PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
048. MENYELAMATKAN


__ADS_3

Kayden berada di atap sekolah sedang merokok. Itu merupakan tempat favoritnya saat sedang menghabiskan jam istirahat.


Pintu menuju tempat itu terbuka, Ares berjalan mendekati wali kelasnya yang berdiri memunggunginya.


Pemuda itu berdiri di samping Kayden dengan melihat sinar matahari siang yang sangat terik.


"Di sini sangat panas, apa kau tidak kepanasan, Pak Guru?" Tanya Ares sambil menghalangi matanya dengan tangan dari cahaya matahari.


"Bagaimana? Kau sudah siap untuk pertandingan terakhir?" Tanya Kayden sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


"Ya, aku rasa sudah. Aku sangat yakin kalau kali ini aku akan menang." Jawab Ares. "Kau tahu kan keluarga Sanzio itu sangat pantang menyerah? Aku pasti bisa mengalahkanmu."


Kayden mendengus dengan tawa kecil menanggapi ocehan pemuda yang berdiri di sampingnya.


"Sialan! Kau seperti sedang meremehkan aku!" Seru Ares kesal. "Oh iya Pak Guru, kenapa kau malah menjadi seorang guru dan bukan menjadi pembalap seperti sahabatmu Symphony?"


Kayden menoleh pada Ares mendengar pertanyaannya. Pria itu membuang sisa barang rokok ke bawah dan menginjaknya untuk mematikan api rokok tersebut.


"Aku akan menjawabnya kalau kau bisa mengalahkan aku." Ujar Kayden setelah itu berbalik untuk masuk ke dalam gedung sekolah.


"Akhir pekan ini." Seru Ares menoleh pada kepergian Kayden dan membuat wali kelasnya itu berhenti melangkah. "Kita akan melakukan pertandingan terakhir di akhir pekan ini. Aku pasti bisa mengalahkanm, The Bloody Rose!!"


Kayden mendengus kembali sambil melangkahkan kakinya lagi meninggalkan tempat itu.


Tidak lama Ares berjalan mengikuti gurunya itu untuk turun ke lantai di mana kelasnya berada.


Saat yang bersamaan Tania berjalan hendak ke ruang guru melihat mereka berdua. Tujuan gadis itu memang untuk menemui Kayden, guru yang bertanggung jawab untuk pemilihan ketua OSIS selanjutnya.


Di tangan Tania membawa amplop yang diberikan Dyara tadi. Dia sudah melihat isinya dan tidak ada kekurangan, sehingga berniat langsung memberikannya pada Kayden.


"Kebetulan sekali, aku ingin ke ruang guru untuk menemuimu." Ujar Tania yang sebelumnya melirik ke arah Ares yang muncul dari tangga yang mengarah ke atas.


"Ya, katakan ada apa?" Tanya Kayden mendekati Tania.


Ares hanya berdiri di anak tangga yang posisinya masih berada di atas, memperhatikan Tania bersama dengan Kayden.


"Aku suka memeriksanya dan tidak ada kekurangan. Ini adalah persyaratan yang diajukan murid pindahan untuk mencalonkan diri menjadi kandidat ketua OSIS." Ujar Tania menyodorkan amplop cokelat yang dibawanya.


"Murid pindahan?" Tanya Kayden tampak heran sambil menerima amplop tersebut. "Gadis yang juga di rumah sakit itu ya? Dia ingin menjadi ketua OSIS?"

__ADS_1


"Ya, karena itu dia memberikan persyaratannya itu tadi." Jawab Tania.


"Oke, aku juga akan memeriksanya. Tapi aku tidak terlalu yakin pada gadis itu. Bagaimanapun dia baru saja pindah ke sini kemarin. Akan sangat aneh kalau dia langsung terpilih menjadi ketua OSIS." Terang Kayden.


"Kau periksa saja dulu itu semua." Seru Tania.


"Ya ya ya..." Jawab Kayden setelah itu berjalan pergi meninggalkan Tania.


Sebelum berbalik Tania melihat pada Ares yang masih berdiri di atas tangga, memperhatikan dirinya dan Kayden tadi. Tanpa mengatakan apapun, gadis itu melangkah pergi.


"Tunggu dulu! Aku ingin komplain sesuatu padamu." Seru Ares langsung menghentikan langkah Tania.


Segera Ares berjalan menuruni tangga dengan langkah yang cepat untuk mendekati gadis itu.


"Kenapa kau memberikan aku soal-soal yang lebih susah dari biasanya?" Protes Ares dengan tatapan kesal pada Tania. "Aku belum berhasil mengerjakan semua soalnya. Dan lagi kenapa kau memberikan aku seratus soal sekaligus?"


"Kau bisa mngerjakannya dengan cepat kalau kau berniat belajar lebih serius. Itu semua bukanlah alasan." Jawab Tania datar.


"Apa kau bisa menjelaskan aku mengenai soal matematika tersebut?" Tanya Ares terlihat meyakinkan.


"Aku sudah pernah menjelaskan padamu mengenai semua itu. Kalau kau serius belajar seharusnya kau sudah tahu bagaimana mengerjakan soal-soal tersebut." Jawab Tania.


"Kak Ares."


Suara Dyara yang memanggil Ares terhenti. Pemuda tersebut langsung mengarah ke koridor sekolah di mana Dyara sedang berjalan ke arah Ares dan Tania.


Ares berdecak kesal saat melihat sosok gadis tersebut. Sedangkan Tania langsung berjalan pergi dari sana melewati Dyara yang melihat padanya.


"Aku mencari kakak sejak istirahat. Nomermu tidak aktif? Aku meneleponmu tapi tidak tersambung." Ujar Dyara saat menghampiri Ares. "Pulang nanti kau mau bertemu dengan teman-temanmu lagi?"


Ares mengangguk menjawabnya.


"Baiklah, tidak masalah. Ya sudah kalau begitu. Aku akan menghubungimu nanti." Ujar Dyara hendak berjalan meninggalkan Ares.


Tiba-tiba Ares memegang lengan kiri gadis itu. Dan memperhatikan telapak tangan Dyara yang menggunakan plester. Pemuda itu menjadi teringat mengenai perkataan temannya—Brodie.


"Ada apa dengan telapak tanganmu?" Tanya Ares yang baru melihat plaster tertempel di telapak tangan gadis itu.


Dyara terlihat mengalihkan bola matanya dari tatapan Ares. Gadis itu terlihat berpikir.

__ADS_1


"Kemarin aku terjatuh saat sampai depan rumahku. Karena bergegas turun, aku tidak memperhatikan langkahku. Untung saja aku hanya jatuh terduduk karena menahan tubuhku dengan tangan kiri, dan hanya telapak tangan ini yang lecet." Jawab Dyara.


Melihat sikap Ares, gadis itu menjadi merasa senang. Entah bagaimana Ares terlihat seperti memperhatikannya.


"Lebihlah berhati-hati saat melangkah." Ujar Ares.


"Ya, aku akan mendengarkanmu, Kak." Senyum Dyara.


Ares berjalan menuju tempat parkir di mana motornya berada. Bel pulang berbunyi lima belas menit lalu, pemuda itu harus ke toilet terlebih dahulu karena tiba-tiba saja perutnya sakit.


"Ya, aku sudah mengatakannya pada wali kelasku mengenai tantangan pertandingan terakhir kami. Aku sangat yakin akan menang." Ujar Ares berbicara di telepon dengan Anton.


Pemuda itu menaiki motornya dan duduk sesaat di atasnya untuk berbicara dengan sahabatnya itu di telepon.


"Kalian di mana? Aku akan mentraktir kalian makan malam hari ini." Ujar Ares. "Sepertinya sudah lama aku tidak mentraktir kalian semua." Seru Ares.


"Kami semua sudah berada di tempat bilyar. Datanglah ke sini, aku ingin menantangmu bertanding." Jawab Anton. "Ngomong-ngomong apa kau sudah menanyakan hal mengenai yang sebenarnya terjadi dengan gadis bernama Dyara itu?"


"Tidak, aku tidak menanyakannya. Aku merasa itu bukan urusanku." Jawab Ares. "Aku tidak ingin ikut campur masalah yang tidak terjadi di depanku. Tapi itu semua berbeda jika aku melihatnya langsung."


"Okelah. Cepatlah datang ke sini. Aku tidak sabar mengalahkanmu."


Setelah menutup teleponnya, Ares segera memakai helm dan menghidupkan motornya. Pemuda itu segera berjalan menuju gerbang sekolah.


Perhatiannya teralihkan ketika baru saja keluar dari sekolah, dia melihat sebuah mobil berhenti di depan seorang gadis yang cukup dirinya kenal. Gadis tersebut berdiri di jarak sekitar lima puluh meter dari sekolah.


"Bukannya mereka itu...?" Tanya Ares sambil berpikir.


Merasa sesuatu yang dilihatnya bukanlah hal yang baik, Ares langsung memutar kembali motornya untuk menghampiri gadis tersebut yang sedang bersiteru dengan pemuda yang keluar dari mobil berjenis sedan.


Pemuda yang memakai seragam sekolah lain itu terlihat menarik si gadis dengan sangat kasar agar masuk ke dalam mobilnya, namun si gadis berusaha untuk menolaknya.


"Sialan, kau! Berani sekali kau menolakku sekarang!!" Geram si pemuda arogan melayangkan tangannya untuk memukul gadis itu.


Beruntung Ares lebih dulu sampai dan langsung menahan lengan pemuda yang merupakan rivalnya, sebelum sempat tangan itu mendarat ke wajah gadis cantik yang dikenalnya tersebut.


"Kak Ares?"


Gadis tersebut merasa sangat lega ketika Ares datang menyelamatkannya. Dia adalah Dyara.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2