di rumah sakit ini?" Sekali lagi Ares bertanya karena pemuda itu masih terlihat heran. "Ah, jangan bilang kalau paman Lion yang memberitahumu ya?"


Tasya hanya menyunggingkan bibirnya merespon pertanyaan Ares dan kembali menatap Tania.


Paman Ares yang bernama Lion memang adalah orang yang banyak dikenal di negara itu. Temannya berada di mana pun dan itu yang membuat pamannya itu mengetahui kemana dan di manapun Ares berada, karena teman-teman pamannya itu akan memberitahukan posisi Ares berada pada pamannya, yang akhirnya akan di infokan pada kedua orang tuanya. Hal itu yang membuat kedua orang tua Ares tidak pernah mempermasalahkan apapun yang dilakukan pemuda itu.


"Tania, aku meminta maaf atas apa yang terjadi padamu adalah ulah Ares, karena itu sebagai gantinya, aku sudah menyelesaikan semua biaya rumah sakit."


"Kau tidak harus melakukannya, nyonya." Jawab Tania. "Apa yang terjadi padaku semuanya hanya karena kesalahanku."


"Tidak, kau ingin menghentikan anak ini saat berkelahi... Jadi semua yang terjadi padamu adalah kesalahannya." Senyum Tasya. "Es, kau harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada Tania. Tetaplah di sini dan kau harus menjaganya hingga dia sembuh."


Ares tidak menjawab karena itu memang niatnya. Sejak awal dirinya berniat untuk bertanggung jawab pada kondisi Tania.


"Tania, segeralah sembuh. Aku akan merasa sangat bersalah jika sesuatu yang lebih buruk terjadi padamu." Ujar Tasya menggenggam telapak tangan Tania. "Baiklah, karena sudah malam aku akan pulang. Es, ambil kunci mobil ini. Gantilah seragammu dengan pakaian yang ada di dalam mobil. Mama akan membawa pulang motormu." Tasya memberikan kunci mobil dan Ares memberikan kunci motornya.


"Nyonya, terimakasih karena sudah menjengukku." Ucap Tania.


Sepeninggalan Tasya, Ares kembali menatap Tania yang juga menoleh padanya.


Dalam benak gadis itu, dia menjadi mengerti kenapa Ares bersikeras mengatakan mengenai tanggung jawab berkali-kali. Mendengar perkataan Tasya yang juga mengatakan kalau apa yang terjadi padanya adalah kesalahan pemuda itu, sehingga membuatnya berpikir kalau keluarga Ares memang mengajarkan hal seperti itu padanya.


"Keluargamu sangat aneh." Ujar Tania.


"Tidak, kau tidak tahu apa-apa tentang keluargaku. Tapi ya... Bisa dibilang keluargaku sangat aneh." Ares menyunggingkan senyumnya. "Lalu kenapa kau tidak menjawab apa yang aku tanyakan tadi? Kenapa kau tidak memberitahu ibumu dan memilih tinggal seorang diri di kota ini?"

__ADS_1


"Aku rasa itu semua bukan urusanmu, karena itu aku tidak akan menjawabnya." Jawab Tania setelahnya merebahkan tubuhnya kembali.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2