
Tatapan Ares menajam saat menahan lengan rivalnya. Dengan sangat keras pemuda itu melepaskannya hingga pemuda bernama Shane itu sedikit mundur karena dorongan yang diterimanya.
"Sialan! Berani sekali kau ikut campur?!" Geram Share pada kehadiran Ares yang mengganggunya.
Pemuda itu mendengus tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Musuhnya ikut campur dalam masalahnya, dan itu membuat Shane menjadi tampak marah.
"Kemarin temanmu, dan sekarang berani sekali kau juga ikut campur dalam masalahku. Cepat pergi dari sini sebelum aku akan membuat perhitungan dengan kelompokmu lagi." Ancam Share dengan penuh rasa kesalnya.
"Sebaiknya kau yang pergi sebelum aku kehilangan kesabaran. Kau tahu kan bagaimana jadinya saat aku sudah marah? Bahkan jika kau ada dua atau tiga sekalipun tidak akan bisa mengalahkan aku." Tatapan tajam Ares terlihat sangat bersungguh-sungguh saat mengatakan hal demikian.
Shane terlihat takut karena pemuda itu juga sudah tahu bagaimana kemampuan Ares yang memiliki panglima perang. Dalam hal perkelahian, Ares tidak memiliki lawan yang sepadan di kota tersebut.
"Dengarlah Dyara, kau tidak akan bisa lari dariku. Bagaimanapun aku belum ingin kita berpisah. Kau pasti akan kembali padaku!" Seru Shane setelahnya langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi.
"Kau tidak apa-apa?" Tatap Ares pada Dyara dengan penuh kekhawatiran. "Apa dia menyakitimu lagi?"
Dyara terkejut saat mendengar perkataan Ares dengan mengatakan kata 'lagi'. Itu artinya Ares tahu kalau Shane sudah sering berbuat kasar padanya.
"Sepertinya, kau sudah tahu ya?" Tanya Dyara menatap Ares dengan tatapan muram.
"Tau apa?" Ares bertanya bingung karena tidak langsung menangkap maksud Dyara. "Ah, ya... Aku sudah tahu dari salah satu temanku kemarin." Akhirnya Ares tahu maksud Dyara.
"Ya sejak berpacaran dengannya tiga bulan lalu, Shane selalu memukulku dan bersikap kasar. Bahkan tanganku ini retak karena dia mendorongku dari tangga." Cerita Dyara. "Karena itu aku mengakhiri hubungan kami setelahnya. Tapi ternyata dia tidak bisa menerimanya begitu saja."
Ares menahan amarahnya saat mendengar cerita Dyara. Pemuda yang selalu diajarkan untuk bersikap baik pada seorang gadis itu tidak bisa menerima ketika mendengar seorang pria bertindak kasar pada seorang gadis. Itu membuatnya sangat ingin memberi pelajaran pada pria tersebut.
Cerita Dyara mengingatkannya dengan cerita yang dialami ibunya—Tasya. Dulu tunangan ibunya itu juga sering melakukan kekerasan ibunya, hingga ayahnya—Athos pernah hampir mematahkan kami tunangan ibunya itu dulu.
Dan sekarang, hal yang sama rasanya ingin Ares lakukan pada Shane untuk memberi pemuda itu pelajaran agar tidak bersikap kasar lagi pada seorang gadis.
"Kak, terimakasih ya kau sudah menyelamatkanku. Aku sangat senang yang menolongku adalah kau." Ucap Dyara dengan sebuah senyuman.
"Tidak masalah, sebaiknya kau menghindarinya dari sekarang. Ngomong-ngomong kenapa kau berada di sini? Ini terlalu jauh dari daerah sekolah. Ke mana supirmu? Apa dia tidak menjemputmu?" Tanya Ares heran.
"Ah, sebenarnya supirku hari ini tidak masuk bekerja karena anaknya sedang sakit. Karena itu aku menunggu taksi lewat. Sayangnya tidak ada di depan sekolah karena itu aku berjalan kaki ke sini karena aku pikir barangkali akan ada taksi lewat kalau di sini." Jawab Dyara.
"Baiklah, biar aku mengantarmu pulang." Ujar Ares langsung bergegas menaiki motornya.
__ADS_1
Dengan senang hati Dyara menaiki motor Ares dan langsung duduk memeluk pemuda itu dari belakang. Gadis itu terlihat sangat bahagia karena pemuda yang dia suka bersikap sangat baik padanya.
"Katakan di mana rumahmu?" Tanya Ares sedikit menoleh pada Dyara dari balik helmnya.
"Kak, bagaimana kalau kita mampir untuk makan makanan ringan? Aku ingin mentraktirmu sebagai ucapan terimakasihku padamu karena sudah menolong aku." Ujar Dyara.
***
Tania keluar dari sekolah dan berjalan kaki menuju tempat tinggalnya. Gadis itu berjalan sambil mengirimkan sebuah pesan untuk ibunya. Pesan yang mengatakan kalau dirinya sudah baik-baik saja saat ini.
Tiinnn tiinnn tiiiiinnnn
Suara klakson mobil berbunyi membuat Tania tersentak kaget. Gadis itu menoleh ke samping dan melihat mobil yang sudah dirinya kenal berhenti di sampingnya.
"Jangan berjalan sambil melihat ponsel, itu sangat berbahaya." Seru Kayden setelah membuka jendela mobil.
Tania melihatnya heran, gadis itu melihat ke sekeliling untuk mencari tahu apakah ada murid sekolahnya di sekitar mereka atau tidak.
"Sudahlah, kau tidak perlu khawatir. Masuklah, lebih baik ikut denganku agar lebih cepat sampai." Seru Kayden.
Tania tampak berpikir sejenak, meski dirinya sudah setengah jalan dan hampir sampai, namun gadis itu tidak ingin menolak ajakan Kayden. Dengan sambil melihat ke sekeliling lagi, Tania melangkah masuk ke dalam mobil.
"Sudahlah kau tidak perlu terlalu takut. Tidak ada masalah kalau siapapun melihat kita, selama kita melakukan hal-hal yang melanggar." Jawab Kayden yang memutar balik mobilnya.
Melihatnya Tania menjadi bingung karena Kayden malah menjauh dari rumahnya.
"Ma—mau ke mana kita? Temani aku mencari sesuatu sebentar. Kita juga tidak pernah pergi bersama kan? Aku yakin kau pun pasti bosan karena terus menerus sibuk dengan kegiatanmu." Seru Kayden sambil mengarahkan pandangannya ke depan jalan.
"Akan sangat berbahaya kalau ada yang melihat kita pergi bersama. Aku tida—"
"Sudah aku katakan, kau tidak perlu khawatir. Yang terpenting kita tidak melakukan apapun, kan? Aku hanya ingin kau menemaniku, itu saja." Sambar Kayden memotong perkataan Tania.
"Kau benar, tapi terkadang persepsi orang yang memandang sesuatu dengan berbeda akan menimbulkan masalah. Aku tidak ingin itu akan menyulitkanmu, Kay." Jawab Tania.
Kayden berdecak dengan sedikit tertawa. Pria santai itu tidak mengerti dengan cara berpikir Tania yang menurutnya terlalu rumit untuk ukuran gadis seusianya.
"Jangan tertawa, kau tidak tahu apapun, Kay." Seru Tania dengan nada bicara dingin. "Kau tahu apa alasanku meninggalkan rumah dan tinggal sendiri di kota ini? Apa kau pernah memikirkan alasan apa aku repor-repot masuk ke sekolah dan tinggal sangat jauh dari ibuku?"
__ADS_1
Kayden menoleh pada Tania setelah menginjak rem karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.
"Berpuluh-puluh tahun lalu ibuku adalah seorang guru di sekolah itu. Dia mengajar pelajaran Biologi dan menjadi wali kelas di kelas dua belas sepertimu. Hingga dia di pecat secara tidak terhormat dari sekolah karena seorang murid yang katanya sangat populer karena ketampanannya menuduhnya. Kau tahu dia dituduh apa?" Tatap Tania dengan serius.
Kayden pernah mendengar cerita tersebut, itu adalah sesuatu yang memalukan untuk sekolah mereka, sehingga tidak mungkin seorang guru tidak tahu mengenai hal itu. Meski begitu dirinya tidak mengira kalau guru yang dipecat secara tidak hormat itu adalah ibu dari Tania.
"Murid itu mengatakan kalau guru itu memaksanya untuk berpacaran dengannya, bahkan dia bilang kalau guru itu sampai mengancam dirinya. Ibuku mendapat fitnah seperti itu, hal itu yang membuatku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi." Seru Tania dengan menundukan kepalanya karena gadis itu terlihat sedih saat menceritakan semua hal itu. "Karena itu, aku tidak ingin sampai membuat masalah pada pekerjaanmu sebagai seorang guru."
Tiba-tiba Kayden memegang kepala Tania dan mengusap-usapnya.
"Kau tenang saja, kau tidak perlu khawatir akan hal itu. Sudah aku katakan semua akan baik-baik saja." Ucap Kayden.
...***...
Ares duduk bersama Dyara di sebuah restoran dessert yang ada di dalam mall. Pemuda itu menyetujui saat Gadis yang ditolongnya ingin membalas perbuatannya dengan mentraktir dirinya.
"Ini sangat lezat kan, Kak?" Tanya Dyara yang duduk di hadapan Ares setelahnya memasukkan sesendok es krim vanilla dengan sebuah senyuman senang.
"Ya, ini sangat lezat." Jawab Ares sekedarnya.
"Kita harus lebih sering pergi berdua seperti ini, ini sangat menyenangkan bukan?" Ujar Dyara tidak memudarkan raut kebahagiaan dari wajah cantiknya.
Ares menjadi bingung dengan apa yang sedang terjadi. Entah bagaimana pemuda itu tidak mengerti dengan perkataan Dyara barusan yang mengatakan mereka berdua harus lebih sering pergi berdua.
"Ada apa? Kakak memikirkan sesuatu?" Tatap Dyara yang melihat ekspresi Ares yang tampak memikirkan sesuatu.
"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu? Kenapa rasanya kau menganggap kalau saat ini kita merupakan sepasang kekasih?" Tatap Ares dengan heran.
Dyara terlihat terkejut mendengar pertanyaan Ares.
"Kalian berdua sedang apa di sini? Apa kalian sedang berkencan?"
Sebelum sempat Dyara menjawab, terdengar suara seorang pria yang berjalan mendekati mereka.
Ares dan Dyara menoleh pada pria yang di sebelahnya juga berdiri seorang gadis berseragam seperti mereka.
"Sepertinya benar, kalian sedang berkencan ya?" Tanya Kayden lagi.
__ADS_1
Tania yang berdiri di samping pria itu hanya diam saja melihat pada kedua orang yang melihat kedatangan mereka dengan tampak terkejut.
...–NATZSIMO–...