PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
033. BAHAN PEMBICARAAN


__ADS_3

Tok tok tok


Setelah makan malam, Tania yang berada di tempat tinggalnya membuka pintu saat seseorang datang menemuinya.


"Kau sudah makan malam dan minum obat?" Tanya Karen saat Tania membuka pintu.


"Sudah kepala sekolah." Jawab Tania. "Pak Guru memberikan makanan padaku tadi, aku baru saja meminum obatku."


"Bagaimana kondisimu? Kau sudah lebih baik?" Tanya Karen lagi masih berada di ambang pintu.


"Ya, aku rasa sudah jauh lebih baik." Ujar Tania. "Kepala sekolah ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."


Karen duduk di kursi saling berhadapan dengan Tania yang duduk di sisi tempat tidur. Tania berencana ingin mendiskusikan sesuatu pada kepala sekolahnya itu.


"Apa aku boleh merubah peraturan sekolah?" Tanya Tania. "Aku merasa peraturan yang tidak memberikan hukuman untuk pelanggaran sekolah itu sangat aneh."


"Ya tentu saja, setiap ajaran baru, anggota OSIS bisa merubah peraturan sekolah. Kau pun bisa mengatakan hal tersebut dan mendiskusikannya dengan ketua OSIS baru nanti." Jawab Karen. "Mengenai peraturan tersebut... Apa kau yakin ingin merubahnya? Apa itu berarti kau ingin mengembalikan peraturan itu seperti sebelumnya?"


"Ya, lebih baik seperti itu kan? Biar tidak ada murid yang berani melanggar aturan, dan sekolah bisa menghukum mereka." Ujar Tania. "Aku tidak mengerti kenapa peraturan tersebut di rumah menjadi sangat aneh."


"Dulu aku juga berpikir seperti itu. Ketua OSIS yang merubahnya memiliki pemikiran yang berbeda karena melihat seorang murid yang tidak pernah masuk, dan sekalinya masuk selalu membuat onar. Murid tersebut terancam dikeluarkan tapi ketua OSIS itu mengatakan hal yang sebaliknya. Dia bilang jika murid itu dikeluarkan lalu untuk apa sekolah itu ada? Dia menganggap sekolah adalah tempat mendidik bukan menghukum. Karena itu gadis itu merubah peraturan sekolah dengan menghilangkan hukuman. Dia gadis yang unik... Ya, aku tidak heran karena ayah gadis itu pun sangat unik."


Tania melihat senyum diwajah Karen seperti sedang mengenang sesuatu. Mendengar cerita itu, Tania juga merasa kalau ketua OSIS tersebut memiliki pemikiran yang berbeda.


"Siapa gadis itu? Apakah ketua OSIS itu bernama Harmony Fleecysmith?" Tanya Tania. "Dan yang dimaksudkan murid pembuat onar itu, apakah dia Kay?"


Karen mengangguk tipis menjawab pertanyaan tersebut.


Setelah pembicaraan berakhir dan Karen pergi. Tania masih berkutat pada pemikirannya. Gadis itu tidak menyangka kalau dulu Kayden merupakan murid pembuat onar di sekolahnya lima tahun lalu. Peraturan tersebut diubah juga karena pria itu.


"Tidak akan ada yang mengiranya karena dia sangat berbeda sekarang. Dia selalu terlihat santai seperti anak baik-baik." Gumam Tania mengingat bagaimana sifat Kayden yang dia tahu.


Drrrttt drrrttt drrttt

__ADS_1


Masuk sebuah pesan di ponsel gadis itu yang berada di meja belajar. Segera Tania mengambilnya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan di jam segini.


Apa kau sudah makan malam dan meminum obatmu?


Sebuah pesan dari Ares berbunyi demikian.


Tania menghela napas karena merasa heran pada sikap Ares sekarang ini. Hanya karena pemuda itu merasa bertanggung jawab pada apa yang terjadi padanya, dia benar-benar seperti orang yang berbeda sekarang.


Gadis tersebut merasa kalau itu bukan sesuatu hal yang bagus. Dia tidak ingin Ares terus menerus bersikap seperti itu padanya, karena dirinya merasakan sangat risih karena perhatiannya.


Ponselnya berbunyi karena Ares meneleponnya. Pesan yang hanya dibaca dan tidak dibalas membuat pemuda itu langsung menelepon Tania.


Akan tetapi, Tania tidak berencana untuk menjawab telepon tersebut dan langsung mematikan ponselnya. Gadis itu segera menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


...***...


Dengan langkah lebar, Ares berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Pemuda itu tergesa-gesa dengan rambut yang masih berantakan dan belum disisir.


"Kenapa tidak ada yang membangunkan aku?!" Geram Ares dengan suara keras. Kalimat itu ditujukan pada seisi rumahnya.


Hanya ada kedua adik kembarannya yang sedang sarapan di meja makan. Mereka berdua langsung melihat kehadiran kakak laki-laki mereka yang tampilannya masih sangat berantakan itu.


"Kau mau sekolah? Aku pikir kau tidak akan ke sekolah lagi." Ujar Athena yang duduk di meja makan bersama dengan kembarannya.


"Kak Es, sekarang akan ke sekolah? Apa karena gadis kacamata itu? Siapa namanya?" Kali ini Aphrodite yang duduk di samping kembarannya menatap Ares yang sedang sibuk memakai sepatu.


"Tania." Jawab Athena. "Apa kau menyukai gadis itu? Ya sepertinya kau menyukainya, kalau tidak mana mungkin kau mau datang ke sekolah."


"Benar sekali. Kita selalu mendengarkan semua perkataan orang yang kita cintai. Sepertinya itu juga terjadi denganmu, Kak." Timpal Aphrodite dengan senyuman.


"Kalian berdua berisik!" Hardik Ares bangkit berdiri setelah memakai sepatunya. "Jangan mengatakan omong kosong! Aku hanya ingin bertanggung jawab untuk semua perbuatanku padanya."


Setelah mengatakan hal tersebut, Ares mengambil selembar roti tawar dan menggigit sudutnya sambil memakai jaket dan langsung bergegas berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Kita lihat saja bagaimana selanjutnya." Ujar Athena sambil mengunyah sarapannya.


"Ya, tidak mungkin jika hanya ingin bertanggung jawab dia sampai rajin ke sekolah seperti itu. Biasanya jam segini dia belum bangun." Timpal Aphrodite.


Ares melajukan motornya dengan sangat cepat. Pemuda itu hanya memiliki waktu sepuluh menit sebelum jam masuk sekolah, sedangkan dia harus menjemput Tania lebih dulu.


Motornya berhenti di depan rumah Kayden, Tania langsung berdiri saat pemuda itu datang.


Ares merasa lega karena Tania masih menunggunya dan tidak langsung berangkat ke sekolah seorang diri.


Segera Tania berjalan keluar pekarangan untuk menghampiri Ares.


"Untunglah kau masih menungguku. Aku benar-benar kesiangan hari ini." Ucap Ares sesaat setelah melepas helm yang dikenakannya. "Ambillah." Ares memberikan Tania helm lainnya.


"Lebih baik besok kau tidak perlu menjemputku. Jujur saja, seharusnya sebagai ketua OSIS aku harus datang jauh lebih pagi dari murid lainnya." Ujar Tania.


"Maafkan aku." Jawab Ares. "Kenapa kau tidak menjawab pesanku? Kau juga tidak mengangkat telepon—"


"Aku ingin istirahat karena itu aku tidak membalas ataupun menerima teleponmu. Lagi pula, aku bukanlah anak kecil yang harus diingatkan makan atau pun minum obat. Kau tidak perlu mengirim pesan atau meneleponku untuk menanyakan hal seperti itu. Itu sangat tidak berguna untukku." Sahut Tania setelah itu memakai helm dan langsung bergegas naik ke atas motor


Ares hanya bisa berdecak mendengar jawaban dingin Tania.


Secepatnya Ares menjalankan motornya setelah memakai kembali helm-nya.


Waktu kurang lima menit sebelum bel masuk sekolah berbunyi, saat mereka berdua tiba di sekolah. Ketika mereka berdua turun dari motor, tatapan para murid lainnya mengarah pada Ares dan Tania. Sayup-sayup terdengar bisikan dari mereka.


Bisikan tersebut membahas bagaimana kedekatan antara Ares dan Tania sekarang ini. Setelah Ares yang tidak sengaja menabrak hingga bibir mereka bersentuhan, kemarin Ares diketahui menjaga Tania saat di rumah sakit, bahkan saat ini Tania datang bersama dengan pemuda itu dengan motornya.


Ares maupun Tania mengetahui kalau mereka berdua menjadi bahan pembicaraan di sekolah saat ini.


"Kenapa mereka semua melihat pada kita berdua?" Tanya Ares mendekati Tania dan berbisik pada gadis itu.


Gestur tubuh Ares saat ini membuat Tania menjadi kesal, karena pemuda itu berdiri di dekatnya, yang pastinya membuat siapa saja semakin yakin kalau hubungan diantara dirinya dan Ares berkembang sudah sangat jauh.

__ADS_1


"Menjauhlah! Saat di sekolah kau tidak perlu mendekatiku!!?" Seru Tania dengan suara perlahan dan langsung jalan meninggalkan pemuda tersebut.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2