
Kayden berjalan mengikuti Ares dengan sangat cepat untuk menghentikan langkah pemuda itu. Ares yang pergi bersama dengan para temannya, tidak menghiraukan panggilan Kayden dengan terus melangkah.
Kemarahan pemuda itu pada dirinya sendiri sebenarnya lebih besar karena rasa penyesalan. Hal itu yang membuat dirinya menjadi seperti itu.
"Dengar dulu!" Seru Kayden menarik lengan Ares agar menghentikan langkahnya.
Dengan tatapan dingin, Ares melihat pada Kayden yang sudah berada di hadapannya. Wajah datar dengan air muka tampak marah terpancar dari pemuda itu.
"Kau ingin ke mana? Kau ingin membuat masalah?" Tanya Kayden dengan wajah heran.
"Masalah katamu? Bagiku apa yang ingin aku lakukan bukanlah suatu masalah, melainkan penebusan rasa bersalahku pada Anton karena tidak ada saat dia membutuhkan pertolonganku." Jawab Ares dengan mata menatap tajam pada Kayden.
Mendengarnya, Kayden mendengus tidak percaya dengan apa yang di katakan muridnya itu padanya.
"Kau hanya akan membuat masalah, bahkan jika kau membalaskan apa yang sudah dilakukan orang itu pada sahabatmu, hanya masalah baru yang muncul di saat sahabatmu bahkan belum di makamkan." Seru Kayden.
"Itu benar Es, kita tidak boleh melakukan apapun, setidaknya sampai pemakaman Anton. Lagi pula saat ini Shane bersembunyi entah di mana. Mencarinya akan memakan waktu, lebih baik kita fokus pada pemakaman Anton dulu untuk saat ini." Seru Brodie yang sejak awal berjalan di samping Ares tadi.
Ares menoleh pada temannya itu dengan wajah yang tampak berpikir. Saat ini pemuda itu hanya ingin mendengarkan perkataan temannya, tentunya setelah apa yang terjadi pada sahabatnya itu menjadikannya tidak ingin mengulangi kesalahannya lagi.
Perkataan Brodie membuat raut wajah marah Ares memudar. Yang dikatakan temannya itu ada benarnya juga. Setidaknya dia harus menahan semuanya hingga sahabatnya—Anton di makamkan. Barulah setelah itu, pemuda itu berniat menuntut balas pada Shane.
"Jangan bertindak bodoh untuk saat ini." Ucap Kayden berusaha menghentikan Ares.
"Kay..."
Fokus Kayden langsung teralihkan ketika seseorang memanggilnya. Dia menoleh ke sumber suara di mana wanita cantik yang memanggilnya berdiri di sana.
__ADS_1
Jantung pria itu serasa loncat keluar saat melihat wajah yang sangat dirinya rindukan. Sudah lima tahun berlalu dan akhirnya apa yang diharapkannya sejak lama terwujud sekarang, yaitu bertemu kembali dengan wanita yang sangat dicintainya.
"Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kau tidak merindukan aku?" Tanya Harmony dengan memulas senyum manis di wajahnya yang cantik dan memperlihatkan lesung pipi tunggal di pipi kirinya.
Ketika hari menjelang gelap karena matahari mulai tenggelam, Kayden bersama dengan Harmony berbicara berdua di taman rumah sakit. Kedua orang itu berdiri saling berhadapan padahal tidak jauh dari mereka berdua terdapat bangku taman yang terbuat dari besi.
"Bagaimana kabarmu? Aku dengar dari Symp, kalau kau menjadi seorang guru di sekolah kita. Itu sesuatu hal yang bagus. Aku sangat senang mendengarnya." Ujar Harmony yang berdiri di jarak dua meter dari Kayden.
Kayden masih tidak mampu berkata apapun saat ini. Pria itu menjadi bisu karena rasa terkejutnya membuatnya bingung harus mengatakan apa.
Saat ini yang ada di benaknya hanyalah ingin menarik wanita cantik yang berdiri di hadapannya ke dalam pelukannya. Rasa rindu yang teramat sangat dalam membuat lidahnya kelu berkata-kata.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak ingin menemuiku?" Tanya Harmony. "Ya, sepertinya kau memang tidak ingin menemuiku. Aku selalu berharap kau datang menemuiku tapi... Bahkan sekalipun kau tidak pernah menghubungiku."
Kayden menjadi semakin terdiam dengan kebingungan harus berkata apa. Alasan dirinya tidak pernah menghubungi wanita itu, apalagi datang menemuinya, semua itu karena rasa bersalah dirinya yang sudah membuat Harmony berada di ambang kematian waktu itu. Ditambah dengan sikap ibu gadis itu yang langsung membencinya, tidak mungkin dia berani datang menemuinya.
Kayden masih bungkam, dirinya menjadi teringat kejadian yang sudah lama berlalu. Kejadian yang selalu dirinya kenang saat merindukan wanita yang sekarang ada di hadapannya. Saat dia memanggil wanita yang dicintainya dengan sebutan Honey sesuai dengan nama panggilan Harmony yakni Hany.
"Kau diam saja. Sepertinya memang benar kalau kau sama sekali tidak merindukan aku—"
Secepatnya Kayden meraih tubuh Harmony dan mendekapnya ke dalam pelukannya. Pria itu tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk memeluk wanita yang sudah sekitar lima tahun tidak dirinya temui itu.
"Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu. Setiap saat kau selalu ada dibenakku dan membuatku menjadi sulit untuk melakukan apapun." Ucap Kayden sambil mendekap Harmony. "Kau tidak tahu bagaimana aku menahan diriku untuk tidak menemuimu atau pun menghubungimu. Itu sangat menyiksaku, tapi semua aku lakukan karena aku sangat merasa bersalah dan menyesali semua yang terjadi padamu dulu. Aku menghukum diriku karena membiarkanmu dalam bahaya dengan mendengarkan perkataanmu."
Harmony hanya diam mendengarkan semua yang dikatakan pria yang mendekapnya. Kebahagiaan juga terpancar dari wajahnya karena mendengar semua yang dikatakan Kayden padanya. Rasa rindunya pada pria itu juga sama besarnya.
"Sekarang kau malah mengatakan kalau aku tidak merindukanmu. Kau tahu? Itu lebih menyakitkan dari semua itu." Lanjut Kayden sambil menatap wajah Harmony yang berada tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengatakan hal itu." Ujar Harmony dengan menyunggingkan bibirnya. "Sebenarnya aku tahu kalau kaulah yang meminta Ares agar aku datang ke negara ini. Bahkan sebelumnya kau juga meminta Symphony, bukan?"
"Apa maksudmu?" Tanya Kayden.
"Kau bilang kau menghukum dirimu karena rasa bersalahmu, kan? Anggap saja itu semua sudah berakhir. Jangan menghukum dirimu lagi, karena yang terjadi padaku bukan kesalahanmu. Aku lah yang memintamu untuk pergi dan tetap mengikuti ujian itu. Aku senang kau mengikuti perkataanku hingga kau menjadi seorang guru sekarang." Ujar Harmony.
Kayden memperhatikan ekspresi wanita itu. Sebuah senyum cantik terlukis di wajahnya dengan kedua tangan yang baru saja melingkar ke punggung pria itu.
"Dan sekarang, kau benar-benar menjadi seorang guru yang keren." Lanjut Harmony setelahnya langsung mencium bibir Kayden.
Di kejauhan dari sana, dan di dua tempat yang berbeda, Ares dan Tania melihat apa yang terjadi pada pasangan yang sedang melepas rindu tersebut.
"Mereka berdua memang pasangan yang serasi karena mereka saling mengerti satu sama lain." Ucap Tania mengomentari Kayden bersama dengan Harmony. "Syukurlah kalau mereka berdua bersama saat ini."
Ares segera berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Melihat yang terjadi pada guru dan sepupunya, meski hatinya merasa senang karena mereka berdua bertemu kembali, namun pikirannya memanas.
Amarahnya yang belum terlampiaskan pada Shane, membuatnya menyesali karena mendengarkan perkataan Tania.
Pemuda itu berpikir, seharusnya dia tidak diam saja saat mendengar sahabatnya itu dalam bahaya. Semestinya dirinya berusaha datang untuk menolong temannya itu.
Dan sekarang semuanya sudah terlambat, Anton sudah pergi meninggalkannya tepat di hari ulang tahunnya yang ke 18 tahun.
Yang ada di benaknya saat ini hanyalah penyesalan dan rasa benci pada dirinya sendiri.
"Semua memang salahku karena selalu mendengarkan perkataannya." Gumam Ares dengan nada marah.
...@cacing_al.aska...
__ADS_1