
Ketika pukul lima sore, Ares bersama dengan Tania tiba di rumah pemuda itu. Keduanya langsung belajar bersama di meja makan rumah tersebut.
Mereka berdua duduk bersampingan dengan Tania yang memberikan materi pelajaran pada Ares. Kebetulan esok itu di kelas mereka akan di adakan test matematika harian.
Dengan bersungguh-sungguh, Ares mencermati setiap keterangan rumus matematika yang diberikan Tania padanya. Pemuda itu benar-benar sangat serius dalam belajar saat ini.
Tentu saja semua karena ucapan Tania tadi padanya. Perkataan yang mengatakan kalau mungkin saja Ares menjadi orang pertama yang tidak lulus sekolah di ujian akhir yang hanya tinggal beberapa bulan lagi.
Hampir dua jam mereka berdua belajar. Ares menyelesaikan latihan soal yang diberikan Tania padanya.
"Bagaimana? Semua soal yang kau berikan aku benar menjawabnya kan?" Tanya Ares saat Tania sedang mengoreksi latihan soal matematika yang diberikan gadis itu padanya.
Tania tidak menjawab namun terlihat gadis itu mencoret beberapa soal yang tidak berhasil dikerjakan Ares dengan benar.
Melihatnya Ares menjadi kesal dan ingin memprotes, namun dirinya pun tahu kalau Tania tidak mungkin salah. Jadi mau tidak mau pemuda itu hanya bisa membuang napas karena dirinya belum berhasil menghitung soal yang diberikan.
"Kerjakan lagi, kita tidak akan berhenti sampai kau menjawab benar semuanya." Tania meletakkan buku latihan Ares di hadapan pemuda itu lagi. "Soal ini sangat mudah, kau harus menghapal rumusnya agar kau bisa mengerjakan soal test besok."
"Kalau aku bingung besok, apa boleh aku bertanya padamu? Maksudku... Kau bisa memberikan aku contekan." Ares tersenyum saat mengatakan hal tersebut.
"Bodoh!! Seru Tania dengan sangat tidak percaya dengan perkataan Ares barusan. "Kalau menggangguku besok, aku akan melaporkanmu pada guru. Ah aku lupa, meski ku laporkan sekalipun, tetap tidak akan ada hukuman untukmu."
Perkataan Tania membuat Ares berdesis. Pemuda itu langsung menguap dengan mengeliatkan tubuhnya.
Jauh dari sana, tepatnya di lantai dua, kedua adik kembar Ares berdiri memperhatikan kedua orang yang ada di meja makan.
"Kak Es benar-benar belajar dengan giat. Biasanya jam segini dia belum pulang. Tapi sekarang, bahkan dia sudah belajar. Padahal dia baru juga pulang sekolah." Ujar Aphrodite pada Athena—kembarannya. "Ini bagus sekali, Papa tidak akan pusing lagi memikirkannya."
"Ya, kau benar. Papa tidak akan pusing lagi memikirkan anak laki-lakinya yang tidak berguna. Itu sesuatu yang bagus. Bukan begitu, Odite?"
"Hhmm." Aphrodite menyetujuinya. "Aku berharap mereka berdua segera berpacaran. Bagaimana denganmu, Thena?"
"Tidak, aku berharap Kak Tania tidak menyukainya. Jika jadi dia pun, lebih baik aku akan mencari pria yang jauh lebih pintar dariku. Ya, seperti Papa... dia sangat pintar, Mama sangat beruntung mendapatkan pria seperti Papa."
"Kau benar, Thena. Tapi seperti Papa, tampaknya hal yang sama juga menjadi pemikiran orang-orang pintar. Papa selalu bilang, jika dengan bersama seseorang sudah merasa bahagia, untuk apa mencari yang lainnya hanya karena dia sempurna. Ya, itu yang dikatakan pada Mama oleh Papa, saat mereka masih muda." Ujar Aphrodite.
"Kalau begitu, itu akan sulit. Lihat saja, Kak Tania tidak terlihat bahagia saat bersama dengannya." Ujar Athena dengan sedikit tertawa.
__ADS_1
"Kalian berdua berisik sekali!!" Seru Ares dengan berteriak dari tempatnya.
Pemuda itu dan bahkan Tania menyadari keberadaan Aphrodite dan Athena yang sedang memperhatikan mereka berdua dengan mengomentari juga.
Kedua kembar tertawa dan langsung pergi dari tempat mereka semua untuk menghindari kemarahan kakak laki-laki mereka.
"Mereka berdua bergosip tentang kita. Besok kita belajar di kamarku saja. Kenapa kau tidak ingin di sana, padahal waktu itu pun kau masuk ke kamarku tanpa persetujuan dariku?"
"Ibumu yang memintaku menunggumu di sana." Jawab Tania dengan nada santai. "Kerjakan lagi semua soal yang salah, setelah itu kita selesaikan pembelajarannya."
"Kau benar juga. Ini sudah hampir jam makan malam." Sahut Ares melirik jam tangannya untuk melihat waktu. "Habis makan malam aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak, aku akan pulang setelah ini dan makan malam sendiri saja." Jawab Tania.
"Aku rasa, aku tidak memberikanmu pilihan jadi kau tidak bisa mengambil pilihan seperti itu. Kau akan makan malam di sini dan minum obat. Kau bisa tidur sebentar saat aku mengantarmu pulang." Ujar Ares.
Sehabis malan malam, Tania di antar pulang oleh Ares. Dalam perjalanan, gadis itu memejamkan matanya setelah meminum obat.
Ares menghentikan mobilnya di depan kediaman Kayden. Pemuda itu menoleh pada Tania yang masih tertidur pulas saat ini. Pemuda itu berniat membangunkan Tania namun dirinya menjadi sedikit tidak tega.
Tiba-tiba ponsel Ares berbunyi, segera pemuda itu menerima panggilan telepon dari Anton.
Suara ponsel itu juga membangunkan Tania dari tidur pulsanya.
"Ada apa, Ant?" Jawab Ares pada Anton di ujung telepon.
"The Bloody Rose sudah menerima tantangannya lagi, Es. Dia bilang dalam waktu dekat ini akan menghubungi kembali untuk kapan waktunya kalian bisa bertanding lagi." Jawab Anton.
Menyadari suara telepon mengganggu tidur Tania, Ares sedikit membelakangi Tania yang menatapnya saat berbicara dengan Anton di telepon.
Tania yang sudah terbangun, membenarkan posisi kacamatanya. Gadis itu juga berusaha untuk mendengar apa yang dibicarakan Ares pada seseorang di telepon saat ini, namun setelah menyadari dirinya terbangun, Ares berbicara sangat perlahan.
"Kau sudah bangun?" Tanya Ares pada Tania saat selesai menjawab telepon Anton. "Ah iya, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Apa kau tahu yang dilakukan Pak Guru untuk mengisi waktu luangnya?"
"Dia sering duduk di luar sambil merokok. Memandangi langit atau memperhatikan tanaman-tanaman bunga yang dia tanam. Ah iya, kadang dia juga pergi ke rumah temannya. Dia bilang kalau dia bermain game di sana." Jawab Tania. "Memangnya ada apa?"
"Lalu, apa kau percaya kalau Pak Guru menyukaimu?" Tanya Ares menoleh melihat Tania.
__ADS_1
Tania terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba saja Ares bertanya mengenai hal seperti itu padanya. Itu sangat aneh untuknya.
"Aku hanya tidak suka saat mendengar dia berkata seperti itu padamu tadi siang." Ujar Ares.
Tentu saja perkataan pemuda itu membuat Tania terkejut. Gadis itu bahkan terlihat menjadi memerah.
"Bu—bukan begitu, aku tidak suka karena aku tahu mengenai hubungan Pak Guru dengan sepupuku bernama Harmony. Dulu mereka saling mencintai, tapi saat sepupuku itu mengalami suatu hal dan harus pergi meninggalkan negara ini, mereka sudah tidak lagi berhubungan. Tapi yang aku tahu kalau Harmony masih memikirkan Pak Guru. Karena itu aku tidak suka aaat mendengar Pak Guru sudah tidak lagi mencintainya." Terang Ares panjang lebar.
Tania berusaha memperlihatkan wajah datarnya tanpa ekspresi setelah mendengar penjelasan Ares.
"Terimakasih sudah mengantarku." Hanya itu yang dikatakan Tania dan setelahnya gadis tersebut turun dari mobil.
Tania langsung bergegas ke arah tempat tinggalnya saat Ares sudah kembali melajukan mobilnya. Namun perhatian gadis yang sedang membuka pintu tersebut teralihkan saat mendengar suara pintu di rumah utama terbuka.
Kaysen muncul dari dalam rumah dan langsung menatap Tania. Melihatnya Tania menjadi mengingat pernyataan cinta pria itu padanya tadi siang, serta membandingkan dengan perkataan Ares barusan.
Kayden berjalan mendekati Tania yang juga menunggu pria itu karena ingin mengatakan sesuatu padanya juga.
"Kau sudah pulang?" Tanya Kayden saat berdiri di hadapan Tania.
"Kay, mengenai perkataanmu tadi siang, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ujar Tania yang sudah berpikir dan berniat mengambil keputusan saat ini.
Kayden diam saja karena bingung harus menanggapi apa yang ingin dikatakan Tania padanya.
"Aku tahu kalau kau tidak berkata dengan bersungguh-sungguh mengenai perasaanmu padaku. Kau tidak perlu menyembunyikan perasaanmu yang terdalam. Kau masih mencintai wanita itu, tapi kau tidak ingin mengakuinya karena sesuatu hal, itu yang membuatmu menjadikan aku tameng dalam perasaanmu. Apa aku benar?" Tanya Tania.
Kayden tidak menjawabnya. Dia hanya membatu menatap Tania, bahkan tubuhnya tidak bergeming sedikit pun.
"Sepertinya percuma aku mengatakan hal itu, kau pun tetap tidak ingin mengakui kalau perasaanmu padaku hanyalah perasaan yang kau buat-buat dan tidak tulus dari dasar lubuk hatimu." Lanjut Tania. "Aku tidak ingin kau mengatakan hal tersebut lagi padaku. Aku akan menganggapnya sebagai hinaan kalau kau mengatakannya lagi."
Setelah mengatakan hal tersebut, Tania langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya.
Gadis itu menghela napas saat berada di balik pintu. Sejujurnya Tania pun tidak mengerti mengenai perasaanya pada Kayden. Akan tetapi saat mengetahui kalau pria itu hanya membuat perasaannya pada diri gadis itu, itu membuat hatinya terasa sakit juga.
"Seharusnya dia tidak mengatakan hal itu padaku. Sekarang aku menjadi sangat buruk saat melihatnya." Ucap Tania. "Aku hanya dijadikan pelarian olehnya, itu benar-benar sangat menyedihkan untukku."
...–NATZSIMO–...
__ADS_1