PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
013. CIUMAN KEDUA


__ADS_3

Ares duduk di hadapan Kayden di meja kerjanya. Kayden hendak memberitahukan mengenai banyaknya pelanggaran yang dilakukan Ares.


"Setelah ajaran baru dimulai dan hari pertamamu sekolah di sini, kau tidak pernah hadir lagi di sekolah. Bahkan kau tidak mengikuti ujian semester kemarin. Kau tahu? Sekolah ini sangat baik untuk murid sepertimu." Ujar Kayden.


"Ya sekolah ini memang sangat baik, karena itu aku merasa aman saat tidak masuk selama ini." Jawab Ares dengan santainya. "Oh iya Pak guru, apa benar kalau kau adalah sahabat dari Symphony—sepupuku?"


Kayden sempat hanya terdiam dengan menatap Ares yang bertanya padanya dengan sedikit pencondongkan tubuhnya ke arah pria itu.


"Sepertinya benar ya?" Lanjut Ares.


"Masuklah ke kelasmu sekarang. Aku tidak akan memberikan hukuman apapun karena sekolah ini memang sudah menghapus semua hukuman sejak lima tahun lalu. Berterimakasihlah pada sepupumu yang dulu menghapusnya." Seru Kayden. "Tapi jangan pernah bolos lagi, atau aku akan meminta ketua OSIS membuat peraturan baru mengenai kedisiplinan siswa sepertimu."


Ares menyunggingkan bibirnya seperti meledek pada Kayden sambil bangkit berdiri.


"Terimakasih pak, guru. Kau memang sangat cocok menjadi seorang guru dari pada menjadi yang lainnya." Ujar Ares dengan ekspresi wajah yang dibuat-buatnya.


Kayden hanya bisa menahan amarah dengan menghela napas pada sikap Ares yang terlihat menunjukkan bagaimana muridnya itu tampak memprovokasinya agar tersulut emosi.


Sedangkan Ares, pemuda itu berjalan keluar kantor guru dengan bersiul santai di sepanjang koridor sekolah.


Tak ada satu pun murid di sepanjang koridor karena jam pelajaran sudah dimulai. Meski begitu, para murid yang kelasnya dilintasi oleh Ares menatap pemuda itu, terutama murid perempuan yang tampak senang dengan hadirnya Ares ke sekolah.


Lima belas menit jam pelajaran sudah di mulai. Ares membuka pintu kelas di mana merupakan kelasnya. Tanpa mengucapkan salam, Ares berjalan masuk dan menuju kursi yang ada di belakang Tania. Bahkan pemuda itu tampak tidak memedulikan seorang guru yang sedang berdiri menerangkan materi Fisika di depan papan tulis.


Posisi Tania berada di urutan terdepan dengan barisan yang tepat berada di depan papan tulis. Ares berniat duduk di belakang gadis itu, meski kursi tersebut terisi oleh seorang murid laki-laki lainnya.


"Pindahlah! Aku ingin fokus belajar, karena itu aku harus duduk di barisan depan agar papan tulis terlihat olehku." Ujar Ares setelah mendorong sedikit meja yang diincarnya.


Karena tidak ingin membuat keributan dan tahu seberapa berandalnya Ares, murid laki-laki tersebut langsung beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke meja kosong yang berada di belakang.


Dengan santai Ares duduk di tempat itu segera. Sedangkan semua mata masih menatapnya, kecuali Tania yang duduk di depannya.


"Maaf bu guru, silakan lanjutkan." Seru Ares dengan memberikan senyum.


Tania yang tidak bergeming sejak tadi tetap pada posisinya. Bahkan gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arah belakang untuk melihat Ares.

__ADS_1


Saat jam istirahat, Tania hendak bergegas keluar kelas karena berniat menuju ruang OSIS kembali. Dia berencana untuk melanjutkan apa yang sedang dirinya kerjakan.


"Heh, tunggu dulu!!" Seru Ares pada Tania namun gadis itu sama sekali tidak menghentikan langkahnya, bahkan tak sedikitpun menoleh pada pemuda yang memanggilnya.


Mau tidak mau Ares mengejar Tania dengan segera. Pemuda itu terus memanggil namanya hingga semua murid yang menatap pada mereka.


Meskipun Tania mendengar namun gadis itu sengaja tidak ingin berbicara dengan Ares saat ini. Ditambah banyaknya murid yang memperhatikan mereka.


Tania masuk ke dalam ruangan OSIS. Ketika hendak menutup pintu ruangan tersebut, Ares menahan pintunya dan langsung menerobos masuk ruangan itu.


"Apa kau tuli?" Seru Ares setelah menutup pintu ruangan tersebut.


Tania tidak menjawab, tatapan dingin gadis itu memancar melihat pada Ares.


"Kenapa kau menghindariku sekarang? Bukannya kau ingin agar aku masuk ke sekolah? Bukannya kau bilang, kau akan—"


"Kau sudah masuk ke sekolah kan?" Potong Tania. "Itu hal yang bagus, aku jadi tidak perlu mengejarmu untuk memintamu masuk ke sekolah lagi."


Ares menjadi bingung harus menjawab apa. Akan tetapi keinginannya sudah bulat. Dia ingin mendekati Tania untuk mencari tahu identitas yang sesungguhnya dari The Bloody Rose.


Memang itu yang diinginkan Tania sejak awal. Namun dirinya menjadi merasa tidak enak pada Ares setelah mengatakan hal buruk mengenai keluarga pemuda itu.


"Aku janji tidak akan membolos lagi. Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk bisa lulus. Jadi kau harus membantuku dalam belajar. Aku tidak akan—"


"Maafkan aku..." Sela Tania membuat perkataan Ares terhenti. "Aku minta maaf karena mengatakan hal buruk mengenai keluargamu. Seharusnya aku tidak mengatakan apapun mengenai keluargamu karena kau benar, aku tidak tahu apapun tentang mereka."


"Ya, baiklah. Memang sebaiknya jangan mengatakan apapun mengenai sesuatu yang tidak kau ketahui. Apa lagi itu merupakan perkataan hal buruk." Ucap Ares.


"Tapi aku tidak akan minta maaf mengenai perkataanku tentangmu. Karena apa yang aku ucapkan mengenaimu adalah kenyataan."


"Apa maksudmu?" Ares memasang wajah kesal pada Tania.


"Untuk perkataanku yang mengatakan kau ini adalah barang cacat di keluargamu, tidak akan aku tarik atau pun meminta maaf untuk itu." Seru Tania dingin. "Karena aku rasa itu adalah benar."


"Kau ini!!" Ares menggeram kesal mendengar perkataan Tania namun pemuda itu meredamnya dan tidak ingin mempermasalahkannya. "Ya terserah saja. Aku tidak peduli dengan anggapan orang yang tidak benar-benar mengenalku."

__ADS_1


"Baguslah, kalau begitu keluarlah dari sini." Seru Tania tanpa ekspresi. "Dari pada kau tidak ada kerjaan, lebih baik kalau kau belajar kan?"


"Bagaimana aku bisa belajar? Aku tidak mengerti caranya belajar."


"Bodoh!" Cerca Tania tidak habis pikir. "Kau bisa membaca buku pelajaran atau pergi ke perpustakaan dan belajar di sana."


"Sudah aku katakan kalau aku tidak tahu caranya belajar jika sendirian."


Mendengarnya Tania berdecak kesal dengan tidak habis pikir. Baru kali ini dirinya mendengar seseorang tidak tahu bagaimana caranya belajar.


"Kau tahu? Kau memang manusia pertama terbodoh yang aku temui di muka bumi ini. Baru kali ini aku mendengar seseorang tidak tahu caranya belajar. Aku heran padamu, padahal kau adalah anak dari lulusan terbaik sekolah ini sepanjang sejarah. Bahkan ayahmu merupakan orang terpintar di negara ini. Bagaimana bisa kau sebodoh ini?" Ujar Tania dengan panjang lebar.


Ares hanya menahan emosinya saat mendengar gadis di hadapannya benar-benar menghinanya separah itu. Apalagi dirinya di bandingkan dengan sang ayah yang memang kepintarannya tiada duanya tersebut.


Tania segera berjalan keluar dari ruangan itu menuju suatu tempat. Gadis itu pergi tanpa mengatakan apapun lagi pada Ares. Tujuannya adalah ke perpustakaan untuk membantu pemuda itu belajar.


Ares menjadi bingung karena Tania keluar ruangan dan meninggalkan dirinya tanpa kata apapun. Itu membuatnya bingung dengan terdiam sesaat.


"Mau kemana dia? Kenapa dia langsung pergi begitu saja?" Tanya Ares dengan bingung.


Segera pemuda itu bergegas keluar untuk menyusul Tania.


"Heh, kau mau kemana? Kenapa langsung pergi begitu saja?" Seru Ares berjalan sangat cepat untuk menyusul Tania yang sudah lumayan jauh darinya.


Tania berdecak kesal mendengar seruan pemuda yang mengejarnya. Karena itu membuat semua murid lain menjadi kembali memperhatikan mereka.


"Tunggu dulu!! Kenapa kau tiba-tiba pergi?" Ares semakin berteriak dan berlari ke arah Tania.


Mendengar pemuda itu berlari, membuat Tania kesal karena ada larangan untuk tidak berlari si koridor sekolah.


Tania langsung menghentikan langkahnya dan berbalik. Namun tanpa dia duga, Ares yang berlari mengejarnya tidak bisa menghentikan larinya secara mendadak. Sehingga pemuda itu menabrak Tania dan membuat kacamata gadis itu terjatuh.


Parahnya, keseimbangan Tania yang ditabrak oleh pemuda bertubuh besar menjadi goyah. Gadis itu terdorong oleh tubuh Ares dan membuat mereka berdua terjatuh.


Semua mata murid yang melihat kedua orang tersebut terkejut, karena posisi Ares yang jatuh menimpa Tania dengan bibir mereka yang saling bersentuhan.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2