
Tania pergi untuk memastikan alamat rumah Dyara benar adalah rumah gadis tersebut, merasa dikejutkan dengan hal yang sebenarnya.
Alamat yang tertulis di formulir pendaftaran ketua OSIS yang diisi oleh Dyara nyatanya bukanlah alamat rumah yang gadis tersebut.
TIINN TIIINNN!!
Suara klakson mobil membuat Tania terkejut. Sebuah mobil yang berhenti di depan gadis tersebut langsung mengalihkan perhatiannya yang sedang sibuk melihat alamat yang dia lihat dalam foto formulir di ponselnya.
"Tyaga?" Tania merasa semakin heran melihat Tyaga yang merupakan orang yang di dalam mobil.
"Seharusnya kau mengatakannya padaku kalau kau ingin mencari tahu, aku akan memberikan tumpangan padamu." Ujar Tyaga membuka kaca jendela mobil untuk berbicara dengan Tania.
Tania berjalan mendekati Tyaga untuk menjawab ucapan pemuda tersebut.
"Kau tidak ada rapat OSIS dan langsung pulang?" Tanya Tania.
"Ya. Kau sudah tahu?" Ujar Tyaga dengan maksud mengenai rumah yang baru saja di datangi Tania.
Tania mengangguk menjawab Tyaga. "Rumahmu juga di dalam komplek perumahan ini ya? Tapi bagaimana kau bisa tau?"
"Kita bisa bicara di dalam rumahku." Jawab Tyaga sambil menunjukkan ibu jarinya ke arah rumah yang ada di depan rumah yang alamatnya tertulis di formulir Dyara.
Tania terkejut karena ternyata rumah Tyaga berada tepat di depan rumah yang diakui Dyara merupakan rumahnya.
Tania datang ke rumah Tyaga untuk berbicara dengan pemuda tersebut. Mereka duduk di dalam rumah mewah Tyaga saling berhadapan di ruang tengah rumah tersebut.
Rumah yang ukurannya sedikit lebih besar di bandingkan rumah Ares, namun terasa kosong karena rumah tersebut tidak memiliki banyak barang sehingga membuat rumah tersebut tampak lebih lengang.
__ADS_1
"Pantas saja kau tahu mengenai yang sebenarnya. Tapi tidak aku kira kalau rumah itu ada di depan rumahmu." Ujar Tania. "Aku tidak mengerti kenapa dia menuliskan alamat palsu di formulir itu. Apa tujuannya? Kenapa dia tidak menuliskan alamat rumah yang sebenarnya? Apa kau tahu sesuatu?"
Tyaga tidak langsung menjawab, pemuda itu hanya menyunggingkan senyumannya, membiarkan Tania lebih dulu berpikir.
"Kay bilang, maksudku... Pak Guru bilang kalau alamat yang tertulis di berkas-berkas sekolahnya berada di luar kota. Tidak mungkin kan kalau dia pulang pergi setiap hari ke sekolah? Apa lagi Dyara bilang kalau dia tinggal dengan kedua orang tuanya. Ya meskipun menurut pengajuan dia kalau kedua orang tuanya selalu sibuk karena pekerjaan. Di mana alamat rumahnya yang sebenarnya? Kenapa dia tidak menuliskan alamat yang sebenarnya?" Ucap Tania.
Tyaga tertawa mendengar ucapan Tania. Pemuda itu tidak menyangka kalau kakak kelasnya tersebut terlihat masih berpikir kalau Dyara memiliki alasan lain kenapa tidak menyembunyikan alamat rumah orang tuanya.
"Apa yang kau tanyanya pada petugas keamanan rumah itu?" Tanya Tyaga.
"Aku bertanya apa benar rumah itu merupakan rumah Roy Adiswara? Petugas keamanan itu menjawab benar..." Perkataan Tania terhenti, gadis itu teringat sesuatu. "Apa Dyara juga berbohong kalau dia anak dari Roy Adiswara?" Tatap Tania baru menyadarinya.
Tyaga hanya tersenyum menjawab pertanyaan Tania yang menyadari akan hal yang sebenarnya mengenai kebohongan Dyara selama ini.
"Astaga, jangan bilang kalau gadis itu menipu semua orang mengenai latar belakang dirinya yang sebenarnya?" Tanya Tania dengan heran.
...***...
Buku-buku pelajarannya juga sudah disiapkannya di atas meja, dan sebelum makan malam tadi, bahkan pemuda itu sempat mengerjakan tugas sekolahnya.
Sambil menunggu, pemuda itu sibuk membaca forum website di sekolahnya. Di mana saat ini dirinya yang di duga berselingkuh dari Dyara dengan Tania menjadi perbincangan hangat karena fotonya dengan Tania saat di Perpustakaan beredar.
"Kenapa jadi seperti ini? Aku tidak pernah berpikir kalau akhirnya akan seperti ini." Gumam Ares menanggapi komentar-komentar mengenai dirinya. "Dia pasti tahu mengenai hal ini. Apa karena itu dia tidak datang padahal sudah jam segini?"
Ares melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam, lalu berdecak kesal karena gadis yang dinantikannya tak kunjung datang.
Saat yang bersamaan, Bel rumahnya berbunyi. Pemuda itu langsung melihat ke arah pintu rumahnya untuk melihat siapa yang datang saat asisten rumah tangga di sana bergegas membukanya.
__ADS_1
Tania berjalan masuk dari pintu luar. Gadis tersebut yang datang.
Melihatnya, Ares yang sudah menunggu lama menjadi sedikit kesal. Pemuda itu hanya diam saja saat Tania berjalan ke arah meja makan di mana dirinya duduk.
"Tumben sekali rumah ini sangat sepi. Di mana si kembar?" Tanya Tania saat berada di dekat Ares yang duduk.
Ares tidak menjawab, pemuda itu hanya duduk dengan memasang wajah yang tertekuk karena merasa kesal kenapa gadis itu datang terlalu lama.
"Maaf ya, tadi aku sedang mengurus sesuatu karena itu terlalu lama." Ujar Tania sambil duduk di kursi yang ada di samping kiri Ares dan langsung mengeluarkan buku-bukunya. "Kita langsung saja ya, bagaimana kalau mengerjakan tugas Bahasa Inggris? Ini sudah agak malam, jadi aku rasa, kita tidak punya waktu lama."
Ares melihat pada Tania, untuk menunjukkan rasa kesalnya pada gadis itu.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Tania yang menyadari dengan rasa kesal Ares padanya.
Di ambilnya buku Bahasa Inggris Ares yang berada di atas meja dan membukanya. Ternyata tugas tersebut sudah di kerjaan oleh pemuda itu.
"Aku lupa kalau kau dua tahun tinggal di Amerika. Bahasa Inggrismu sangat bagus." Ujar Tania menutup kembali buku Ares. "Kalau begitu kita belajar matematika saja? Aku dengar test matematikamu yang lalu mendapatkan nilai sembilan puluh? Itu bagus sekali. Aku tidak heran, karena sebelumnya kau tampak yakin saat akan test berlangsung." Tatap Tania.
Ares mengalihkan tatapannya dari gadis tersebut. Nilai yang dimaksud oleh Tania adalah nilai yang dia dapat karena mendapatkan bocoran ujian dari Kayden, karena itu nilainya sangat bagus untuk ujian Matematika yang lalu.
"Buka bukumu, dua hari lagi test Matematika lagi. Nilaimu harus sama bagusnya atau jauh lebih bagus dari yang lalu."
"Dari mana saja kau? Kenapa jam segini baru datang? Bahkan ini lebih malam dari dulu saat kau masih ada rapat OSIS." Akhirnya Ares tidak bisa terus menerus diam saja menahan rasa kesalnya dengan diam.
"Sudah aku bilang kalau aku mengurus sesuatu." Jawab Tania dengan santai dan tanpa melihat Ares, karena sedang membuka buku pelajarannya.
Tiba-tiba Ares memegang tangan gadis itu yang sedang membalik halaman demi halaman buku pelajaran, dan membuat Tania menoleh padanya.
__ADS_1
"Kau pasti juga tahu mengenai foto yang beredar di sekolah kan? Besok aku akan menyelesaikannya agar tidak ada lagi masalah. Kita tidak perlu menyembunyikan hubungan kita lagi pada semuanya." Ucap Ares yang bertatapan dengan Tania.
...@cacing_al.aska...