
Dengan perasaan yang senang, Tania beranjak dari duduknya. Gadis itu segera menuju pintu untuk membukanya. Dalam hati kecilnya, dia berharap kalau Ares yang datang menemuinya.
"Kau sudah makan?" Tanya Kayden yang berdiri di depan pintu.
Tania sedikit merasa kecewa karena yang datang tidak sesuai dengan yang dirinya harapkan.
"Belum. Aku baru saja selesai mengerjakan pekerjaan rumah." Jawab Tania.
"Ikutlah makan malam bersama kami. Kepala sekolah juga ingin berbicara denganmu mengenai peraturan sekolah yang baru kau susun." Seru Kayden.
"Baiklah." Jawab Tania setelahnya keluar dari kamarnya dan mengikuti Kayden melangkah masuk ke dalam rumah pria itu.
Tania bersama dengan wali kelas dan kepala sekolah makan malam bersama. Kemarin Tania sudah menyelesaikan peraturan baru yang dibuatnya mengenai perubahan peraturan sekolah. Gadis itu juga sudah menyerahkan mentahannya pada Kayden untuk meminta bantuan pria itu mengeceknya.
Sambil makan malam, mereka bertiga membahas hal tersebut.
"Aku sudah membaca semuanya. Apa kau yakin ingin merubah peraturan sekolah?" Tanya Karen yang duduk di hadapan Tania dan di samping Kayden—anaknya.
"Sejujurnya, aku hanya mengembalikan peraturan yang lama dan menambahkannya sendikit saja." Jawab Tania setelah meneguk air putih di gelas yang ada di samping piringnya.
"Tania, apa kau yakin?" Tanya Karen memastikan dengan tatapan yang lekat.
"Ya, aku sangat yakin." Jawab Tania dengan penuh keyakinan. "Aku melihat banyak murid merasa diuntungkan dengan tidak adanya hukuman, itu akan membuat sekolah kita mengalami kemunduran. Dengan peraturan itu, aku yakin kalau sekolah akan lebih baik saat peraturan yang baru itu diberlakukan. Tidak akan ada lagi murid yang berbuat seenaknya."
Karen sempat terdiam menatap pada gadis yang menurutnya selalu memiliki tekat yang bulat tersebut. Dia mengerti kalau tujuan Tania memang baik, namun sebagai kepala sekolah dirinya sudah melihat sejak peraturan sekolah yang tanpa hukuman diberlakukan, membuat semua murid lebih bertanggungjawab.
"Bagaimana denganmu, Kay?" Tanya Karen pada Kayden.
Kayden menghela napas dan menatap Tania dengan lekat.
"Tania, mana yang lebih baik... Orang tua menghukum anaknya yang nakal, atau mereka memberikan teladan dengan membimbing mereka?" Tanya Kayden.
Tania tidak langsung menjawab. Dia mengerti maksud Kayden menanyakan hal tersebut padanya.
__ADS_1
"Ketua OSIS yang membuat peraturan tanpa hukuman itu pernah bertanya padaku seperti itu. Dia memintaku untuk menjawab mana yang lebih baik dari kedua perbandingan itu." Lanjut Kayden. "Dengan menghukum seseorang tidak akan membuat orang itu jera. Seseorang akan merubah sikapnya jika ada orang lain yang membuatnya berubah. Itulah gunanya sekolah. Sekolah bukan tempat menghukum seseorang melainkan tempat membimbing dengan menjadi teladan untuk mereka semua."
"Ya, aku tahu itu, kau juga sudah pernah mengatakan sebelumnya padaku." Ujar Tania.
"Hari senin adalah pemilihan ketua OSIS baru. Saat ketua OSIS yang baru terpilih. Kau bisa membicarakan peraturan yang kau buat ini dengannya. Jika tidak ada perubahan, aku akan membawanya ke dewan guru. Tahun ajaran baru setelahnya akan menggunakan peraturan yang baru ini kalau tidak ada kendala apapun." Seru Karen. "Sebelum itu, sebaiknya kau pikirkan lagi. Kemungkinan bulan depan rapat tahun ajaran baru akan digelar."
"Ya, baiklah." Jawab Tania.
...***...
Dyara yang berada di rumah Ares, ikut makan malam bersama dengan keluarga tersebut. Kedua orang tua pemuda itu juga sudah pulang sehingga ikut makan malam bersama.
"Aku merasa sangat beruntung bisa ikut makan malam bersama dengan keluarga ini." Ucap Dyara dengan memulas senyuman.
"Ini bukan apa-apa, sebelumnya kak Tania juga sudah sering ikut makan malam bersama kami." Sahut Athena sambil mengunyah makanannya.
"Thena, telan dulu yang ada dimulutmu baru bicara." Tegur Tasya yang duduk di samping Dyara.
Mendengar ucapan Athena membuat Dyara merasa tidak enak. Entah kenapa kalau dirinya menjadi sangat kesal pada Tania saat ini.
Ares yang duduk di samping Aphrodite, sejak awal makan malam sedang sibuk mengirim pesan dengan Anton. Pemuda itu berniat untuk menemui teman-temannya sehabis makan malam ini sekalian mengantar Dyara pulang nanti. Itu membuatnya tidak menyimak perbincangan di meja makan.
"Jadi apa bisnis keluargamu?" Tanya Athos pada Dyara.
"Bisnis ayahku tidak terlalu besar, hanya bergerak dibidang teknologi." Jawab Dyara.
"Teknologi? Kalau boleh tahu siapa nama ayahmu?" Tanya Athos lagi.
Dyara sempat terdiam dan terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan ayah dari Ares tersebut.
"Roy Adiswara." Jawab Dyara dengan menunjukkan senyumnya.
"Roy Adiswara?" Athos memastikan dengan raut terkejut.
__ADS_1
"Apa paman mengenalnya?" Selidik Dyara.
"Tentu saja. Dia adalah pebisnis hebat dan termasuk dalam sepuluh besar orang terkaya dj negara ini." Jawab Tasya yang duduk di sebelah kanan Dyara.
"Kau bilang bukan bisnis terlalu besar. Tapi tidak ada pebisnis yang tidak mengenal ayahmu di negara ini." Timpal Athos.
"Kau terlalu merendah, Kak." Seru Aphrodite pada Dyara.
Dyara tidak berkata apapun lagi. Gadis itu terlihat hanya menanggapi semua perkataan itu dengan tersenyum.
"Besok itu hari sabtu dan sekolah libur kan? Menginaplah di sini, Dyara. Ares pasti senang." Ucap Tasya dengan senyuman.
"Apa?" Ares menoleh pada ibunya karena mendengar namanya dipanggil, dan ditambah perkataannya yang membuat pemuda itu terkejut.
Athos hanya menahan tawanya mendengar perkataan istrinya yang selalu berusaha mendekatkan putranya dengan semua gadis yang datang ke rumahnya.
"Mama rasa tidak masalah kan, Dyara menginap di sini? Berikan nomer orang tuamu, biar aku meminta ijin pada mereka." Ujar Tasya.
"Biar aku saja yang mengatakannya pada mereka, tante." Jawab Dyara dengan senyum senang mendengar perkataan Tasya.
Ares hanya bisa menahan dirinya agar tidak protes, meski dia tidak menginginkan hal tersebut namun tak ada yang bisa dikatakannya karena ibunya yang menginginkan hal tersebut.
"Kami berdua akan memperhatikanmu, Kak. Jangan diam-diam masuk ke kamar di mana dia tidur ya." Bisik Aphrodite pada Ares yang duduk disebelahnya.
Dengan tatapan tajam Ares melihat kesal pada adiknya melalui sudut matanya. Baru saja adiknya itu menggoda dirinya namun tidak ada yang bisa dirinya lakukan.
Ares diminta ibunya untuk mengantar Dyara ke kamar yang akan menjadi tempat tidur gadis itu. Kamar itu berada di lantai yang sama dengan kamar Ares dan tidak jauh dari kamar Ares.
"Kau bisa tidur di sini. Aku akan meminta Odite untuk meminjamkanmu pakaiannya." Ujar Ares saat berada di dalam kamar yang akan menjadi tempat bermalam Dyara. "Oh iya, jangan lupa beritahu kedua orang tuamu."
"Tidak masalah. Saat ini mereka berdua sedang pergi keluar negeri karena urusan pekerjaan." Jawab Dyara.
"Baiklah kalau begitu. Jika butuh sesuatu, kau bisa mengatakannya pada pelayan." Ujar Ares setelahnya berbalik untuk keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Namun tiba-tiba dirinya merasakan Dyara memeluknya dari belakang. Itu membuat Ares menjadi menahan langkahnya dan membantu seketika.
...–NATZSIMO–...