
Ares berada di kamarnya sedang memikirkan perkataan Tyaga padanya tadi. Pemuda itu terus saja mencari alasan kenapa orang seperti Tyaga mau mendengarkan perkataan Tania.
Dia juga tidak mengira kalau Tania akan sampai memohon agar dirinya tidak dikeluarkan dari sekolah.
Dan mengenai perkataan Tyaga sebelum dirinya keluar dari ruang OSIS, pemuda itu juga masih mencari apa maksud perkataannya.
Hal yang dirinya tanyakan tadi mengenai apakah Tyaga menyukai Tania atau tidak. Jawabanan pemuda itu adalah, kalau yang ditanyakan Ares adalah benar, maka dia akan melakukan hal yang sebaliknya.
"Jadi apa dia tidak menyukainya?" Tanya Ares masih terus berpikir. "Lalu, kenapa dia sampai tidak mengeluarkan aku hanya karena gadis itu memohon padanya?"
Tatapannya mengarah ke sebuah benda yang ada di meja belajar di mana dirinya sedang berada. Benda yang masih terbungkus kertas kado bergambar beruang. Itu adalah hadiah ulang tahun dari Tania. Ares belum membukanya hingga saat ini.
Segera pemuda itu mengambilnya dan berniat untuk membukanya. Dengan perlahan, Ares membuka selotip yang merekatkan kertas kado itu. Dia sangat hati-hati saat melakukannya.
Secarik kertas berada di sebuah benda yang merupakan isi hadiah Tania. Ares mengambilnya untuk membaca kalimat yang tertulis di kertas tersebut.
Aku rasa ini tidak jauh berbeda dengan yang asli. Kita tidak boleh membuang-buang uang hanya untuk sebuah pakaian.
Selamat ulang tahun.
Berjuanglah untuk lulus, agar kita bisa lulus sekolah bersama.
Setelah membacanya, Ares langsung mengambil hadiah ulang tahun yang diberikan Tania untuknya.
Sebuah jaket kulit yang hanya melihatnya saja dia tahu berapa harganya. Kebiasaannya membeli barang mahal, membuat Ares langsung mengetahui nilai barang tersebut.
Tanpa dia sadari tersungging senyuman dibibirnya saat melihat jaket kulit tersebut.
"Dia pasti membeli ini dari tabungannya yang sedikit itu." Ucap Ares. "Dia tidak harus memberiku sebuah hadiah seperti ini. Padahal dia hanya memakan roti atau mie instan setiap hari."
Tiba-tiba dia teringat mengenai foto yang dikirimkan oleh seseorang padanya. Dilihatnya lagi foto tersebut. Foto dimana Tania dan Tyaga sedang terlihat memilih jaket kulit di brand favoritnya.
"Sedang apa dia bersama si sambong ini?" Tanya Ares merasa heran melihat foto itu. "Siapa juga yang memotret mereka berdua ini?"
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Kayden. Segera pemuda itu menerimanya.
"Bagaimana? Aku belum mendengar apapun mengenai kau yang dikeluarkan dari sekolah." Seru Kayden yang langsung menanyakan tujuannya menelepon Ares. "Aku kira, mereka akan memanggilku hari ini. Tapi bahkan ibuku, ah maksudnya kepala sekolah tidak membahas sedikitpun mengenai pelanggaran yang kau lakukan."
"Dia tidak melaporkannya ke komite." Ujar Ares. "Dia tidak jadi mengeluarkanku dari sekolah."
"Apa? Apa kau yakin? Kenapa bisa? Bukankah Tyaga sangat ingin menendangmu dari sekolah? Saat dia punya kesempatan sebagus itu, kenapa dia tidak melakukannya?" Kayden sangat heran saat mendengar jawaban Ares tersebut.
__ADS_1
"Dia bilang, Tania memohon padanya. Tapi ada yang aneh. Aku merasa seharusnya orang sepertinya tidak akan membuang-buang kesempatan seperti itu hanya karena seseorang memintanya." Ujar Ares.
"Ah, jadi seperti itu." Jawab Kayden. "Berarti itu sangat bagus. Kau tidak jadi dikeluarkan dari sekolah."
"Apa kau tahu sesuatu, Pak Guru?" Tanya Ares mencoba mencari tahu mengenai hal yang membuat hatinya mengganjal.
"Tahu apa?"
Ares berpikir sejenak. Tampaknya Kayden juga tidak akan mengatakan apapun padanya jika pria itu mengetahui sesuatu. Dia pasti akan merahasiakannya seperti Tyaga.
"Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja? Kapan dia keluar dari rumah sakit?" Tanya Ares merubah topik pembicaraan dengan menanyakan kondisi Tania.
"Sepertinya besok dia akan keluar dari rumah sakit. Seharusnya kau menjenguknya bodoh. Kau tidak jadi dikeluarkan dari sekolah juga karena dia, bukan?" Seru Kayden.
Ares memikirkan perkataan Kayden tersebut. Dirinya juga merasa kalau memang seharusnya dia menjenguk Tania dan mengucapkan terimakasih pada gadis itu. Mungkin saja dengan begitu, dia menjadi tahu alasan kuat kenapa Tyaga mau mendengarkan permohonan Tania itu.
...***...
Tyaga sedang menelepon Tania ketika jam istirahat sekolah berlangsung. Pemuda itu berada di ruang OSIS.
"Pamanmu yang akan menjemputmu dan mengantarmu pulang nanti?" Tanya Tyaga.
"Ya, aku juga akan tinggal bersamanya sebelum besok aku akan pergi." Jawab Tania.
"Besok aku akan mengambil berkas-berkas kepindahanku dengan datang ke sekolah. Aku rasa kita bisa bertemu." Jawab Tania.
"Apa kau yakin akan pindah sekolah? Padahal kau bisa menunggu hingga kau lulus untuk kembali ke sana." Tanya Tyaga.
"Ya, aku sudah memikirkannya dengan matang." Jawab Tania. "Baiklah, aku akan menutup teleponnya."
Tyaga meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Cklek!
Fokusnya teralih saat pintu ruangan terbuka dan muncul Ares dari luar. Melihatnya, Tyaga menatap kesal pada pemuda itu. Himbauannya berkali-kali mengenai kebiasaan pemuda itu yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu tampaknya tidak dipedulikannya.
"Ada apa lagi kau ke sini? Aku tidak memanggilmu, kenapa kau datang ke sini?" Tegur Tyaga dengan nada suara yang tidak menyenangkan. "Katakan dengan cepat dan segera keluar. Sudah aku katakan kalau aku tidak ingin membuang-buang waktu dengan berbicara dengan orang bodoh."
Ares menahan emosinya agar tidak tersulut mendengar cercaan Tyaga padanya. Tujuannya datang menemui pemuda itu lebih penting untuknya.
"Kau juga sudah melihat mengenai foto yang beredar kemarin ini kan? Foto kau dengan Tania yang berada di sebuah toko pakaian." Ujar Ares langsung menanyakan apa yang ingin dia ketahui. "Aku hanya ingin tahu, apa yang kalian lakukan saat itu?"
__ADS_1
Tyaga mendengus mendengar pertanyaan Ares padanya. Tidak dia sangka kalau Ares akan menanyakan sesuatu mengenai foto yang beredar kemarin.
"Memangnya apa yang kau lihat dari foto itu?" Tyaga balik bertanya.
Ares kesal mendengar Tyaga yang bukan menjawab pertanyaannya melainkan mengajukan pertanyaan lainnya padanya.
"Kau kan bisa tinggal menjawab apa yang aku tanyakan, kenapa kau malah membuatnya menjadi rumit?" Tanya Ares bersungut-sungut. "Kau tahu? Kau benar-benar mirip dengan ayahku. Apa semua orang pintar seperti itu? Kau bisa langsung menjawabnya tanpa membuat semuanya menjadi rumit."
"Aku akan menjawabnya jika memang aku harus menjawabnya, karena itu aku ingin tahu dulu hal yang aku tanyakan padamu." Ujar Tyaga dingin. "Apa alasanmu menanyakan mengenai foto itu? Dan memangnya apa yang kau lihat hanya dari sebuah gambar?"
"Semua orang mengatakan kalau kalian pergi berkencan. Dalam foto ini pun kalian berdua terlihat sangat dekat."
"Sudah aku katakan foto itu hanya sebuah gambar." Ucap Tyaga.
"Karena itu jawablah!" Kesal Ares karena Tyaga tidak langsung menjawab pertanyaannya. "Aku ingin tahu apa kalian pergi bersama?"
Tyaga menyunggingkan senyum skeptis karena melihat rasa kesal Ares.
"Sepertinya aku salah karena datang menemuimu. Seharusnya aku tidak bertanya apapun—"
"Tidak sengaja kami bertemu di sana." Potong Tyaga yang akhirnya menjawab pertanyaan Ares. "Saat itu aku melihatnya sedang melihat sebuah jaket kulit yang tidak mungkin bisa dia beli."
Ares tertegun menyimak jawaban Tyaga. Mendengar perkataan pemuda itu, membuatnya senang karena ternyata anggapan semua orang yang mengatakan kalau mereka berdua pergi berkencan tidaklah benar.
"Aku tahu dia ke sana untuk apa. Bisa saja aku membelikan jaket itu, tapi itu tidak mungkin aku lakukan bukan? Dia pun juga pasti akan menolaknya." Ujar Tyaga. "Sampai akhirnya, dia hanya menanyakan ukuran yang aku pakai. Hanya itu saja."
"Benarkah seperti itu?" Tanya Ares memastikan.
"Kenapa kau tidak bertanya langsung padanya? Aku rasa dia juga akan menjawabnya kalau kau bertanya padanya." Tatap Tyaga dengan heran. "Sepertinya aku lupa kalau kau itu memang sangat bodoh. Meski kau menyukainya tapi kau juga menyalahkannya atas kematian sahabatmu. Benar seperti itu kan?"
Pada kenyataannya, sewaktu Tyaga dan Tania datang bersama menemui Ares di kamarnya, setelah keluar dari kamar pemuda itu, Tyaga tidak langsung pergi. Pemuda itu berdiri di luar dengan menguping pembicaraan antara Tania dan Ares. Itu yang membuatnya mengetahui apa yang terjadi pada kedua orang tersebut yang langsung menjadi terlihat berjauhan.
"Aku mendengar saat kau mengatakan semua itu padanya. Dia mengatakan kalau kau bisa menyalahkannya untuk semua yang terjadi pada sahabatmu agar kau tidak terlalu bersedih. Dan kau benar-benar menyalahkannya."
Ares terdiam. Pemuda itu hanya mengepalkan tangan kanannya dengan tatapan yang terlihat muram karena perkataan Tyaga benar.
"Jika memang seperti itu. Teruslah begitu, kau tidak perlu menemuinya lagi ataupun diam-diam menemuinya." Lanjut Tyaga setelahnya tertawa kecil karena sesuatu hal yang dia ketahui. "Kau sangat menggelikan, kau tidak ingin dia datang menemuimu tetapi kau sendiri yang tengah malam datang menemuinya."
Tak ada yang keluar dari mulut Ares saat mendengar semua cercaan Tyaga padanya.
"Asal kau tahu saja, selain dia yang membuatmu tidak dikeluarkan, dia juga yang membuat musuhmu mencabut laporannya. Kau sangat banyak berhutang budi padanya." Ucap Tyaga. "Dia sangat memedulikanmu dan ingin kau lulus, tapi apa yang kau lakukan padanya?"
__ADS_1
...@cacing_al.aska...