
Seminggu berlalu dengan sangat cepat, selama itu juga Ares dan Tania tidak belajar bersama. Meski begitu Ares tetap masuk ke sekolah seperti sebelumnya, bahkan pemuda itu giat belajar seorang diri.
Sedangkan Tania di sibukkan dengan acara pergantian ketua OSIS yang akan diadakan sebentar lagi. Setiap hari, sepulang sekolah gadis itu rapat OSIS dan selalu pulang menjelang malam.
Kabar mengenai kedekatan keduanya pun menghilang setelah Ares dan Tania tidak terlihat bersama lagi.
Bel istirahat berbunyi di hari senin yang cerah. Seperti biasanya, Tania selalu menuju ruang OSIS untuk sekedar mempersiapkan materi pembahasan rapat nanti saat pulang sekolah.
Ares memperhatikan kepergian Tania dengan tatapan tajam. Terlihat rasa kesal dari raut wajahnya tersebut memandang punggung gadis yang duduk di depannya hingga menghilang dari pandangannya.
Meski dirinya menerima dengan keputusan Tania, namun tetap saja ada hal yang membuat pemuda itu merasa sangat kesal setiap kali melihat Tania yang seperti tidak menganggap keberadaannya.
Walaupun begitu, tak ada yang bisa dia lakukan untuk meluapkan rasa kesalnya pada gadis tersebut. Karena hal itu, Ares hanya terus menatap pada Tania setiap kali pemuda itu merasa kesal.
Drrrtt drrrtt drrrtt
Ponselnya berbunyi, masuk sebuah pesan yang Ares terima dari wali kelasnya—Kayden. Pria itu meminta anak muridnya itu untuk datang menemuinya di ruang guru, karena ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan olehnya bersama dengan Ares.
"Mau apa dia memanggilku?" Ares berdecak heran.
Ares tidak ingin memikirkan apa yang hendak dikatakan Kayden padanya. Tentu saja dia juga sudah tahu kalau wali kelasnya itu pasti akan membicarakan sesuatu rahasia di antara mereka berdua.
"Ada apa, Pak Guru?" Tanya Ares yang langsung duduk di kursi yang ada di depan meja yang di mana Kayden sedang duduk di seberangnya. "Sepertinya yang ingin kau bicarakan bukan urusan sekolah."
"Ares, bapak senang melihat perkembangan musik dalam belajar. Nilai test matematika kemarin nilainya meski tidak terlalu bagus tapi untuk ukuran murid yang baru masuk ke sekolah lagi sepertimu itu sudah luar biasa." Ujar Kayden dengan ekspresi menyenangkan, tentu saja semua itu karena saat ini dirinya berada di sekolah. "Apa kau tahu? Beberapa guru membicarakan tentang kemajuanmu. Teruslah belajar hingga ujian kelulusan nanti. Bapak yakin kalau kau semakin meningkatkan belajarmu, maka kau akan lulus sekolah dengan mudah."
Ares menghela napas dengan sengaja setelah mendengar ocehan Kayden. Pemuda itu tidak memedulikan apa yang dikatakan Kayden, dan lebih menunggu apa yang ingin Kayden katakan selanjutnya.
"Apa hanya itu yang ingin kau katakan?" Tanya Ares dengan tatapan sangat tajam dengan tubuh yang bersandar ke kursi.
__ADS_1
"Ya, memangnya apa lagi yang ingin bapak katakan?" Senyum Kayden memperlihatkan lesung pipi tunggal di pipi kanannya.
"Cih, aku tahu ada yang ingin kau katakan padaku, The Bloody Rose." Seru Ares menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.
Mendengar nama itu disebut Ares, tatapan Kayden seketika berubah. Pria itu menatap Ares dengan dingin dan tajam.
"Aku akan menunggu tantangan darimu. Saranku persiapkan semuanya dengan matang karena pertandingan kali ini adalah yang terakhir kalinya. Aku tidak akan meladenimu lagi setelah ini, mau kau kalah atau menang dariku." Ucap Kayden dengan sangat serius. "Jujur saja, di dua pertandingan itu aku belum menggas motorku dengan maksimal." Senyum sombong terukir di wajah Kayden.
Melihat ekspresi pria yang ada di hadapannya ditambah kata-kata angkuh yang terlontar darinya, membuat rasa kesal Ares membuncah, namun pemuda itu menahannya. Tidak mungkin dirinya meledak di ruang guru meski seseorang terlihat meremehkan dirinya tepat di depan wajahnya.
"Baiklah, kau boleh keluar sekarang. Tingkatkan nilaimu lagi ya agar kau bisa lulus nanti. Bapak akan selalu siap membantumu jika kau membutuhkan bimbingan belajar dari bapak." Kayden kembali merubah raut wajahnya dan kembali seperti seorang guru teladan.
Ares mendengus kesal mendengarnya.
...***...
Di lain tempat, Tania yang berada di ruang OSIS sedang sibuk di depan layar laptop. Sambil mengetik, sesekali gadis itu menggigit roti yang menjadi menu makan siangnya.
Suara pintu yang terbuka mengejutkan Tania yang sedang berkonsentrasi pada kerjaannya. Fokusnya langsung terpecah pada kehadiran seseorang yang membuka pintu dengan kasar tersebut.
"Jangan membuka pintu seperti itu, Wanda!" Seru Tania yang merasa terganggu pada sekertaris OSIS yang hadir di sana.
"Ketua OSIS, apa kau tahu mengenai kabar yang yang sedang heboh sejak pagi tadi?" Wanda berjalan mendekati Tania.
Tania sama sekali tidak mengerti Wanda membahas mengenai hal apa. Gadis itu hanya menatap Wanda saja tanpa menjawab.
"Kau tahu? Seseorang yang sangat luar biasa baru saja pindah ke sekolah kita." Ujar Wanda dengan menggebu-gebu.
"Apa maksudnya? Luar biasa? Siapa dia?" Tanya Tania yang menjadi penasaran.
__ADS_1
"Astaga, tiba-tiba aku lupa siapa dia... Yang pasti, dia adalah seorang gadis yang cantik dan sedang menjadi perburuan para pria saat ini." Terang Wanda. "Tapi aku lupa siapa namanya, karena jujur saja, sebelum kabar kepindahannya beredar, aku sama sekali tidak tahu dia siapa."
"Kau ini sangat aneh. Jangan memberitahu kabar setengah-setengah seperti itu. Kau hanya membuat orang lain penasaran." Seru Tania kembali mengarahkan tatapannya ke layar laptop karena berencana untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Tunggu sebentar, aku akan mencari tahu siapa nama gadis itu. Kalau perlu aku akan menunjukkannya padamu akun media sosialnya." Ujar Wanda setelahnya bergegas keluar dari ruangan.
Tania hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu saat keluar dari ruangan. Setelahnya gadis itu kembali pada kesibukannya.
"Katakan, apa yang ingin kau sampaikan padaku hingga memintaku untuk ke tempat ini?"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tidak asing di telinga Tania. Suara seorang pemuda yang selama seminggu lalu selalu berada du dekatnya.
Mendengarnya membuat Tania kehilangan fokus, dan langsung melihat ke sekeliling ruangan kalau-kalau ternyata orang yang memiliki suara itu bersembunyi di dalam ruangan tersebut.
Namun tidak ada siapapun di sana. Ya, tentu saja, sejak masuk ke dalam ruangan itu pun memang tidak ada siapapun di sana.
"Maafkan aku karena tiba-tiba ingin bicara denganmu, Kak."
Kali ini suara seorang gadis yang terdengar. Tania langsung bangkit berdiri dari duduknya dan menoleh ke arah belakang. Gadis itu merasa suara itu berasal dari luar ruangan.
Segera Tania bergegas mendekati jendela ruang tersebut dan membukanya untuk mencari tahu mengenai suara kedua orang yang di dengarnya. Jendela itu mengarah ke belakang gedung sekolah di mana seharusnya tak ada siapapun di sana.
"Sebenarnya sudah sejak lama aku menyukai Kakak, aku dengar hubunganmu dengan ketua OSIS sudah berakhir karena itu aku ingin mengatakannya padamu. Aku menyukaimu dan ingin berpacaran dengan Kakak."
Saat yang bersamaan Tania agak mencondongkan kepalanya keluar jendela yang sebelumnya dia buka, untuk melihat siapa yang sedang berbicara tersebut.
Gadis itu tersentak kaget karena dugaannya benar, Ares lah pemuda yang sedang berbicara dengan seorang gadis di belakang sekolah.
Yang lebih mengejutkan lagi, Ares melihat pada Tania yang terlihat seperti sedang menguping tersebut.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...