
Mendengar seorang gadis mengatakan cinta padanya, membuat Ares bingung. Namun pemuda itu mengalihkan pandangannya segera pada Tania mencoba untuk tidak menggubris perkataan gadis yang sama sekali tidak dikenalnya tersebut.
"Aku akan ke kantin rumah sakit, sebaiknya kau tidur saja." Ujar Ares pada Tania. "Sejak semalam aku tidak makan dan hanya makan buah-buahan, sekarang aku benar-benar lapar."
Setelah mengatakan hal demikian, Ares bangkit berdiri kembali dan segera pergi dari ruangan yang memiliki dua ranjang tersebut.
Dyara terlihat sedikit kecewa karena Ares tidak menjawab perkataannya dan Tania mengatahui hal itu. Akan tetapi gadis yang tidak terlalu suka mencampuri hal-hal yang menurutnya bukan urusannya itu lebih memilih berbaring saja.
"Dia benar-benar keren." Ucap Dyara menoleh pada Tania dengan mencoba terlihat tersenyum.
Tania mencoba tidur kembali karena waktu masih terlalu pagi, bahkan matahari belum terbit. Gadis itu memikirkan sesuatu hal yang entah kenapa jadi mengganggunya. Saat muncul dengan rambut yang basah tadi, Ares sempat mencuri perhatiannya. Meski begitu gadis itu tidak ingin memikirkannya lebih lanjut dan memilih memejamkan matanya.
Selang satu jam, Ares masuk kembali ke dalam ruangan setelah sarapan di kantin. Pemuda itu membawa sepotong cup cake yang dibelinya untuk Tania.
"Kakak sudah selesai sarapan?" Melihat kehadiran Ares Dyara langsung beranjak duduk dengan wajah senang.
Mendengar perkataan Dyara, Tania yang tertidur menjadi membuka matanya. Gadis itu melihat ke arah Ares yang berjalan mendekati ranjangnya.
"Sarapannya belum datang? Ini aku belikan untuk mengganjal perutmu. Ibuku bilang, saat kita sakit, usahakan perut kita tidak kosong."
Tania yang masih berbaring melihat Ares aneh. Pandangannya yang tidak memakai kacamata memang tidak terlalu jelas hal itu membuatnya malas menanggapi Ares karena rasa mengantuknya masih terasa.
Di sisi lain, Dyara terus memperhatikan mereka berdua dengan serius. Gadis itu tampak memperlihatkan tatapan lekat pada Tania yang belum merespon Ares.
"Bangunlah, atau mau ku bantu?" Ujar Ares menyodorkan cup cake pada Tania.
"Aku tidak terlalu suka makanan manis dan lagi aku masih belum ingin makan. Ini belum jam enam pagi, masih terlalu pagi untuk makan bagiku." Jawab Tania yang tidak merubah posisinya sedikitpun.
"Kalau begitu untukku saja, aku sudah sangat lapar. Tapi sepertinya sarapannya masih lama diantar." Sambar Dyara dengan wajah tersenyum seperti biasanya.
Ares melihat gadis itu dengan heran, dan menatap kembali pada Tania yang hanya melirik ke arah Dyara dari sudut matanya.
"Ya, berikan padanya saja. Aku hanya ingin kembali tidur." Ujar Tania setelahnya membenarkan posisi selimut yang digunakannya.
Ares berdecak perlahan karena Tania tidak menghargai pemberiannya tersebut. Segera pemuda itu berjalan mendekati ranjang Dyara.
__ADS_1
Dyara terlihat sangat senang menyambut pemberian Ares tersebut.
"Tapi tangan kananku tidak bisa digerakan, bisa kah kakak menbukakan plastiknya untukku?" Tanya Dyara saat Ares berada di sisi ranjangnya.
Dengan baik hati, Ares membukakan plastik yang melapisi cup cake itu dan menyodorkannya pada Dyara tanpa sepatah kata pun.
"Terimakasih, kak." Senyum Dyara menerima cup cake tersebut dan langsung memakannya.
Ares menuju kursinya dan duduk di sana sambil membuka ponselnya untuk mengirim pesan dengan Anton. Sedangkan Tania masih terus berbaring dan menutup matanya meski gadis itu tidak benar-benar tertidur.
"Kak Ares, apa kakak punya akun sosial media?" Tanya Dyara dengan ponsel miliknya juga ada digenggaman tangannya. "Kalau punya, apa boleh kita saling mengikuti?"
"Apa? Tidak! Aku tidak punya." Jawab Ares.
Seketika Tania membuka matanya saat mendengar jawaban Ares. Gadis itu tahu kalau Ares memiliki akun sosial media, tapi kenapa dia berbohong dengan mengatakan hal yang sebaliknya?
"Ah, ternyata tidak punya ya." Ujar Dyara sambil melirik pada Tania yang terlihat aneh di mata gadis itu. "Kak Ares tahu kalau pengikutku di sosial media sangat banyak—"
"Nanti saat jam berkunjung teman-teman kelas akan datang menjengukmu. Pak Guru baru saja mengirim pesan padaku." Seru Ares pada Tania dengan tidak memedulikan apa yang ingin dikatakan Dyara padanya.
"Mereka tidak perlu datang. Katakan itu pada Pak Guru. Aku sudah baik-baik saja, dan lebih baik juga kalau kau pergi. Aku tidak perlu ditemani, kau hanya membuatku merasa tidak nyaman." Ujar Tania dengan terus terang.
"Memangnya apa yang Kakak lakukan? Kenapa Kak Ares harus bertanggung jawab pada apa yang terjadi padanya?" Tanya Dyara menatap Ares.
Tidak ada yang ingin dikatakan Ares pada Dyara untuk menjawab pertanyaannya. Pemuda itu sejujurnya merasa tidak terlalu suka dengan keberadaan Dyara yang selalu menyambar semua perkataannya. Itu membuat Ares merasa risih.
"Aku akan bilang pada Pak Guru kalau kau tidak ingin dijenguk. Tapi aku tidak akan kemanapun." Ujar Ares.
Tania tidak menjawab apapun lagi, gadis itu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga kepalanya juga tertutup.
"Kak Ares, apa kau tidak lelah? Apa tadi malam kau sudah tidur?" Tanya Dyara terus mencoba untuk berbincang dengan Ares.
"Sebaiknya kau juga istirahat agar tanganmu cepat pulih." Ujar Ares pada Dyara setelahnya mengarahkan pandangannya ke layar ponsel.
Selang tiga puluh menit petugas pantri mengantarkan sarapan pagi untuk Tania dan Dyara.
__ADS_1
Tania masih tertidur dengan posisi yang tidak berubah seperti sebelumnya, yaitu selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Ares mendekati gadis itu untuk membangunkannya agar sarapan.
"Bangunlah, kau harus sarapan dulu agar minum obatmu." Seru Ares pada Tania.
Di samping ranjang itu, Dyara terus melirik memperhatikan pemuda tersebut.
Tania tidak bergeming sama sekali, hal itu membuat Ares semakin maju ke arah ranjang dan memegang pundak gadis itu untuk membangunkannya.
Sontak Tania terkejut karena Ares memegangnya. Gadis itu langsung membuka selimut yang menutupi kepalanya dan melihat tajam dengan penuh siratan dingin pada pemuda tersebut.
"Kenapa kau menyentuhku?" Kesal Tania.
Melihatnya Ares menjadi bingung, karena tujuannya hanya untuk membangunkan Tania saja dan tidak ada tujuan untuk menyentuhnya dalam arti yang lain.
"Aku hanya ingin membangunkanmu." Jawab Ares sedikit bingung kalau-kalau Tania mempermasalahkannya lebih lanjut.
Tania tidak berkata apapun lagi dan hanya menatap Ares tidak berkedip.
"Sarapannya sudah diantar. Makanlah, sebentar lagi suster akan memberimu obat untuk diminum." Ucap Ares.
Tania langsung menarik tatapan kesalnya dan mencoba untuk bangun. Namun rasa sakit mulai terasa di tubuhnya lagi sehingga membuatnya menjadi sedikit kesulitan.
Tanpa diminta, Ares membantu Tania duduk. Pemuda itu tidak memedulikan meski awalnya Tania menepis tangannya.
Mau tidak mau gadis itu membiarkan Ares membantunya untuk duduk.
"Aku juga tidak akan melakukannya kalau semua yang terjadi padamu bukan karenaku." Ucap Ares saat membantu Tania. "Apa mau aku suapi juga?"
"Berikan saja makanannya, aku masih bisa memegang sendoknya." Jawab Tania dingin saat Ares memberikan makanan untuknya.
Suara sendok yang terjatuh mengalihkan mereka berdua. Ares dan Tania menoleh ke sumber suara di mana Dyara berada. Sendok gadis itu terlepas dari tangannya yang memang sulit menggenggam, karena mengalami retak tulang di tangan kanan dan membuat sendok tersebut terjatuh ke lantai.
"Maafkan aku, aku sangat kesulitan untuk makan." Ucap Dyara pada Ares. "Kak, apa aku boleh minta tolong untuk ambilkan sendoknya? Dan kalau boleh, bisakah Kakak menyuapiku?"
__ADS_1
Ares tertegun pada permintaan tolong gadis yang dari tadi terlihat mencoba mendekatinya tersebut.
...–NATZSIMO–...