
Ares baru saja selesai berpakaian, bersiap-siap pergi ke sekolah dengan memakai seragam sekolahnya. Berdiri di depan cermin sedang menyisir rambutnya dan mengaturnya sedemikian rupa. Sambil melakukannya, pemuda itu bersenandung dengan penuh keceriaan.
Kegiatannya terhenti saat seseorang mengetuk pintu kamar di mana dirinya berada.
"Siapa yang datang?" Tanya Ares heran seraya berpikir. "Apa si kacamata?"
Segera Ares berjalan menuju pintu untuk membukanya. Ternyata dugaannya salah, yang datang bukanlah Tania melainkan Tasya—ibunya.
Tasya segera melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar tersebut. Melihatnya, Ares merasa aneh karena ibunya tersebut seperti itu.
"Ada apa, Ma?" Tanya Ares dengan mengernyit dahinya karena rasa bingung.
"Tadi kau bilang kalau kau mengambil seragam sekolahmu, karena itu kau masuk ke kamarmu? Apa itu benar, Sayang?" Tanya Tasya dengan tatapan penuh selidik.
"Y—ya, tadi aku bilang begitu kan pada Mama." Jawab Ares menjadi sedikit takut kalau Tasya mencurigai dirinya melakukan sesuatu tadi.
"Katakan pada mama, apa yang saja yang kau lakukan saat masuk ke dalam kamarmu?"
"Apa? A—ku hanya mengambil seragamku di le—lemari, setelahnya keluar. Ha—hanya itu yang aku... Lakukan di—di dalam kamarku." Jawab Ares tergagap. "Memangnya apa lagi yang aku lakukan?" Kali ini suara Ares terdengar lebih kencang dan mantap saat mengatakannya.
"Baiklah, mama percaya padamu. Mama yakin kau anak baik yang tidak akan mencari kesempatan saat gadis yang kau suka sedang tertidur." Ujar Tasya setelah itu membalikkan badannya, hendak keluar dari sana."
"Se—sebenarnya... Aku menciumnya." Seru Ares membuat Tasya kembali berbalik melihat padanya dan tidak jadi keluar.
Setelah mendengar perkataan Tasya, Ares merasa tidak enak kalau dirinya membohongi ibunya tersebut.
"Apa mama tidak salah dengar?" Tasya memastikan dengan wajah yang terkejut. "Apa yang barusan kau katakan, Sayang?"
"Aku juga menciumnya tadi." Ulang Ares dengan nada suara yang perlahan dan rasa takut kalau dirinya akan menerima amarah dari ibunya.
"Sudah mama duga, kau memang mirip mama." Sahut Tasya dengan senyuman dengan memegang pundak kanan Ares dengan tangannya.
Melihat reaksi ibunya, membuat Ares sungguh terkejut. Dia pikir kalau dirinya akan dimarahi habis-habisan kalau mengatakan hal tersebut, namun yang terjadi ibunya bersikap aneh dengan memberikan senyuman padanya.
"Kau tahu, dulu mama juga diam-diam masuk ke kamar Papamu dengan bantuan Paman Oto, itu semua hanya untuk mencium Papa dengan mengucapkan selamat pagi padanya." Ujar Tasya mengingat kejadian yang berpuluh-puluh tahun lalu terjadi. "Itu hal yang wajar, saat kita menyukai seseorang, kita jadi ingin menciumnya."
"A—apa itu berarti tidak masalah kalau—"
"Tentu saja masalah!" Seru Tasya, kali ini wajahnya serius dengan melepaskan tangannya dari pundak putranya. "Jangan melakukannya lagi tanpa persetujuan darinya. Kau benar-benar anak nakal, Es. Jangan melakukan hal lebih dari itu, mengerti?"
Ares hanya mengangguk menjawab seruan ibunya. Pasalnya dirinya kembali menjadi takut karena ibunya itu menunjukkan ekspresi wajah yang berubah drastis padanya.
"Sekarang turunlah, kita sarapan bersama. Tania juga sudah berada di meja makan." Ujar Tasya setelahnya berbalik hendak membuka pintu. "Ah iya, kau memakai parfum? Ya, semoga saja gadis itu menyukai harumnya."
__ADS_1
Setelah menggoda putranya dengan ucapannya, Tasya keluar dari kamar itu.
"Ternyata putraku sudah besar. Aku akan memberitahu Ato, dia pasti akan terkejut kalau tahu ternyata putranya tidak mirip dengannya." Ucap Tasya diiringi tawa kecil sambil berjalan menuju tangga.
Di dalam kamar, Ares masih mematung mendengar godaan ibunya. Dia mulai tersadar kalau tadi tanpa dirinya sadari, pemuda itu seperti mengakui kalau dia menyukai Tania.
"Kenapa jadi seperti ini?" Gumam Ares masih terpaku.
Segera dirinya mengendus-endus tubuhnya untuk mencium aroma parfum yang dipakainya. Tanpa dia sadari, tadi dirinya menyemprotkan cairan itu terlalu banyak hingga saat ini tubunya tercium aroma yang sangat menyengat.
"Argh! Apa yang harus aku lakukan dengan ini? Sudah tidak ada waktu lagi." Kesal Ares.
Tania sudah berada di meja makan bersama dengan si kembar dan Tasya. Gadis itu sudah siap untuk berangkat sekolah dan saat ini sedang menikmati sarapan paginya bersama dengan keluarga itu.
"Kak Tania, apa ketua OSIS yang baru sudah punya kekasih?" Tanya Aphrodite. "Kalau dilihat pasti belum kan?"
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya belum karena di sekolah meski banyak yang menyukainya, tak ada satupun yang berani mendekatinya." Jawab Tania.
"Benarkah? Itu bagus sekali. Aku akan mengikuti ujian masuk ke sekolahmu besok. Aku berharap bisa masuk agar aku bisa mendekatinya." Ujar Aphrodite dengan senyuman.
"Ck! Kalau begitu kali ini kita akan berpisah. Aku tidak ingin masuk ke sekolah itu." Sahut Athena.
"Sebaiknya kalian berdua memang masuk ke sekolah itu. Papa pasti juga ingin seperti itu." Ucap Tasya dengan memulas senyuman.
"Ya itu benar, Thena." Seru Aphrodite dan membuat kembarannya berdesis. "Oh iya Kak, sabtu ini Kak Es ulang tahun dan akan ada pesta ulang tahun. Kau pasti datang kan? Pasti Kak Es akan memintamu mendampinginya nanti."
Tania tidak menjawab karena dirinya tidak mengerti dengan perkataan mereka mengatakan seperti itu padanya. Dan itu membuat dirinya menjadi bingung harus menjawab apa.
Ares berjalan turun dari tangga dan langsung menuju meja makan. Pemuda itu sempat menahan langkahnya saat melihat Tania yang duduk memunggunginya. Namun dirinya mencoba bersikap biasa saja dan segera duduk di kursi yang ada di samping Tania.
"Wow, tumben sekali kau menata rambutmu, biasanya kau tidak pernah menyisirnya karena nanti juga akan hancur karena helm yang kau pakai." Seru Athena melihat ada yang aneh pada kakaknya itu.
Perkataan adiknya itu membuat Ares sedikit malu dan pemuda itu melirik pada Tania yang tampak tidak menghiraukannya, dengan fokus memakan sarapan serta mengarahkan tatapannya ke layar ponsel miliknya.
"Sudah, cepatlah sarapan setelah itu berangkat ke sekolah." Ujar Tasya.
"Sebaiknya aku berangkat sekarang. Tyaga baru saja mengirimkan aku pesan agar aku datang pagi-pagi sekali. Masih ada hal yang harus kami selesaikan sebagai anggota OSIS." Ucap Tania sambil memasukan ponselnya ke tas yang ada di pangkuan gadis itu.
"Apa? Aku baru saja mau sarapan." Protes Ares melihat Tania.
"Kau bisa sarapan, aku akan berangkat sendiri ke sekolah." Jawab Tania setelahnya bangkit berdiri. "Nyonya, terimakasih untuk sarapannya. Aku juga minta maaf karena sudah merepotkanmu."
"Tidak masalah." Senyum Tasya.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu." Pamit Tania pada Tasya dan kedua si kembar.
Segera Tania berjalan mengarah ke pintu dan langsung keluar dari rumah itu.
"Tunggu sebentar!" Seru Ares yang datang menyusul Tania saat gadis itu berada di luar rumahnya.
Tania menghentikan langkahnya dan menatap heran pada Ares.
"Aku akan berangkat ke sekolah bersama denganmu." Ujar Ares setelahnya menyambar lengan Tania agar mengikutinya menuju garasi di mana motornya terparkir.
Ares memakaikan helm pada Tania dan langsung naik ke atas motornya.
"Cepatlah!" Seru Ares sambil menghidupkan mesin motornya.
Tania segera naik ke atas motor mengikuti perintah Ares.
"Berpeganganlah." Seru Ares dan langsung menjalankan motornya dengan sangat cepat.
Karena itu, Tania langsung berpegangan pada Ares dengan melingkarkan lengannya ke pinggang pemuda itu.
Ares dengan sengaja melajukan motornya dengan sangat cepat agar Tania berpegangan padanya seperti itu, karena jika biasanya, gadis itu hanya memegang jaket yang dipakainya.
Tersungging senyuman di balik helm pemuda itu.
Jam enam lewat sepuluh menit, mereka sampai di sekolah. Sekolah masih tampak lengang dan tidak terlihat satu pun murid di halaman depan sekolah. Hanya ada beberapa kendaraan yang terparkir di parkiran.
Tania turun dari motor Ares. Ketika gadis itu hendak membuka helm yang dipakai, tiba-tiba Ares menariknya untuk lebih mendekat padanya.
Tania terkejut pada apa yang dilakukan Ares, karena pemuda itu langsung membantunya membuka helm yang dipakainya. Bahkan, dia juga membenarkan posisi kacamata Tania.
"Ada apa denganmu?" Tanya Tania heran.
"A—apa?" Tanya Ares yang masih berada di atas motor. "Anggap saja aku membalas kebaikanmu karena mau membantuku belajar."
"Kalau seperti itu, kau tidak perlu melakukannya." Jawab Tania. "Kau kan sudah berjanji akan membayarku."
Jawaban Tania membuat Ares menjadi bingung.
"Jangan bersikap seperti itu lagi, semua orang akan salah paham saat melihatnya." Tambah Tania setelahnya berjalan pergi dari sana.
Ares hanya melihat kepergian Tania tanpa bisa berkata apapun lagi. Dirinya masih tidak ingin mengatakan rasa sukanya pada gadis itu, bahkan masih ada sedikit perasaan yang membuatnya enggan mengakui hal tersebut.
Dari kejauhan tanpa mereka berdua sadari, Dyara yang baru saja berjalan masuk, melihat kedekatan antara Ares dan Tania. Itu membuat gadis itu menjadi kesal.
__ADS_1
"Aku harus melakukan sesuatu!" Kesal Dyara.
...@cacing_al.aska...