
Ares bersama dengan Tania, duduk dengan Prothos—Paman pemuda tersebut, di sebuah restoran steak yang dicari Ares.
"Benarkah kalian tidak sedang kencan?" Tatap Prothos dengan penuh selidik.
Tania terus menatap pria berumur yang duduk di deretan hadapannya dengan pikiran yang penuh dengan tanya.
Gadis itu sangat ingin mengetahui kebenaran mengenai alasan dikeluarkannya sang ibu dari sekolah secara tidak hormat itu.
"Tentu saja, kami bukan kekasih. Paman jangan mengatakan hal-hal yang aneh seperti itu." Seru Ares yang duduk tepat di hadapan Prothos dan di samping Tania.
"Tapi kalian teman sekolah kan? Siapa namamu?" Tanya Prothos, kali ini menatap pada Tania.
"Namaku Tania. Saat ini aku adalah ketua OSIS di sekolah yang dulu juga sekolah anda." Jawab Tania menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
Prothos menyambutnya dengan kehangatan dan menatap Tania dengan lekat. Pria itu melihat mata gadis yang ada di hadapannya tersebut secara seksama.
"Matamu sangat mirip dengan seseorang." Ucap Prothos dengan tatapan yang terlihat menerawang.
Tania langsung dapat memperkirakan siapa yang dimaksudkan olehnya. Bola mata gadis itu menurun dari sang ibu yang juga memiliki warna cokelat terang.
"Benar kau ketua OSIS?" Tanya Prothos lagi, tangan mereka masih bertautan.
Hanya anggukan perlahan jawaban dari Tania, sambil menarik tangannya dari genggaman Prothos.
"Itu sangat bagus. Berarti kau adalah gadis yang pintar." Lanjut Prothos dengan sebuah senyuman. "Kau harus membuat bocah ini lulus sekolah nanti, atau ayahnya akan membunuhnya."
"Aku yang akan lebih dulu membunuhnya sebelum itu." Sahut Tania membuat Prothos tertawa.
"Kau ini bicara apa, aku akan lulus dengan sangat mudah. Aku ini sangat cerdas seperti ayahku." Tandas Ares dengan mendesis kesal.
Setelah mereka berdua berpisah dengan Prothos, dan mengambil kacamata, Ares dan Tania langsung berjalan kembali ke rumah Kayden.
"Prothos... Maksudku pamanmu, apa kau tau sesuatu mengenainya dulu?" Tanya Tania saat ada di dalam mobil di tengah perjalanan.
"Apa maksudnya? Dulu? Aku tidak mengerti pertanyaanmu." Jawab Ares sambil sesekali menoleh pada gadis itu.
__ADS_1
"Lupakan." Jawab Tania setelahnya menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela pintu mobil.
"Tumben sekali kau menghela napas?" Komen Ares namun tidak dapat tanggapan dari Tania yang malas mengatakan apapun pada pemuda itu.
Gadis itu sangat ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi pada ibunya dulu. Pasalnya setiap kali Tania bertanya pada Widia apakah ibunya itu membenci orang yang menyebabkannya diberhentikan secara tidak hormat, ibunya selalu menjawab tidak. Hal itu yang membuatnya menjadi sangat ingin tahu kebenarannya.
"Kau selalu berjalan kaki saat ke sekolah kan? Besok aku akan menjemputmu." Perkataan Ares memecahkan lamunan Tania. "Aku akan menjemputmu besok, aku juga akan mengantarmu pulang. Kau tidak pulang dan pergi bersama dengan Pak Guru, kan? Karena itu aku akan melakukannya hingga kau benar-benar sembuh. Mungkin dalam minggu ini."
"Jarak dari sekolah ke tempatku tinggal tidak jauh, kau tidak perlu melakukannya. Aku akan seperti biasa, berjalan kaki saja." Jawab Tania dengan tatapan lurus ke depan jalan.
"Dengan begitu juga, kau bisa memastikan aku menepati perkataanku yang akan mulai masuk ke sekolah, kan?" Seru Ares.
"Terserah kau saja." Jawab Tania yang sedang malas berpikir.
Ketika mobil mereka tiba di depan rumah Kayden, di pekarangan rumah itu sudah terdapat sepuluh anak menunggu kedatangan Tania. Anak-anak yang merupakan murid sekolah dasar itu adalah murid les private gadis itu.
"Siapa mereka semua?" Tanya Ares heran pada kehadiran kesepuluh anak itu.
Pemuda itu menoleh pada Tania, namun bukannya menjawab, gadis itu malah segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam pekarangan rumah.
"Aku pikir kita akan belajar sekarang." Jawab Ares mengernyitkan dahinya.
"Apa aku belum pernah bilang kalau aku tidak akan belajar denganmu saat akhir pekan?" Tanya Tania.
"Entahlah, aku lupa." Ucap Ares dengan menaikan sedikit pundaknya. "Lalu memangnya kenapa kita tidak belajar di akhir pekan?"
"Aku harus mencari uang untuk mengajari mereka semua. Karena itu, pulanglah. Kita akan belajar di hari biasa."
"Maksudmu? Kau mengajari mereka semua?" Ares terkejut mendengar hal tersebut.
Tania mengangguk mendengarnya.
"Biarkan aku di sini untuk melihatnya. Aku juga bisa sambil belajar. Atau kalau kau butuh bantuan, aku pun bisa mengajari mereka semua juga." Seru Ares dengan percaya diri.
Tania membiarkan Ares melakukan apa yang ingin di lakukan pemuda itu. Sedangkan dirinya mencoba untuk fokus mengajar para anak-anak seperti biasanya.
__ADS_1
Kesepuluh anak itu duduk di tempat yang biasa dijadikan Kayden untuk bersantai. Tania duduk di sisi tempat itu saat mengajarkan mereka pelajaran. Sedangkan Ares duduk di sebuah kursi yang ada di teras rumah Kayden.
"Kak, siapa dia? Apa dia muridmu juga?" Tanya salah seorang murid Tania.
Tania menoleh sesaat ke arah Ares yang ada di jarak cukup jauh dari tempatnya. Pemuda itu sedang duduk sambil mengarahkan matanya ke sebuah buku pelajaran, tampak serius.
"Ya, dia muridku juga." Jawab Tania dengan senyum tipis.
"Apa dia sangat bodoh sampai sebesar itu masih harus mendapatkan pelajaran tambahan darimu?" Tanya yang lainnya.
"Dia tidak pernah masuk sekolah sehingga tidak ada yang bisa dia kerjakan saat ujian. Kalau terus-terusan seperti itu, dia tidak akan lulus sekolah. Karena itu aku membantunya belajar." Ujar Tania. "Kalian harus rajin sekolah agar tidak sepertinya. Apa kalian mengerti?"
"Tapi dia terlihat sangat serius saat belajar. Apa benar dia bodoh? Bahkan dia terlihat sangat senang saat membaca buku pelajarannya." Seorang anak berjenis kelamin laki-laki menoleh pada Ares saat mengatakan hal tersebut.
Itu membuat Tania kembali menoleh ke arah pemuda tersebut. Dan ternyata yang di katakan anak itu benar. Ares terlihat tertawa kecil dengan pandangan mengarah pada buku pelajaran yang ada di hadapannya. Hal itu membuat Tania menjadi curiga.
Dengan langkah perlahan gadis itu berjalan menuju Ares dan langsung mengambil buku pelajaran pria itu. Ponsel yang disembunyikan olehnya langsung terlihat saat Ares tersentak kaget.
"Kenapa kau mengejutkan aku?" Seru Ares yang terkejut melihat pada Tania, namun tatapannya langsung berubah karena menyadari ekspresi gadis itu yang melihat kelakuannya.
Tania melihat ponsel Ares yang sedang memutar sebuah video komedi dengan earphone bluetooth tersumpal di kedua telinga pemuda itu.
Dengan kesal Tania berdecak, pandangannya menyiratkan sebuah rasa marah dengan tatapan dingin pada Ares.
"Aku sedang beristirahat sebentar. Saat membaca buku pelajaran, aku menjadi mengantuk, karena itu sebentar aku menonton video komedi untuk menghilangkan rasa mengantukku." Ujar Ares kebingungan.
"Sudah aku katakan lebih baik kau pergi dari sini. Aku juga tidak memintamu untuk belajar sekarang." Ucap Tania yang menjadi kesal pada Ares. "Melihatmu seperti ini membuatku jadi kesal."
"Baiklah, baiklah. Aku akan membaca bukunya lagi." Jawab Ares mengambil buku yang ada di tangan Tania dengan gerakan perlahan.
Tania menjadi semakin tidak mengerti kenapa pemuda itu bersikeras tetap berada bersama dengannya. Padahal sebelumnya Ares selalu menghindari dirinya yang terus memaksanya untuk ke sekolah.
"Aku akan pulang saat anak-anak itu juga pulang. Aku ingin memastikan kau sudah baik-baik saja agar membuatku merasa tidak bersalah." Seru Ares melirik Tania dengan sedikit takut gadis itu akan mengusirnya lagi.
Tania tidak menyangka pada ucapan Ares. Gadis itu menjadi salah tingkah karena perhatian yang diberikan pemuda itu padanya.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...